Si Pangeran Dangdut Abiem Ngesti Tewas di Jalan Tol

Sumber : Citraaktual, Tabloid Citra, Agustus 1995

**

Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’un. Sabtu, 19 Agustus, dini hari sekitar jam 03.30 WIB, jalan bebas hambaan Jakarta-Cikampek kembali merenggut nyawa lima manusia. Kali ini yang tewas adalah mantan penyanyi cilik yang ngetop lewat lagu Pangeran Dangdut, Abiemanyu Ngesti alias Abiem Ngesti (22 tahun). Turut tewas bersamanya adalah ibundanya Yuli Ismawati (39 tahun); adiknya, Sakti (6 tahun); dan pamannya, Kaswito (43 tahun) beserta anak Kaswito, Prima (10 tahun).

Sementara tiga lainnya, yakni adik Abiem, Maharani (10 tahun), anak Kaswito, Vita (5 tahun); dan istri Kaswito, Lies Mardianti (36 tahun) lolos dari maut. Namun Lies Mardianti, pada saat berita ini diturunkan, dalam keadaan kritis.

Menurut surat laporan Patroli Jalan Raya (PJR) Tol Jakarta-Cikampek, kecelakaan tragis tersebut terjadi akibat Suzuki Carry H8207E yang dikemudikan paman korban, Kaswito, menabrak bagian belakang truk gandengan Mitsubishi yang sedang parkir di tempat istirahat kilometer 42 tol Jakarta-Cikampek. Sehingga, bagian depan mobil Carry melesak ke dalam, sedangkan truk gandengan patah tak bisa jalan.

Dalam kejadian itu Abiem, Yuli, dan Kaswito tewas di tempat. Sedangkan Sakti dan Prima menghembuskan nafas terakhir di RS. Bayukerta, Karawang. “Menurut laporan ini, mobil Carry melaju dengan cepat dari arah Cikampek  menuju Jakarta. Lalu, akibat supirnya ngantuk mobil tersebut berbelok ke arah kiri jalan dan menghantam truk gandengan yang sedang parkir di bahu jalan,” ujar petugas PJR lebih lanjut.

Ayahanda korban, Wiwien Ngesti, yang tak ikut dalam mobil tersebut sangat terpukul menghadapi kejadian ini. Di kamar perawatan putrinya, Maharani, ia sempat pingsan dan beberapa kali menyebut nama-nama orang yang disayanginya sambil menangis, “Maaf Mas, jangan Tanya macam-macam dahulu pada saya. Itu akan mengingatkan saya pada korban,” ujar Wiwien kepada Citra dengan suara parau. “Yang penting tolong beritakan permintaan maaf Abiem Ngesti dan keluarga kepada masyarakat penggemarnya,” tambah Wiwien.

Menurut salah satu sanak saudara keluarga Ngesti, pada saat korban akan menuju Kudus, Wiwien sebenarnya sudah meminta kepada mereka agar kalau pulang ke Jakarta naik pesawat saja. Tetapi apa mau dikata, takdir sudah menentukan lain. Hal itulah yang selalu disesali Wiwien.

Abiem Ngesti yang pernah mendapat penghargaan HDX Award lewat lagu Pangeran Dangdut, menurut orang-orang terdekatnya, merupakan penyanyi yang enerjik dan gampang diajak bekerjasama. “Abiem itu bagai kutu loncat, disuruh acting apa saja mau dan berani”. Ujar Azhar Gunawan yang selalu menangani pembuatan video klip Abiem.

Salah satu buktinya, “Pada saat shooting untuk video klip albumnya yang terbaru, Dahsyat, dia sangat berani menyanyi di atas karang dengan deburan ombak yang kencang di Pelabuhan Ratu”, kenang Gunawan lebih lanjut.

Album terakhir Abiem ini menurut Kiki, salah satu staf Akurama Record yang hadir bersama penyanyi dangdut Mara Karma di RS Bayukerta menyatakan bahwa pembuatan video klip lagu ini masih menunggu proses edit. Menurut rencana, Minggu (20 Agustus 1995) kemarin, Abiem dimakamkan di Kudus, kampung halamannya.

Selamat jalan Abiem Ngesti, Yuli Ismawati, Sakti, Kaswito, dan Prima. Semoga engkau semua mendapat tempat yang layak di sisi Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Amin.  Mari mengheningkan cipta dengan mengirimkan Alfatihah untuk mereka![]

**

NOTE : Terima kasih kepada Diko (Didin Qomarudin) dan usaha Toko Sepatu-nya di alun-alun Kuningan Jawa Barat, yang telah menyimpan dokumentasi artikel ini.

Sabtu, 11 April 2009

Meminta, Percaya, dan Menerima

**

Tiba-tiba menyusup dalam kesenyapan. Dalam mengecap sejuta nikmat-Nya. Nikmat manakah yang engkau dustakan? Seberapa jauh engkau bersyukur atas segala karunia yang Dia berikan? Aku selalu memberontak mana rezekiku, mana jaminan rezekiku untuk menjalani hidupku.

Buktinya sampai hari ini aku masih bisa makan. Tak kurang suatu apapun. Hari ini aku bisa memakan buah jeruk yang sungguh terasa manis di lidah. Aku ingin ini dan itu Dia selalu memenuhi-Nya. Soal cepat telatnya terpenuhi segala yang kumaui sangat bergantung kehendak-Nya yang Maha Mengetahui kapan seharusnya memenuhinya.

Tapi jika menghubungkannya dengan psikologi, cepat telatnya apa yang kita ingini sangat bergantung pada kualitas dan kuantitas kegigihan hal itu diinginkan. Seberapa lama hal itu disebut-sebut, terus dipikir-pikir siang-malam, bagaimana cara segera memenuhinya hingga membangkitkan kesadaran alam bawah sadar.

Seberapa kuat hal yang kita maui itu diafirmasi—dalam bahasa Quantum Ikhlas, dibayangkan di alam pikiran, dan perasaan dikondisikan bahwa itu sudah dipenuhinya. Dalam bahasa The Secret bahwa cara memenuhi apa yang kita inginkan, pertama adalah Meminta. Aku bisa menulis begini: saat ini aku begitu bahagia dan bersyukur bahwa sebentar lagi aku beli sepeda yang bagus, sepeda terbaik yang bisa fresh dipakai berkilo-kilo meter.

Aku bisa memenuhi rak yang ada di kosanku terisi penuh dengan buku-buku novel terbaik, kumpulan puisi terbaik, kumpulan cerpen terbaik, esai terbaik, buku sejarah, dan buku-buku pemikiran terbaik sepanjang masa. Aku segera menerbitkan karya perdanaku berupa novel autobiografi, atau journey fiction. Lalu aku mendapatkan bidadari yang postur tubuhnya, relung hatinya, perasaan pandangannya begitu menakjubkan semuanya ideal dimataku dan dimata orang-orang.

Langkah kedua adalah Percaya. Percaya bahwa apa yang aku minta sudah menjadi milikku. Tuhan selalu memenuhi apa yang kuinginkan. Karena Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang bagi sekalian umat-Nya. Aku percaya bahwa aku telah menerimanya. Segala yang telah kusebutkan tadi di atas, telah kudapatkan dengan sempurna. Tak sedikitpun berbeda atau melenceng dari selama ini yang kuharapkan.

Dan langkah ketiga adalah Menerima. Aku senang berbicara dan menuliskan tentangnya. Aku telah merasakannya bahwa semua yang telah kutulis di atas sungguh menyenangkan dan menggembirakan hatiku. Meluaskan hati untuk menerima segala perasaan yang membahagiakan ini. Sungguh karunia-Nya begitu Agung. Nikmat manakah yang engkau dustakan?[]

**

Ahad, 19 April 2009

Bila Waktu Bicara

**

Tiba-tiba bayangan kabut itu membentuk satu sosok wajah yang kukenal. Satu sosok yang pernah kutemui di satu sudut bumi ini. Sekuat tenaga kukerahkan pikiran untuk mengingat lagi awal pertemuanku dengannya. Dengan suara yang terbata-bata aku mengeja nama yang manis itu, huruf demi huruf membentuk sebuah nama kenangan manis yang mekar merekah.

Malam hari merangkak pekat. Sungguh aku kelelahan sepulang kerja. Jika kebagian masuk siang biasa aku sampai rumah kontrakan jam 09.30. Selama tujuh jam kerja banyak hal yang kerjakan. Mulai dari mengecek kiriman buku, menempel barcode, memajangnya ke rak-rak buku, sampai melayani pengunjung.

Tadi aku disuruh menata buku komik yang bertumpuk itu. Penuh di rak pajangan dan penuh juga di rak kolong. Sampai semua buku komik aku keluarkan dan kudata lagi berapa stoknya masing-masing judul. Sungguh melelahkan pekerjaan tadi. Beruntung salat Isya tadi sempat di sela-sela pekerjaan. Jika sudah sampai kamar, berat sekali pantatku cengkat dari ranjang tidur.

Tiba-tiba hapeku berdering.

Ada pesan masuk: “met malam, baru pulang kerja ya. Met bobo z—Dewi”

Hah, sontak saja aku kaget dan muncul penasaran.

“Dewi mana ya?”

“Besok a khan libur, kita ketemuan yuk! sekalian kita nonton. Kita janjian di rumah kakakku di Puri Garden. Jam 02.00 siang”

Maka dari pagi segala kupersiapkan. Selepas Duhur dengan baju andalanku aku siap berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Karena tak begitu jauh, ke sananya aku jalan kaki. Di depan komplek ada warung, singgahlah aku disana. Ia masih di rumahnya, belum ke rumah kakaknya.

“Aku sudah di rumah kakak, a dimana?”

“Terus aza jalan, lalu belok kiri, tepatnya blok B dan cari rumah no.10B.”

“Gak susah khan nyarinya. Silakan masuk”

“Oh, ini paras yang bernama Dewi itu. Kok sepi ya, orang-orang lagi pada kemana?”

“Kakakku khan menikah sama orang Australia, jadi sekarang mereka lagi disana.”

“Tidak setiap hari kosong, sesekali aku dan mamah menginap di sini”

“gimana pelajaran tadi di sekolah?”

“Aku sebangku sama Lia, teman kamu itu. Dia khan pernah pakai hapeku buat menghubungi a. jadi iseng aza kuhubungi lagi, nyambung deh.”

“Ih dasar kamu.”

“Tapi suka khan?”

“Aku sudah berulang kali main ke Gramedia, pasti liat a, lagi sibuk ini-itu. Ogah aku sapa. Aku ingin main rahasia-rahasiaan. Pernah di mal Robinson aku ikutan model. Aku dapat juara dua.

“Waah, hebat. Ternyata adikku ini seorang model ya. Ternyata aku gak salah memilih adik. He.”

“Aku juga suka puisi. Terutama puisi Chairil Anwar dalam buku-nya Aku Sdjuman Jaya.”

“Bukunya ketinggalan di Pekanbaru. Dewi lahir disana, sampai SMP. SMA baru disini”

Bukan maksudku mau membagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing.

“Seperti adegan AADC aza. Rangga dan Cinta bersamaan menukil syair chairil Anwar.”

“Aku tilik-tilik, kok aku ketemu Cindy Fatika ya?”

“Aah aa, aku gak suka dibanding-bandingkan. Tapi aku juga suka banget dengan lagunya Cindy Fatika.

