Oleh: Kyan | 15/08/2016

Istri Tanpa Clurit

Bode Riswandi, __Istri Tanpa Clurit

Istri tanpa clurit, sang ibu pertiwi tanpa palu arit. Cukup menjadi hiburan saat membaca cerita istri tanpa clurit. Saya dibikin ketawa saat si calon bayi berkata pada emaknya, “Perempuan cepat keluarkan aku dari penjara busuk ini, sebelum kurobek pintumu ini dengan clurit… Lekas keluarkan aku dari sini. Di sini pengap. Busuk!”

Kalau Alquran dari yang Mahaide bercerita Yesus mampu bicara sejak dalam ayunan, sedangkan Bode Riswandi dengan ide surealisnya bercerita tentang si jabang bayi yang sudah bicara sejak dalam kandungan. Tak terbayang sejak dalam kandungan sudah membentak-bentak ibu dan ayahnya, bagaimana kalau sudah besar nanti.

Tapi memang suka aneh-aneh kalau istri sedang ngidam, dan kalau negara sudah tidak mampu menjembatani berbagai perbedaan, maka bergolak api pemberontakan. Dunia sekarang dipenuhi clurit, anak muda kesengsem pikiran Marxis. Clurit—simbolis ketajaman orang bicara seenaknya, atau bahasa polisi menyebutnya “ujaran kebencian”. Membenci dengan membalik benci. Sok menasehati seakan dirinya paling suci.

Pada ayahnya bilang, “Lama benar lelaki itu pergi. Ke mana ia?” Dijawab emaknya, “Panggillah dia Bapak wahai calon anakku!” sambil menahan rasa sakit oleh clurit yang digores-goreskan si calon bayi pada emaknya. Demikianlah anak yang sejak di kandungan sudah membawa cluit, karena istrinya ngidam clurit, dan pada suaminya minta disebut terus-menerus kata cluit seribu kali, sampai bibirnya tebal.

Demikian pula kita bebal karena Ibu pertiwi Indonesia pernah sebagai negara terbesar penganut komunisme di luar Uni sovyet sebagai tanah kelahirannya. Wajarlah orde baru mengilir-ilir bahwa komunisme adalah bahaya laten, yang heboh sekali Kivlan Zein atau digaungkan Taufik Ismail bahwa telah lahir kontra-revolusi, yakni KGB, Komunisme Gaya Baru. Negara seakan linglung menghadapi pergesekan-pergesekan.

Saya menikmati sekumpulan cerpennya Bodi Riswandi. Namun baru sebatas itu saya menyelami bahasa simbolis yang dituturkannya. Dikatakan sebuah cerpen yang berhasil adalah yang membuat kita bertanya-tanya apa pula maksudnya. Tapi mungkin karena penerbitnya Ultimus yang dianggap kekiri-kirian, saya menafsirkan pesannya baru sebatas demikian.

Kebenaran ada pada si pemilik ide. Tetapi pena telah diangkat dan buku telah dicetak, cerita dan tafsirannya sudah jadi milik pembaca. Keterpautan antara penulis dan pembaca mungkin karena pengalaman yang sama, gairah yang serupa, dan sebuah cerita tidak berasal dari ruang hampa.

Membaca sepuluh cerpennya, dari sisi cerita, seperti dikata Pak Suminto dalam pengantar, semua diikat oleh jungkir baliknya tatanan sosial yang telah lama kita kenal. Dunia yang serba tak ajek, absurd, dan pasang-surut disuguhkan sebagai prosais, padahal mulanya Bodi Riswandi lebih dikenal sebagai penyair. Cerita yang diangkat mulai dari urusan rumah tangga sampai urusan pemerintahan. Dari masalah pendidikan anak sampai soal pelacuran. Setiap cerita terasa menghanyutkan dan memancing pikiran lain-lain.

Dari pemilihan bahasa, seperti dikatakan Acep Zamzam Noor bahwa jejak-jejak puitik kepenyairan Bodi Riswandi masih terasa pada sepuluh prosa yang ditulisnya. Tetapi cerpen membang berbeda dari puisi. Kekuatan cerpen ada pada cerita, sedangkan kekuatan puisi ada pada sepilihan kata.

Cara pengungkapannya sangat horor. Pengambilan setingnya di sekitar pembunuhan, penyekapan, dan kematian. Hampir semua cerita melulu soal nyawa dan nasib orang pinggiran. Dari sisi gender, karena Bode Riswandi adalah lelaki, penokohan yang bercerita lebih banyak laki-laki, baik dengan sudut pandang pertama maupun ketiga. Yaitu seorang lelaki yang memperhatikan atau sedang mengenali hidup dan nasib perempuan, baik dari strata “rendah” ala pelacur maupun kelas sosial tinggi setingkat ibu menteri.

Kalau saya merangkum beberapa cerpennya, dalam cerpen “Hari Kedua Belas” bercerita saat seseorang sering tak kuasa melenyapkan orang yang kita cintai karena sudah menyakiti. Kata Ahmad Tohari bahwa keterbatasan manusia memang niscaya. Mungkin benar cinta itu siksa. Namun pada akhirnya kita akan tahu persis bagaimana “cara membunuh” orang yang kita cintai.

Cerita “Lukisan” menggambarkan sebuah dosa dibalik prestise. Atau orang tua ingin mencetak masa depan anaknya. Tapi pemberontakan seorang anak pada ibu bapaknya tentang pilihan hidupnya. Untuk mengingatkan kesalahan atau bahkan “dendam” pada orang tuanya. Persis seperti riwayat si kakek buta veteran perang kemerdekaan dalam cerpen “Riwayat Penyemir Lars” bahwa yang tua yang menderita. Tetapi semoga nasib mereka—mereka yang belum tercatat dalam buku sejarah negara, tak ikut-ikutan buta.

Cerita yang membawa pesan janganlah menganggap rendah pada profesi tertentu, pada orang tertentu, karena boleh jadi apapun pekerjaan dan pengalaman hidup seseorang, atau hidup seseorang kalau digambar secara utuh boleh jadi yang kita rendahkan adalah kemuliaan. Seperti yang dilakukan ustaz Ujang Lukman dalam cerpen “Pelacur yang mati di kali” yang tak menghakimi kaum pelacur yang ditampung sementara di mushalanya.[]

Oleh: Kyan | 11/06/2016

Ada Apa Dengan Cinta 2

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali disatukan dalam kisah Cinta dan Rangga. Cinta yang masih juga belum dewasa, dan Rangga yang tetap saja murung, tapi ketidakdewasaan dan kemurungan bisa menjadi milik siapa saja, sesuai kadar dan intensitas yang berbeda, karena itu mengantarkan suka pada AADC 2.

QuotesAADC2

Begitulah AADC dari yang pertama sampai yang kedua adalah kisah yang aku tafsirkan sebagai percintaan antara Timur dan Barat: Rangga bagaikan Barat dan Cinta punya orang Timur. Barat yang murung dan Timur yang pandai berkerumun. Namun ada yang lebih murung dari hidup Rangga. Itu bisa jadi aku, kamu, atau siapa saja. Rangga baru putus dua tahun belakangan, sementara ada yang jomblo seumur hidupnya. Karena Rangga tak menemukan yang seperti Cinta, sedangkan saya tak ingin memacari perempuan yang tidak ingin saya nikahi tentunya.

Mungkin harus lebih dulu ada cinta? Ahh.. aku tak ingin perempuan seperti Cinta. Dia masih belum dewasa. Bagaimana bisa dewasa setiap ada masalah selalu meminta bantuan. Dulu pada Alya sekarang pada Karmen. Cinta tidak pernah benar-benar mandiri menyelesaikan masalahnya sendiri. Selalu saja karena alasan demi dan menjaga perasaan para sahibnya seperti yang disiniskan Rangga padanya, “kayak gak punya kepribadian saja.. apa namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi demi sesuatu yang kurang prinsipil.”

Pun Cinta mau bertemu kembali dengan Rangga di AADC 2, karena ia merasa harus mengikuti saran teman-temannya untuk sekedar menimpali omongan Rangga, “Memang ini tidak adil”. Lalu Cinta menukasnya, “Rangga, apa yang kamu lakukan ke saya itu.. Jahat”. Ya karena kawan genk-nya yang selalu mendukung, Cinta tetap survive terlebih saat ditinggal pergi Rangga yang tanpa penjelasan.

Begitupun nasib lebih baik Rangga, ia bisa bercerita pada Cinta bahwa kuliahnya berantakan, sementara aku bercerita pada siapa tentang hidupku yang berantakan. Meskipun ujungnya tangan lembut Cinta mendarat di pipi Rangga, alias muka Rangga kena tampar, sedangkan aku selalu ditampar oleh siapa saja yang bertemu denganku, yang mengatakan padaku “Lengkapilah hidupmu dengan cinta, carilah cinta sampai ke dasar samudera. Kau harus turun gunung biar kau tak selalu ngungun”.

Tapi kok saya malah mengumbar kemurungan sendiri. Bukannya bercerita tentang apa yang diperoleh dari menonton AADC 2.

Yaa mungkin aku berharap, seperti yang dikatakan Cinta pada Rangga tentang “apa yang aku omongkan ke kamu itu tidak benar.. Itu bohong Rangga.” Tapi buatku siapa dan di mana perempuan. Tak ada kenangan tersisa untuk siapa pun saja. Mungkin, pernah berharap dulu ada penjelasan saat seseorang yang menolakku bahwa penolakan itu sebenarnya bohong. Berbohong demi kebaikanku sendiri dan tentu untuk tidak menyusahkan dia.

Tapi ini dijawab oleh Cinta, “tapi itu menurut siapa? Baik menurut siapa?” Masa menurut Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Karena Cinta bagaikan Timur dan Rangga adalah Barat, STA menyuruh melawat ke Barat, Cinta pun pergi ke New York. Rangga gagal bertahan di Jakarta, Cinta menyusulnya yang tidak cuma sampai bandara Soeta, tapi sampai di New York. Lalu dengan wajah memelas Cinta berharap untuk bisa balikan lagi dengan Rangga.

Cinta sebagai Timur dan Rangga sebagai Barat, apakah pantas bila salah satu harus memohon dan merengek saat keduanya belum berdiri sama tinggi, keduanya belum seimbang dalam bicara apa masalah sebenarnya. Hubungan mereka sampai dikeluhkan oleh The genk-nya bahwa antara Rangga dan Cinta bak serial televisi yang ceritanya tak selesai-selesai.

Barat yang serba material, Rangga yang kesepian, membuat Rangga harus memohon pada Timur, pada Cinta dengan berkata, “jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.” Barat setelah Salib dan Andalusia ingin kembali seia-sekata dalam apa yang disebut Cinta. Tapi Cinta sering merasa tak yakin, masih guyah, dan tak berani mengambil resiko sendirian.

Mungkin Timur merasa tak ingin dikuras kembali air matanya bila tak seimbang antara orientalisme dan oksidentalisme, antara impor dan ekspor. Saat Cinta berkata, “Duh indah sekali, Rangga” saat keduanya menyaksikan fanorama pagi di Yogyakarta. Itulah Cinta bagaikan karakter Timur yang lekat dengan trah kekeluargaan dan suka mengagung-agungkan leluhurnya tanpa ditimbang secara rasional dan proporsional.

Namun Barat begitu cerdik nan pandai mengambil hati, setelah masa kolonialisme dan imperialisme, setelah menjarah kekayaan dan khazanah negeri jajahannya, Barat seakan-akan lebih tahu apa dan bagaimana itu Timur. Sedangkan Timur sendiri tak begitu tahu dan yakin pada dirinya.

Tapi kelebihan orang Timur, ia sangat pandai berkerumun, atau katakanlah berkumpul entah yang mengumpulkan mereka karena bencana atau rencana, atau proyek kerelaan senasib sepenanggungan. Karena itu, Cinta pun merasa “justru ini sangat prinsipil” untuk dapat berkumpul bersama teman-teman. Dalam satu nasib dan kesenangan, atau demi satu kepedulian, dan itu harus diakui Rangga. Cinta pun tersenyum atas pengakuan Barat tentang keelokan Timur ini, tentang awetnya perkawanan antara Cinta and the genk-nya.

Dengan itu, katanya berserikat dan berpendapat adalah dijamin Undang-undang meski ideologinya anarkisme dan program kerjanya membuat onar. Di sini orang mudah sekali membentuk satu perkumpulan atau paguyuban sekalipun keropos di kedalaman yang baru beberapa meter saja. Tapi sah-sah saja katanya toh demi kepentingan nirlaba sampai yang murni mencari laba dilindungi oleh negara. Dari semata kesenangan sampai pemborosan, dari yang berbau-bau spiritual sampai klub-klub pengajian, dari dialog antar-warga sampai dialog antar-agama, kenapa tidak bila tetap satu dalam bingkai Pancasila.

Setelah nonton AADC 2, dan melihat ketidakdewasaan Cinta, kuingat bahwa betapa penting filsafat eksistensialisme meski aku belum faham benar, kecuali cuma baca puisinya Chairil Anwar, atau berdasarkan novelnya seorang Pramis, bahwa hidup harus berani sendirian. Berbahagialah yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri. Karena kemenjadian seorang lelaki tak harus butuh perempuan. Seorang yang namanya lelaki tak harus di sampingnya melulu ada seorang perempuan. Ia dapat berdiri sendiri-sendiri namun lebih baik saling melengkapi.

Tapi sebagai perempuan, dan untuk menjadi perempuan, atau mungkin begitulah perempuan saat sudah tunangan, Cinta menganggap urusannya dengan Rangga diumpamakan sebagai arsip, sebagai prasasti, tapi saat dekat tak kuat menahan diri tak memberi satu ciuman perpisahan. Dianggapnya ciuman itu biasa dan jangan dianggap ada apa-apa. Bagi lelaki yang tak pernah dicium dan seketika menerima ciuman seorang perempuan harus mengartikan apa dari kepasrahan itu.

Coba hitung ada berapa kali adegan ciuman dalam AADC 2. Film untuk batas 13 tahun ke atas, aku melihat di sebelah ada penonton sekeluarga yang membawa anaknya di bawah umur tapi sudah pandai berbicara dan bertanya. Kudengar ia selalu bertanya dalam setiap adegan yang mungkin belum ia mengerti. Namun tak kudengar dan bagaimana perasaan si anak saat muncul adegan ciuman. Bagaimana ibu dan ayahnya menjelaskan padanya.

Karena untukku yang sudah melewati masa kecil, justru yang paling melekat di memori adalah adegan cium dan cabulnya dari film-film yang kutonton. Tapi bisakah dan mampukah sekarang aku menyusun jawaban untuk nanti kalau sudah menikah dan punya anak yang belum besar. Apakah cukup dengan berkata, “Ciuman itu hanya diberikan untuk orang yang paling disayang dan sudah halal.” Tapi mampukah nanti anakku, dan juga aku sendiri di zaman serba permisif ini, untuk dapat menahan dan tak sembarang mencium seseorang. Sudah berapa dan siapa perempuan yang pernah mencium. Atau tak pernah sama sekali dicium, hingga akhirnya hidupku selalu murung.

Aah, nonton AADC 2 yang selalu tertunda, sampai batas akhir posternya akan segera diturunkan. Tadinya mau menunggu saja bajakan, atau dengan ngunduh saja. Tapi sungguh itu tidak berkebudayaan. Saat mengetahui dari laman sosmednya Dian Sastro, bahwa film yang melambungkan namanya pada pekan ini akan ditarik dari peredaran bioskop, akupun mencari-cari info di layar mana yang masih diputar AADC 2.

Rupanya di Blok M Plaza dan Gandaria masih memutar. Itupun sehari cuma dua kali penayangan. Aku sih selalu menundanya. Tapi sebenarnya bukan selalu tak ada waktu dan kesempatan, tapi seperti kata iklan saat promosi awal: “Masa nonton sendirian”. Aku terus saja menunggu agar barangkali ada perempuan. Atau harus kucuri tunangan orang lain supaya aku tak menonton sendirian.

