Oleh: Kyan | 28/12/2011

Abiem Ngesti: A Short Biography

Abiem Ngesti: A Short Biography

oleh: Pyan Sopyan Solehudin

**

Abiem Ngesti

Album Minggu Kita dapat dikatakan sebagai program televisi paling fenomenal tahun 90-an. Diantara kita generasi kelahiran 90-an tentu mengenal sebuah program acara ini, yaitu acara yang rutin ditayangkan TVRI setiap hari minggu jam sepuluh pagi. Begitu popular pada masa itu dengan kondisi pertelevisian Indonesia masih satu saluran dan belum menjamurnya tv swasta dan local. Karena saat itu acara televisi sangat terbatas, sehingga ketika ada yang fenomenal dapat menggegap gempita di seantero daerah Nusantara yang tertangkap saluran TVRI.

Abiem Ngesti adalah bintangnya. Seorang penyanyi cilik kelahiran Kudus, 30 Oktober 1978, dengan stelan Rock n Roll memegang gitar berdendang, ‘Akulah pangeran dangdut yang akan… Dengan suara tinggi khas anak kecil lagunya ‘pangeran Dangdut’ menghipnotis penggemar dangdut yang  merata di kalangan menengah ke bawah.

Music dangdut yang sebelumnya tidak direkomendasikan pemerintah, karena meniru-niru budaya India dan Timur Tengah. Tapi berkat kepiawaian Rhoma Irama yang berhasil merevolusi orkes melayu sehingga warna music yang kemudian dikenal Dangdut menjadi music alternative di tengah-tengah dominasi music Rock ke segenap penjuru dunia.

Album pertama “Pangeran Dangdut” berhasil membludak. Sehingga ayahandanya, Wiwien Ngesti bisa membeli mobil baru dari royalti album pertama ini. Melanjutkan kesuksesan album pertama, launcing album kedua, Ini Dangdut.

Saat itu, disamping music Dangdut, masyarakat Indonesia pun sedang mengalami demam (trend) music Melayu aliran slow Rock. Maka peluang ini dilirik juga oleh produser yang mengorbitkan penyanyi jebolan SMP Negeri 2 Jepara ini. Munculah album ketiga dengan aliran berbeda dari sebelumnya, album Kugenggam Dunia. Pembuatan video klip lagu ini featuring Poppy Mercury, penyanyi tenar dengan lagu Surat Undangan dan Antara Jakarta dan Penang yang saat sama-sama ngetop pada jenis musiknya masing-masing.

Saat bebarapa wilayah Indonesia terkena gempa, lahirlah album keempat berjudul Gempa. Album kelima, ia berduet dengan Erie Suzan dengan lagu ‘Ini Jaman Uang’. Album keenam, ‘Astaghfirullah.

Melanjutkan kesuksesan album slow Rock, keluarlah album ‘Leila’ besutan Wiwien Ngesti. Lagu Sonia. Selanjutnya ia berkreasi karya sendiri dalam lagu “Gadis Baliku” yang memadukan music Dangdut dengan Rap dengan introducing “Ole ole ole” dimana saat itu sedang gempita Piala Dunia.

……

Album kesembilan, Dahsyat rupanya sebagai album terakhir Abiem Ngesti. Berdasarkan penuturan Azhar Gunawan yang menangani pembuatan video klip lagu Dahsyat di Pantai Palabuan Ratu bahwa “Abiem betul-betul habis-habisan, meski syuting tepat di tepi jurang, Abiem tak menunjukkan rasa takut.” Dikatakan saat itu Abiem disebutkan seolah memberi isyarat ingin pamit pada penggemarnya dengan menampilkan video klip yang ‘sempurna’.

Tepat 35 hari setelah itu, Sabtu, 19 Agustus 1995, sekitar pukul 03.30 WIB, kecelakaan merenggut nyawa Pangeran Dangdut yang belum sempat disematnya. Jalan tol Jakarta-Cikampek menjadi saksi akhir hidup dari sang bintang menghembuskan nafasnya bersama ibu, adiknya, serta sepupunya. Meski julukan Pangeran Dangdut belum betul-betul disematnya secara luas, tapi di hati penggemarnya Sang Pangeran Dangdut bersemayam penuh takzim selamanya.[]

**

About these ads

Responses

  1. Fenomenal


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.