“Bila waktu bicara.” Aku juga suka

“Coba nyanyi lagu bila waktu bicara. aku pengen denger dewi nyanyi!”

 

Detik menit dan setiap jam. Seakan berlari dan mencengkram kita. Minggu bulan tahun tlah terbang melewati batas dan bayang…

…apa saja yang tertinggal. seakan begitu cepat memudar. Mungkin tak akan kita temukan. Jawaban dari semua pertanyaan.

Ketika esok untuk mengulang. Akankan kupudar. Bila waktu bicara. Semua berubah. Waktulah satu-satunya. Dan bila luka, ooh luka…

 

“Komplit. Selain jadi model, juga penyanyi. Tapi keburu sore, gimana kalau sekarang kita berangkat z?”

“Tunggu sebentar ya, biasa perempuan make-up dulu.”

Tidak begitu lama aku menunggu, dari balik kamar ia sudah rapi, cantik, makin miriplah ia dengan Cindy Fatika Sari.

“Hari ini aku ngedate dengan Cindy Fatika, cihuyy. Mimpi apa aku semalam.”

“Tak ada receh…” ejeknya.

Hari menjelang sore, suasana begitu cerah. Secerah hatiku ketika aku bersama dia. Kucegat taksi. Aku naik taksi. Jika aku sendirian biasa aku menunggu angkot. Tapi demi bidadariku jangan sampai tergores oleh gesekan pualam lain.

**

“Kita nonton apa?”

“Terserah?”

“Terus terang, aku baru kali ini kesini. Mau setahun aku di Batam, baru kali ini aku bisa main ke bioskop 21 Batam. Seminggu tiba di sini, aku langsung kerja. Dan setiap hari sibuk dengan kerja. Jikapun ada hari libur, lebih baik aku istirahat di rumah. Siangnya baru ke Perpustakaan Masjid Raya dan Renang di Palm Spring.”

“Yang jamnya cepat, paling ini nonton film ini”

“Mbak, dua G5-G6”

“Kita beli makanan dulu yuk”

Tiba-tiba ada suara yang memanggil nama Dewi. Ada cewek dan cowok menghampiriku. Cewek itu menampakkan wajah kaget. Mungkin karena Dewi bersamaku.

Rupanya teman sekelas Dewi bersama cowoknya. Perempuan bertemu perempuan adalah warung. Bertemu tiga perempuan adalah pasar. Aku dengan cowoknya juga bercengkrama. Ternyata ia juga dari Bandung, dari Majalengka.

“Udah lama ma dia, Yan?”

“Baru ketemuan hari ini, ko’.

“Hah masa sih? Tapi aa ma dia cocok, jangan buang kesempatan.”

Tiba-tiba Dewi menarik lenganku. “bentar lagi film-nya main. Ok, Din nanti caling-caling ya?

Sejak petemuan tadi, aku tak berani menyentuh tangannya. Malah ia duluan yang menyentuh tanganku.

Yang menonton film yang kami tonton tak begitu banyak. Film-nya cuma film keluarga, tak asyik nonton buat pasangan remaja. Sukakah dia dengan film pilihanku. Tadi ia sempat biang nonton Turkey. Tapi malah mengiyakan juga film pilihanku. Pertimbanganku biar cepat pulang. Karena jika pulang malam, tak enak pada keluarganya. Atau ia merasa garing menonton denganku. Selalu saja muncul pikiran negatif.

Kamipun pulang. Di taksi, hapeku terus berdering. ada dua pesan masuk dan satu orang meneleponku.

Dari Orien: ”Vyan pulang nonton ya. Cantik ceweknya. Selamat ya.” Wadduuh ketahuan. Orien yang baru pertama kali aku ketemu dengannya untuk dekat dengannya tahu aku jalan dengan perempuan lain.

Padahal sengaja aku datang ke tempat kerjanya. Mungkin disangkanya aku suka mempermainkan perempuan. Ingin dekat dengannya, malah sudah punya gebetan lain.

Dewi yang duduk di sebelahku, hanya bisa diam saja. Sangkanya pula bahwa aku ini sudah punya cewek, jadi buat apa dekat dengannya. Sebentar-sebentar hapeku berdering lagi. Masuk lagi sms dari Orien. “Selamat ya, met happy za.”

Muncul lagi sms dari Na. Rina Anggreani. Juga dari Liza. Keduanya anak Farmasi Unpad. Malah Rina dalam suasana seperti ini, dimana aku sedang berada di sebelah cewek ia malah menelepon. Tak kuangkat tak enak juga. Wah, gawat disangkanya aku ma Dewi punya banyak cewek.

Tiba-tiba ia komen: “Tidak salah ya, aku sedang jalan sama orang penting. Angkat saja telponnya, barangkali ada kabar penting.”

“Ini temenku dari Bandung. Teman SMU-ku”

“Perempuan khan?”

“Kita mampir di masjid Jodoh ya, kita salat dulu.”

“Kamu gak salat?”

“Lagi berhalangan”

“Oh ya udah, kamu tunggu z disini, bentar ko’. Belajar salat dari kecil, masa gak lancar-lancar.”

Kalau hari jumat, aku biasa salat jumat di masjid ini. Tidak begitu jauh dari tempat kerjaku.

“Benar gak mau salat?”

“Khan udah aku bilang, lagi berhalangan. Aku khan biasa ngaji di komplek rumahku”

“Ya udah, kita ke studio dulu. Mau ambil foto. Kita jalan aza, dekat kok dari sini”

“Jangan lihat ya, lagian udah lihat.”

“Sekarang kita kemana?”

“Terserah Dewi pinginnya kemana?”

“Karena sudah sore, kita pulang z. tak apa-apa khan kita pulang?”

Kamipun pulang ke rumah kakaknya lagi di Puri Garden. Sewaktu menyeberang, refleks aza tangannya memegang tanganku. Aku malu dilihat orang. Tak biasa aku seperti ini.

Jam lima sore aku masih bersamanya di rumah kakaknya.

Saatnya salat maghrib. Aku diantar ke toliet. Bersih sekali tolietnya. Rumah bule masa tidak rapi. Sempat aku melihat tumpukan buku saku yang sudah kumal. Cuma buku Yaasin. Tapi kok, di rumah semegah ini tak ada sajadah. Barangkali lagi dicuci, atau oleh yang mpunya rumah disimpan dan Dewi tak tahu menyimpannya.

Kami masih belum mau pulang. Siapa yang ingin berpisah jika bertemu bidadari tambatan hati. Aku berbagi cerita, hal-hal apa saja kami bahas. Mulai dari masalah di sekolah dia sampai soal pekerjaanku.

Tiba-tiba pintu rumah ada yang mengetuk. Aku kaget juga.

“Bentar Dewi buka.”

Rupanya yang datang ada pria seusia denganku.

Oleh Dewi aku diperkenalkan pada sepupunya itu.

“Bapak nyari kamu.”

Tapi tak lama kemudian muncul pria berusia 40-an. Aku bersalaman.

“Oh ada tamu. Orang Sunda ya. Tinggal dimana, kerja dimana? Syukurlah sudah kerja, ini Taleb sudah setahun lebih di Batam, belum kerja-kerja juga”

“Wi, aku pulang ya, udah malam.”

“Buru-buru amat?”

“Udah dari tadi, pak.”

“Makasih ya Wi”

Tak terasa 7 jam bersamanya serasa sekejap.

Hari demi hari kami masih sms-smaan. Namun hari ketiga sejak pertemuan itu, sms-ku tak dibalas. Tak punya pulsakah dia. Kutelpon dia, tak diangkat.

Hari demi hari. Smsku tak dibalas. Sampai suatu ketika, ada pesan masuk. Kukira dari dia, tapi dari temannya, Lia. Kutanya ke dia, kenapa smsku tak dibalas ma Dewi. Aku takut punya salah ke dia.

“Sorry Vyan jangan libatkan aku pada masalahmu ma dewi. Lebih baik jangan mengharap banyak ke dia. Dia sudah punya cowok, kamu harap mengerti itu.”

Hanya satu hari itu saja aku bertemu dengannya, dengan wajah yang mirip Cindy Fatikasari itu. Ia adalah orang dari sekian pengunjung  yang datang ke toko buku Gramedia, salah satunya adalah dia. Dia yang menaruh simpati mengharap pertautan gejolak yang membuncah.

Tak mungkin kuhapus ingatan itu. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba mengingat dia. Mungkin karena dari rasa kesepianku yang terus bertumpuk dalam satu langkah perjuangan ini.[]

**

Selasa, 20 April 2009

Mengharap Sapaan Kartini Abad 21

**

Wahai Ibu berikan saya bunga Melati yang berkembang di dalam Hati… Hidup adalah Rindu, bukanlah nyanyian Keriangan Hati… alangkah berbahagianya laki-laki bila perempuannya bukan saja menjadi pengurus rumah tangganya, ibu anak-anaknya saja, melainkan juga jadi sahabatnya.. (dikutip dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang—Kartini). Dari seorang yang mengharap datangnya kartini abad 21 mau menyapa hatiku”

Dalam memeriahkan hari Kartini, kukirimkan pesan tadi ke setiap 100 perempuan yang paling cantik di negeri ini. Dari sekian mereka, ada yang membalas ada juga yang tidak. Mereka membalasnya tentu beda-beda. Dari Rina: gak salah kirim, kang?

Dari Siska: kartini yang mana? Siapa tuh? Dari Nia: amin, makasih ya Vyan. Mudah-mudahan kau juga segera bersanding dengan bidadari yang akan menempati singgasana hatimu. Bidadari yang memang tercipta untuk mendampingimu dunia akhirat.

Dari Tya orang yang sekampung dengan Kartini, Jepara: Tumben sms, masih ingat ya kirain sudah lupa, aa lagi ngapain? Oh bagaimana sudah dapat kerja belum? Dari Yunia: Thanks atas penghargaan terhadap seorang wanita. Semoga kelak aku jadi ibu yang baik, amin.

Dan Ini dari Keni Octorina yang pernah mengajariku pertama kali main biola, lulusan IPDN, orang Sabang—aceh: Vyan kata-katanya bagus banget. Buat Ken? Makasih (geer, hehe…) Ken doakan kamu mudah-mudahan dapat kartini yang kamu dambakan, amin.

Namun ada yang menarik dari mereka, ada satu perempuan yang New Entry, masuk lewat lubang di hati ini. Namanya Ayu. Perempuan yang pertama kali kulihat ketika pelatihan dasar MC Jasa Keuangan Syariah di Rancamaya—Bogor. Karena belum kenal, dia malah membalas: Ini siapa. Kubilang panggil saja aku Bin-atang. Aku adalah aku. Ia membalas lagi aku lebih suka orang yang terbuka. Tadinya aku biarlah menjadi pengagum rahasia-mu. Jadinya aku jujur menyebutkan namaku: Vyan dari Jabar satu, untuk ditempatkan di Cianjur.

Dan terakhir aku mengirim sms: di Pagi hari kartini ini, selamat bekerja demi mengubah peradaban dunia-mu. Ia belum membalas lagi. Mungkin suatu ketika akan terhubung lagi dengannya. Entah di satu pertemuan pelatihan di MC, atau dimanapun kami dipertemukan. Ayu adalah seorang yang menjadi pusat perhatian peserta laki-laki ketika pelatihan dasar MC, termasuk aku yang mengagumi kecantikannya.