Ah kau murung, nonton film yang tokoh utamanya seorang yang murung, katanya. Juga tokoh utama perempuan yang tidak dewasa, apakah berharap juga perempuan yang tak dewasa, atau sebab kecantikannnya? Tapi sebenarnya apa yang diharapkan setelah lampu kembali terang memenuhi ruang, atau saat penonton sejoli yang duduk sebelah baru saja melepaskan pegangan dan saling berangkulan, tapi pesan apa yang dapat kubawa pulang.

Ya, karena untuk menuntaskah kisah keingintahuan. AADC pertama begitu fenomenal karena menggantungkan kisahnya pada imajinasi penontonnya. Tapi pada AADC 2 seperti dipaksa kisah Rangga dan Cinta mencapai klimaksnya. Kisah mereka tendensius dipaksa selesai yang tidak memungkinkan ada sekuel ketiga atau keempat seperti sinetron Tersanjung. Tapi buat apa toh dalam kenyataan hidup banyak yang tak selesai-selesai. Jangan hanya karena iklan yang bombastis, orang-orang pun datang mengantri di bioskop. Tapi sesudah bersedia waktu dan uang, sementara tak menyisakan ruang imajinasi sendiri saat mereka pulang.

Lalu apa yang kuperoleh dari ruang pengalaman selama hampir dua jam mengikuti konvensi harus duduk diam dalam gelap, sementara di kanan-kiri ada yang sangat menikmati gelap-gelapan, sementara aku pulang yang tetap saja membawa kemurungan.

Tapi benar. Ada yang dapat dibawa pulang. Yaitu selalu ada harapan meski seseorang sudah tunangan. Seperti dikatakan Karmen saat Cinta berkata, “aku tuh sudah tunangan.” Lalu dijawab oleh Karmen, “yang kutanya kan bukan itu, Cinta.” Mungkin demikian dalam kisah besar yang tak tuntas-tuntas, mengharuskan selesainya kisah-kisah kecil, masalah-masalah kecil.

Meskipun urusan-urusan kecil, tapi penting untuk dapat menuntaskan masalah besar di hidupku. Namun juga aku harus bersabar dan tak usah mendahului garis takdir. Karena mungkin saja bagi tuan yang disebut Takdir, nasib akan terasa sangat berbeda saat sudah menyelesaikan satu urusan kecil tapi penting ini. Yaitu apa. Ya ada apa dengan cinta.[]

Oleh: Kyan | 08/05/2016

Sinkretisme

Sinkretisme

Bukan barang sehari-duahari Nusantara menghadapi konstalasi internasional. Lalu mengapa sekarang kita resah menghadapi ada anak-anak muda kita yang kepincut gerakan-gerakan trans-nasional menyebut misalnya hizbuz tahrir, wahabi, syiah, sampai daesh di pintu kanan, lalu sebelah kiri ada komunisme, liberalisme sampai kapitalisme, atau katakanlah pelan-pelan orang mentakzimi amerikanisme, cinaisme, iranisme, saudisme, serta segala macam kepentingan geo-politikal dan ekonomi dan sebagainya dari hubungannya dengan Indonesia.

Sejarawan dan intelektual warisan kolonial terasa sekali sudah mengerdilkan dan mengkuperkan bahwa katanya bangsa kita “gak gaul” dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tak sedikit yang mengamini bahwa bangsa Nusantara seperti hidup di antah-barantah, sendirian, seperti yang digambarkan dalam kisah-kisah para pujangga istana, yang katanya tak mungkin sedetil-benar itu raja-raja Jawa mampu menarik silsilahnya sampai ke Nabi Adam, dan Melayu-Minangkabau sampai ke raja Iskandar Agung (Alexander The Great).

Padahal Hamka memberi argumen bahwa sudah sejak abad ke-2 SM bangsa Arab hadir di Nusantara, dan Cina meramaikan perdagangan Nusantara sejak abad ke-1 SM menurut Burger dan Prajudi, mungkin setelah sepinya jalur darat sutera, sementara India mungkin sebelum atau sesudah itu menjalin hubungan dengan Nusantara.

Lalu dengan pergaulan seluas dan selama berabad itu, apakah kita tak punya daya amunisi untuk mampu menjinakkan semua yang datang dari luar supaya menjadi “khas” Nusantara-Indonesia? Bukankah orang mengetahui kita adalah bangsa yang dinamis sebagai ciri “negeri kepulauan”, sebagai bangsa kontinental, bangsa yang cepat menerima, enggan menolak dari manapun semua yang baik dan buruk sekalipun?

Menurut tuturan sejarah bahwa moyang kita mulanya menganut kepercayaan animisme dan dinaimisme. Lalu datanglah orang-orang pengembara-brahmana memikat mereka yang dengan senang hati ajaran-ajaran dari sang Buddha diterima, sehingga mentahta Buddhisme sebagai agama resmi kerajaan yang teksturnya masih megah sampai sekarang: Borobudur. Buddha diyakini datang dari negeri anak benua, lalu pertanyaannya kenapa di negeri asalnya tidak terdapat bangunan semegah atau lebih megah dari Borobudur?

Dengan itu bangsa Nusantara tidak cuma pandai menerima, tapi mampu mengkreasi dengan lebih apik, mampu mengawinkan (sinkretik) antara agama dan seni sebagai buah karya adiluhung.

Lalu datang Hindu Shiwa memikat sebagian raja, atau memang karena ada kepentingan politik dan niat lain penguasa yang membuat rakyatnya pun pelan-pelan menerima ajaran baru rajanya. Kemudian dibangunlah Prambanan dan petilasan lain serta ditulislah pewayangan Mahabharata dan Ramayana, keduanya sebagai epik Hindu yang juga konon katanya dari negeri anak benua. Namun bandingkan antara cerita pewayangan Nusantara dengan versi negeri asalnya, adakah di negeri asalnya terdapat tokoh seorang Semar? Semar yang mendampingi Gareng, Petruk, dan Bagong bersama-sama bermanuver carangan adalah kisah pewayangan khas Nusantara sebagai kekreatifan “menambah-nambah” bid’ah hasanah.

Selanjutnya termobilisasi ajaran Islam karena pengaruh berbagai-bagai hal. Apakah dianutnya Islam oleh mayoritas Nusantara dengan cara peperangan? Tidak. Tidak apa dikatakan islamnya tidak islam orang Timur Tengah memandang orang Indonesia. Bukankah orang yang mengaku paling islam adalah bukti kesombongan sama halnya iblis di hadapan Adam? Pedomannya islam dan tidak islam cukuplah maqashid syariah sebagai tujuan dan sudah seberapa tinggi Islam dijadikan “jalan” kedamaian, dan bukan pemantik huru-hara perang dan pembunuhan.

Sedari abad-abad lalu dan terumuskan oleh para cendekiawan, bahwa orang Nusantara punya cara berpikir lain, yaitu “sinkretik” dalam memandang, menerima, dan mengadapsi sesuatu unsur luar, sehingga mampu menjembatani peralihan dari zaman ke zaman, dari kepercayaan satu berganti kepercayaan lain tanpa gesekan yang signifikan.

Lalu tidakkah ini sebaiknya menjadi sebuah ideologi pemikiran? Saya sebagai orang awam tak salahnya membual apa yang mesti dilakukan. Ziauddin Sardar menyatakan pintu ijtihad harus dibuka lebar-lebar, dan saya bukan sedang berijtihad tapi sedang membual..haha. Namun kata Taufik Pasiak bahwa syarat sebuah bangsa yang maju mengharuskan punya bangunan pemikiran sendiri, punya cara berpikir sendiri sebagai wawasan kebangsaannya yang ajek dan unik yang tentu berdasarkan kekhasan tradisinya sendiri.

Kalau kemarin Islam Nusantara dipropagandakan dalam muktamar NU, namun itu adalah tampilan. Islam Nusantara buat saya lebih merupakan wajah sebagai tubuh muslim Indonesia. Sedangkan dalam tubuh terdapat otak yang berpikir dan sinkretisme adalah cara berpikir orang-orang Nusantara dalam menerima hal-hal dari “luar” sejak abad-abad lamanya sebagai filtrasi atas kemerdekaan berpikir.

Sehingga apapun baik dahulu, sekarang, dan kemudian boleh datang menggerayangi tubuh dan kepala orang-orang Indonesia, namun gerakan trans-nasional semacam hizbuz tahtir-nya akan menjadi hizbuz tahrir khas Indonesia, wahabi-nya wahabi unik Indonesia, syiah-nya syiah mengkayakan tradisi Indonesia. Seperti komunisme-nya Tan Malaka untuk demi Republik Indonesia, kapitalisme pasar-nya plus Tuhan, pengumpulan modal untuk pemerataan, dan liberalnya tak apalah menengok sesekali JIL dan Ulil sebagai ocehan.

Kita tidak akan dan tidak perlu tunduk pada gagasan aslinya, pada negeri asalnya, tapi mampu kita siangi dan perbaharui sesuai dengan kepribadian bangsa. Karena tanah negeri ini berbeda dari tanah negeri lainnya, karena negeri ini berbeda dari semuanya. Tanahnya adalah tanah tumpah darah Indonesia, sedangkan pohonnya boleh apa saja.[]

Oleh: Kyan | 07/05/2016

Nusantara: Sejarah Indonesia-Amerika

Kita tidak pernah tahu apakah semata kepentingan intelektual, ketika Bernard HM. Vlekke, sejarawan Amerika menulis sejarah Indonesia: Nusantara. Seperti dijelaskan dalam pengantar bukunya, penulisannya dimulai 1941 ketika perhatian publik, kepentingan strategis dan ekonomis Amerika mulai mengarah pada Asia Tenggara setelah melepaskan “Monroe Doctrine”-nya, beberapa saat sebelum pangkalan udara Pearl Harbor dibombardir Jepang.

Sebagai intelektual, ia punya tanggung jawab moral yang mungkin berkata begini pada pemerintahnya, “Kalau tuan mau menjalin kemitraan atau melebarkan sayap pertahanan atau bahkan “mengeruk” dan menjarah kekayaan negeri-negeri Asia Tenggara, khususnya Indonesia, janganlah tanpa bekal seperti dulu Belanda atau perusahaan dagang Belanda yang ketika menginjakkan kaki di Nusantara tanpa tahu sedikitpun watak dan adat kaum bumiputera, apalagi sejarah masa lalunya.

Janganlah seperti kapten Coen yang menganggap raja-raja Jawa adalah “orang bodoh tolol yang malang” dan rakyatnya bukan saja buta huruf, tapi juga kanibal dan dengan sesama suku gemar berperang…”

Tapi bagaimanapun kepentingan penulisan buku ini, seperti juga yang dilakukan David Levering Lewis saat menulis “The Greatness of Al-Andalus” ketika tentara Amerika mendaratkan pasukannya di Irak, tugas seorang intelektual hanya menjelaskan atau memberi masukan saja agar pemerintahnya tak mengulang beberapa kesalahan.

Kalau informasinya atau pengetahuan ilmiahnya dimanfaatkan dengan baik, terbukti sudah Amerika menancapkan kuku-kuku pengaruhnya di Indonesia, berhasil mengeruk kekayaan alam bangsa pribumi, mengambil satu contoh adalah Freeport di Papua. Karena dengan pengetahuan cukup daerah tujuan, karena mengenali dan memahami karakter pribumi, maka target mengeksploitasi tanah jajahan akan mudah dan tanpa banyak rintangan dari ulah “tukang bikin ribut”.

Sial saja Belanda telat menghadirkan Snouck Hurgronje sebagai penasihatnya agar dapat memahami secara baik orang-orang taklukan dan bagaimana memadamkan pemberontakan santri Aceh, yang sultannya dianggap berkhianat telah menjalin kesepakatan dengan Amerika. Setelah Padishah Turki menyatakan pada Belanda enggan terlibat dalam urusan Belanda dan Amerika memang sedang ada maunya buat kepentingannya. Ia mencoba mengambil hati rakyat Aceh, setelah kemenangan perang Aceh atas Belanda yang jadi perbincangan hangat di Makkah, pusat umat Islam sedunia.

Bahkan ada sisi-sisi lain yang benar ketika muncul ke permukaan bahwa “merdekanya Indonesia dibantu Amerika”. Amerika banyak berperan dari perjanjian ke perjanjian, membantu diplomasi Indonesia-Belanda, bahkan penggulingan Soekarno yang dianggap “keras kepala” juga disokong CIA katanya. Orde Baru yang membuka kran lebar-lebar kapitalisme Amerika.

Bernard HM Vlekke, __Nusantara, Sejarah Indonesia.jpgSejak kapan Amerika melirik Nusantara? Mulanya Perjanjian Paris 1784 yang klausulnya menghilangkan monopoli Kompeni sebagai konsekuensi kekalahan dalam perang Prancis-Inggris-Amerika yang melibatkan Belanda. Maka terbukalah pelayaran dan perdagangan untuk negeri-negeri Eropa yang di antaranya Amerika di kepulauan Nusantara. Menurut Vlekke, itulah pertama kali hubungan langsung di antara negeri-negeri pasifik dan reorientasi Asia Tenggara ke arah Amerika.

Saat itu, Parlemen Belanda memangkas terus independensi Dagang Belanda agar lebih tunduk pada pemerintah pusat—yang mungkin karena meningkatnya jumlah hutang VOC, di saat negeri-negeri pasifik baru memulai petualangan langsung dengan Nusantara. Dasar Belanda wataknya pelit, tak melihat justru kehadiran mereka sebenarnya akan menjadi ledakan ekonomi, membuat permintaan tinggi komoditi, sementara VOC sekian lama membatasi dalam penanaman komoditi.

Salah kebijakan dan kalahnya perang menciptakan neraka sendiri. Datanglah Daendels dan disusul Raffles ke tanah Jawa membuka kran sedikit demi sedikit pengaruh Revolusi Inggris dan Revolusi Prancis yang kian menciutkan bahkan melenyapkan kekuasaan raja-raja di Nusantara. Meskipun Nusantara sebelumnya terkenal ekspedisi lautnya, tapi masih kalah jauh dibandingkan angkatan laut Kompeni Belanda, yang oleh Vlekke itu tidak dilihat oleh raja-raja Jawa khususnya guna meningkatkan angkatan lautnya, karena Mataram sendiri sebagai “negara pedalaman” yang berbasis pertanian. Bahkan raja Mataram mengejek raja sejawatnya di Nusantara, Banten yang hidup dari perdagangan.

Meskipun demikian, kerja intelektual Vlekke patut kita apresiasi, sangat bermanfaat untuk menjelaskan diri kita sendiri. Ya, tidak perlu aneh guna mengetahu diri sendiri, agar tahu kemampuan serta kekurangannya, kita suka lebih percaya pada penjelasan dari “orang lain”. Entah alasannya karena ilmiah, pendekatannya komprehensif berdasarkan metode dan data-data yang valid, bukan berasumsi sendiri pada mitos-mitos seperti dijelaskan Vlekke, ketika pujangga istana Jawa menuliskan sejarah sosialnya suka mencampur-adukkan antara mitos dan logos demi menyenangkan hati raja.

Bahkan Vlekke menganggap kebesaran Majapahit tak sebesar kenyataannya. Empu Prapanca yang menulis Pararaton dianggap terlalu melebih-lebihkan. Jangankan Sumatera, Kalimantan, dan Maluku, katanya. Sunda saja yang dekat untuk cuma agar mengakui status superior raja besar Majapahit, menimbulkan Perang Bubat yang menjadi awal kemunduran Majapahit karena tak lama Gajah Mada akhirnya undur diri sebagai maha-patih fenomenal yang wajahnya direka-reka oleh Yamin.

Diterima atau tidak penjelasan Vlekke, nyatanya Yamin dan Bung Karno membangga-banggakannya dan saat merumuskan wilayah Republik Indonesia ingin seperti peninggalan kekuasaan Majapahit di masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Apakah demikian kehendak Belanda? Ingin agar kaum cendekia bumiputera lebih melirik Nusantara pra-Islam dan supaya pelan-pelan padam Nusantara-Islam.

