Ahad, 19 April 2009
Bila Waktu Bicara
**
Tiba-tiba bayangan kabut itu membentuk satu sosok wajah yang kukenal. Satu sosok yang pernah kutemui di satu sudut bumi ini. Sekuat tenaga kukerahkan pikiran untuk mengingat lagi awal pertemuanku dengannya. Dengan suara yang terbata-bata aku mengeja nama yang manis itu, huruf demi huruf membentuk sebuah nama kenangan manis yang mekar merekah.
Malam hari merangkak pekat. Sungguh aku kelelahan sepulang kerja. Jika kebagian masuk siang biasa aku sampai rumah kontrakan jam 09.30. Selama tujuh jam kerja banyak hal yang kerjakan. Mulai dari mengecek kiriman buku, menempel barcode, memajangnya ke rak-rak buku, sampai melayani pengunjung.
Tadi aku disuruh menata buku komik yang bertumpuk itu. Penuh di rak pajangan dan penuh juga di rak kolong. Sampai semua buku komik aku keluarkan dan kudata lagi berapa stoknya masing-masing judul. Sungguh melelahkan pekerjaan tadi. Beruntung salat Isya tadi sempat di sela-sela pekerjaan. Jika sudah sampai kamar, berat sekali pantatku cengkat dari ranjang tidur.
Tiba-tiba hapeku berdering.
Ada pesan masuk: “met malam, baru pulang kerja ya. Met bobo z—Dewi”
Hah, sontak saja aku kaget dan muncul penasaran.
“Dewi mana ya?”
“Besok a khan libur, kita ketemuan yuk! sekalian kita nonton. Kita janjian di rumah kakakku di Puri Garden. Jam 02.00 siang”
Maka dari pagi segala kupersiapkan. Selepas Duhur dengan baju andalanku aku siap berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Karena tak begitu jauh, ke sananya aku jalan kaki. Di depan komplek ada warung, singgahlah aku disana. Ia masih di rumahnya, belum ke rumah kakaknya.
“Aku sudah di rumah kakak, a dimana?”
“Terus aza jalan, lalu belok kiri, tepatnya blok B dan cari rumah no.10B.”
“Gak susah khan nyarinya. Silakan masuk”
“Oh, ini paras yang bernama Dewi itu. Kok sepi ya, orang-orang lagi pada kemana?”
“Kakakku khan menikah sama orang Australia, jadi sekarang mereka lagi disana.”
“Tidak setiap hari kosong, sesekali aku dan mamah menginap di sini”
“gimana pelajaran tadi di sekolah?”
“Aku sebangku sama Lia, teman kamu itu. Dia khan pernah pakai hapeku buat menghubungi a. jadi iseng aza kuhubungi lagi, nyambung deh.”
“Ih dasar kamu.”
“Tapi suka khan?”
“Aku sudah berulang kali main ke Gramedia, pasti liat a, lagi sibuk ini-itu. Ogah aku sapa. Aku ingin main rahasia-rahasiaan. Pernah di mal Robinson aku ikutan model. Aku dapat juara dua.
“Waah, hebat. Ternyata adikku ini seorang model ya. Ternyata aku gak salah memilih adik. He.”
“Aku juga suka puisi. Terutama puisi Chairil Anwar dalam buku-nya Aku Sdjuman Jaya.”
“Bukunya ketinggalan di Pekanbaru. Dewi lahir disana, sampai SMP. SMA baru disini”
Bukan maksudku mau membagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing.
“Seperti adegan AADC aza. Rangga dan Cinta bersamaan menukil syair chairil Anwar.”
“Aku tilik-tilik, kok aku ketemu Cindy Fatika ya?”
“Aah aa, aku gak suka dibanding-bandingkan. Tapi aku juga suka banget dengan lagunya Cindy Fatika.
“Bila waktu bicara.” Aku juga suka
“Coba nyanyi lagu bila waktu bicara. aku pengen denger dewi nyanyi!”
Detik menit dan setiap jam. Seakan berlari dan mencengkram kita. Minggu bulan tahun tlah terbang melewati batas dan bayang…
…apa saja yang tertinggal. seakan begitu cepat memudar. Mungkin tak akan kita temukan. Jawaban dari semua pertanyaan.