Soal perempuan, mungkin sebenanrya tak harus merasa susah mencarinya. Menjadikan diantara mereka sebagai pacar, atau dalam bahasa lain: calon istri. Tinggal memilih saja, mana yang menarik hatiku. Tapi sesungguhnya aku menginginkan cinta. Di dalam diriku ingin muncul gereget aku menginginkan dia, dari sekian perempuan yang kukenal itu. Mereka semua belum masuk ke relung hatiku. Ia masih di tangga gereget.

Entah mereka masih belum sempurna dalam pandanganku, ataukah aku saja yang merasa malu menerimanya, karena merasa diri tak memiliki apa-apa, takut ia tidak siap menerimaku yang miskin ini. Kenapa miskinku ini merontokan kepercayaan diriku untuk berani mengambil salah satu dari mereka?

Jangan-jangan aku merasa tidak butuh seorang perempuan. Mustahil aku tidak butuh pasangan hidup. Sungguh sangat ingin hadirnya dia yang kuimpikan itu segera datang padaku. Aku sudah sekian lama menunggu. Kedatangannya selalu kutunggu sampai akhir hayatku. Masa sampai aku mati tak kunjung datang menjemputku. Saat ini aku haruslah sabar menjalani prosesnya. Aku harus menguatkan sabar dan tekadku.

Yang haram itu zina. Mendekati zina juga dilarang. Tapi yang kuinginkan bukan zina. Tapi dekatnya aku dengan seseorang. Dalam persangkaanku kini bahwa alangkah berbahagianya jika aku memiliki hati sosok perempuan di bumi ini, dan akupun merasa dimiliki oleh dia. Aku mengharap memiliki dan dimiliki, itu saja. Dan aku tidak ingin cinta yang bertepuk sebelah tangan.[]

**

Selasa, 21 April 2009

Dari Pengagum Kartini

**

Soal yang lebih menarik bagiku untuk kutuliskan, apakah dari bacaanku ataukah dari hasil perbincanganku dengan teman-teman atau dengan yang lain. Lebih banyak yang mengena, yang mampu menjadi api pergumulan adalah hasil bacaanku. Perbincangan dengan mereka tidak begitu menarik untuk kutuliskan.

Atau karena aku tak terlalu peduli pada obrolan mereka, atau juga orang-orang yang kutemui sangatlah jarang sekarang ini? Jika tulisan ingin berkualitas, bacaannya haruslah yang berkualitas, yang mengusung sisi kehumanisan manusia. Dan orang-orang yang kuajak berbincang adalah para kontemplatif. Tapi semua orang penting. Maka aku harus pandailah melihat sisi baik atau yang menarik dari mereka yang kutemui.

Tulisan yang menarik dari Islam Digest Republika ahad adalah soal pengaruh Islam dalam tradisi kepenulisan Melayu. Jadi terbayang pada masa kecil ketika di sekolah Diniyah aku belajar menulis dengan huruf Pegon. Menulis nama kelas dan alamat dengan huruf arab Pegon.

Ternyata ada dua istilah penulisan, huruf Jawi dan Pegon. Menulis bahasa Melayu dengan huruf hijaiyah disebut menulis dengan huruf Jawi. Sedangkan menulis bahasa Jawa—atau mungkin bahasa Sunda—dengan memakai huruf hijaiyah disebut menulis Pegon, yang artinya menyimpang.

Menyimpang karena ketika menulis “ci” dalam menulis citamiang, tidak bisa diwakili oleh huruf hijaiyah. Maka munculah huruf ain diberi tanda titik tiga di bawah untuk menulis “ci”. Menulis “ci” dengan huruf latin dengan dua haruf, sedangkan dengan huruf hijaiyah satu huruf, lebih baik mana, efektif efesien mana?

Mungkin seharusnya peradaban Nusantara, bahasanya melayu tapi cara menulisnya dengan huruf hijaiyah, jawi dan pegon itu, bukan dengan huruf latin. Karena huruf latin adalah warisan dari peradaban yang sangat jauh sekali, dari Yunani. Sedangkan huruf hijaiyah dari satu rumpun Asia.

Atau bisa juga dengan Hanacaraka, atau dengan huruf Sunda Kuno. Itu yang harus dikembangkan, ditumbuhkan, dan diperkenalkan kepada generasi muda sebagai pewaris peradaban ini.

Nusantara bukan semata-mata bernama Indonesia. Tapi manusia Nusantara adalah bangsa yang hidup di tanah Nusantara sudah beribu-ribu tahun. Indonesia hanyalah sepenggalannya.

 

**

Di sela-sela aku mengetik, kubuat lagi pesan bagi 100 perempuan yang paling cantik di negeri hatiku.

Barang siapa tidak berani, dia tidak bakal menang! Itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani. Pemberani-pemberani memenangkan tigaperempat dunia! (Kartini via Pramoedya Ananta Toer). Ya akupun harus berani menyapa hati-mu, adakah ruang untuk-ku di Hati-Mu?.. oh tidak, aku belumlah sanggup membuat-mu tersenyum. Beri aku waktu agar bisa menjemput cahaya-Mu.—dari pengagum Kartini abad 21.”

Meita, lulusan Unisba yang pernah jumpa di Rabbani, membalas pesanku: Thanks  buat smsnya Vian. Doakan aku untuk bisa jadi kartini abad 21 ya! Dari Nia: Ehm…betul itu setiap orang harus berani, tapi apa maksudnya dikau mengirimkan kata-kata itu untukku?

Dari Sifa: ih…vyan gombal abiz, geuleuh ah aku mah asa hayang pipis. Sejak kapan vyan jadi pujangga atau bisa juga disebut perayu gombal. Dari Rina: apa ni? Na masih gak ngerti. Gak salah kirim kan?

Entah mereka mengerti dengan apa yang kumaksud atau tidak. Tapi jika kulit permukaan makna puisi itu adalah sebuah ungkapan cinta seseorang untuk kekasihnya. Tapi ia belumlah sanggup menjemputnya karena belum mapan, makanya ia meminta waktu untuk mempersiapkan segalanya. Boleh-boleh saja menafsirkan seperti itu. Tergantung mereka memberikan tafsir.

Bagi sebenarnya bagiku makna puisi tadi adalah sebuah ungkapan dan ajakan pada siapapun (mu—m huruf kecil, maksudnya kepada manusia) untuk bersama-sama meminta pada-Nya (Mu—m huruf besar, Tuhan, The Ultimate Goal), mengharap Kasih dan Sayang-Nya supaya menurunkan Rahmat-Nya pada kita semua.

Mengharap Dia ridha (tersenyum) atas segala doa-doa kita. Dan di hadapan-Nya kita merendahkan diri kita, mengaku tak sanggup apa-apa, tak memiliki kekuatan selain kekutan-Nya.[]

**

Rabu, 22 April 2009

Masa Muda, Hasrat Impian, dan Peradaban

**

Sinar matahari kian memencar terang. Bangun pagi-pagi dan mandi tidak untuk kemana-mana. Bagaimana bisa sukses, toh kebiasaan orang sukses tidak pernah diikuti. Setidaknya bangun pagi, jika susah untuk bangun sebelum subuh. Orang yang berhasil adalah orang yang telaten menjalani ritual salat Tahajud-Duha, Puasa Senin-Kamis, salat fardu berjamaah tidak pernah ketinggalan, dan bersedekah. Apakah memang ritual itu berelevansi pada keberhasilan hidup, pada kemudahan perolehan rezeki?

Bagiku hal itu terkait pada soal ketenangan pikiran. Jika pikiran tenang, ia akan bisa konsentrasi dalam pekerjaannya, dan berhasilah ia dalam mendapatkan prestasi pekerjaannya. Hal apapun jika ditekuni secara telaten, niscaya akan berhasil. Ritual tadi hanya berhubungan pada tenangnya pikiran, fokusnya pikiran melalui “iman”. Orang dari lain agama pun, ia bisa berhasil karena tadi ia bisa konsentrasi dan fokus dalam menggeluti pekerjaannya.

Baru seperti itu kesimpulanku saat ini, mengomentari Aril mendapat sms dari temannya bahwa harus menajalani ritual tadi jika ingin berhasil dalam hidup. Di tengah konsentrasi mengetik, harus juga berbincang dengan tamu yang datang. Meskipun teman harus dianggap tamu. Jika ada yang datang ke kosanku setiap hari, mungkin tandanya aku dianggap sebagai temannya.

Jika datangnya teman-teman mempunyai maksud menawari bisnis, mereka hanya menawari saja, tidak memaksa. Aku saja yang merasa dipaksa untuk ikut bisnis yang ditawarinya itu. Ketika hubungan pertemanan lebih dikarenakan transaksi memang terasa hambar, bukan berlandaskan pada keikhlasan. Jikapun ingin menawarkan satu bisnis, harus diawali dengan membuka pikirannya.

Tapi aku ditawari bisnis ini-itu bukan aku tidak tertarik. Cuma saat ini aku ingin menjadi penulis. Sekarang aku sedang berusaha untuk bisa menulis. Karena dengan menulis pun saatnya nanti akan mendapatkan kebebasan finansial. Meski ada yang mengatakan lakunya tulisan kita bergantung faktor x-kebetulan. Faktor x tersebut berkat jasa promosi atau marketing atau EO.

Untuk sekarang aku hanya terus saja menulis, dengan penuh harapan, tanpa kenal lelah dan kesal. Terus membaca tulisan mereka, dan belajar kepadanya. Apakah cukup dari tulisannya? Tidakkah harus langsung face to face pada orangnya? Atau bergabung dengan satu komunitas kepenulisan? Misalnya dengan FLP Salman dimana setiap hari Kamis sehabis Ashar ia selalu mengadakan pertemuan.

Aku ingin mencoba menghadirinya, tapi selalu mikirnya takut tak cukup uang, aku ingin menghemat uang buat makan. Ditambah lagi pikiranku ingin datang menghadirinya jika sudah mempunyai sebuah karya, entah cerpen ataupun novel, atau aku sudah punya sepeda. Padahal mumpung aku masih di Bandung, karena sebentar lagi mungkin aku harus sudah di Cianjur, kerja di MC jasa keuangan syariah.

Aku harus mencoba menghadirinya, minimal sekali saja. Mumpung aku masih muda harus mencoba segala apapun yang diinginkan. Sebelum menyesal ketika saatnya tiba tersibukan dengan dunia kerja dan rumah tangga. Karena pernikahan menurut sebagian orang adalah lorong pertama menuju keterbelengguan hidup. Bagiku sisi lain terbelenggu, tapi sisi lainnya pernikahan adalah membuka tali belenggu menuju lempangnya jalan.

Aku berjalan saja menekuni mimpiku. Aku harus lepas dari majority with minority complex, orang mayoritas tapi bermental minoritas. Aku memiliki sejumlah keunggulan-keunggulan diri yang bisa aku kembangkan. Tapi selalu saja merasa tak mampu apa-apa. Aku harus membuka katup yang mencengkram sukmaku.

Aku harus bebas dari belenggu-belenggu diri. Aku tidak boleh seperti manusia gua, yang sudah silau dengan bayangan-bayangan indah di dinding gua. Padahal jika mampu keluar dari gua, niscaya ia akan terpana melihat keindahan yang sebenarnya. ‘Kurung batokeun’.