Tapi dari penjelasan Vlekke, terumuskan bahwa munculnya kesadaran nasional menuju kemerdekaan ialah berawal dari alam-sosial Nusantara-Islam. Sebelum revolusi fisik, revolusi pemikiran diawali Sarekat Islam yang semula Sarekat Dagang Islam dan Budi Utomo. Inilah bentuk perlawanan baik kooperatif maupun non-kooperatif, sebagai reaksi gencarnya pengaruh asing terutama Cina yang jadi anak emas Belanda. Cina yang dimobilisasi dari Banten untuk mengisi Batavia, dan keterlibatan mereka dalam sistem kultur atau tanam paksa, lalu imperial Cina mengakui kewargaan mereka meski tak lahir di leluhurnya, membuat Kompeni mengambil hati Cina dengan memberi kebebasan legal dalam hal ekonomi, perjalanan, dan pemukiman sampai ke wilayah pelosok dalam menjalankan ritel ekonomi.

Demikianlah sebagian catatan dari analisa Vlekke, yang sejalan dengan M. Ricklefs yang menulis “Sejarah Indonesia Modern 1200-2008” bahwa cerita Indonesia adalah kisah islamisasi yang mulanya secara damai dan tanpa misi, tapi hanya mengalami internalisasi (sinkretik). Namun di hari-hari kemudian seiring meningkatnya jamaah haji, atau buat menyaingi misi Katolik Portugis dan Calvinis Belanda, yang sekarang coba diangkat argumennya oleh HTI, bahwa islamisasi Nusantara adalah dengan misi dakwah. Katanya keberadaan wali songo di Jawa adalah bukti struktural dakwah dari politik Islam Turki Utsmani.

Indonesia, bagaimanapun ceritanya adalah “harga hati” yang siapapun hendak “menggulingkannya” karena ia tak tahu siapa dirinya, dan tak sadar akan sejarah dirinya.[]

Oleh: Kyan | 15/03/2016

Lolita

Pledoi pembelaan menjadi sebuah buku monumental. Tentu kalau kisah ini benar dalam dunia peradilan, yang membawa si terhukum, seorang tua yang cabul dan sempat menuliskan pengakuannya, menjadi memoar terkenal atas perjalanan hidupnya yang penuh cabul. Tapi benar tidaknya kisah ini, sebuah cerita seringkali tak dapat dikategori fiktif atau fakta. Karena bisa saja seseorang menulis kisah fiktif, tapi sebenarnya fakta, atau benar sedang menyuguhkan fakta, tapi berdasarkan bukti-bukti fiktif atau mengada-ada.

Vladimir Nabokov, __LolitaTapi Lolita, inilah pengakuan yang mengguncang. Seorang Nabokov, sastrawan kelahiran Rusia mengisahkan pada kita, meracik cerita yang menampilkan karakter seorang terpelajar, bahkan profesor—di mana yang namanya kaum cendekia diharapkan mampu mengendalikan imajinasi liarnya. Tapi barangkali semestinya demikianlah kaum cendekia harus mampu bicara secara jujur apa yang ada di kepala dan hatinya.

Kisah Lolita tak asing sebenarnya. Belum lama sempat heboh karena media mengungkap Syeh Puji yang menikahi gadis di bawah umur menurut undang-undang. Bahkan sudah biasa di kampung-kampung masih terdapat pernikahan lelaki gaek dengan perempuannya yang masih bau kencur. Karena katanya perempuan suka cepat terlihat tua dan manapaose, berbanding terbalik dengan laki-laki yang selalu “on” meski raganya sama-sama digerogoti usia.

Dan saya belum terlalu tua dan tak merasa tertarik dengan perempuan berusia terpatuh jauh di bawah usia saya. Kalau saya menikah dengan perbedaan usia sepuluh sampai limabelas tahun masih wajarlah buat saya..haha. Kita atau saya berpikir, kenapa dapat terjadi hubungan lelaki dan perempuan yang terpaut jauh usianya, karena mungkin seperti tadi alasannya: perempuan suka cepat tua dan lekas sedikit peluang kehamilannya.

Tapi inilah novel yang berbicara tentang kejiwaan seseorang. Tentang potensi kelainan yang bisa saja hadir di kepala tiap orang, mengalami disorientasi seksual. Baiknya memahami cerita ini tiada lain untuk meningkatkan wawasan dan kewaspadaan kita sebagai orang tua untuk mampu menunaikan tugas dengan baik sebagai orang tua atau yang dituakan, yaitu menciptakan dan membesarkan generasi yang lebih baik, dengan menyediakan dunia yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak-anak masa depan.

Saking populernya novel ini, pernah diangkat ke layar lebar dua kali, oleh sutradara Stanley Kubrick pada 1962 dan 1997 oleh sutradara Adrian Lyne. Saya tak hendak mencari-cari dulu filmnya. Setamat membaca novelnya ingin tersublimasi dulu bagaimana imajinasi saya pada alur cerita novel yang terbit pertama 1955 di Prancis. Karena ingat pada lelucon sebagai iklan sebuah buku di Amerika: “Bacalah buku ini sebelum dirusak oleh Hollywood.” Maka saya perlu membangun imajinasi sendiri dulu, sebelum akhirnya terjelaskan atau teraudio-visual menurut imajinasi si sutradaranya.

Secara singkat novel ini bercerita, seorang Humbert Humbert (HH) yang sangat menyadari kecendikiaannya, yang binal dan cabul di alam bawah sadarnya, karena benar ialah bawaan alamiahnya dimana setiap orang tidak memandang tua atau muda semua berhasrat pada pemuasan kelamin. Kau lelaki tak mau mengaku? Perempuan yang malu-malu mengaku? Soal seks memang privasi. Tapi hasrat seks ibarat kebutuhan makan yang ketika mau harus segera dipenuhi untuk segera dilupakan, karena hidup bukan cuma urusan pemenuhan selangkangan.

Secara sosial kenapa muncul seorang karakter Humbert Humbert pada siapapun kita. Pengakuan Humbert Humbert yang baru menginjak remaja melihat foto-foto tertentu di kamar hotel milik ayahnya. Ia merasa tiba-tiba ada yang bereaksi pada bagian tubuhnya. Lalu ia mengenal Annabel dan saling jatuh cinta serta sering bermain cinta selagi ada kesempatan. Mereka suka gelap-gelapan dan pernah juga ketahuan.

Namun Annabel meninggal karena tifus. Ini membawa keguncangan bagi jiwa Humbert Humbert muda. Karena keguncangan itu, menjalani masa muda di sepanjang periode gaya Eropa, persetubuhan adalah biasa dengan yang sama-sama dewasa. Tapi baginya lebih memesona adalah dengan “peri asmara mungil” alias yang masih kecil di kisaran usia 10-12 tahunan, dimana payudaranya baru bertumbuh (10,7 tahun) dan mulai tumbuh bulu-bulu kemaluan (11,2 tahun).

Pengakuan setelah Annabel, setelah pengalaman pertama bersama Annabel, sampai 80 gadis kecil pernah ia tiduri, yang katanya paling senang dengan si kecil Monique. Sebagai manusia di saat sadarnya muncul juga permenungan. Ia sering bertanya pada dirinya bahwa apa yang akan terjadi pada peri-peri asmaranya kelak, ketika dirinya telah merusak takdirnya dengan gairahnya?”

Pertualangannya sebagai pedofil pun berakhir, dengan menikahi Valeria yang berumur 20-an. Ia memutuskan menikahinya karena dia suka dan kenapa dia suka, karena ada kemiripan dengan seorang gadis kecil (gadis imut). Namun seperti banyak dialami tubuh perempuan setelah menikah, tak berselang (1935-1939) Valeria jadi perempuan gemuk yang katanya lebih mirip kodok. Dirinya berhasrat hanya ketika sedang gundah gulana atau amat terujung. Dalam kebosanan diperparah istrinya malah lebih memilih lelaki lain dan terpaksa ia ceraikan.

Memulai kehidupan baru, ia pindah ke Amerika meneruskan bisnis pamannya, dan mulailah awal pertemuan dengan Lolita. Saat ia mencari tempat tinggal, bertemulah tempat kosan di rumah Nyonyoa Haze yang janda, dengan puterinya bernama Dolores Haze, Dolly, atau Lolita.

Menempati kos di rumah seorang janda dan gadis kecilnya membuat kebiasaan lama kambuh kembali. Ia menyadari keganjilan dirinya, berkata buat dirinya “ini semua hanyalah masalah kebiasaan, bahwa tak ada yang salah sama sekali jika aku terangsang oleh gadis remaja”. Pembenaran dirinya, para lelaki Lepcha berumur 80 tahun biasa bersanggama dengan gadis berumur 8 tahun, atau penyair Dante pun jatuh cinta setengah mati kepada Beatrice Portinari yang berumur 9 tahun..”

Gayung bersambut, rupanya Dolores Haze alias Lolita juga suka padanya, yang mungkin sebenarnya ia rindu sosok seorang ayah. Kehadiran lelaki dewasa di rumahnya membuat si gadis kecil merasa tiba-tiba ada yang terisi di ruang batinnya yang sebelumnya hambar. Tapi dasar lelaki mental cabul, dan si gadis kecil ingin juga mengalami sensasi pertama, antara cinta dan hasrat seks berbaur, meski harus berebut antara ibu dan anaknya.

Tapi situasi memungkinkan adalah HH menikahi ibunya. Di saat Lolita sedang mengikuti kepanduan, nahas ibu Lolita mengalami kecelakaan tak berselang lama setelah pernikahan. Secara hukum pernikahan Lolita telah jadi anaknya HH. Namun karena sejak sebelumnya sudah terpaut hasrat di antara keduanya, maksud menjemput Lolita ke tempat perkemahan untuk dimasukkan pada sekolah berasrama puteri, Lolita malah dibawanya “kabur” mengelilingi Amerika sambil menikmati cinta terlarang antara anak dan ayah tirinya.

Demikian kisah Lolita menjadi sebuah buku monumental dan kontroversial dimana Amerika pertama kali tak bersedia menerbitkannya karena kecabulannya. Sebuah pengakuan ataukah imajinasi penulisnya tentang kerumitan pribadi manusia, juga tentang perjuangan untuk mendapatkan cinta yang dipuja, lelaki gaek Humbert Humbert pada gadis kecil Lolita.[]

Oleh: Kyan | 08/03/2016

Mimpi-mimpi Einstein

Alkisah serupa sekawanan burung bulbul adalah waktu yang melesat, terbang mengangkasa, lalu satu di antara mereka ada yang hinggap di dahan sebuah pohon. Kemudian ada orang yang coba menangkapnya, menjamahnya, mengurai apa kandungannya, lalu hasil temuannya—setelah membelah dada waktu, mengurai jeroan waktu, melakukan kuantifikasi yang ditemukan dalam waktu dan mengubahnya jadi batu, jadilah sebuah teori mekanika kuantum, relativitas Einstein, seseorang itu adalah Albert Einstein.

Alan Lightman, __Einsteins DreamTapi apakah benar-benar ia menangkapnya? Bila waktu diragukan, waktu adalah kepastian. Bagi orang religius waktu sebagai bukti adanya Tuhan. Semua yang mutlak adalah bagian Yang Mahamutlak. Di mana ada kemutlakan, di situlah waktu berada. Karena itulah, para filsuf menempatkan waktu sebagai pusat keyakinan mereka. Maka Einstein pernah berkata pada Besso, sahabatnya, “Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati Tuhan”.

Ya, bagi sebagian orang waktu ibarat penguasa tanpa batas, waktu adalah kemutlakan, waktu adalah kejernihan untuk melihat salah dan benar, bahkan waktu adalah uang. Tapi bagi Einstein waktu ibarat mainan dadu yang ia lempar dan lambungkan, yang kembali lagi pada dirinya, seperti bumi berputar melingkari miliknya sendiri. Seperti dadu sebagai tubuh yang diperintah, bukan dipatuhi. Seperti burung yang mengepak jauh melintasi lembah dan samudera, menuju pulau tak bernama, akhirnya ia kembali jua.

Demikian waktu ibarat lingkaran yang mengitari dirinya sendiri, mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, selama-lamanya bagai setiap jabat tangan yang berulang, setiap ciuman yang urung dilakukan, atau setiap kata dan oborolan yang berulang persis pedagang akan saling tawar-menawar lagi, seperti kaum politikus yang mengkhianati janji kampanye tapi dipercaya lagi, seperti pelaku korupsi sesudah dipenjara masih rakyat tak segan memaafkannya lagi.

Memang demikian segala terjadi saat ini sudah terjadi jutaan kali sebelumnya, dan yang nanti berulang di depan. Tapi apakah ia kebetulan? Seperti cerita Klausen yang bila terlambat pulang maka ia tidak akan sempat membelikan salep bagi istrinya yang sudah beberapa minggu mengeluhkan kakinya yang sakit, dan lantaran itu istri Klausen mungkin memutuskan untuk tak jadi berlibur ke Danau Jenewa. Jika ia tidak pergi ke Danau Jenewa pada 23 Juni 1905, ia tidak akan berjumpa dengan Catherine d’Epinay yang sedang berjalan-jalan di dermaga pantai, sehinga ia tidak bisa mengenalkannya pada anak lelakinya, Richard Klausen. Lalu, Richard dan Catherine tidak jadi menikah pada 17 Desember 1908, dan Friedrich Klausen tidak akan lahir dan tidak akan menjadi ayah bagi Hans Klausen, dan tanpa Hans Klausen, Eropa bersatu di tahun 1979 tidak akan pernah terwujud.

Tapi benarkah burung tangkapan Einstein diurai secara benar? Di perjalanan waktu membawa keteraturan yang terus meningkat. Keteraturan adalah hukum alam, kecendrungan alam semesta, arah kosmis. Jika waktu adalah anak panah, maka sasarannya adalah keteraturan. Masa depan adalah pola, penataan, kesatuan, sementara masa silam adalah acak, kebingungan, perpecahan, dan penghilangan.

Tapi apakah masa silam? Mungkinkah masa silam yang demikian kuat itu tak lebih dari sekadar ilusi? Mungkinkah hanya sekadar kaleidoskop, satu pola bayangan yang silih berganti, dengan gangguan yang tertiup secara tiba-tiba, satu tawa, satu pikiran? Di dunia masa silam yang bisa berubah, masa depan tidak akan dapat dibedakan dari masa kini. Kepingan peristiwa akan seperti satu petikan adegan dari ribuan novel. Sejarah menjadi kabur, seperti pucuk pohon yang diselimuti kabut malam.

Dan apakah masa depan? Di dalam dunia tanpa masa depan, setiap perpisahan adalah kematian. Di dunia tanpa masa depan, setiap kesedihan adalah final. Di dunia tanpa masa depan, setiap gelak tawa adalah yang terakhir. Di dunia tanpa masa depan, setelah kekinian adalah kehampaan. Di dunia tanpa masa depan, tiap saat adalah saat terakhir, orang-orang bergantung pada masa kini bagai bergayut pada tepi jurang, dan sebaliknya sebagian orang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan.

Namun ketika waktu benar-benar berlalu, kita merasa sedikit sekali yang berubah. Apa yang terjadi dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari adalah ibarat perjalanan yang sama, seperti waktu bergerak lamban sekali. Karena lamban, maka banyak orang merasakan penderitaan—karena kalau sesuatu berlangsung cepat, penderitaan tak dapat terasa. Waktu seperti merenggang dan melebar seperti jaringan saraf yang dari jauh tampak bersambung, tetapi dari dekat terlepas satu-satu, dengan celah-celah berukuran mikroskopik tiap helainya.

Kehidupan ibarat satu peristiwa dalam satu musim di musim gugur atau hanya satu butiran salju. Kehidupan adalah bayangan yang bergerak secepat pintu ditutup. Kehidupan adalah gerakan singkat lengan dan kaki. Hidup kita sejak kelahiran, sekolah, merasakan kisah cinta, perkawinan, bekerja, sampai menjalani masa tua ibarat semuanya dijalani dalam satu perjalanan matahari, dalam satu penggal cahaya. Ketika usia lanjut tiba, kita menyadari bahwa kita tidak mengenal siapa-siapa. Teman-teman silih berganti seiring pergantian sudut matahari. Rumah-rumah, kota-kota, pekerjaan-pekerjaan, kekasih-kekasih, semuanya telah direncanakan untuk bisa masuk dalam kerangka kehidupan yang hanya satu hari.