Ketika esok untuk mengulang. Akankan kupudar. Bila waktu bicara. Semua berubah. Waktulah satu-satunya. Dan bila luka, ooh luka…
“Komplit. Selain jadi model, juga penyanyi. Tapi keburu sore, gimana kalau sekarang kita berangkat z?”
“Tunggu sebentar ya, biasa perempuan make-up dulu.”
Tidak begitu lama aku menunggu, dari balik kamar ia sudah rapi, cantik, makin miriplah ia dengan Cindy Fatika Sari.
“Hari ini aku ngedate dengan Cindy Fatika, cihuyy. Mimpi apa aku semalam.”
“Tak ada receh…” ejeknya.
Hari menjelang sore, suasana begitu cerah. Secerah hatiku ketika aku bersama dia. Kucegat taksi. Aku naik taksi. Jika aku sendirian biasa aku menunggu angkot. Tapi demi bidadariku jangan sampai tergores oleh gesekan pualam lain.
**
“Kita nonton apa?”
“Terserah?”
“Terus terang, aku baru kali ini kesini. Mau setahun aku di Batam, baru kali ini aku bisa main ke bioskop 21 Batam. Seminggu tiba di sini, aku langsung kerja. Dan setiap hari sibuk dengan kerja. Jikapun ada hari libur, lebih baik aku istirahat di rumah. Siangnya baru ke Perpustakaan Masjid Raya dan Renang di Palm Spring.”
“Yang jamnya cepat, paling ini nonton film ini”
“Mbak, dua G5-G6”
“Kita beli makanan dulu yuk”
Tiba-tiba ada suara yang memanggil nama Dewi. Ada cewek dan cowok menghampiriku. Cewek itu menampakkan wajah kaget. Mungkin karena Dewi bersamaku.
Rupanya teman sekelas Dewi bersama cowoknya. Perempuan bertemu perempuan adalah warung. Bertemu tiga perempuan adalah pasar. Aku dengan cowoknya juga bercengkrama. Ternyata ia juga dari Bandung, dari Majalengka.
“Udah lama ma dia, Yan?”
“Baru ketemuan hari ini, ko’.
“Hah masa sih? Tapi aa ma dia cocok, jangan buang kesempatan.”
Tiba-tiba Dewi menarik lenganku. “bentar lagi film-nya main. Ok, Din nanti caling-caling ya?
Sejak petemuan tadi, aku tak berani menyentuh tangannya. Malah ia duluan yang menyentuh tanganku.
Yang menonton film yang kami tonton tak begitu banyak. Film-nya cuma film keluarga, tak asyik nonton buat pasangan remaja. Sukakah dia dengan film pilihanku. Tadi ia sempat biang nonton Turkey. Tapi malah mengiyakan juga film pilihanku. Pertimbanganku biar cepat pulang. Karena jika pulang malam, tak enak pada keluarganya. Atau ia merasa garing menonton denganku. Selalu saja muncul pikiran negatif.
Kamipun pulang. Di taksi, hapeku terus berdering. ada dua pesan masuk dan satu orang meneleponku.
Dari Orien: ”Vyan pulang nonton ya. Cantik ceweknya. Selamat ya.” Wadduuh ketahuan. Orien yang baru pertama kali aku ketemu dengannya untuk dekat dengannya tahu aku jalan dengan perempuan lain.
Padahal sengaja aku datang ke tempat kerjanya. Mungkin disangkanya aku suka mempermainkan perempuan. Ingin dekat dengannya, malah sudah punya gebetan lain.
Dewi yang duduk di sebelahku, hanya bisa diam saja. Sangkanya pula bahwa aku ini sudah punya cewek, jadi buat apa dekat dengannya. Sebentar-sebentar hapeku berdering lagi. Masuk lagi sms dari Orien. “Selamat ya, met happy za.”
Muncul lagi sms dari Na. Rina Anggreani. Juga dari Liza. Keduanya anak Farmasi Unpad. Malah Rina dalam suasana seperti ini, dimana aku sedang berada di sebelah cewek ia malah menelepon. Tak kuangkat tak enak juga. Wah, gawat disangkanya aku ma Dewi punya banyak cewek.