Bagaimana aku bisa lepas darinya. Mestikah melakukan apapun yang ingin kulakukan? Dengan tidak mengindahkan lagi halal haram-nya? Seperti Ayu Utami yang mengusung atau mungkin mempertanyakan bahwa keperawanan adalah satu hal yang membelenggu dirinya sebagai perempuan, sebagai tameng dari budaya patriarki.

Makanya secepatnya ingin segera melepaskan keperawanannya, atau keperjakaannya, untuk siapa saja. Apakah memang ini kebebasan yang kebablasan? Sudah tentu berdasarkan timbangan hukum agama itu adalah haram.

Tapi jika hukum agama terus saja membabi-buta cuma mengatakan haram-halal suatu hal, agama hanya sebagai polisi, lantas dimana keberadaan agama yang berfungsi sebagai pencerah jiwa ini?

Memang mungkin sastra yang diusung Ayu Utami mengandung satu kesalahan, tapi juga mengandung kebenaran yang diusung. Ia ingin membebaskan dari keterbelengguan. Supaya bangsa ini maju, jika tidak mampu unggul, tapi bisa sejajar dengan bangsa lain, dengan peradaban lain. Kapan saatnya tiba peradaban Nusantara kita akan dihargai dalam pergaulan dunia?[]

**

 

Kamis, 23 April 2009

Gunung Sunda, Gunung Toba

**

Aku adalah perwujudan dari tanah dan air Nusantara. Ibu dan ayah dan begitu juga aku beserta saudaraku yang lain lahir di pulau Jawa selatan, 100 kilometer dari pantai selatan Jawa—pantai laut Cikalong atau sebelah timurnya pantai Pangandaran—Tepatnya lahir di kampung Cikopeng atau sebagian orang menyebutnya Citamiang. Kakek nenekku berasal dari daerah Cikatomas, yang geografisnya sebelah utara kampungku, belok ke wilayah barat dan jika diteruskan akan sampai pada pengaruh Pamijahan.

Pamijahan adalah sentral penyebaran Islam di selatan pulau Jawa Priangan. Dengan tokohnya Syaikh Abdul Muhyi, pembawa tarikat Tijaniyah atau mungkin Qadariyah yang berbasis di Gua Saparwadi. Mungkin saja nenek moyangku adalah salah satu murid dari Syaikh Abdul Muhyi, yang ajarannya sampailah kepadaku.

Karena jika ditarik garis ke utara, nenek moyangku lahir dan besar di sekitar atau tidak begitu jauh dari Pamijahan atau gua Saparwadi-nya. Lalu seiring dengan waktu orang tuaku berhijrah mencari tempat baru, membuka lahan baru untuk dijadikan pemukiman, beranak-pinak dengan terus menyampaikan ajaran-ajaran Islam yang diterima dari generasi ke generasinya.

Untuk selingan, gua Saparwadi ada yang mengatakan bahwa gua tersebut adalah gua petilasan Syaikh Abdul Qadir Jailani, sufi keseohoer dunia Islam kelahiran Gilan-Persia, penghulu para wali itu, pendiri tarikat Qadiriyah. Di zaman lalu, mungkin saja benar syaikh Abdul Qadir Jailani pernah datang ke sini, ke pulau jawa. Karena ada bukti lain bahwa Islam bukan hanya datang ke Nusantara bukan abad XIV yang dibawa oleh para saudagar Gujarat, atau semasa kekuasaan bani Ummayah-Muawiyah Ibn Sufyan, melainkan lebih dini lagi.

Bisa jadi Islam datang ke Nusantara adalah semenjak masih hidupnya Rasulullah masih hidup. Bukti sejarahnya—terlepas salah benarnya legenda—bisa ditilik pada Kean Santang, putra Pajajaran yang dianggap sebagai wali, pernah berkelana ke jazirah Arab, bertemu dengan sayyidina Ali.

Kembali ke soal nenek moyangku. Rupanya nenek moyangku mencari wilayah baru dari dekat Pamijahan ke selatan, terus ke selatan dan hampir ke ujung pantainya. Belum sampai ke pantainya generasinya bermukim, malah aku sebagai generasinya malah kembali ke utara mencari jejak nenek moyangku.

Untuk mencari jejak nenek moyangku, sebenarnya berasal dari manakah dia? Jika ditarik semakin ke utara, Syaikh Abdul Muhyi mempunyai perhubungan dengan Sunan Gunung Djati di Cirebon. Cirebon sudah terjalin hubungan dengan Sunda Kelapa, dengan Banten. Ini sangkut-persangkutan penyebaran agama Islam, yang akhirnya sampai padaku

Ketika putra-putra Pajajaran sudah masuk Islam, salah satu putra pajajaran mendirikan kerajaan Galuh yang wilayahnya di Ciamis sekarang. Di zaman kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, di sekitar gunung Galunggung, di Tasikmalaya terdapat napak tilas kerajaan kecil.

Jadi sejarahnya adanya aku, ajaran yang kupegang adalah hasil silang-sengkalit peradaban Barat-Islam-Hindu-Budha. Bagian-bagian apa yang terwariskan dari peradaban Barat (Eropa-Amerika), dari Islam (Timur Tengah-Afrika), Hindu (India), Budha (Tiongkok). Mereka semua adalah asing.

Peradaban Nusantara mempunyai sejarahnya sendiri. Sehidup dengan keemasan atau puncak dari peradaban masing-masing, peradaban Nusantara sudah hidup, meski entah apakah sudah mengalami keemasannya atau belum. Apakah zaman peradaban Atlantis adalah zaman keemasannya?

Bandung pun yang aku tinggali sekarang, yang sudut kotanya tempat beradanya kamar kosanku dan komputer yang kutulisi tulisan ini mempunyai sejarahnya sendiri. Seperti dalam lagu Doel Sumbang bahwa “Bandung diriung ku gunung” wilayah Bandung adalah seperti cekungan piring, jika ada airnya membentuklah seperti danau.

Wilayah Bandung jika ditarik ke atas dari setiap sisinya hingga mencapai titik temu di langit, akan terbentuklah sebuah gunung, yakni itulah gunung Sunda. Jadi kata sunda berasal dari istilah penamaan gunung yang sudah meletus bertahun-tahun abad.

Dan meletusnya gunung Sunda berbarengan dengan gunung Toba, yang sekarang berubah jadi danau Toba di Sumatera Utara. Waktu dua gunung tadi meletus, adalah zaman peradaban Atlantis.

Ketika zaman peradaban Atlantis, atau tepatnya di satu benua Atlantis, terdapat sebuah gunung tinggi. Jadi terdapat dua versi, gunung tertinggi itu ada yang mengatakan gunung yang disebut sekarang Krakatau. Dan versi lain adalah satu dari kedua gunung tadi, gunung Sunda atau gunung Toba. Yang mengatakan gunung Krakatau dengan berpijak pada bahwa tanah atlantis ditenggelamkan. Sebaliknya versi lainnya bukan tanahnya yang ditenggelmkan, tapi permukaan air laut yang meninggi.

Wallau a’lam bisawab.[]

**

 

Sabtu, 24 April 2009

Perempuan Berhidung Mancung

**

Kau tahu teman, persahabatan yang telah kita jalin dan cinta yang pernah terpilin sungguh terpatri di dalam batin. Manisnya kenangan bersamamu saat merancang sebuah harapan. Dulu kita pernah berjanji untuk berkata tidak pada keputusasaan. Kegemilangan masa adalah milik kita dan kita tak akan pernah tergadaikan .

Sekarang saat kita sudah dipertemukan dengan takdir yang merenggut nasib kita masing-masing. Sungguh aku rindu senyummu yang menawan. Aku hanya ingin senyummu selalu yang menghiasi rona wajahmu.

Bukan air mata yang hampir menetes dalam sendu ceritamu. Tak ingin basah pipimu oleh air mata kesunyian. Tak akan kubiarkan terus menetes air mata di pipimu. Ingin aku bersedia di sisi-mu, selamanya. memecah kesunyian kita masing-masing.

Kuingin pula mengabarkan, bahwa burung mereka telah terbang membumbung tinggi. Mereka telah pergi jauh, yang baru saja mereka menghampiriku. Sementara aku disini, masih disini. Menyepi.

Darah dan air mata hanya bisa dihapuskan oleh cinta. Pergolakan dan pemberontakan hanya bisa reda oleh kasih. Mengembaralah engkau untuk menemukan cinta dan kasih. Engkau masih diam saja di kamar ambisi. Kau akan terperangkap oleh muslihat keji.

Untuk sebuah kemenangan kau harus meraihnya dengan obor cinta dan kasih. Maka nikmatilah pengembaraanmu kini. Nikmati keceriaan yang menyapa mereka yang tersisih.

Tubuhku terperangkap di kamar ini. Tapi jiwaku bisa melanglang buana mengejar mimpi. Aku harus membebaskan diri dari cengkraman penjara zaman. Aku harus seperti burung elang, yang bebas melayang. Harus kutemukan sejuta hati yang samar berdalih.

Tidak pagi sore ataupun malam, aku dihantui kebosanan. Dan juga kelelahan. Menjejak masa lalu entah untuk mengisi hari lempang atau memang sedang mengumpulkan harapan. Waktu telah merenggut masa mudaku dengan kebiasaan-kebiasaan seperti yang kulakukan hari-hari begini. Aku riang gembira pula dan juga sekaligus sedih menatap senyuman dan kilauan mata yang berair mata.

 

**

Bangsa ini yang 64 tahun berikrar merdeka dari penjajahan, kenyataannya sekarang bangsa ini harus menerima kenyataan ketidakmerdekaan dalam makna dan dimensi yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Sebab bukan hanya materi, badan, sumber daya alam, atau tanah air yang terjajah, melainkan juga kebudayaannya, pikiran dan hati, bahkan ruang kemampuan imajinasinya.

Ia tidak lagi berwajah sangar, tidak dengan senjata temuan baru pemusnah massal, tidak dengan didatangkannya ratusan kompi. Tapi sekarang dengan perang perspektif. Sehingga akhirnya kita ragu dengan yang sebenarnya jati diri kita. Kita tidak lagi bebas memilih apa pakaian yang kita kenakan, isi piring kita sarapan, bentuk rumah, jenis usaha, sampai siapa kriteria yang harus jadi pemimpin bangsa ini mereka mencekoki kita harus ini dan itu.

Ternyata kita belum bisa terbebas dari sifat inlander yang telah dibiasakan oleh mereka. Sekarang kita masih belum sadar bahwa kita masih saja mengikuti begitu saja segala kemauan mereka. Dalam pola hidup, gaya hidup, pilihan pekerjaan, pendidikan, cara menghadapi istri, anak keluarga, atau teman kerja. Lalu kita membela habis-habisan semua dimensi kebudayaan itu. Menjadi pembela tulen kolonial itu sendiri.

 

**

Siapa yang tidak bosan dengan terus berdiam diri saja. sudah beberapa hari aku tak kemana-mana, hanya menghadapi layar monitor dan menekan tuts-tuts keyboard. Terus saja mengetik, siapa yang tidak lelah dan tahan dengan punggung nyeri. Akupun melihat mereka yang sudah bekerja. Ia sudah mempunyai penghasilan sementara aku masih menjadi beban saja. Aku sadar dengan keadaan hal ini.

Masa menunggu mulai kerja di MC jasa keuangan syariah, semoga saja manajemen MC bisa segera running. Biasa aku menunggu dua bulan. Mungkin saja aku menunggu April-Mei, baru Juni mulai kerja. Moga saja lebih cepat lebih baik. sekarang untuk melamar kerja di tempat lain bagaimana dengan komitmenku dengan MC.