Maka kenapa orang serba tergesa? Karena ya tadi bahwa dunia waktu berlalu terasa lambat bagi orang-orang yang tidak bergerak. Dulu ketika kecepatan tidak pernah diperhatikan, sampai ditemukannya mesin pembakaran internal dalam era transportasi cepat, dan setelah penemuan mesin uap disebarluaskan, menjadi tak seorang pun yang berjalan pelan lagi. Kecepatan terbawa hingga malam hari saat semestinya istirahat, pada malam orang-orang bermimpi tentang kecepatan, kemudaan, dan kesempatan, dan kecepatan menjadi obsesi

Begitulah relativitas waktu ibarat bulbul yang terbang kala dilihat oleh yang sedang berjalan, berlari, atau diam, ketiganya menyatakan kebenarannya sendiri. Setiap orang berjalan sendiri dan saat ini. Setiap orang melekat pada satu waktu, kehidupan masa silam tidak pernah bisa berbagi dengan masa kini. Waktu bagai sesuatu yang tidak kontinyu, tidak objektif. Bagi anak-anak, waktu bergerak terlalu lambat. Maka ia selalu terburu-buru dari kejadian ke kejadian lain, sehingga tak sabar menunggu lebih lama lagi. Sementara bagi kaum tua waktu berlalu demikian cepat. Mereka berhasrat menahan satu menahan satu menit saja, untuk minum teh saat sarapan pagi, atau untuk menatap pemandangan senja saat matahari mau tenggelam. Mereka mati-matian menginginkan waktu berhenti, tetapi ia terlalu renta dan lamban untuk menangkap dan melompat di luar jangkauan.

Demikianlah ketidakpastian adalah nasib manusia. Bila masa depan adalah kepastian, maka tak ada salah atau benar, tak seorang pun terbebani tanggung jawab. Salah dan benar mensyaratkan adanya kebebasan dalam memilih, tetapi kalau setiap tindakan telah dipilihkan, maka kemerdekaan untuk memilih tak mungkin lagi ada. Bayangkan saja kalau ada seorang bocah yang melihat dirinya menjadi tukang kembang di masa depan, mungkin ia memutuskan untuk tidak masuk universitas. Karena bagaimana orang bersedia kuliah bila tak ada jaminan mendapat kerja di kemudian hari.

Namun sebagian ada yang coba mengubah masa depan. Maka mereka belajar hidup tanpa ingatan. Ingin ia merasakannya dengan riang gembira. Ingin cukup menikmati saja dalam berbagai peristiwa, bukan dalam ramalan, bertindak tanpa harus ada penjelasan, tanpa harus melihat pada masa silam. Bila masa silam berakibat tak menentu pada masa kini, tak usahlah terlalu merenungi lalu. Dan bila masa kini hanya berakibat kecil saja bagi masa depan, tak perlulah terlalu membebani tindakan saat ini. Biarkan saja kesungguhan hati bekerja di segala asa.[]

Oleh: Kyan | 22/02/2016

Pada Mulanya..

Saya mengenal Umberto Eco hanya melalui buku satu-satunya, “The Name of The Rose” yang ketika membuka halaman pertama dan baris pertamanya saya membaca kalimat: “Pada mulanya adalah sabda”. Ini kalimat yang sering saya tiru dan saya gunakan setiap mengurai suatu masalah yang hendak saya tuliskan.

Umberto - The Name Rose

Umberto Eco – The Name of The Rose

Tapi cukup dua kata awalnya saja “pada mulanya..” yang saya sambung dengan kalimat berikutnya yang saya anggap sebagai tigger dan menurut pengamatan saya bahwa itulah sebab awal suatu masalah terjadi. Ketika menjabarkan sebuah masalah, selalu ingin mencari perkara sebab-sebab dan akibatnya, sampai yang dianggap causa prima dalam pertimbangan rasionalnya.

Misalnya saat hendak menelisik tentang kenapa banyak sekali orang masuk Gafatar, jadi anggota IS, atau ikut front pembela, mungkin kalimat pertama saya menulis: “pada mulanya kita tidak bahagia”. “Pada mulanya kita berharap surga dan takut akan neraka.”

Lalu kalimat berikutnya: “karena kita tidak betah di rumah kedirian kita, lalu kita pergi ke pasar ramai sebagaimana orang-orang, yang barangkali di sana dapat kita menemukan obat penawar atas ketakbahagiaannya yang sedang dicari di dunia. Yang menyuruhnya pergi bisa karena bawaan alamiah pribadi, atau dari paksaan tetangga, atau suruhan penghuni rumah kita sendiri. Entah sejak dari rumah sudah membawa informasi berdasarkan iklan di mimbar dan televisi, atau dari mulut lewat mulut, atau dari tetirah keheningan sejati.

Begitu sampai di pasar, sudah tentu banyak sekali di masing-masing lapak yang menjajakan barang yang katanya membawa harapan-harapan baru, keluaran model terbaru, dari blok-blok semacam fruedian, marxisme, hegelian, mekanika quantum. Atau dari koridor materialisme, kapitalisme, sosialisme, bahkan komunisme, dan islamisme. Semua menawarkan inilah sesuatu yang sejati, paling sejati, bukan aspal atau jadi-jadian nabi palsu. Percayalah dengan meminum pil ini bisa cespleng masuk surga, dan ini obat penawar menghindari neraka.

Dengan SPG dan SPB mumpuni, yang mampu mengkomunikasi dan mensugesti, dengan agitator sampai provokator, serta iming-iming perempuan, pernikahan, selangkangan, tentu ada sebagian yang tak jadi membeli, ada yang masih dan sempat ragu-ragu, dan tentu banyak sekali orang langsung membeli. Sangat bergantung pada koherensi dan koneksivitas masing-masing pribadi. Mereka berlalu-lalang, tawar-menawar, “like” dan “share” saling memberi informasi.

Tapi ada juga dari semua itu, ada orang yang pergi ke pasar cuma mau jalan-jalan saja, cuma mbambung saja dari blok ke blok, dari koridor ke koridor buat mencicipi sedikit olahannya. Ia tak benar-benar ingin membeli, karena menurutnya rasanya bau tengik, atau harus punya uang dong. Seperti begini tawarannya: ada uang anda kenyang, di sini tersedia macam variasi olahan pangan dari setiap budaya dan tradisi.

Tapi setelah kenyang, lalu apa. Mencari uang sekeras-kerasnya, selelah-lelahnya toh setiap hari dan setiap makan cuma sepiring nasi. Tak pernah ingin menambah satu piring lagi kalau perut sudah melebihi sepertiga ruang untuk makan, sepertiga ruang untuk minum, dan sepertiga ruang untuk nafas. Namun tetap ada setelah kenyang ada yang lagi-lagi membeli dengan beragam variasi menjejali perutnya sendiri karena tak mamu berbagi.

Lalu dari lapak freudian, kau setelah makan kenyang apalagi lauknya daging domba dapat memacu hormon testosteron. Setelah perut dipenuhi, akan turun ke bawah, pada selangkangan yang harus kau puasi. Satu perempuan, dua, tiga atau empat sebagai pembuktian seorang yang perkasa dan banyak rezeki. Katanya masa lelaki saleh dan kaya istrinya cuma satu. KB itu produk yahudi.

Dan nasib bagi yang tak punya modal, ia harus mengumpulkan uang untuk bisa pergi ke pasar dan menawar mengikut keumuman lingkungannya. Terpikat orang-orang yang sekembali dari pasar banyak bercerita, “Oalah Mas, di sana aku merasakan ketenangan hakiki. Cobalah ke sana dan mintalah jodoh terbaik biar hidupmu tak kesepian begini. Ongkos nanti juga diganti.”

Lalu tiba-tiba saja lewat si mbambung tadi sambil nyeletuk “hedonisme religiusitas pribadi”. Seketika kemudian tanpa diundang preman pasar datang dan beraksi, “kafir loe, musyrik you, bid’ah kamu”.[]

Bertumpu pada dua hal, yaitu bagaimana berekspresi dan bagaimana cara mengeksplorasi diri. Mediumnya baik melalui seni tulisan, lukisan, atau patung sebagai ragam bentuk komunikasi ekpresi, setelah kita mengeksplorasi kediri(ilahi)an kita.

Fitoor-2016.

Mau tulisan singkat atau panjang, atau lukisan abstrak atau pun vulgar, atau patung yang merupa bentuk orang atau mereliefkan sesuatu dan benda tertentu, termasuk status sosmedmu, dan gambar serta video yang kau unggah di akunmu, adalah jenis cara berekspresi, setelah kita mengalami sekaligus menyadari akan sesuatu. Meski tanpa suara kita mengucap “gua bangett itu”.

Adalah Fitoor yang saat ini filmnya masih tayang di bioskop Indonesia. Film yang diadapsi dari novel karya Charles Dickens berjudul “Great Expectations”, arahan sutradara Abhishek Kapoor dan ditulis bersama Suprati Sen, merupakan film yang berbicara seni mengeksplorasi dan berekspresi diri. Film ini bercerita Noor Nozami dan Firdaus Jaan Naqvi yang bermula dari sebuah desa di pinggir danau di Kashmir, keduanya tumbuh bertetangga. Noor kecil suka main ketapel sedangkan Firdaus kecil sukanya menunggang kuda. Tentu satu dari golongan miskin dan perempuannya dari keluarga kaya, disparitas yang selalu jadi seting sebuah cerita.

Setelah menonton tuntas film ini, sebagian yang ditawarkan adalah yang pertama, saya berpikir yakinlah bahwa kebaikan yang kau tanam akan tumbuh dengan sendirinya. Suatu saat nanti akan ada yang merasa berhutang budi, lalu berupaya untuk dapat melunasi atas kebaikan-kebaikan yang kita tanam. Meski semestinya kebaikan ya kebaikan sebagai jalan kebenaran, sebagai tirakat kegembiraan jiwa yang murni. Tanpa berharap nanti kebaikan-kebaikan akan meresonansi. Tak sama sekali terpikir untuk berharap sebagai “simpanan” di rekening hubungan sosial, atau sebagai “hutang” yang nanti harus dikembalikan.

Tapi kemurnian jiwa adalah berhutang budi—seperti pengertian “Islam” ialah kita yang sudah berhutang pada semesta ketiadaan, digambarkan dalam film ini, ada seorang penjahat yang terdesak lapar, lalu seorang anak kecil memberinya makan. Maka di hidup suksesnya si penjahat itu terus berupaya selalu untuk melunasi, membayar “pinjaman” plus bunganya yang berlipat. Meski terjadi mis-persepsi “pelunasan” itu dianggap terlalu berlebihan. Tapi itulah ekspresi si penjahat (diperankan Ajay Devgan) yang pernah dibantu Noor Nizami.

Lalu yang kedua, sesuatu yang membikin sedih, sakit, kecewa, marah adalah sama di belahan bumi mana saja. Tanpa memandang ras, suku, dan agama apa saja. Tapi kita bisa belajar dari Noor Nizami (diperankan Aditya Roy Kapur) yang seperti aku juga, Noor hanya melongo saja saat pertama melihat wajah jelita dan tak pernah berkata sejujurnya. Belajar dari Noor Nizami tentang bagaimana mengeksplorasi diri dan seni mengekspresikan sesuatu rasa. Menerima ya menerima atau sekalipun berkata tidak saat ditolak cinta. Tapi baiknya melakukan sebuah “pemberontakan” ketertolakan cinta itu, dengan cara dan sesuatu yang keseluruhannya sudah menata dan melembaga bernama seni (dan budaya), hingga sikap penerimaan itu terhormat, bermartabat, dan bahkan sebagai pembebasan finansial yang semula miskin.

Apa yang dilakukan Noor kecil saat terpikat hatinya pada gadis kecil tetangganya bernama Firdaus, meski di antara mereka berbeda strata sosialnya. Noor kecil ditertawakan Firdaus karena sepatunya bolong saking keluarganya miskin. Noor sukanya main ketapel, suka menggambar, dan merupa bentuk sesuatu. Sedangkan Firdaus sukanya menunggang kuda (dan juga cantik; lebih cantik lagi saat dewasanya; diperankan si cantik Katrina Kaif) yang merasa kehilangan saat kudanya dibawa pergi dari rumahnya. Noor kecil pun berupaya menghiburnya dengan merupa bentuk kuda mainan yang ia buat dari ranting pohon dan digantungkan di dekat jendela kamarnya Firdaus. Lalu apa itu tidak membuat Firdaus meraba hatinya?

fitoor-movie

Tapi nasib membuat Noor dan Firdaus berpisah sebelum keduanya tumbuh remaja. Firdaus pergi dari kampungnya untuk melanjutkan sekolah, atau karena kampungnya di Kashmir sudah tak aman karena rentan terjadi pengeboman. Sedangkan Noor yang ibunya meninggal sebagai korban tragedi bom Kashmir, Noor membikin “bandu” kepala yang tak sempat diberikan pada Firdaus. Seiring perkembangan usia Noor, kian dewasa menyimpan sebuah rasa pada Firdaus, tanpa diketahui pasti oleh Firdaus. Ia hanya melakukan apa saja yang dapat mengobati dan menggembirakan hatinya.

Begitu pula kau misalnya saat jatuh cinta pada pandangan pertama, atau pada akhirnya kau dikecewakan oleh seseorang, atau ketika sudah “semena-mena” diperlakukan oleh “lawan” sosial kita, atau karena usia kau sudah separuh hidup, lalu bagaimana cara mengekspresikan diri menerima semua itu. Apa yang bisa kita lakukan ketika seakan segalanya buntu saat usia terus menua sementara kreasi hidup kita begitu-begitu saja.

Apa yang dilakukan Noor hanya terus mengekspresikan apa yang jadi simbol terkait Firdaus, hingga membuat Noor dewasa sebagai pekerja seni dengan terus mengeksplorasi sejarah masa kecilnya sampai dewasa. Begitu pun kita dapat melakukan hal yang sama seperti Noor, yang tentu dengan kegembiraan dan bukan dianggapnya beban.

Sebagai pemuda seperti Noor, ia pun pergi ke kota guna menumbuhkan talentanya. Pada akhirnya di sebuah pesta, tak dinyana bertemulah ia kembali dengan Firdaus, tambatan hati masa kecilnya. Karya-karya Noor pun kian dikenal dan diperhitungkan serta meraih penghargaan dan laku dijual. Melihat keberhasilan itu, tapi Noor lupa pada sepatunya yang belum diganti. Saat pameran karya-karya dirinya, Firdaus menelepon Noor untuk mengingatkan pada sepatunya. (Adegan ini saya jadi berpikir menjadi lelaki itu harus menjaga penampilan buat terpikat perempuan. Bagi seniman atau yang sukanya seni sekalipun sering lupa pada penampilan diri, tapi ingatlah harus berpakaian yang layak dipandang oleh perempuan).

Tapi meskipun sudah terkenal dan sudah tak lagi miskin, mungkin Noor di mata Firdaus tetaplah belum apa-apa. Ungkapan rasa pada dirinya dianggap berlebihan. Sejak awal mereka telah saling mengikat janji sebagai sahabat semata. Tapi bagi Firdaus tak pernah rasa sahabat menjadi rasa cinta. Tapi Firdaus lupa bukankah cinta adalah bentuk lain dari persahabatan? Dan pernikahan adalah bentuk lain dari ikatan sosial?

Firdaus belajar pada ibunya (diperankan aktris senior Tabu) yang sampai tua masih menyimpan cinta sejatinya, meski kekasihnya dulu telah meninggalkannya, bahwa cinta sejati tak akan pernah dibagi. Ia pun menyadari bahwa cinta tak pernah datang terlambat. Tapi ia menunggu saat yang tepat.[]

fitoor-movie-headline

Oleh: Kyan | 15/02/2016

Dilwale

Dilwale

Adegan awal, ada seorang pencuri, atau katakanlah seorang kakak yang rela mencuri, demi keperluan adiknya. Ia rela menanggung kebutuhan adiknya dengan rela melakukan apa saja. Sebagai kakak ia mengambil tanggung jawab sebagai kepala keluarga setelah ditinggal kedua orang tuanya. Ini adegan mungkin biasa. Dalam kehidupan sehari-hari hubungan kakak-adik memang harus saling melindungi, tapi tak sampai harus mencuri.

