Oleh: Kyan | 16/06/2012

Bagaimana Itu Disiplin

Sabtu, 16 Juni 2012

Bagaimana Itu Disiplin

**

Kuhaturkan terimakasih pada Tuhan karena masih memberiku kesempatan sampai pada detik di pagi ini masih menghiruf nafas segar di bumi ini. Kupanjatkan syukur atas kesempatan usia ini, meski tak tahu apakah perpanjangan usia ini untuk ada peluang dalam memperbaiki diri ataukah hanya semakin menambah dosa-perdosa atas kemurkaan-Nya padaku.

Sudah beberapa kali salat Isya terlewatkan karena ketiduran. Biasanya kalau tertidur belum melaksanakan salat Isya suka terbangunkan sebelum subuh. Tapi sekarang sudah dua kali bablas saja aku bangun ketika adzan Subuh. Salat Isya dilaksanakan di waktu Subuh. Astaghfirullah.

Dengan begini semakin jauh saja perasaanku kepantasan diri disayangi Tuhan. Sudah salatnya asal-asalan ditambah pelaksanaannya tidak pada waktu-waktu yang ditentukan. Tidak ada lagi kedisiplinan dan keteraturan dalam hidupku. Tidur yang biasanya memang dipersiapkan untuk tidur, sekarang tidur karena tertidur tanpa kedisiplinan.

Mau-maunya saja sekarang aku tertidur. Orang kalau hendak tidur dimulai dengan membaca doa lalu memejamkan mata, tapi aku tertidur di depan televisi. Bukan tertidur karena sudah kelelahan sewaktu belajar, tapi karena lelah oleh jam kerja overtime.

Teringat pada sabda Nabi ketika beliau memegang tangan yang kasar karena banyak bekerja untuk keluarganya, beliau bersabda tangan ini yang pantas meraih surga. Sedangkan aku bekerja untuk siapa, untuk diriku saja belum semestinya.

Sehingga belum ada kepantasan diri untuk diamanahkan seorang bidadari hati padaku. Tanggung jawab untuk menanggung jalan hidup anak-istri mungkin masih dipertanyakan kelayakannya bila disematkan padaku.

Tapi disini aku meraba hati ingin sekali aku belajar untuk bertanggung jawab. Menjadi pribadi penuh dedikasi pada keluarga, bangsa, dan agama. Lantas bagaimana caranya menjadi semua itu. Orang bilang menjadi suami yang baik harus dimulai dengan  menjadi suami. Bukan belajar segala teori tapi tak berani memulai.

Sekarang untuk menegakkan kedisiplinan, bila tiba di rumah pulang dari pekerjaan, jangan langsung menyalakan televisi. Tapi ambil air wudhu lalu salatlah segera dan makan. Belajarlah untuk menahan diri untuk tidak tergesa-gesa dalam pelaksanannya. Boleh menonton televisi tapi dibatasi sampai jam sembilan. Setelah itu nyalakan komputer dan menulislah atau mengoreksi tulisan.

Lalu ketika bangun subuh, segera salat dan wirid. Dilanjutkan dengan menulis lagi sambil mendengarkan braiwave digitalprayers. Setelah itu sempatkan saja untuk membaca buku apa saja, paragraf yang mana saja.

Lalu membaca Alquran kapan? Bisakah setiap selesai salat Fardhu sempatkan dulu membuka Alquran! Biarkan semua ini jadi kebiasaan. Dengan kebiasaan untuk kedisiplinan. Kedisiplinan pangkal kesukesan dan kebahagiaan. Dari berusaha untuk disiplin, maka itu menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi karakter, dari karakter menjadi budaya.[]

**

About these ads

Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.