Aku sudah mengikuti pelatihan dasar lima hari boarding dan magang seminggu, itu memerlukan biaya yang tidak sedikit, baik bagi aku sendiri dan manajemen MC. Begitu pembelaanku kepada orang yang menganggapku bahwa aku berdiam diri saja.

Justru dalam waktu senggang itu, aku terus menulis saja. Karena impian terdalamku ingin jadi penulis saja. Aku ingin membangun rumah kebudayaan. Hidupku bukan untuk pekerjaan saja, mendapat gaji bulanan, menikah beranak-pinak, lalu mati tak memberi makna pada kehidupan. Sebagai penjelmaan dari manusia Nusantara, kuberi makna pada peradaban Nusantara.

Malam ini dari jam tujuh sampai jam sebelas malam, kutonton film India: Asoka. Bukan hanya ceritanya saja yang menarik, yang selalu mengusung cinta, kasih Budha. Tapi aktrisnya itu yang cantik-cantik. Jodohku akan seperti bintang India pastinya. Masa kecil yang sudah dicekoki film India, jadi gambaran perempuan cantik itu dalam benakku ya perempuan cantik ala film India itu. Makanya selalu kucari perempuan berhidung mancung sebagai salah satu kriteria perempuan yang kucari.

Ini ambisi, ya mungkin ini ambisi. Televisi memang telah merubah pola hidup manusia. Perempuan cantik Nusantara, khususnya Sunda mungkin Dyah Pitaloka, putri Pajajaran. Tapi berhidung mancungkah ia? Apakah perempuan berhidung mancung adalah penjelmaan kebudayaan asing?

Dalam syair sunda, “hidung mancung pipi koneng,”  kapan lagu itu diciptakan? zaman sebelum eropa datang?[]

**

 

Ahad, 26 April 2009

 Ketidakpastian, Motivasi, dan Muslim

**

Karena hidup penuh dengan ketidakpastian, maka munculah kegairahan. Coba jika seseorang tahu kapan waktu kematiannya, akan seperti apa masa depannya. Suramkah ataukah berbuntut kebahagiaankah dalam nasibnya. Yang bahagia mungkin saat sekarang ia akan berleha-leha, tak produktif. Toh ia akan berhasil dan bahagia. Bagi yang suram, ia akan berputus asa, lebih baik mengakhirinya dengan kematian, toh tak ada harapan untuk menjadi lebih baik.

Tokoh Badrim dalam film ‘Doa Yang Mengancam’, ia dengan kemampuannya melihat masa lalu dan masa depan—akibat disambar petir, seperti batu Ponari—setelah tahu masa lalu ibunya dan dirinya adalah lahir dari hasil pelacuran, tadinya mau membawa ibunya bersenang-senang, maka tak jadilah ia membawa ibunya ke kota. Dan setelah ia tahu bahwa dirinya akan ditembak mati, sudah tak enak hidup sejak sebelumnya.

Lalu bagaimana dengan Rasul Saw. Ketika ditanya oleh Jibril, ‘kapan saatnya hari kiamat’. Beliau menjawab, ‘yang bertanya mungkin lebih tahu’. Sekelas Rasul saja tidak diberikan kemampuan melihat masa depan. Lantas bagaimana ucapan beliau bahwa Persia dan Romawi akan tunduk di bawah naungan Islam. Meskipun itu pada akhirnya benar, ucapan beliau tidak lebih hanyalah sebagai motivasi bagi para sahabatnya yang kesulitan memecahkan batu untuk bersiasat dalam perang Khandak.

Justru berkat adanya motivasi beliaulah para sahabat dan generasi selanjutnya mampu membuat tunduk Persia dan Romawi serta membawa cahaya Islam ke sepertiga bumi. Tugas beliau sebenarnya memotivasi manusia, membuat manusia supaya tetap berpengharapan dalam kondisi apapun. Dengan motivasi, maka mujarablah hasilnya. Padahal motivasi lebih besarnya hanyalah kata-kata, dan sedikitnya perbuatan kita.

Sisi lain dalam Alquran disebutkan apakah kalian tidak berpikir, apakah kalian tidak merenungkannya. Allah pun ia memberi motivasi manusia untuk berpikir. Manusia itu pada hakikatnya diturunkan ke bumi sebagai khalifah, dan syariatnya Adam sebagai manipestasi manusia karena ia telah berbuat dosa. Jadi Allah menghendaki manusia memakmurkan bumi dan memberi dua buku kitab-Nya—Alquran dan Akal—sebagai  panduan dan motivasi.

Maka hasil dari kerja akal manusia itu—sebagai indikasi kata Allah dalam Alquran, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui” maka munculah berbagai teori, spekulasi, menduga-duga, atau kalau dalam literatur Jawa adalah ilmu Titen.

Jika di Barat dikenal ada orang ahli futurologi yang salah satu orangnya adalah John Naisbit dan Nostradamus. Sedangkan di bumi Nusantara ada ahli Titen seperti Ronggowarsito salah satunya.

Dan atau mungkin juga paranormal. Setelah ilmu-ilmu Barat dan segala turunannya sudah tidak mampu menangani permasalahan hidup kita, sekarang sebagian orang beramai-ramai datang ke paranormal. Paranormal beneran, profesonal atau gadungan.

Mungkinkah keilmuwan paranormal ia memiliki sisi ilmiahnya tersendiri? Tan Malaka mengajak ilmuwan Timur untuk menemukan sisi ilmiah atau sisi rasionalnya dari kegaiban timur (Mistisme). Karena ia tahu dari teori-teori penemuan Barat (Kapitalisme, Intelektualisme-Rasionalisme) memiliki sejumlah kelemahan.

Dan sebagai cara untuk mengilmiahkan mistisme itu adalah dengan Filsafat Islam khususnya. Filsafat Jawa atau bahkan Hindu, Budha, Konfiusme memiliki titik sisi kesamaan, yakni kegaiban (Magic). Islam juga sebagai bagian dari tiga agama samawi memiliki kesamaan juga dengan rasionalisme Barat. Jadi apakah Islam adalah agama plin-plan?

Bukan. Islam juga bukan agama di tengah, berada di sisi tengah berbagai isme. Tapi Islam adalah agama “ausat” yakni saripati atau nama dari kebaikan-kebaikan yang ditemukan dari isme-isme yang ada.

Bagaimanapun isme-isme itu adalah hasil pergumulan manusia terhadap diri dan lingkungannya. Ia lebih baik daripada kita sebagai umat Islam tapi tak pernah berpikir, sehingga tak menghasilkan apapun. Mereka kita sebut bukan Islam tapi ia telah menjalani Islam, yakni berpikir untuk kebaikan umat manusia. Malukah kita orang lain sudah beramai-ramai pergi ke bulan, tapi Islam masih bergelut oleh kemiskinan dan kebodohan.[]

**

 

Senin, 26 April 2009

Romantisisme, Negara Islam, dan Budi Pekerti

 **

Menurut sang sejarawan Ong Hok Ham, bahwa kecendrungan melukis Raden Saleh adalah bergaya Mooi Indie, dimana akar dari Mooi Indie adalah romantisisme. Romantisisme adalah adonan kue nasionalisme. Nuansa romantisisme adalah dimana kita mengenangkan masa lampau yang indah, yang berhasil, yang menang. Demikian  romantisme merupakan sikap dan perasaan yang mengenangkan masa lalu yang dianggap baik dan indah, dan menyesalkan perkembangan-perkembangan masyarakat modern sekarang sebagai dianggap kurang baik.

Masa lalu memang sangatlah penting sebagai jejak sejarah kita. Pelajaran sejarah yang dianggap membosankan oleh sebagian kita, tapi ia kecendrungannya kurang peduli pada masa depan. Padahal kita hidup ada di masa kini dalam menyongsong masa depan. Masa depan adalah masa yang harus kita rencanakan. Seperti pepatah mengatakan sekarang adalah impianmu di masa lalu dan masa depanmu adalah bergantung kita di hari ini.

Begitupun kita hari sebagai umat Islam. Umat Islam terus tergerus oleh kapitalisme, tak mampu mempertahan karakter Islam-nya di hadapan digjayanya peradaban Barat. Maka kita pun beromantisisme bahwa dulu Islam pernah mencapai zaman keemasan, masa kegemilangan. Entah di zaman Bani Abbasiyah, Bani Umayah—Andalusia, atau zaman Rasul itu sendiri. Kondisi umat Islam setidaknya lebih baik saat Islam di bawah naungan khilafah Islam dibandingkan Islam dalam wadah negara bangsa (nasion state), begitu argumen HTI—Hizbut Tahrir Indonesia.

Dan ia lagi mengatakan konsep negera bangsa adalah strategi Yahudi untuk mencabik-cabik wilayah Islam. Lalu kenapa Inggris, Perancis, Amerika berbentuk sebagai negara bangsa kalau formula negara-bangsa hanya untuk wilayah-wilayah basis umat Islam. Tapi memang meskipun Barat pada memakai baju Nasion State, tapi secara jiwa mereka bersatu, begitu alasannya lagi.

Sementara umat Islam yang merasa memiliki kebenaran tertinggi, meski sudah tersekat-sekat oleh baju negara, tapi secara jiwa (wadag halus) sebenarnya tak ada yang melarang kita untuk tidak bisa bersatu. Kenyataannya negeri Timur Tengah terus berjalan dalam konflik Arab-Israel. Negara-negara Arab tak pernah bersatu untuk melawan Israel.

Kalau alasannya lagi, “Itu kan pemerintahnya, rakyatnya bersatu-padu melawan Israel.” Lalu kenapa pemimpin-pemimpin negeri mereka itu tidak ditumbangkan saja. Kenapa kita tak memilih revolusi, kalau evolusi tak menghasilkan apa-apa.

Tercerai berainya umat Islam dalam region negara bangsa-nya sendiri-sendiri adalah bukan soal. Karena itu hanyalah wilayah penyatuan fisik saja. Tidak darurat membentuk apalagi dengan paksa untuk mendirikan negara Islam. Tak ada kemajuan apapun dari yang bernama pemaksaan agama.

Pikiran sudah terbaratkan ketika ia berpikir ingin membentuk negara Islam—“Negara” ingin disatupadukan dengan “Islam”—adalah bukanlah solusi dari kemiskinan dan kebodohan kita. Negara adalah wilayah penyatuan fisik sedangkan Islam adalah wilayah penyatuan jiwa kita. Wilayah jiwa dulu yang harus diluruskan, baru turun ke fisik. Sementara ini yang fisik ditarik ke wilayah jiwa. Ini cara berpikir materialisme. Marxisme yang dimulut dicaci dimaki tapi dianut sekenanya. Kita tidak konsisten menjadi muslim.

Kembali ke soal jiwa. Pendidikan jiwalah yang harus menjadi agenda utama kita. Moralitas kita yang harus menjadi budi pekerti kita dalam kehidupan sehari-hari. Soal kejujuran, dapat dipercaya, berbuat terbaik (sempurna), menyampaikan kebaikan. Di sekolah ajarkanlah soal budi pekerti. Pendidikan agama Islam jangan terfokus pada fiqh lahiri, tapi lebih dominan pada hal-hal dalam membentuk karakter muslim.[]

***

Rabu, 28 April 2009

 Pengangguran, Menjadi Penulis dan Usaha Lain

 **

Aku ini seorang pengangguran. Hush, jangan ngomong gitu, nanti suka beneran. Begitu orang bilang ketika mereka merespon jawabanku, ketika ditanya sekarang kerja dimana. Memang kuaku ini orang pengangguran. Itu realitasku kini. Masa harus berbohong pada diri.