Tapi di India, sesaudara dalam tradisi India, ada yang disebut Raksha Bandhan—tentu tahu namanya gelang “bandhan”. Ialah sebuah upacara perayaan cinta antar saudara, perayaan yang diperuntukkan bagi kakak-beradik untuk saling menegaskan cinta mereka, sebagai hubungan bersaudara, atau hubungan kerabat, terutama antara laki-laki dan perempuan. Nah, Dilwale (2015) khususnya, dan film-film hindi lainnya, sering mengangkat soal begitu lekatnya hubungan kakak dan adik.

Raksha bandhan, nama dari upacara diambil dari bahasa Sansekerta, yang berarti ikatan atau simpul perlindungan. Kata raksha artinya perlindungan, dan bandhan berarti mengikat. Ini merupakan tradisi kuno peradaban lembah Indus yang dimulai sekitar 6 ribu tahun lalu. Dilaksanakan biasa pada hari bulan purnama (Shravan Poornima) pada bulan Shravan dari kalender lunisolar Hindu.

Meski dalam Dilwale (2015) tidak ada adegan festival demikian, tapi terasa kental tema ceritanya mengangkat betapa dalamnya hubungan kakak-adik, sebagai kisah plus dari cerita utamanya yang bagaikan Rome-Juliet versi India. Dilwale (2015) boleh kita sebut sebagai duplikasi kisah klasik Shakespeare tentang kisah cinta dari dua keluarga yang bermusuhan. Film yang belum lama rilis dan dibintangi Shah Rukhan Khan (SRK) bersama Kajol Devgan ini tergolong bercerita biasa, dan mungkin juga absurd, tapi ada catatan khusus tentangnya.

Film hindi memang tak hendak jadi realisme, atau menggambarkan sebagaimana adanya. Tapi justru karena absurd maka memancing imajinasi untuk kita memulai dari yang sederhana. Justru karena sederhana, sebuah produksi yang melibatkan ratusan atau ribuan orang dapat menghasilkan keuntungan jutaan sampai milyar, padahal temanya begitu-begitu saja. Ya soal cinta dengan racikan dan bumbu-bumbu manisnya.

Berawal dari ide yang mungkin dianggap kecil, sepele, sederhana, tak diperhitungkan, tapi dengan ketekunan untuk menemukan “pembeda”, yakinlah nanti akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Misalnya kita ingin menulis tentang cinta. Cerita cinta dari dulu sama saja sejak Yusuf-Zulaekha, Romeo-Juliet, sampai Cinta Fitri. Tapi dengan tekun menulis, menuliskan apa saja terkait kisah cinta sendiri, yang terus masih jomblo sampai saat ini, kalaupun ya belum berhasil sekarang, itu bukanlah sesuatu yang sia-sia pada akhirnya.

Sebuah film laga ya begitu-begitu saja, ya film India akan selalu saja bertema keluarga. Meski dibumbui adegan laga, ada adegan tembak-menembak, ada adegan yang seakan berlebihan, ada cinta yang tak selesai, ada juga cinta yang selebihnya harus selesai sebagai anutan moral bagi yang sudah membeli tiket dan meluangkan waktu buat menontonnya.

Tapi sebenarnya lebih kuat mana karakter cerita Dilwale (2015) dengan Dilwale sebelumnya—judul lengkapnya: Dilwale Dulhaniya Le Jayenge (1995) sebagai film terlaris di Mumbai pada masanya yang dua-duanya diperankan mereka berdua. Sebelum kesuksesan Dilwale (1995), SRK dan Kajol pernah juga membintangi film Baazigar, Karan Arjun, baru Dilwale Dulhania Le Jayenge, lalu Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Kushi Kabhi Gham, My Name is Khan, dan baru reuni kembali, dipertemukan oleh Rohit Shetty dalam Dilwale yang baru diputar.

Catatan khusus, saya tak mengira cantiknya Kajol sangat berbeda pada film ini. Terlepas karena efek kamera, atau karena, atau padahal sudah menikah dan punya anak, Kajol memang punya aura tersendiri pada setiap filmnya. Apalagi dipasangkan dengan Shah Rukh Khan, “keduanya memiliki hubungan unik yang justru membuat mereka terlihat bagus di layar,” terang Abbas Mustan, sutradara pertama yang mempertemukan mereka berdua dalam film Baazigar.

Meskipun sisi cerita kedua film ini terasa absurd, seperti tokoh pemuda (SRK) dari London, dari mana ia bisa tahu kampungnya si wanita (Kajol) di pedesaan India, atau betapa mudahnya si Veer (Varun Dhawan) memaafkan Shindu yang selama ini telah mencuri aksesori mobil dari tempat kerja mereka. Atau kenapa sangat lama terbongkar soal ketidakbenaran dalam tragedi saling menembak antara ayahnya Meera dengan ayahnya Kaali saat mereka bertemu pertama kali, yang selama ini sebagai musuh bebuyutannya, tapi akan memulai hubungan baru untuk peresmian cinta anak mereka, antara Meera dengan Kaali atau Raj Bhai..

Tapi terakhir penting buat dicatat oleh sebagai lelaki. Ketika ada perempuan yang mengiyakan untuk bertemu, yang memberi waktu lima menit sekalipun, itu janganlah disia-siakan. Pergunakan kesempatan dan buat hati perempuan tercuri dengan kejutan demi kejutan yang kau berikan. Sekian.[]

Oleh: Kyan | 07/02/2016

Raffles, Jawa, dan Singapura

Ahh saudara yang tak becus cas-cis-cus omong Inggris, atau yang tersilau oleh kemilau negeri serumpun Singapura dan Malaysia, lalu menyalahkan sejarah kita, “kenapa Indonesia dulu tidak dijajah Inggris saja?”

Tim Hannigan, __Raffles, dan Invasi Inggris ke JawaTim Hannigan, penulis buku “Raffles and the British Invasion of Java” (Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa), buku yang meraih John Brooks Award 2013 di Inggris, ia yang pernah mengajar bahasa Inggris di sekolah elit di Jakarta, yang dari para muridnya mendengar tuturan yang juga mungkin diamini oleh kita, “pasti akan lebih baik seandainya dulu Indonesia dijajah Inggris ketimbang Belanda.” Padahal Indonesia pernah dikuasai Inggris selama lima tahun (1811-1816), yang lamanya sama seperti satu periode masa kepresidenan sekarang. Tetapi selama lima tahun saja, dijelaskan oleh Tim Hannigan tentang kehancuran krusial tatanan Jawa yang mistikal, apalagi kalau lebih dari itu, apalagi generasi bangsa hari ini mengimpikan di hati kecilnya.

Indonesia, atau negeri yang saat itu belum bernama, hanya wilayah yang terbagi-bagi kerajaan yang diporak-porandakan Belanda selama 350 tahun, pernah diselingi kekuasaan Prancis dan Inggris. Prancis di masa Marsekal HW Daendels, Marsekal yang diplesetkan jadi “Mas Galak”, karena kegalakannya keterlaluan. Ia membunuh ribuan orang dalam proyek Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan—jadi ingatlah yang bekerja di Kantor Pos, atau kita yang menikmati jalan lebar dan panjang sepanjang Jawa dari Barat sampai ke Timur, bahwa jalan dan kantor pos sejak semula adalah pos-pos perlintasan barang-barang hasil pertanian dan perkebunan, juga dokumen-dokumen rahasia kolonial, maka untuk melancarkannya, guna mempersingkatnya, memendekkan jaraknya, melipat ruangnya, maka dibuatlah proyek besar: Jalan Daendels-Jalan Raya Pos. Sehingga apa yang kita nikmati sekarang adalah hasil cucurah darah leluhur kita yang dipaksa dan mati digodam kurang gizi.

Dan karena Prancis menyerang Belanda, dan Raja Oranje Belanda meminta suaka pada Inggris, otomatis wilayah Hindia Belanda harus berada dalam kekuasaan Inggris, atau Inggris harus merebutnya dari Prancis. Maka kehadiran buku yang ditulis Tim Hannigan ini sangat penting, untuk kita membaca secara detil bagaimana saat Inggris tiba di Batavia, saat peperangan Inggris melawan Belanda, dan lebih fokus lagi bagaimana cerita kehidupan Raffles yang mengomando invasi pasukan Inggris ke Djocjocarta (Yogyakarta) dan Palembang, dan juga Sooracarta (Surakarta), dan Banjarmasin sehingga kita menanggung akibatnya.

Mulanya Raffles seorang Sipil. Pada September 1805 ia dipercaya sebagai juru tulis saat datang pertama ke Penang (sekarang: Malaysia). Ia baru berusia 24 tahun dan baru saja menikah dengan janda berusia 34 tahun bernama Olivia Mariamne yang tugunya kini berdiri di Kebun Raya Bogor. Melihat jejak masa kecilnya, Raffles dilahirkan di geladak kapal Hibberts Co. sebuah kapal budak, sebagai anak pertama dari enam bersaudara, dan karena koneksi pamannya ia mendapatkan kerja, yang sekolahnya terhenti karena bekerja, dan kini namanya harum sebagai bapak pendiri Singapura, yang namanya kini megah sebagai nama hotel di Singapura.

Tetapi saat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa, Raffles telah “begitu berani” melakukan sesuatu yang Belanda pun tak berani melakukannya, yaitu menyerang istana pribumi yang disakralkan, istana yang dilindungi Ratu Laut Selatan. “Tidak percaya, lihat bagaimana kehancuran dan nasib orang-orang Inggris yang menduduki Jawa, khususnya Raffles dan para pembantunya yang tak menghormati Ratu Laut Selatan!” Mungkin begitu maksud Tim Hannigan menulis tentang Raffles di Jawa, baik saat kedudukannya sebagai Gubernur Jenderal, maupun saat diturunkan jabatannya jadi Residen di Bengkulu, yang mana sebagi Gubernur Jenderal setelah Raffles digantikan John Fendall.

Tim Hannigan seakan-akan melalui buku ini ingin membuktikan bahwa justru karena Inggris-lah yang telah menghancurkan semuanya. Ia yang menghancurkan tatanan Nusantara, Jawa dan Pelembang khususnya, menghancurkan tatanan dalam waktu sekejap, tapi dampaknya sangat besar sampai seabad kemudian di Nusantara.

Memang, dari pelajaran biologi kita mengetahui bunga Rafflesia Arnoldi, nama yang disematkan pada Raffles, ia yang merintis pengumpulan segala jenis tetumbuhan di Nusantara, yang pada 1817 berdirilah Kebun Raya Bogor berkat ketekunan Reinwardt, seorang ahli botani dari Jerman. Kebun ini berada di belakang istana Buitenzorg, tempat dulu kedudukan Raffles menjalankan tata administraturnya.

Ia juga dikenal sebagai yang memperkenalkan berbagai candi di Jawa, terutama Borobudur yang mulai diperhatikan dunia lewat buku monumentalnya “The History of Java”. Bahkan menurut Tim Hannigan, Raffles menyusun buku The History of Java, karena ingin memandang dirinya sebagai seorang liberal, bahwa kedudukan Inggris di Jawa akan sangat bermanfaat bagi kemajuan Jawa dan sekitarnya. Ia sangat ingin menyangkal pandangan Belanda yang menganggap orang Jawa pada dasarnya “sangat pemalas dan tidak sensitif”. Ia berkata, “bila penduduk pribumi akhirnya terkadang bodoh, maka itu bukan disebabkan rendahnya kualitas ras tersebut, melainkan akibat pemerintahan buruk raja lalim pribumi dan VOC secara berabad-abad…Kebesaran leluhur mereka terdengar seperti dongeng dalam mulut orang Jawa yang telah mengalami kemerosotan,” tulisnya. Ia punya penjelasan sendiri yang sederhana atas penyebab ketidaktahuan dan kemerosotan itu: Islam..

Itulah menurut Tim Hannigan bahwa keburukan dan yang paling menghancurkan Nusantara saat kolonialisme Inggris dibandingkan Belanda, di samping memang ada sebagian yang paling ramah dan mengagumkan bagi Indonesia adalah berkat Raffles dan konco-konconya. Ia yang dibantu Rollo Gillespie, seorang Irlandia bertubuh kecil sebagai gubernur militernya, yang kemudian digantikan oleh jenderan Miles Nightingall karena sering adumulut dengan Raffles.

Menjalankan roda pemerintahannya, Raffles dibantu Otho Travers sebagai ajudannya sekaligus walikota Batavia, lalu Robison sebagai Residen Palembang dan yang diutus pertama menemui kesultanan Sooracarta (Surakarta) dan Djocjocarta (Yogyakarta), John Crawfurd sebagai Residen Yogyakarta dan yang menyarankan agar memberikan wilayah otonom dalam kerajaan Yogyakarta kepada Pakualam—seperti Mangkunegara dalam kerajaan Surakarta, juga ia yang menulis “History of the Indian Archipelago”. Lalu terdapat Alexander Hare sebagai Residen Banjarmasin yang punya disorientasi seksual seperti tokoh Kurtz dalam novel-novel karya Joseph Conrad, dan tentu istrinya, seorang yang suka pesta, lebih tua dan janda saat dinikahi Raffles, juga yang paling utama adalah John Leyden: seorang penyair nan cendekiawan dari Skotlandia, sebagai guru Raffles sejak pertemuan pertama mereka di Penang.

Dalam mengumpulkan tetumbuhan yang berkembang jadi Kebun Raya Bogor itu, Raffles dibantu Thomas Horsfield, seorang dokter kebangsaan Amerika yang sangat menyukai dunia tumbuhan. Lalu pengumpulan artefak kuno sehingga lahirlah The History of Java, ia dibantu seorang Belanda, Hermanus Christian Cornelius yang sudah melakukan survei awal Prambanan pada 1807. Dibantu Kolonel Colin Mackenzie yang sukacita menemukan reruntuhan Prambanan dan Loro Jonggrang, ada William Marsden yang juga menulis buku “The History of Sumatra” yang terus berkorespondensi dengan Raffles guna membantu penyempurnaan bahan penulisan bukunya, dan terakhir karena bantuan Pangeran dari Sumenep Madura, dan para sejarawan di kesultanan Yogyakarta dan Surakarta, yang membantu Raffles buat menerjemahkan tulisan naskah jarahan dan salinan prasasti kuno di Jawa, sehingga lahirlah karya monumental Raffles yang oleh Tim Hannigan, sebenarnya itu karya plagiat.

Raffles kemudian dipecat sebagai Gubernur Jenderal, dari Inggris kembali ke Bengkulu memegang jabaran Residen, pada penghujung 1819, kala Inggris bersaing dengan Belanda, dia berhasil membeli sebuah pulau dari Sultan Johor, yang wilayah kekuasaannya kala itu terletak di sepanjang pesisir Barat semenanjung Malaya. Sebuah pulau yang mulanya penuh belantara yang dihuni suku-suku Melayu, pulau itu mula-mula bernama Singha Pura, kota singa dalam bahasa Sansekerta, lalu kemudian kerap disebut Singapura, yang merupakan salah satu dari tiga Straits Settlements, bersama dengan Penang dan Malaka, sebagai titik wilayah yang dikuasai Inggris.

Straits Settlements adalah perjanjian antara Belanda dan Inggris untuk membagi semenanjung Malaya dan sekitarnya menjadi zona Belanda di selatan dan zona Inggris di utara. Di tahun-tahun selanjutnya Singapura tumbuh sebagai kota dagang dan pelabuhan, dan dengan pesat mengungguli Malaka yang sebelumnya di bawah kuasa Portugis lalu Belanda, dan selama berabad-abad sebelumnya merupakan pintu perdagangan utama antara Barat dan Timur.

Dalam kurun 50 tahun di bawah Inggris, Singapura tumbuh menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar dari Kerajaan Inggris Raya. Singapura ditata dengan sempurna sebagai kota yang megah, dilengkapi pelabuhan yang terus-menerus berkembang serta terkenal lantaran memiliki jalur wisata yang indah sepanjang tepian laut, dilengkapi gedung-gedung yang tak kalah megahnya dengan yang ada di pusat London.