Tiba-tiba ia komen: “Tidak salah ya, aku sedang jalan sama orang penting. Angkat saja telponnya, barangkali ada kabar penting.”
“Ini temenku dari Bandung. Teman SMU-ku”
“Perempuan khan?”
“Kita mampir di masjid Jodoh ya, kita salat dulu.”
“Kamu gak salat?”
“Lagi berhalangan”
“Oh ya udah, kamu tunggu z disini, bentar ko’. Belajar salat dari kecil, masa gak lancar-lancar.”
Kalau hari jumat, aku biasa salat jumat di masjid ini. Tidak begitu jauh dari tempat kerjaku.
“Benar gak mau salat?”
“Khan udah aku bilang, lagi berhalangan. Aku khan biasa ngaji di komplek rumahku”
“Ya udah, kita ke studio dulu. Mau ambil foto. Kita jalan aza, dekat kok dari sini”
“Jangan lihat ya, lagian udah lihat.”
“Sekarang kita kemana?”
“Terserah Dewi pinginnya kemana?”
“Karena sudah sore, kita pulang z. tak apa-apa khan kita pulang?”
Kamipun pulang ke rumah kakaknya lagi di Puri Garden. Sewaktu menyeberang, refleks aza tangannya memegang tanganku. Aku malu dilihat orang. Tak biasa aku seperti ini.
Jam lima sore aku masih bersamanya di rumah kakaknya.
Saatnya salat maghrib. Aku diantar ke toliet. Bersih sekali tolietnya. Rumah bule masa tidak rapi. Sempat aku melihat tumpukan buku saku yang sudah kumal. Cuma buku Yaasin. Tapi kok, di rumah semegah ini tak ada sajadah. Barangkali lagi dicuci, atau oleh yang mpunya rumah disimpan dan Dewi tak tahu menyimpannya.
Kami masih belum mau pulang. Siapa yang ingin berpisah jika bertemu bidadari tambatan hati. Aku berbagi cerita, hal-hal apa saja kami bahas. Mulai dari masalah di sekolah dia sampai soal pekerjaanku.
Tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk. Aku kaget juga.
“Bentar Dewi buka.”
Rupanya yang datang ada pria seusia denganku.
Oleh Dewi aku diperkenalkan pada sepupunya itu.
“Bapak nyari kamu.”
Tapi tak lama kemudian muncul pria berusia 40-an. Aku bersalaman.
“Oh ada tamu. Orang Sunda ya. Tinggal dimana, kerja dimana? Syukurlah sudah kerja, ini Taleb sudah setahun lebih di Batam, belum kerja-kerja juga”
“Wi, aku pulang ya, udah malam.”
“Buru-buru amat?”
“Udah dari tadi, pak.”
“Makasih ya Wi”
Tak terasa 7 jam bersamanya serasa sekejap.
Hari demi hari kami masih sms-smaan. Namun hari ketiga sejak pertemuan itu, sms-ku tak dibalas. Tak punya pulsakah dia. Kutelpon dia, tak diangkat.
Hari demi hari. Smsku tak dibalas. Sampai suatu ketika, ada pesan masuk. Kukira dari dia, tapi dari temannya, Lia. Kutanya ke dia, kenapa smsku tak dibalas ma Dewi. Aku takut punya salah ke dia.
“Sorry Vyan jangan libatkan aku pada masalahmu ma dewi. Lebih baik jangan mengharap banyak ke dia. Dia sudah punya cowok, kamu harap mengerti itu.”
Hanya satu hari itu saja aku bertemu dengannya, dengan wajah yang mirip Cindy Fatikasari itu. Ia adalah orang dari sekian pengunjung yang datang ke toko buku Gramedia, salah satunya adalah dia. Dia yang menaruh simpati mengharap pertautan gejolak yang membuncah.
Tak mungkin kuhapus ingatan itu. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba mengingat dia. Mungkin karena dari rasa kesepianku yang terus bertumpuk dalam satu langkah perjuangan ini.[]
**
-6.912430
107.606903
Like this:
Be the first to like this post.