Sudah jelas otakku sudah kucari-cari sumbunya dan kunyalakan, tapi belum sepeserpun implikasi materi. Hari ini dan hari-hari sebelumnya aku tak punya penghasilan sama sekali. Nol besar.

Sementara hidupku terus berkonsumsi. Semakin hari semakin dijangkiti konsumerisme. Makan, minum, mandi, make-up, hilir mudik kesana-kemari adalah semuanya dengan uang. Tapi belum becus mendatangkan uang. Lalu untuk apa aku membaca buku berpuluh-puluh, mempelajari kebudayaan, mengkaji Islam. Sementara otakku masih tak berharga?

Tidakkah aku menahan malu, jika dikomentari, kok mahasiswa terbaik MKS belum kerja, tidak ngapa-ngapain, sampai usia segini masih “menyusu” pada ibu. Kenapa harus begini. Cak Nun yang hanya bisa bilang, “Tak ada musibah, semuanya adalah rezeki”.

Memang aku yakin kondisi apapun yang menimpaku hari ini, adalah kondisi terbaik bagiku dalam ridha-Nya. Karena dalam hari nanti, akan dapat disimpulkan, akan dapat diraih hasilnya atas laku-laku terdahulu itu. Termasuk aku menulis ini akan menghasilkan sesuatu yang lain di saat nanti.

Namun aku tak tahan dan bingung, ketika ada orang mengejekku, mencemooh kenapa kamu diam saja. Jika tidak mendapat kerja, coba saja ikutan MLM yang lagi marak. Ini mencari kerja tidak, ikutan MLM tidak. Lalu untuk apa hidup kalau begitu.

Pertama, bukan aku tak ingin ikut bergabung ke dalam hiruk-pikuk bisnis MLM. Biaya masuknya mahal, lebih baik buat makan dan cadangan makan nanti. Aku sering tak pegang uang ratusan dalam beberapa hari. Ketika kupegang uang, selalu saja gatal ingin pergi ke palasari, ke tukang majalah bekas, buku bekas, ke toko buku ingin beli buku. Untuk lapar akalku. Jadi uang yang kupunya tak cukup buat daftar MLM, yang ditawari temen-temen yang datang ke kosanku.

Kedua, aku ingin sesuatu hal ingin secara kerelaan hati. Aku tak suka paksaan. Jika hati tak bersambut, bagaimana akan betah sehingga bisa mengembangkan bisnis tersebut menjadi lebih besar. Ditambah lagi aku punya agenda diriku sendiri. Aku ingin mencari uang dengan caraku sendiri.

Jikapun dipaksa hal itu, tapi itu dipaksa dari dalam diriku, karena sudah paham dengan maksudnya—sebagai anak generasi modernis, ketika melakukan atau menimbang suatu hal, selalu memakai kacamata azas manfaat, terpikir makudnya, fungsionalitasnya. Jadi sekiranya tak bisa dijangkau pikiran tentang manfaatnya, untuk apa dilaksanakan.

Kenapa aku tak tertarik dengan hiruk-pikuk zaman? Ketika teman-teman sebayaku sudah bergiat aktif di dunia bisnis, ikutan MLM, bisnis apapun saja asal mendatangkan uang. Tapi aku maunya menulis saja, membaca saja, padahal akupun sama ingin punya kemapanan finansial. Setiap hari aku ingin makan dan berpakaian.

Bukan aku tak ingin masuk pada hasrat itu, tadi sudah kubilang aku ingin mengais rezeki dengan caraku sendiri. Menjadi penulispun adalah demi uang. Ya aku menulis karena ingin uang, bukan seperti mereka yang demi mengisi hidup. Meraih materi dari menulis itu kan ada faktor kebetulan, ada faktor sensasional. Jadi demi uang untuk kebutuhan jangka pendek harus mencoba jenis usaha lain.

Aku ingin mencoba lain hal. Tapi belum terpikirkan. Punya kemampuan akuntansi, laki-laki jadi akunting, tidak bonafit, tidak prospektif seperti marketing bisa jadi kepala dengan cepat. Mampu mengetik sepuluh jari tak ada job tawaran mengetik naskah. Setiap hari selalu sibuk dengan mengetik naskah sendiri.

Bukankah sekarang aku sudah diterima di MC jasa keuangan syariah menjadi teller. Memang, tapi ternyata aku harus sabar menunggu pembukaan kantor baru. Sementara sekarang ini aku butuh uang untuk cukup makan, bisa beli buku demi memenuhi rasaku ingin paham yang ingin kufahami.

Tadi siang ikut nebeng ke Ahmad—dia ada panggilan kerja dan besok sudah bisa mulai kerja. Tapi ia bisanya hari Jumat, karena sedang mempersiapkan persyaratan Polisi. Dan ia pinjam padaku Rp.50.000,- buat bikin ini-itu tetek-bengek persyaratan. Ia mau pulang ke Tasik—dengan tujuan ke toko Kurnia Agung mau beli majalah Horison edisi April. Ternyata tak ada.

Selepas salat pergi ke tukang majalah bekas. Tak ada maksud beli, tak punya uang. Ditambah lagi besok ada pameran Kompas-Gramedia. Aku ingin mencari buku kumpulan cerpen Cak Nun, kumpulan cerpen, kumpulan puisi, dan kumpulan esai, dan novel.

Lama Ahmad belum muncul juga. Iseng melihat-lihat buku. Tadinya tak ada maksud beli buku disana—aku biasa beli buku di Palasari—malah aku melihat buku karya HOS Cokroaminoto, ‘Islam dan Sosialisme’ dan buku ‘Surat Kepada Kanjeng Nabi’-nya Cak Nun. Buku kedua sudah kucari-cari kemana-mana, Mizan sudah tak menerbitkan lagi.

Ternyata keinginan yang sudah menjadi ingatan alam bawah sadar muncul juga permenuhannya. Tapi bingung besok ingin ke pameran Kompas-Gramedia. Uangku Rp.100.000,- belum lagi buat makan. Tapi daripada nanti sudah tak ada, kupikir lagi, kutimbang lagi dengan harga tawaran pertama Rp.90.000,- lalu ke Rp.40.000,- Aku ingin 25.000. deal-nya 30.000 jadi kubeli.

Tadinya tak akan beli apa-apa, membawa juga oleh-oleh buat di kosan untuk menambah kegairahan hidup yang monoton, yang belum saja berpenghasilan.[]

**

Kamis, 29 April 2009

 Konsumerisme-ku Bukanlah Karakter Sang Presiden

**

Gerangan apa yang menjangkitiku. Begitu besarnya ambisiku. Konsumerisme-ku. Ternyata aku adalah penganutnya. Sangat ingin aku beli buku banyak di pameran Kompas-Gramedia. Mumpung sedang murah meriah. Banyak buku yang kubutuhkan, yang kucari-cari selama ini. Aku ingin banyak buku sastra.

Tadi aku hanya beli buku: Jalan Sunyi Emha 25.000 (murah banget, asalnya Rp.142.000,- setahun di acara dan tempat yang sama), buku Sapardi Djoko Damono Dunia dan Karyanya, buku Telepon Genggam-nya Joko Pinurbo dan Daging Akar-nya Gus Tf, ketiganya lima ribuan. Masuk ke arena lain, kutemukan buku Biografi Perjalanan Twilite Orcestra yang harga normalnya Rp.175.000,- dijual cuma Rp.12.000,- aku sebagai penyuka biola tentu sangat menarik perhatianku.

Pikiranku sekarang ingin menambah koleksi buku-buku puisi, kumpulan cerpen dan esai, yang dimana ingin aku menulis bidang ketiganya. Dan tadi banyak buku murah dan ada. Sejak dulu ingin beli buku kumpulan cerpen-nya Cak Nun, BH harga normal Rp.43.000,- Ingin buku Lukisan Kaligrafi-nya Mustofa Bisri harganya Rp.27.000,- Buku kumpulan cerpen yang seharga limaribuan banyak pula. Lalu ada buku puisi Sapardi Djoko Damono. Ada novel Trilogi Suparto Brata, novel tebal dijual Rp.5.000,- dan Rp.15.000,- Ada juga kumpulan cerpen Godlob-nya Danarto, buku langka. Buku biografi Che Guevara. Banyak lagi yang ingin kubeli.

Sementara aku ini uangku di dompet hanya Rp.5.000,- Itupun tadi ada sang akhwat mengembalikan buku Sirah Ibnu Hisyam jilid satu dan dua pinjam seminggu, ia membayarnya lima ribu, alhamdulillah. Di ATM shar-e bersaldo Rp.42.000,- mana bisa diambil.

Tak tahu kalau dipakai belanja sampai saldonya ludes, nol. Waktu pameran sampai tanggal tiga Mei. Paling piutang di Ahmad Rp.50.000,- Bagaimana caranya aku bisa punya uang. Sampai usia sebegini tuanya masih belum punya penghasilan.

Tadi Ita nelpon, Ita Kartika. Ia bilang kapan kerjanya kalau tiap hari main mulu. Gara-gara tidak kerja, tak ada penghasilan. Tak ada penghasilan, tak bisa beli buku di pameran Kompas-Gramedia.

Dua hari ini Gramedia sedang rekrutmen karyawan baru. Gramedia akan segera buka 13 cabang, salah satunya di Singapore, Malaysia, dan Vietnam. Sebelumnya aku sudah punya pengalaman kerja di Gramedia, jika aku melamar akan jadi pertimbangan. Pantesan aku dulu dalam satu pekan diharuskan belajar bahasa Inggris, untuk ekspansi usaha.

Tapi sampai kapan aku terus jadi karyawan. Jangka pendek segera menghasilkan uang, tapi terninabobokan dengan pendapatan yang tak nambah-nambah. Malah kerjanya yang semakin cape saja. Aku ingin mencoba bisnis.

Aku harus mendapatkan penghasilan dari kegiatanku yang kusenangi. Masa sih buka toko buku plus perpustakaan tidak atau lama profitabel-nya. Bukankah ini wirausaha sosial. Masa untuk kebaikan umat manusia Tuhan menyendatkan mengalirnya rezeki padaku.

Lagian aku sudah diterima di MC koperasi jasa keuangan syariah. Mungkin sebentar lagi kantor baru segera dibuka. Aku harus sabar menunggu. Bekerja di Gramedia mungkin akan besar gajinya, mungkin. Tapi tak sealur denganku. Aku ingin menjadi bagian dari lokomotif Ekonomi Syariah. Aku menjadi pekerja dulu di koperasi, nanti aku bikin sendiri koperasi atau BPD, bank pembangunan desa. Pokoknya aku harus bisa membikin koperasi syariah.

Aku harus memulai pengubahan masyarakat dari lingkup kecil. Seseorang yang menjadi presiden pun harusnya harus pernah pula memimpin masyrakat yang lingkup keci. Seperti jadi gubernur, walikota, camat, dan kepala desa. Bagaimana ia membawa masyarakat satu desanya ke alam kesejahteraan dan keadilan.