Sebagian besar perwira, pejabat, dan pengusaha Singapura tentu didatangkan langsung dari India, sebagaimana sebagian serdadu dulu yang menyerang Batavia dan Yogyakarta adalah orang India, yang biasa disebut “Cipaye”. Tapi di samping itu, harus ada komprador untuk membantu atau penyeimbang, yaitu perantara kaum kolonial dan parakolonial yang biasanya orang-orang Cina; ia yang setia bersekutu tetapi juga berpamrih. Mereka bekerja sebagai bayangan, tanpa gerakan dan tindakan yang mencolok mata, tahu-tahu usaha mereka berkembang pesat. Mereka adalah teman setia Inggris yang menumbuh-suburkan Singapura, hingga akhirnya sekarang menguasai segala lini di Singapura.

Tapi kenapa dari Inggris Raya ke Cina? Dalam catatan “Dari Penjara ke Penjara”-nya Tan Malaka, ia yang beberapa kali singgah dan melihat perkembangan Singapura pernah risau ketika orang-orang Melayu kian tersisihkan di Singapura yang adalah tanah Melayu. Tanah-tanah yang sebelumnya ditempati orang Melayu pelan-pelan beralih dikuasai Cina. Memang karena sejak semula Cina sudah jadi anak emas penguasa, terutama saat pendudukan Inggris. Memang semula kapal-kapal uap Cina dari yang termasyhur sejak kapal ekspedisi Laksamana Cheng-Ho, mereka berlayar membawa ratusan bahkan ribuan Cina. Mereka singgah di Pelabuhan untuk dijadikan kuli kontrak oleh kantor-kantor agen milik pengusaha-pengusaha Cina.

Lalu kenapa mereka mendapat hati dari pribumi? Kita tahu ada yang kita sebut Baba. Ialah komunitas yang dirintis sejak abad ke-15, yaitu ketika Putri Hong Li Po, anak perempuan Kaisar Cina datang ke Malaka yang disertai 500 pelayan untuk menikah dengan sang Sultan, tentu setelah berpindah agama dan memeluk Islam. Itulah “mahar” yang selanjutnya membuat orang-orang Cina daratan mulai berdatangan dalam jumlah besar, terutama dari Teochiew dan Fukien. Mereka bebas berkeliaran mendirikan komunitas sendiri dan kaya, sampai mereka pun tak segan-segan dan jor-joran menyumbangkan dana untuk kemajuan kota. Mereka menciptakan dinasti perdagangan setempat yang kuat, semisal keluarga Yoe, Kwok, Tong, dan Tan.

Inggris yang telah menduduki Jawa, yang menjadikan Cina sebagai komprador, akhirnya mereka tak bisa sepenuhnya mampu mengendalikan kehidupan mereka. Beragam komunitas Cina yang ada di Singapura akhirnya sebagai penguasa, baik dari sisi ekonomi lalu berlanjut ke politik, dan juga pendidikan, setelah Singapura ditinggalkan Inggris sepenuhnya. Kini Singapura beralih kuasa sepenuhnya ke Cina, dan penduduk Jawa masih nelangsa melihat negerinya “kalah” pamor dari Singapura.[]

Oleh: Kyan | 21/01/2016

Hidup Sederhana

Desi Anwar, __Hidup SederhanaSetiap kali aku mampir ke toko buku, buku ini selalu menggodaku. Sering kucicil baca di toko buku, sampai berulang kali tapi tak mau kalau kubeli—karena harganya yang mahal. Bagaimana tidak mahal karena berisi foto-foto jepretan penulisnya yang berwarna saat-saat melanglang buana ke berapa penjuru negara. Tapi akhirnya aku “kalah” juga: dibeli buku ini dan harus kubaca secara utuh. Sekarang saatnya melanturkan pikiranku dari setamat membacanya sejak bab “leyeh-leyeh” sampai “carpe diem” (menggenggam hari ini).

“Hidup Sederhana” dan diterbitkan juga edisi Inggrisnya “A Simple Life”. Buku yang ditulis Desi Anwar, seorang wartawan yang pernah mewawancarai tokoh-tokoh kawakan semisal tokoh Tibet YM Dalai Lama, pemain bola Zinedine Zidane, penulis sejarah Karen Armstrong, ahli pemasar Philip Kotler, bintang film Richard Gere, pimpinan IMF Christine Lagarde, pimpinan WTO Pascal Lamy, dan sederet tokoh penting lainnya dari mancanegara dan negara kita yang tentu memerlukan kemampuan bahasa Inggris dengan Toefl sekian.

Dan dibahas dalam buku ini ketika dirinya saat masuk SMP di London, ia sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Ia sangat kesulitan mengikuti pelajaran, bagaimana ia memahami apa yang disampaikan guru, dan tibalah ujian tengah semester. Tapi meskipun nilai ujiannya di bawah rata-rata, tapi sang guru tidak memberikan angka saja. Di samping pembubuhan angka terdapat kolom komentar berisi pujian bahwa ia dianggap telah bekerja keras di mata pelajaran tersebut. Ia merasa tak masalah dengan nilai ujian yang kecil, tapi ia sebagai siswa sudah sangat dihargai oleh gurunya.

Maka secara keseluruhan aku tertarik pada buku ini. Kenapa tertarik pada buku ini, buatku karena yang dibahas adalah hal-hal “ringan” dan sehari-hari. Meski sebenarnya hal-hal sangat serius seperti membaca bab “Meyakini Keyakinan” atau “Siapakah Dirimu?” dan pokoknya tulisan-tulisan yang ditempatkan pada bab-bab akhir. Di senggang aku membaca buku-buku sejarah dan yang lainnya, yang cenderung tebal lembarannya, aku perlu istirahat. Kupikir-pikir kenapa aku harus serius dan membaca buku serius, toh aku tak jadi apa-apa dan bukan siapa-siapa. Siapa yang mendengarku, dan siapa juga yang menuntut itu.

Tapi waktuku kadang ingin sibuk dengan menyelami pikiran-pikiran dan membaca perasaan-perasaan. Aku suka dengan target-target ingin membaca buku ini dan buku yang penulisnya kesohor itu, meski memang sangat memberatkan hidupku. Sudah harus keluar uang yang memang buku-buku harganya mahal, kenapa pula harus susah-susah yang jawabannya sebagaimana tadi: aku bukan siapa-siapa dan tak jadi apa-apa, siapa yang mendengarku, dan siapa yang menuntut itu.

Hanya waktuku ingin sibuk dengan mendengarkan perasaan-perasaan yang berkecamuk di batinku, ingin segera aku menuliskan sesuatu yang membutuhkan inspirasi tertentu pada secuil kertas, atau langsung menekan-nekan tuts-tuts papan ketik komputerku. Biarpun tulisanku tak dibaca orang, tapi aku sudah menyelamatkan jalan pikiranku dan nuansa perasaanku, sehingga nanti kemudian hari aku dapat membacanya kembali sambil bergumam “Oallah inilah aku yang dulu”. Yaa itung-itung ini latihan membaca “kitab putih” atau “kitab hitam” sebagai catatan amalan pemberian Rakib dan Atid suatu saat nanti.

Meski sebenarnya ingin aku bermalas-malasan saja. Aku ingin tak melakukan apapun yang meringankan apalagi yang memberatkan. Diajarkan oleh Quantum Ikhlas untuk berdiam diri minimal selama duapuluh menit sambil mendengarkan musik digitalprayers, tapi kadang-kadang berisik. Ingin aku diam dalam kesunyatan atau sesekali ingin bebas sepenuhnya misalnya aku tidur sesuka waktu. Tapi sering aku tak bisa juga, sering merasa menggunakan waktu yang sia-sia, dan akhirnya begitu telentang tidur sering secepat itu aku tertidur. Kupikir saking lelahnya pikiran dan penatnya perasaan, yang sebenarnya aku tak berpikir apa-apa dan tentu karena sudah merasakan sesuatu yang menohok batinku: aku seakan tak menerima nasib hidupku.

Padahal aku tak berpikir sesuatu yang “besar”, hanya karena manusia atau katakanlah aku sendiri yang suka membuat segala sesuatu menjadi rumit. Seolah-olah itulah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa aku ini hidup, lalu aku mencemaskan yang sudah lewat, menyesaki pikiran tentang yang akan datang, apa kata orang, apa yang dipikirkan dan tidak dipikirkan oleh orang lain tentang berbagai hal yang terjadi dan tidak terjadi di lingkungan sekitarku. Kenapa aku tidak membuatnya sederhana saja dengan menghentikan lanturan pikiranku yang terus-menerus bergerak seperti gasing yang takut berhenti, yang katanya kalau berhenti berarti mati.

Kenapa aku tidak mengisi hidupku, misalnya dengan mengusahakan apa saja yang menyenangkan bantiku terlebih dulu dan tidak terlalu memikirkan ke mana pilihan itu akan membawaku. Sebab bahkan tanpa menghasilkan sesuatu pun, kenikmatan dalam melakukan sesuatu itu sudah cukup memberikan kesenangan. Aku perlu melepaskan batasan-batasan yang mengungkungku dari apa yang sudah aku ketahui, atau yang aku harapkan dan rencanakan bagi masa depan. Aku perlu melepaskan ketakutan-ketakutan terhadap berbagai kemungkinan yang tak terduga, sambil menikmati saja momen-momen berharga yang disuguhkan hidup kepadaku, apapun itu.

Kalau itu dapat kulakukan, aku akan mendapati hidup ini bagaikan petualangan yang tiada habisnya, penuh dengan kejutan dan memberiku kebebasan luar biasa untuk melakukan apa yang kunikmati sambil memaksimalkan potensi-potensiku dalam menggapai tujuan hidupku. Aku menjalani saja hidup sepenuhnya dari detik ke detik, tanpa mencemaskan masa depan, menyesali masa lalu, atau terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan metafisika yang jawaban pastinya tak akan pernah aku dapatkan.

Lebih baik aku menikmati hidup secara penuh, yaitu dengan menjalaninya. Bukan dengan terlalu memikirkannya. Karena begitu aku melepaskan kemungkinan terjadinya kekecewaan dalam hidup, maka hidup pun tak lagi bisa mengecewakanku. Malah menyodorkan berbagai peluang yang tiada habisnya. Aku menyadari bahwa di hidup ini terdadat pasang surutnya. Jarang sekali segala sesuatu menjadi seperti yang aku inginkan atau tetap sama. Tapi itulah yang membuat hidupku menjadi menarik dan layak dijalani.[]

Oleh: Kyan | 20/01/2016

Namaste India, Chak De Indonesia

Film India tidak hanya bersinar di India saja. Di beberapa negara termasuk Indonesia, film India punya daya tarik tersendiri. Dengan cerita yang sering “mengagungkan” cinta dan keluarga, disertai tarian dan nyanyan, telah memikat hati sebagian masyarakat Indonesia. Sampai televisi nasional ada yang secara rutin menayangkan film Bollywood, dan juga sinema masyhur dari televisi India, bahkan mendatangkan langsung para artisnya ke Indonesia.

Tapi antara India dan Indonesia tidak hanya di film saja. Ada sejarah yang terhubung dan panjang sejak berabad-abad lalu. Misalnya bahasa Sansekerta yang banyak mempengaruhi bahasa nasional kedua negara. Dari pelajaran sekolah kita mengetahui bahwa banyak kerajaan Nusantara yang bercorak Hindu, Syiwa, dan Budha yang konon katanya karena pengaruh India (yang dikenal sebagai negeri Hindustan). Meski pengaruh India atas Nusantara dicoba bantah dalam Madilog-nya Tan Malaka.

Menurut Arysio Santos yang meneliti Atlantis mengatakan justru sebaliknya, bahwa hindustan (peradaban lembah sungai Indus) mencapai kemajuan adalah pengaruh Nusantara sebagai tempat keberadaan Atlantis yang tenggelam karena meletusnya Krakatau dan Toba, sehingga banyak penduduk Nusantara bermigrasi ke lembah sungai Indus untuk membentuk peradaban baru.

Di saat terjadi perang dingin antara blok Amerika dan Soviet, presiden pertama RI Soekarno dan Presiden India, Jawaharlal Nehru sepakat untuk berada pada posisi non-blok. Hal ini yang menjadi dasar gerakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955 dan sejak itu kerjasama antara India dan Indonesia terus diperlebar pada berbagai sektor.

Pada tahun 2005, Presiden Indonesia SBY mengunjungi India yang dalam kunjungan tersebut, kedua kepala negara secara bersama-sama menandatangani Deklarasi Kemitraan Strategis. Pada Januari 2011, Presiden SBY kembali mengunjungi India sebagai tamu kehormatan pada perayaan ulang tahun India. Dalam kunjungan tersebut, kedua kepala negara membuat 16 kesepakatan, di antaranya: perjanjian ekstradisi, kerja sama di bidang minyak dan gas, sains dan teknologi, serta program pertukaran budaya.

Pada 10-12 Oktober 2013, Perdana Menteri India, Dr. Manmohan Singh, melakukan kunjungan ke Indonesia yang tujuan kedatangannya untuk kembali mempererat kerja sama antara kedua negara. Kedua pemimpin negara lalu bertukar pandangan mengenai isu-isu regional dan internasional, seperti krisis global dan G20.

Selanjutnya di sela-sela KTT ASEAN ke-25, Perdana Menteri India, Narendra Modi bertemu Presiden Joko Widodo di Nay Pyi Taw, 13 November 2014. Dalam pertemuan tersebut, Narendra Modi mengucapkan selamat kepada Joko Widodo atas terpilihnya menjadi presiden Indonesia yang ketujuh. Kedua negara pun membuat kesepakatan dalam meningkatkan perdagangan dan investasi. Konsultasi Kantor Luar Negeri kedua negara antara pejabat senior Kementerian Luar Negeri India dan Indonesia berlangsung di New Delhi pada 15 Desember 2014.

Bermula demikian, maka kehadiran Majalah Bollywood Inside Indonesia sangat penting sebagai media yang menyajikan isu-isu terhangat yang tidak cuma mengisi rubrik-rubriknya soal film dan selebritas Bollywood saja, tapi untuk lebih mendekatkan dan merekatkan kedua negara dengan menelisik lebih jauh keterkaitan antar dua budaya yang menghasilkan masing-masing kultur kedua negara.[]

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 01, Jun-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 01, Jun-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 02, Aug-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 02, Aug-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 03 Okto-15.jpg

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 03 Okto-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 04, Nov-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 04, Nov-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 05, Des-15

Majalah Bollywood Inside, __Edisi 05, Des-15

Oleh: Kyan | 02/01/2016

Max Havelaar

Berkata-kata dan mengasah pena yang tidak lagi percuma adalah Max Havelaar. Ketika hari ini beribu-ribu opini disebarkan, kicauan-kicauan dituliskan, dan status-status diperbaharui, diramaikan di jagat sosial media, tapi tak jelas benar dan relevan menjadi pertimbangan pada setiap keputusan kebijakan publik dalam tata masyarakat kita.

Betul beberapa bulan ke belakang ada gerakan “koin prita” dan kasus-kasus sebangsanya untuk menggiring opini publik, guna mencari dukungan sosial yang dimulai dari sosial maya, bersama media mainstream lainnya, bersama-sama untuk membikin petisi dan tak lagi sekedar berpuisi. Tapi kalau telinga anggota dewan kita tuli dan mata pemerintah kita buta, lalu kemana saluran-saluran itu bermuara.

Multatuli__Max Havelaar

“Saijah dan Adinda” Max Havelaar

Orang berdemonstrasi hanya jadi tontonan, dan jika pun ada perhatian hanya solusi tambal sulam. Semangat kita masih semangat feodal. Tapi juga tak asal kita bicara dan cuma pandai mereka-reka serta jauh dari realitas yang nyata. Tapi kita berkaca pada Max Havelaar yang ditulis Multatuli (nama pena dari Eduard Douwes Dekker) yang sejak terbit pertama tahun 1860 telah mengusik nurani bangsa Eropa, membuat terpukul para pejuang humanis yang telah dididik dalam institut kolonial, yang katanya, “semestinya kolonialisme haruslah menjadi kebanggaan kaum humanis”.

Yang semestinya para lulusan institut kolonial—sekolah persiapan bagi para pegawai tinggi yang akan dipekerjakan di berbagai negeri jajahan, sekarang IPDN untuk Indonesia—mereka telah mempelajari apa yang disebut sebagai Indologi, ilmu yang mempelajari Hindia Belanda khususnya. Tapi kenapa orang-orang Belanda di Hindia tak sepenuhnya dekat dengan pribumi. Malah membiarkan pejabat-pejabat pribumi, sebagai penghubung antara dirinya dengan rakyat pribumi, yang melakukan tidak seperti tuan Cornel di Cadas Pangeran.

Tapi Eduard Douwes Dekker yang pernah selama 18 tahun jadi pejabat Hindia Belanda, mencoba melakukan protes resmi kepada pejabat di atasnya, bahkan langsung kepada Gubernur Jenderal di Batavia tentang korupsi dan juga nepotisme yang terjadi di wilayah tata administrasinya, yang konon dilakukan Bupati Lebak, Raden Adipati Karta Natanegara, yang telah menyalahgunakan kekuasaan dengan menguras tenaga rakyatnya, dan yang menjadi korban adalah kisah populer Saijah dan Adinda, kisah yang mengharu siapapun yang membacanya, cinta yang sederhana tapi tak tersatukan akibat kekejaman pejabat pribumi dan kolonial.

Kata-kata dalam laporan resmi Max Havelaar kepada Residen Slijmering. “Saya mencurigai Demang Para Kujang (menanti laki-laki bupati)…” Ia hendak melaporkan bahwa Demang telah merampas kerbau yang salah satunya milik ayah Saijah dan Adinda. Tapi protesnya dimampatkan oleh Residen Slijmering, lalu kemudian malah mau dipindahkan ke Ngawi, dimana Bupati Ngawi masih kerabat Bupati Banten.

Ia lalu berbalik arah memutuskan pengunduran diri, juga mempercayai apa yang tak diakui– bahwa sebuah tulisan yang tergores tak akan pernah sia-sia di kemudian hari. Tapi karena buah pena Eduard Douwes Dekker yang menurut Horstmar Nahuys dalam pendahuluan pertama terbit Max Havelaar 1868, ketika bukunya menuai sukses besar, sayang sekali penulisnya telah melepaskan hak kepemilikan bukunya. Bukunya tanpa dilisensi sebagai aset dirinya dan keluarga.

Karena mungkin tujuan Eduard Douwes Dekker ingin supaya bukunya diterjemahkan ke dalam semua bahasa di Eropa, hanya untuk mewartakan apa yang telah dilihat dan dialami langsung di tanah kolonial kepada bangsa Eropa. Ia hanya menulis tentang nuraninya yang bersuara dan mudah-mudahan dapat mewakili bangsanya yang telah sekian lama menguasai tanah Hindia Belanda, supaya bangsanya menyadari dan mengakui kesalahan dengan kerendahan hati apa yang telah dilakukannya selama ini.

Kesuksesan Max Havelaar, kata Pramoedya Ananta Toer yang dikutip New York Times, Max Havelaar adalah “kisah yang membunuh kolonialisme”. Max Havelaar menjadi saksi tentang segolongan tirani dan pengabdi feodalisme dibalik kata-kata hirarki, untuk dipersembahkan pada bangsa Eropa khususnya Belanda, lebih khususnya lagi kepada Yang Mulia Raja Belanda, William III, beserta raja Jawa, Adipati, Pangeran… dan kaum cendekia hingga abad ini.

“Kepada Kaisar,” tulisnya di bab akhir bukunya. “Kaisar dari Kerajaan Insulinde yang menakjubkan, yang melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud, saya bertanya kepada Anda.. Apakah memang kehendak kekaisaran Anda sehingga orang-orang seperti Havelaar harus diciprati lumpur oleh orang-orang seperti Slijmering (Slijmering adalah Residen saat Max Havelaar sebagai Asisten Residen Lebak, dan bukannya Slijmering melaporkan kepada yang di atasnya lagi, ia malah menutupinya, dan lalu Slijmering diberi gelar Kesatria Ordo Singa Belanda) dan Droogstopple (seorang makelar kopi, dan seorang oportunis seperti kebanyakan orang Belanda); dan lebih dari 30 juta rakyat Anda nun jauh di sana harus diperlakukan dengan buruk dan mengalami pemerasan atas nama Anda?”

“Aku mengemukakan pertanyaan yang sama kepada Eropa, dan juga bangsa Jawa.. Aku akan menerjemahkan bukuku ke dalam beberapa bahasa yang masih bisa kupelajari.. termasuk bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alifuru, Bugis, Batak… Bila seandainya ini tidak berhasil, seandainya pertanyaan yang telah kukemukakan kepada Belanda sia-sia, aku akan mengasah kelewang, parang, dan pedang, dengan mengumandangkan lagu-lagu perang dalam benak para martir yang telah kujanjikan akan kutolong.

Bahwa aku, bekas Asisten Residen Lebak Banten. Ya aku tuan Sjaalman, sebagaimana dipanggil Droogstoppel, seorang makelar yang kaya sementara aku sangat miskin, aku Multatuli yang telah banyak menderita tapi telah mengasa pena. Aku tidak bermaksud untuk menulis dengan baik. Aku menulis agar didengar. Sama seperti orang yang berteriak, “Berhenti pencuri!” tidak memedulikan gaya bicara spontan-nya kepada publik dan tidak memedulikan kritik mengenai cara-ku berteriak “berhenti pencuri!”

Bahwa buku ini campur aduk; tidak beraturan, gayanya buruk, penulisnya tidak berpengelaman, tidak berbakat, tidak punya metode. Semua itu benar!… Tapi orang Jawa diperlakukan dengan buruk,” tegasnya. (hal. 462, terbitan Qanita, Mizan Pustaka). Secara alur cerita bukunya memang tidak biasa. Awalnya cerita dari sudut tuan Droogstoppel sebagai yang telah membantu penerbitan buku ini, lalu lebih banyak lagi komposisi yang disusun Stern, sebagai orang yang bekerja pada tuan Droogstoppel, ia seorang pemuda terpelajar berkebangsaan Jerman dan penganut Lutherian.

Tak lekang kita terus berkaca pada Max Havelaar. Meski saya pun sedikit terusik setelah membacanya tuntas. Saya yang hidup di abad 21 membaca karya satu setengah abad berlalu, yang terlepas dari semua kelebihan bahwa buku ini menjadi sorotan para pemangku kepentingan di Belanda masa itu, (yang mungkin sebagian anggota parlemennya juga tuli dan buta orang pemerintahannya seperti Indonesia kita).

Adalah benar Max Havelaar telah membawa angin baru, jadi katarsis pengubah kebijakan perpolitikan mereka untuk sebuah bangsa di Nusantara; dari Cultuurstelsel (kerja paksa) selama dasawarsa menjadi arah baru Politik Etis, yang mengantarkan pada kebangkitan nasional, dan meraih kita kemerdekaan. Meski tak jelas benar “merdeka 100 persen”—meminjam bahasa Tan Malaka. Tapi saya mengira ada mental inlander dalam penulisan buku ini: bahwa bangsa pribumi harus diadabkan, meski benar ada segolongan kaum kita yang harus disadarkan.

Buku ini seakan berkata bahwa “kami sedang membawa misi perdamaian semata demi kepentingan penduduk itu sendiri, demi pembudayaan atau pemberadaban suatu negeri,” yang kesemuanya bermuara pada keinginan untuk mewartakan keluhuran peradaban Barat. Kaum pribumi harus didorong untuk berevolusi ke arah yang berkesesuaian dengan takdirnya, sejalan dengan pikiran bangsa dan lingkungannya.

Tapi pada sisi lain inilah bekas seorang pejabat yang rindu tanah yang pernah dikunjunginya selang belasan tahun, seperti yang ditulis Catherine Van Moppes dalam novelnya, Emilie, Jawa 1904 bahwa “bagi kami yang pernah lama tinggal di Timur Jauh, yang begitu terobsesi, kemudian kami jatuh cinta dan tergila-gila pada negeri elok itu, negeri yang menakjubkan, yang melingkari khatulistiwa bak untaian zamrud, manakala bercinta dengan wanitanya, rasanya seakan-akan kami tengah bercinta dengan benua itu sendiri, dengan masyarakatnya, dengan peradabannya.

Kami seolah luluh, menyatu dengan mereka. Dan buku ini dipersembahkan juga untuk mereka.”[]

Oleh: Kyan | 27/12/2015

Buku-Buku Puisi Ternama

Buku-Buku Puisi Ternama

Aan Mansyur, __Melihat Api Bekerja

Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja

Mochtar Pabottingi, __Konsierto di Kyoto

Mochtar Pabottingi, Konsierto di Kyoto

Wiji Thukul, Para Jendral Marah-marah

Wiji Thukul, Para Jenderal Marah-marah

WS Rendra, __Puisi-Puisi Cinta

WS Rendra, Puisi-puisi Cinta

Tony Prabowo__Gandari

Goenawan Mohamad, __Gandari

Tere Liye__Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta

Tere Liye, Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta

Radhar Panca Dahana__Manusia Istana 1400x1800

Radhar Panca Dahana, Manusia Istana

Sapardi Djoko Damono__Hujan Bulan Juni

Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Kaos ANFC-8

ANFC: ABIEM NGESTI fans club

Siapa tak tau dengan mendiang Abiem Ngesti? Para pecinta musik Indonesia khususnya dangdut tentulah tak asing dengan mendiang idola dangdut kelahiran Kudus Jawa Tengah 1978 Ini. Mengawali debutnya di blantika musik Indonesia, dialah satu-satunya penyanyi
cilik yang dengan bangga mencitrakan dirinya sebagai penyanyi dangdut. Penampilan perdananya ala rocker cilik yang penuh percaya diri dalam video klip lagu ”Pangeran Dangdut” membawanya ke jenjang popularitas.

Kesuksesan album perdananya Pangeran Dangdut karya Awang Reza pada 1990 dengan raihan gemilang HDX Awards 1990 kategori album anak-anak terlaris membuatnya berikrar untuk mengembangkan karir nyanyi utamanya di dunia musik dangdut. Setahun kemudian dia merilis album “Ini Dangdut”. Album kedua ini pun sukses dan dirilis ulang lagi pada penghujung tahun 1991 bersama Iis Dahlia dan Dewi Purwati.

Pada 1992 Abiem mengeluarkan album duet bertajuk “Gempa” dan “Ini Jaman Uang” bersama Erie Suzan. Sedangkan di solo karirnya dia menghasilkan album Astaghfirullaah… Pada 1993 ketika demam slow rock Malaysia melanda, mendiang mengeluarkan album “Kugenggam Dunia” dan cukup laris juga. Ini menunjukkan bahwa Abiem sangat
mampu eksis di 2 jalur musik sekaligus.

Di tahun 1994 beliau menghasilkan album dangdut romantis berjudul “Sonia” yang juga cukup berhasil meraih perhatian pecinta dangdut Indonesia. Pada awal 1995 almarhum menghasilkan album “Gadis Baliku” featuring Yolanda Yusuf. Kedekatan keduanya dalam video klip menghembuskan isu bahwa Abiem (kala itu) sempat berpacaran dengan artis asal Sumatera itu.

Kaos ANFC-1Album Gadis Baliku sendiri merupakan inovasi baru di blantika musik dangdut dimana Abiem berhasil mengkolaborasikan musik dangdut dengan RAP, dan etnis tanpa “merusak” ciri khas dangdut itu sendiri yakni ketukan gendang dan tiupan seruling. Alhasil album ini laris manis dan menjadi salah satu pencapaian terbesar Abiem Ngesti.

Masih di tahun yang sama yakni sekitar bulan september 1995 dirilislah album terakhir beliau bertajuk “Dahsyat”. Karena pada 19 agustus 1995 Allah SWT berkenan mengambil Abiem Ngesti ke sisi-Nya melalui sebuah kecelakaan bersama ibu, adik dan sepupunya. 35 hari sebelum kematiannya, beliau sangat antusias dalam shooting video klip lagu
Dahsyat ini.

Atas totalitasnya tersebut wajar kiranya jika almarhum memperoleh anugerah dangdut TPI 1997 kategori video klip terbaik menyisihkan video klip lagu Siapa Kau (Lilis Karlina), Merpati Putih (Ikke Nurjanah), Selamat Malam (Evie Tamala) & Di Ambang Sore (Iis Dahlia). Dari berbagai album yang telah dihasilkan oleh putra musisi dan pencipta dangdut Wiwien Ngesti ini, boleh jadi lagu Pangeran Dangdut, Gadis Baliku dan Dahsyat adalah lagu yang tetap lekat dan terkenang di hati pecinta dangdut utamanya fans Abiem Ngesti.

Ciri khas beliau sebagai citra penyanyi dangdut muda yang menyanyikan lagu-lagu dangdut bergaya anak muda penuh optimis dan dinamis! Selamat jalan sang pangeran dangdut. Tiada siapapun yang mampu menggantikan posisimu sebagai sang pangeran dangdut sejati! Karya-karyamu akan selalu teringat sampai kapanpun jua di hati kami…[]

Reportoar: GDR Music Entertainment

Oleh: Kyan | 26/12/2015

Kagum Kepada Orang Indonesia

Emha Ainun Nadjib, __Kagum Kepada IndonesiaBukan satire, tapi sungguh benar. Siapa lagi yang mengagumi dan percaya diri untuk mengaum sejarah bangsa ini. Bangsa ini bibit unggul, bangsa ini garda depan, bangsa ini tak butuh pengakuan kebesaran dari dunia luar, karena bangsa ini sudah besar, karena dunia besar karena Indonesia, dan Indonesia kapten kesebelasan dunia.

Kita marah dan curiga pada Mochtar Lubis yang mengata “bangsa ini hipokrit, enggan bertanggung jawab, yang penting ABS, percaya takhayul, tidak hemat, meski diakui kelebihannya: unggul dalam seni. Disusul Taufik Ismail menulis “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”, dan Rendra bersajak, bangsa kita bangsa yang malas.. mesti dibangun..mesti diup-grade.. Bagaimana bisa kita tak percaya dan mampu.

Maka untuk mengaumkan, untuk membangunkan memang perlu bangsa ini terus dikeloni, dibangunkan dari tidurnya, disadarkan orang-orangnya yang tak sadar, untuk bersama-sama mengelola tanah tumpah darahnya. Meski kita tahu sambil tidur pun menanam singkong pun jadi. Tapi mesti sesadar-sadarnya, sebangun-bangunnya kita mengolah, mencampur tanah, udara, air, dan api.

Kita tahu tanahnya bangsa ini adalah “penggalan sorga”. Seakan-akan surga itu bocor, dan cipratannya menjadi tanah dan air Indonesia. Negeri ini sudah berkali-kali porak-poranda oleh gunung meletus dan gempa, banjir bandang dan tsunami, rumah-rumah rubuh. Tetapi dalam sekejap bisa menterang kembali, sesudah mengungsi ke berbagai-bagai negeri akhirnya kembali. Tak kapok untuk menanam kembali, main petak umpet dengan gejala-gejala gunung merapi.

Rakyatnya bangsa ini begitu pandai menyiasati, menjajarkan kebaikan dan keburukan, mendamaikan kesedihan dengan kegembiraan, menyeimbangkan antara kesengsaraan dengan pesta pora, krisis dengan joget-joget, keprihatinan dengan kesombongan, kemelaratan dengan kemewahan, dan apa saja mampu dikomposisikan sedemikian rupa.

Pemimpinnya tak kurang stok. Watak pemimpinnya dengan gabungan berbagai karakter unggul: keagungan Sultan Agung, kependekaran Panembahan Senopati, kesaktian Mas Karebet, kedewasaan Raden Patah, kearifan Walisongo, bahkan juga kecerdikan Raden Wijaya, kedalaman batin Kertanegara, karisma Tirbhuana Tunggadewi, kebesaran Gajah Mada, kesepuhan Aki Tireng, dan karakter-karakter unggul pemimpin kita dari Atlantis Leumuria sampai Indonesia.