Kalau sudah mampu membawa perubahan lingkup kecilnya, maka besar kemungkinan bisa pula di cakupan masyarakat lebih luas. Ia harus diuji dulu memimpin masyarakat kecil, yang sama lebih bagus. Mengatur negara apakah memang beda dengan perusahaan, lembaga sosial, atau instansi manapun ia berhasil, maka ia layak menjadi sang presiden.

Bagaimana nanti kalau aku jadi kepala desa. Langkah apa yang bisa kutempuh yang sudah terpikirkan sekarang. Aku ingin mendata kependudukan person per person-nya, mulai dari nama lengkap sampai pada hobinya, impiannya, atau penyakit yang pernah diderita. Ia harus lengkap, rapi, terkomputerisasi.

Si anak desa harus dipastikan bagaimana sekolahnya, pengembanan bakat minatnya, dan sistem politik yang berlaku dalam lingkup desa itu. Apakah dengan sistem partai, atau langsung saja seperti halnya di Athena, aspirasi setiap individu adalah langsung. Karena setiap individu adalah unik, satu person yang harus benar-benar dihargai sebagai sosok yang terlahir ke bumi ini. Tak ada perbedaan baju-bajunya.[]

**

 

Jum’at, 30 April 2009

 Mengembalikan Kebudayaan Nusantara

 **

Dalam esai Cak Nun, “The hidden generation alias Jaka Pinggit” dinyatakan tentang kemungkinan akan lahirnya angkatan 90-an yang Arasy wawasan.Dimana jenis pilihan perilaku, dan pusat-pusat keprihatinannya sama sekali berbeda dengan Angkatan 66 dan angkatan 45. Tetapi ia sebagian dimensi perhatiannya mirip “Angkatan 28”, umpamanya perhatian yang mendalam terhadap keadilan sosial dan hak asasi manusia maupun hak asasi alam. Esai ini dimuat di Yogya pos, 20 Juli 1990.

Lanjutnya, ia—Cak Nun—masuk sebagai generasi tipologi “air”, sedangkan angkatan Malari atau angkatan 66 bertipologi “logam” dan angkatan 45 berwatak “batu”. Dan angkatan sekarang dan nanti akan dilatih oleh ilmu air”-nya Nabi Khidr yang mengejawantahkan melalui sistem-sistem.

Kutahu angkatan 45 adalah generasi Chairil Anwar, Idrus, Achdiat K.Mihardja, Rustandi Kartausumah. Sedangkan angkatan 66 adalah Taufik Ismail, WS Rendra, Ajip Rosidi, Bur Rasunto, Mansur Samin. Lantas angkatan 20-an siapa?

Periodesasi HB Jassin membagi dua periode, yaitu Sastra Melayu Lama dan Sastra Melayu Baru. Sastra Melayu Baru dibagi menjadi angkatan 20, angkatan 33 (penggalan baru), angkatan 45 dan 66.

Lantas siapa angkatan 28, yang dimaksud Cak Nun itu? Chairil Anwar lahir 26 Juli 1922, meninggal 28 April 1949, dan tahun berkarya diantara tahun 45-an. Jadi mungkin disebut pilihan angka sebagai nama angkatan adalah tahun pergumulan dan peneluran karya-karyanya. Dalam sudut biologisnya, ia adalah masa remaja, muda sampai matangnya.

Jika memang begitu, yang bisa dianggap Cak Nun sebagai angkatan 28 adalah Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah, Armijn Pane, Sanuse Pane, Muh.Yamin, JE Tatengteng, Rustam Efendi, dan Hamka. Dan jenis sastranya diantaranya adalah dongeng, hikayat, tambo, wirasarita, bidal, mantra, pantun, gurindam, dan syair.

Pula mungkin mereka besar bersama karya Hamzah Fansuri dengan karyanya Syarab al-Asiqin (Minuman Orang Berahi), Asrar al-Arifin (Rahasia Ahli Makrifat), dan al-Muntahi. Dan Bukhari al-Jauhari yang terkenal dengan karya Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja). Pokoknya angkatan 28 dibesarkan oleh jenis sastra nuansa sufi (Sastra Sufistik). Karya-karya angkatan Hamzah Fansuri dan Bukhari al-Jauhari naskahnya dengan tulisan huruf Jawi atau Pegon. Sedangkan angkatan Hamka dan Sutan Takdir dkk. sudah dengan tulisan latin.

Aku mengenal Hamzah Fansuri dari tulisan Abdul Hadi WM—ia dikategorikan sebagai angkatan apa?—yang banyak mengkaji perikarya Hamzah Fansuri. Juga Cak Nun, Umar Kayam, Kuntowijoyo dan orang-orang yang sekarang sudah gaek dan yang masih baru-baru meninggal disebut angkatan berapa atau apa? Lalu Ayu Utami, Djenar, Dewi Lestari, Helvi Tiana Rossa, Asma Nadia, Kang Abik? Sastra Modern, Sastra Postmodern? Angkatan 90-an? Angkatan 2000-an?

Lalu generasiku?

Berdasarkan pencarian tadi, dimana penamaan angkatan adalah masa tumbuh dan pergulatannya, masa remaja dan mudanya, maka termasuk akulah yang disebut angkatan 90-an. Sebelumnya kukira aku masih disebut angkatan 80-an, dengan alasan lahir tahun ‘83.

Demikian dengan penjelasan tadi bahwa generasiku berkecendrungan seperti Sutan Takdir, Hamka, Amir Hamzah, Armijn Pane, Sanuse Pane, Muh.Yamin, dan yang lainnya sebagai angkatan ‘28. Zaman mereka adalah zaman peralihan dari tulisan pegon dan jawi ke tulisan latin. Jadi seharusnya generasiku adalah zaman peralihan kembali ke asal, yang milik kita sendiri, yaitu ke tulisan Jawi dan Pegon lagi. Pemikiran sudah posmodern tapi cara penulisannya dengan tulisan khazanah Melayu.

Kenapa pula di Nusantara ini disebut Sastra Melayu? Bukan Sastra Jawa, Sunda Bugis atau lokal lainnya. Memang Sunda, Jawa dan yang lainnya adalah lebih dini atau awal yang bisa dianggap bangsa asli Nusantara—meski sebenarnya ia juga perpaduan, atau orang ‘asing” yang datang ke Nusantara ini. Tapi Melayu adalah kreasi baru perpaduan antara kebudayaan Nusantara yang sudah lokal tadi—yang sudah jadi pengayaan budaya Nusantara—dengan kebudayaan Hindustan (India), Timur Tengah, dan mungkin juga Barat. Telah banyak bukti menunjukkan sejak dulu mereka, bangsa Hindustan dan Timur tengah sudah marak di Nusantara.

Kenapa harus Melayu, karena bahasa Melayu yang mengukuhkan diri menjadi bahasa Indonesia—sebagiannya menjadi bahasa negara Malaysia, Brunai, Thailand Selatan dan Lingkar Asia Tenggara. Bahasa Indonesia adalah identitas kita sekarang dan harus dikembalikan ke yang sebenarnya, ke yang asli. Untuk apa, untuk mengembalikan basis kepercayaan diri kita.

Selama ini kita—aku diantaranya—merasa asing ketika tulisanku latin. Aku tidak dilahirkan atau dibentuk oleh “orang tua” yang membentukku menjadi paham Nusantara, yang menguasai tulisan Pegon dan Jawi (tulisan Melayu). Meski pernah semasa sekolah Diniyah belajar menulis Pegon.

Kenapa “orang tua” kami tak mengarahkan ke pengayaan Kebudayaan Nusantara? Jika masa remaja dan mudanya Ajip Rosidi (Sastrawan Sunda), Alwi Sahab (wartawan senior Republika), masa Sapardi Djoko Damono (penyair) dan yang sejamannya di lingkungan sekitar mereka banyak berdiri taman bacaan. Jadi mereka sedari kecil sudah dikenalkan dengan sastra dan kebudayaan bangsa manapun. Karena masyarakat mereka adalah Hindia-Belanda, jajahan Belanda dari Barat yang sangat berhasrat pada ilmu pengetahuan. Tapi bangsa Nusantara juga sangat melek pada ilmu pengetahuan. masalahnya ada generasi yang terpotong, tidak ter-estapetkan.

Tapi mungkin sebenarnya tetap terhubungkan antara generasi ke generasi. Aku saja yang hidup di kampung yang sangat kampung. Jadi tak ada taman bacaan di lingkungan kampungku. Jangankan di lingkungan rumah, di sekolah juga perpustakaan ruangannya malah ditutup dan buku dibawa ke ruang guru. Jika di ruang guru, para murid mana berani masuk untuk mengaduk-aduk buku. Masa SMP, sekolah baru dan bangunan baru juga, gedung perpustakaan yang megah masih kosong oleh buku, tak ada satu judulpun.

Masa SMU, ada perpustakaan lumayan lengkap. Aku sering masuk dan main, tapi kecendrunganku pada buku agama, bukan pada buku sastra. Guru bahasa Indonesia tak pernah menjelaskan pentingnya buku sastra. Meski pernah juga membahas novel Salah Asuhan. Untuk membaca isinya, mana ada bukunya. Sang guru hanya menjelaskan nilai moralnya ini-ini, tokohnya ini dan konfliknya ini.

Masa kanak dan remaja tak terarahkan. Dan mungkin sekarangpun di masa mudaku ini biarlah aku dibentuk oleh alam Nusantara ini, biarlah dibimbing langsung oleh Tuhan untuk menjadi apa baiknya aku menurut Tuhan sendiri.

Kusalahkan juga para angkatan ‘66 dan seterusnya, kenapa tidak mengedukasi masyarakat supaya memiliki perpustakaan, tidak mendorong tumbuhnya taman bacaan di lingkungan pemukiman. Memang setiap generasi selalu memiliki kelemahannya sendiri, dibanding keunggulannya. Justru mereka sekarang di usia senjanya sedang mendorong generasiku untuk mengembalikan kebudayaan yang hilang itu. Mereka mengkritisi pemerintah supaya mau mengkondisikan generasiku dan setelahku bisa mengkayakan dirinya dengan sastra kebudayaannya sendiri, kebudayaan Barat, Hindustan, China atau manapun apapun.

Makanya aku ingin mendirikan taman bacaan ASI. Memang dibutuhkan biaya besar untuk mendirikan perpustakaan tidak hanya di beberapa tempat, baru satu tempat saja sungguh besar duitnya untuk pengadaan bukunya. Perpustakaan yang bukunya masih cawerang jika dihitung sudah menghabiskan uang 21 juta ke atas. Semoga Tuhan meng-acc proposalku sebagai salah satu caraku untuk mengenalkan mereka pada-Nya, pada sang Illahi.[]

**

Manusia hidup dilingkupi masalah demi masalah. Bukan hidup manusia namanya kalau tak dikungkung masalah. Sebab manusia biarpun rentan masalah, tapi Tuhan menyediakan perangkat sebagai jalan solusinya.

Berbahagialah ia yang diberi masalah. Sebab Tuhan sengaja sedang menguji untuk menaikan derajatnya. Sebab Tuhan percaya bahwa ia mampu memanggulnya menjadi tinggi beberapa derajat diantara yang lainnya.

Jika kita merasa hidup dijalani seperti tak ada masalah, itu jadi pertanyaan mengapa hidup lurus-lurus saja. Tanpa kelokan dan tanjakan yang mencipta seni kehidupan.

Dengan masalah, kita sedang meracik problema dan menata logika, sehingga diraih kesimpulan-kesimpulan baru. Dan menjadilah kita manusia-manusia baru yang mendamba pertolongan Tuhan-nya.

Mensyukuri Pendidikan
**
Pagi ini, nikmat manakah yang tak terwujudkan. Allah Maha Memenuhi segala apa yang menjadi kebutuhan hamba-Nya. Semua yang sudah ada di tangan ini harus dipergunakan dengan baik untuk mempermudah berbuat kebaikan.

Bersyukur hari ini di pagi yang cerah ini…

Unduh Kumpulan Lagu RAP Abiem Ngesti dkk. Album: GADIS BALIKU

Created by ASI Production

**

9_ABIEM NGESTI – ALBUM  ‘GADIS BALIKU

  1. Gadis Baliku UnduhVoc. Abiem Ngesti ft. Yolanda Yusuf, Cipt. Abiem Ngesti [RAP]
  2. Rindu Lagi UnduhVoc. Abiem Ngesti ft. Yolanda Yusuf, Wiwien Ngesti
  3. Satu Idola Unduh - Voc. Abiem Ngesti, Rentosaky/Wahab Yudes/Udi S. [RAP]
  4. Ini Rindu UnduhVoc. Farid Harja ft. Lucky Resha, Farid Harja
  5. Ini Rindu UnduhVoc. Farid Harja ft. Lucky Resha, Farid Harja [RAP]
  6. Singkong dan Keju UnduhVoc. Ari Wibowo, Arie Wibowo
  7. Singkong dan Keju UnduhVoc. Ari Wibowo, Arie Wibowo [RAP]
  8. Romantika di Amor UnduhVoc. Farid Harja, Cipt. Farid Harja
  9. Romantika di Amor Unduh - Voc. Farid Harja, Cipt. Farid Harja [RAP]
  10. White Snake Legend UnduhCipt. Pompi [RAP]
  11. Pacarku Unduh - Cipt. Anci Larici [RAP]
  12. Api Unggun UnduhVoc. Ari Wibowo, Cipt. Farid Harja
  13. Api Unggun UnduhVoc. Ari Wibowo, Cipt. Farid Harja [RAP]
  14. Bayang-bayang Semu UnduhCipt. Ukat S. [RAP]
  15. Cintaku Nempel Terus UnduhVoc. Novitasari, Rama Aiphama
  16. Cintaku Nempel Terus UnduhVoc. Novitasari, Rama Aiphama [RAP]
  17. Surat Undangan UnduhVoc. Poppy Mercury, Cipt. Rosyid Somantr 
  18. Surat Undangan UnduhVoc. Poppy Mercury, Cipt. Rosyid Somantri [RAP]
  19. Satu Idola (short) Unduh - Voc. Abiem Ngesti, Rentosaky/Wahab Yudes/Udi S. [RAP]

**

NOTE :

**

Kamis, 26 April 2012

Mestakung Abiem Ngesti

**

Benarlah, kalau sudah melakukan langkah pertama, maka langkah kedua dan selanjutnya selalu ada jalan. Bagaimanapun caranya semesta akan mendukung langkah pertama itu. Sebagaimana konsepi fisikawi Pak Yohanes Surya: Mestakung, Semesta Mendukung dan Krilangkun, Kritis, Langkah, dan Tekun.

Seperti sekarang ini pernah saya menulis kumpulan lagu-lagu semua album Abiem Ngesti dari kecil sampai pamungkas, yaitu Pangeran Dangdut, Ini Dangdut, Kugenggam Dunia, Gempa, Ini Jaman Uang, Astaghfirullah, Leila, Sonia, Gadis Baliku,  dan terakhir album Dahsyat. Belum semua kudapatkan semua lagunya, tapi seiring langkah, satu persatu lagu-lagunya bakal kutemukan link-nya.

Dengan itu senanglah saya, cerialah saya dapat mendengarkan lagu-lagu Abiem Ngesti yang ketika kecil dulu hanya sepenggalan saja. Malahan sekarang sudah kukoleksi 55 lagu dari sekitar 100 lagu semua lagu Abiem Ngesti. Meski sekarang mencari kaset-kasetnya sudah susah, tapi diantara orang Indonesia ada yang membeli dan mengoleksi setiap albumnya.

Dulu saya pernah punya kaset Dahsyat yang ketika SMP sepertinya masih ada. Sampai-sampai di buku kamus Bahasa Inggris-ku kucoret-coret lembarannya dengan lirik-lirik lagu Abiem Dahsyat album Dahsyat. Tapi sayang sekali kasetnya tak tahu dipinjam oleh siapa. Hingga akhirnya kuketahui sudah raib dari rumah Nenekku—aku dari kecil sampai SMP, tinggal dengan Nenekku.

Padahal kaset ini kubeli ketika SD sewaktu main ke Pasar Minggu Tawang dari Toko Kaset Mang Ador. Masih ingat ceritanya waktu itu disana terpajang kaset Dahsyat Abiem Ngesti. Kaset ini sudah kuincar seminggu sebelumnya setiap aku main ke pasar.

Ketika mau kubeli kaset ini, uang yang kupunya tak cukup. Hingga akhirnya aku keliling-keliling pasar dan bertemu Aki Iho, adiknya Abah Tajudin. Kukatakan padanya mau membeli sesuatu, tapi uangnya tak cukup. Maka kontan saja beliau memberiku uang.

Masih masa SMP, juga pernah kubeli kaset Of The Best Abiem Ngesti, yang akhirnya hilang juga. Tapi ketika sudah kuliah di UIN, kudapatkan lagi kasetnya. Dari toko kaset Ujungberung aku membelinya, ketika kami bertiga—Yedi, Veri, dan aku jalan-jalan sepulang kuliah. Saat itu hariku sumringah karena mendapatkan lagi kaset yang dulu hilang.

Dan ketika sudah kerja di Bank Bukopin, bertemu lagi dengan kaset Abiem Ngesti. Ceritanya saat itu aku ditempatkan di kantor kas Bukopin Ikopin. Setiap pulang kerja, aku biasa jalan kaki dari Ikopin sampai terminal Cileunyi, demi menghemat ongkos dengan hanya naik satu kali angkot.

Meskipun kelelahan dan kepenatan pulang kerja, ditambah harus berjalan kaki dengan jarak satu kilometer siapa yang bersedia. Tapi itu terobati dengan perjumpaanku dengan toko kaset. Iseng aku melihat-lihat pajangannya. Ternyata ada kaset Abiem Ngesti.

Setelah kulihat, kumpulan lagu-lagunya hampir mirip dengan kaset yang sudah kupunya. Tapi ada dua lagu yang belum ada di kasetku. Yaitu lagu Leila dan Sang Juara. Kubertanya-tanya lagu Leila dari album mana. Dan ternyata di kemudian hari, informasi dari orang-orang yang berkunjung ke blog-ku, itu album Slow Rock kedua Abiem Ngesti: Leila. Album Slow Rock pertama adalah: Kugenggam Dunia.

Kuharap secepatnya kudapatkan lagi lagu-lagu Abiem Ngesti. Maka selalu cerialah aku mendengar dan mendendangkannya di sela-sela keseharianku dan kepenatan kerja dan situasi.[]

**

Ahad, 22 April 2012

Ingin Ada Perubahan

**

Kumulai lagi menulis. Sudah berhari-hari dalam satu bulan bahkan dalam dua bulan aku vakum menulis. Mungkin aku bosan menulis. Karena kondisinya terus begini saja tak berubah pada situasi yang membuatku ceria. Harapan tak kunjung terwujudkan dan kekalahan sebagai anggapannya.

Sekarang bagaimana aku dapat berubah. Apa yang dapat kulakukan sehingga sesuatunya berubah. Yang dapat membuatku tersenyum ceria menerima kondisinya. Aku begini kondisinya, lantas apa yang dapat kuperjuangkan bila segala sesuatunya tak mendukung.

Memang bila berpikir hambatan, serasa jauh menggapai impian. Seperti tak ada jalan, bahkan jalan permulaannya masih bingung bagaimana memulainya. Seperti aku telah kalah dalam hidup.

Setiap hari hanya disibukkan dengan rutinitas pekerjaan. Pekerjaan yang tidak begitu menjanjikan. Ingin segera berganti pekerjaan. Tapi perkakas untuk mendapat pekerjaan baru tak begitu aku memilikinya. Bagaimana mencari lowongan pekerjaan dari internet, tak ada waktu dan bila berlama-lama di warnet akan menjebol kantong dompetku. Mengedit surat lamaran dan curriculum vitae harus dengan computer cukup bagus.

Sudah sibuk melewati hari-hari dengan pekerjaan. Ketika malam ketika ingin mengikat sebuah pemikiran keburu kantuk menyerang karena kekalahan dari pekerjaan.

Sekarang lebih banyak diam dan tak menulis, dan baca buku pun dalam bulan ini tak ada yang tamat sampai halaman terakhir. Memang aku sudah bosan dengan kegiatanku yang sebelumnya kutekuni dengan disiplin tak ingin melewatinya. Tapi sekarang ingin hidupku dijalani apa-adanya saja. Menghadapi bagaimanapun hidup terjadi padaku.

Tulisanku masih begini-begini saja. Sudah tak tahan dengan kantuk, maka kusudahi saja tulisan ini.[]

**

Unduh Lagu Abiem Ngesti Album: SONIA

Created by ASI Production

**

Biasanya setiap launching sebuah album,  pihak manajemen artis meluncurkannya dengan mengambil salah satu lagu dari kumpulannya, yang dianggap lagu paling andalannya atau lagu yang mewakili dari karakter peluncuran album tersebut. Misalnya dengan menghadirkan video klip lagu tersebut, yang dipromosikan melalui berbagai media.

Dan kumpulan lagu Abiem Ngesti album ‘Sonia‘ ini, dikabarkan entah benar atau tidaknya bahwa album tersebut tidak ada dibuatkan video klipnya. Dengan demikian yang biasanya setiap peluncuran album selalu muncul video klip salah satu lagunya, misalnya dtayangkan di “Album Minggu Kita’ TVRI atau di jenis program lainnya, tapi  promosi album ini mungkin hanya melalui radio atau media non-video lainnya.

UNDUH LAGU ABIEM NGESTI – ALBUM  ‘SONIA’ TAHAP PERTAMA

  1. Sonia Unduh Cipt. Muchlis Satya
  2. Potret Hitam Putih Unduh - Cipt. Raka Shakti
  3. Mana Mungkin Unduh - Cipt. Santoso HE
  4. Tangis Palsu Unduh - Cipt. Abiem Ngesti
  5. Demi Persatuan Bangsa UnduhCipt. Mamad AR
  6. Terhina Unduh - Cipt. Raka Shakti
  7. Gadis-Gadis Genit Unduh - Cipt. Raka Shakti
  8. Mentari Unduh (fa) dan Unduh [asi7] – Cipt. Abiem Ngesti
  9. Bulan Pun Tersenyum Unduh (fa) dan Unduh [asi7]- Cipt. Santoso HE
  10. Rekayasa Cinta Unduh (ae) dan Unduh [asi7] - Cipt. Wiwien Ngesti

**

UNDUH LAGU ABIEM NGESTI – ALBUM  ‘SONIA’ TAHAP KEDUA

Ditunggu…

NOTE :

**

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.