Bangsa ini bukan hanya bangsa bibit unggul, tapi lebih dari itu: dalam konteks evolusi pemikiran, kebudayaan, dan peradaban, avant garde nation, yang dengan sejarahnya selalu berada beberapa langkah di depan bangsa-bangsa lain di muka bumi. Pakar-pakar dunia selalu “kejebak” mempersepsikan kita, membayangkan Indonesia adalah kampung setengah hutan yang kumuh, banyak busung lapar, mayat-mayat bergeletakan, perampok di sana-sini, orang berbunuhan, pokoknya Indonesia negeri penuh duka dan kegelapan. Tapi bagaimana itu terjadi.

Tak melihatkah mereka, para pemimpin kita kawula rakyat. Kas negara sudah melimpah dari pajak-pajak rakyatnya. Saking surplus, tak ada anggaran biaya pakaian dinas pejabat melebihi yang ada di Indonesia. Tak ada hamparan mobil-mobil mewah melebihi yang terdapat di Indonesia. Impor sepeda motor apa saja dijamin laku, berapa juta pun yang kau datangkan ke negeri ini. Rakyat kita sudah kaya-raya.

Kalau kita bilang, “negara kita sedang krisis”, itu semacam tawadhu dan andap asor saja. “Silakan mampir ke gubuk saya” padahal rumah kita bak istana. Pemerintah kita terus berutang triliunan dolar, itulah strategi agar kita disangka miskin. Kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah.

Timnas olahraga kita rancang sedemikian rupa jangan sampai menangan atas negara-negara lain. Saking cerdasnya kita, hanya babu-babu yang dikirim ke luar negeri, yang bermental kanak-kanak kita jadikan anggota DPR/MPR, Malaysia kita cerdaskan, karena murid harus lebih baik dari gurunya. Cerdasnya guru cukuplah Tuhan yang Maha Tahu.

Malaysia tak mampu membangun gedung-gedung tinggi, kalau tak ada tenaga-tenaga pengaduk semen dari Indonesia. Para Sajang Korea sangat menyukai pemuda-pemuda Indonesia. Negara-negara Arab sangat takut kehilangan anak-anak Indonesia. Dan posisi itu tak bisa digantikan oleh pemuda-pemuda dari Filipina, Bangladesh, Pakistan atau manapun.

Bahkan Amerika, negara Mamang Sam itu selama beberapa tahun terakhir dibikin tak bisa tidur oleh kebesaran Indonesia. Begitu banyak keringat diperas, otak diputar, biaya dikeluarkan, strategi-strategi ditelurkan untuk segala sesuatu yang menyangkut Indonesia.

Inilah negara Indonesia. Negara yang selalu dilaporkan segara kolaps, tetapi tertawa dan senyum dan dadah-dadah di sana sini, bahkan koruptor perampas kas negara melambaikan tangan ke kamera tivi dengan senyumnya yang paling cerah dari hari ke hari.[]

Oleh: Kyan | 21/12/2015

Musso, Soekarno, Kartosoewirjo

Haris Priyatna, Seteru 1 GuruTiga yang berseteru, tiga yang seguru kepada HOS Tjokroaminoto—ialah sufi pergerakan pendulum bangsa, seorang raja tanpa mahkota, disangkutkan sebagai Prabu Heru Tjokro dalam ramalan Jayabaya, cucu seorang Bupati Ponorogo, Tjokronegoro yang jadi komandan perang Pangeran Dipenogoro, dan tentu sudah tahu semua ialah pemimpin besar Sarekat Islam: organisasi inkubasi Indonesia ‘kecil’ sebelum jadi Indonesia seperti sekarang ini.

Tapi biarpun antara Musso, Soekarno, dan Kartosoewirjo berseteru, perseteruan mereka memberi pelajaran moral bagi yang hidup hari ini, terutama bagi politisi yang belum kunjung lulus ke jenjang seorang negarawan, seperti dikatakan Yudi Latif, “anak-anak alumni ‘kemah’ Tjokroaminoto bertikai karena perbedaan visi; tapi sekarang para politisi bertikai karena konflik kepentingan pragmatis. Konflik visi melahirkan kemerdekaan, konflik kepentingan melahirkan pengurasan.”

Tapi bagaimana cerita itu sebenarnya, atau cerita bagaimana yang perlu kita angkat ke muka, atau bagaimana agar sejarah dapat mudah kita fahami. Memenuhi kebutuhan ini, buku yang ditulis Haris Priyatna, “Seteru Satu Guru” diharapkan sebagai kunci pembuka untuk penziarahan sejarah bangsa. Sebuah novel dengan riset sejarah, atau membaca sejarah dengan pendekatan novel. Buku ini boleh dikatakan sebagai pengayaan atau pembanding atas film Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang sudah diputar, sebagai pelengkap sebelum atau sesudah menontonnya.

Buku ini bercerita di pusaran kharisma Tjokroaminoto yang bertumpu pada tiga tokoh: Musso, Soekarno, dan Kartosoewirjo yang jalan hidup mereka menjadi tiga gumpalan kasar ideologi besar atas nama kemerdekaan bangsanya. Bagaimana Soekarno (yang nasionalis), dan Musso (yang komunis), dan Kartosoewirjo (yang islamis), adalah tiga murid yang dulu saling bantu tapi akhirnya saling baku tembak, saling meniadakan setelah lama lulus dari pondok Tjokroaminoto. Secara pribadi mereka saling menghormati dan bersahabat, terutama semasa mereka ngekos bareng di rumah Tjokroaminoto.

Pendahulunya sebagai penghuni kos pertama, ia yang sudah bekerja sebagai juru tulis di stasiun kereta, yang keranjingan buku “Het Communistisch Manifest”, ialah Samaoen dari Jombang. Dialah yang kemudian hari mendirikan PKI: Partai Komunis Indonesia, atau setelah bertemu Sneevlet di rumah Tjokroaminoto, lalu keduanya bekerja sama. Penghuni kos selanjutnya adalah Musso yang berbadan kekar dan jago silat semasa ngekos di rumah Tjokroaminoto bersekolah HBS: Hogere Burger School, sekolah lanjutan setara SMP plus SMA tetapi hanya lima tahun.

Demikian juga Soekarno yang jago akting setamat dari ELS: Europeesche Lagere School di Mojokerto, kemudian melanjut ke HBS, sebagai adik angkatan Musso. Tapi Kartosoewirjo yang anak Mantri Candu dan suka fitness ini mengambil NIAS: Nederlands Indische Artsen School, sekolah kedokteran Jawa dengan masa pendidikan sepuluh tahun, sama seperti STOVIA di Jakarta. Mereka penghuni kos di rumah yang sama, yang tentu saling memberi pengaruh, yang selanjutnya mereka jadi tiga pendulum ideologi (komunis, nasionalis, dan islamis) yang dilanjut pengikutnya hari-hari ini. Hari ini ada pengikut seutuhnya, ada pengikut yang setengah-setengah; setengah nasionalis-setengah komunis-setengah islamis, ada pula penurut paling ekstrim kiri dan kanan: dari Komunis Gaya Baru (KGB) sampai jadi bagian dari Islamic State-nya Daesh Syiria.

Biarpun mereka seguru-seilmu, pernah sama-sama mampir di Sarekat Islam, bahkan mungkin pernah baca buku yang sama dari perpustakaannya Tjokroaminoto, tapi karena mereka berbeda latar belakang sosial dan jalan pikirannya, maka jalan yang mereka tempuh berbeda sebagai keyakinan dan ambisinya. Tapi dari semua itu, bagaimana kita memaknainya.

Kita sebagai anak-anak bangsa, sebagai poetra dan poetri abad 21, bagaimana membaca sejarah manusia dahulu, menyimak mereka berseteru yang sudah hampir setengah abad berlalu, yang rasa-rasanya belum juga kita beranjak dari pikiran-pikiran di masa-masa itu tentang bagaimana bangsa ini merdeka seutuhnya. Sejarah ditulis untuk kepentingan yang hidup sesudahnya agar kita bertanya: apakah demikian kehendak sejarah yang terulang, atau kita tak pandai mengambil kesimpulan yang benar, sehingga sejarah bangsa ini belum beranjak dari sebagai negara berkembang. Indonesia dikatakan masih sebuah negara yang dianggap belum maju menurut pandangan segala keilmuan, atau dari segala sudut estetika kepuasan, atau sebagaimana cita-cita proklamasi dan UUD 1945.

Membaca Indonesia hari ini, apakah juga masih relevan dengan pendekatan pertentangan kelas sebagaimana dogma komunis? Lalu apakah pertentangan kelas adalah fakta atau fiktif sebagai cara berpikir (worldview) yang berbeda antara di sana dan di sini, antara agama ini dan agama itu? Sesungguhnya nasionalisme yang bagaimana kehendak negara-bangsa, atau yang sesuai Islam, atau menurut “kesempurnaan Islam sebagai dien”? Benarkah agenda keagamaan semestinya kita berjuang, atau agama hanyalah dermaga saja tempat bertolaknya kita melangkah untuk kemanusiaan universal?

Tapi jalan yang ditempuh Musso, Soekarno, dan Kartosoewirjo berbeda, dan sejarah telah menghakiminya bahwa inilah pahlawan dan itulah pembangkang, inilah sesungguhnya perseteruan yang berbeda cara pandang saja tentang bagaimana kita merdeka. Mereka hanya bermimpi dan juga berambisi, ingin merealisasikan mimpi dan ambisi demi bangsanya yang bebas dari penjajahan kolonial.

Biarpun Musso yang grasah-grusuh ingin seperti “semangat Moskow” dengan melaksanakan program Komintern Komunisme Internasional, sementara Soekarno ingin melandaskan pada itikad nasionalisme dengan merangkul segala etnis dan agama buat meneruskan kebesaran Majapahit, tapi Kartosoewirjo ingin tetap melaksanakan agenda keagamaan menurutnya, yang sesuai dengan “semangat Sarekat Islam” dimana ia pernah jadi Sekretaris Umum mendampingi Tjokroaminoto.

Mereka berseteru kenapa? Saya kira pada mulanya adalah perjanjian Renville yang sangat merugikan Indonesia. Perjanjian ini diinisiasi Amerika, yang rupanya inilah tancapan kuku pertama pengaruhnya bagi Indonesia, yang menyisakan hari ini bual-bualan dan penghias bibir para politikus sekarang tentang Freeport, seakan tak rela Freeport hengkang dari tanah Papua. Perjanjian yang sejak semula ditentang habis-habisan oleh Tan Malaka, yang katanya “Masa mau berunding dengan maling di rumah sendiri?”; dan Renville sebagai kapal milik Amerika untuk tempat pertemuan antara Indonesia dan Belanda yang diprogramkan Kabinet Amir Syarifuddin, lalu Belanda berpesan padanya, “tolong ‘amankan’ dulu Tan Malaka!”

Tan Malaka yang sekian lama buronan Belanda dan Inggris, sampai ia harus bersembunyi dari negeri ke negeri mengitari sepertiga bulatan bumi, akhirnya mati di tangan bangsa sendiri. Setelah ia mempersatukan kekuatan tentara bersama rakyat dalam Persatuan Perjuangan (PI), sebagai prinsipnya untuk secara militer melawan Belanda, yang tak ingin berdiplomasi dengan maling di rumah sendiri, akhirnya rubuh diterjang peluru laskar FDR: Front Demokrasi Rakyat yang dibentuk Amir Syarifuddin. FDR hasil leburan dari Partai Komunis, Partai Buruh, Partai Sosialis, dan Pesindo yang telah ikut serta dalam arek-arek Suroboyo Sepuluh November saat mengusir tentara NICA.

Perjanjian Renville yang menyiutkan wilayah Republik jadi hanya sebagian kecil Jawa, lebih menciut lagi dari kesepakatan sebelumnya dalam Perjanjian Linggarjati, sehingga ibukota Republik harus dipindahkan ke Yogyakarta, Jakarta dan Bandung harus dikosongkan, rakyat harus long march berpindah ke wilayah Republik, yang dalam wilayah semenel itu menyebabkan ruang gerak menjadi sempit, hingga di Surakarta sering terjadi friksi di antara pasukan: Siliwangi dengan Senopati, Senopati dengan Pesindo, mereka saling culik-menculik, hingga Hatta harus me-reorganisasi dan merasionalisasi (re-ra) tentara. Tentara yang muasalnya adalah laskar-laskar pejuang kemerdekaan, yang karena keputusan Hatta ini kaum haluan kiri mencurigai bahwa tujuan sebenarnya program ini guna menyingkirkan pasukan yang terinfiltrasi komunis seperti Pesindo.

Sementara Kartosoewirjo bersama Masyumi yang dalam KNIP terus mempertanyakan keabsahan perjanjian dengan Belanda, ia yang beristrikan orang Garut, sebagai yang punya basis Masyumi di Priangan, punya pengalaman “resmi” di organisasi sebesar Sarekat Islam, pernah jadi redaktur surat kabar Fadjar Asia, punya anak-anak didik di Institut Suffah, punya sayap militer Hizbullah dan Sabilillah dan GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), begitu Perjanjian Renville disepakati Republik, lalu ia mengadakan konferensi Cisayong.

Dari konferensi ini menghasilkan keputusan bahwa seluruh laskar yang berafiliasi pada Masyumi dilebur menjadi Tentara Islam Indonesia (TII) yang akan terus berjihad melawan Belanda, dan Jawa Barat ditetapkan sebagai Daarul Islam (DI). Mereka tak akan meninggalkan garis demarkasi guna memenuhi isi perjanjian Renville, dan mereka tak ingin meninggalkan kampung halamannya, meskipun harus berjuang sendiri untuk mempertahankannya, sampai akhirnya juga harus melawan bangsa sendiri, melawan orang-orang Republik.

Lalu Musso yang telah kembali dari Uni Soviet, dua tahun setelah kepulangan Alimin, mereka sebelumnya yang telah gagal mengkonsolidasi pemberontakan PKI 1926 terhadap Belanda, pemberontakan yang gagal karena tak mematuhi perintah Tan Malaka selaku ketua Komite Eksekutif Komunis Internasional Biro Timur Jauh yang meliputi Hindia Belanda, Filipina, Birma, Siam, Malaka, dan Indochina, Tan menitip pesan kepada Alimin saat di Manila agar ditolak itu hasil konferensi Prambanan yang menyepakati akan segera mengadakan aksi.

Tak dinyana aksi yang grasah-grusuh, saat kehadiran Musso dan Alimin di hadapan Stalin, ditambah suasana sedang memanas karena Stalin sedang berseberangan jalan dengan Trotsky, rivalitas di partainya, Stalin pun menghardik mereka, “Dasar kamu orang gila! Cepat pulang dan batalkan pemberontakan itu.” Tapi pemberontakan telah meletus, sampai Musso dan Alimin harus kembali ke Moskow.

Tapi kepulangan kedua mereka rupanya membawa rencana yang sama. Apalagi sesudah adanya kesepakatan Praha oleh Soeripno sebagai perwakilan Indonesia yang membuka hubungan dengan Uni Soviet. Meski itu katanya tanpa sepengetahuan Menlu Haji Agus Salim, karena memang perjanjian itu dibuat sebelum perjanjian Renville.

Musso, yang oleh orang tuanya bermaksud Musso adalah Musa, atau Moses, seorang nabi pembawa wahyu Taurat, tapi ini juga membawa “wahyu” Stalin untuk Hindia. Musso yang diplesetkan Mu-lut So-viet bukan hanya jago silat, ia kelahiran Kediri yang asal-muasalnya kota Sunan, kota yang diruwat Sunan Kudus. Sebagai murid Tjokroaminoto, otomatis peserta aktif di Sarekat Islam, berkenalan dengan Sneevlet dari ISDV pun di rumah Tjokroaminoto, mendapatkan peluang di saat lemahnya pemerintahan Republik akibat perjanjian Linggarjati dan Renville.

Soekarno-Hatta meredup pamornya di mata para kaum pergerakan, khususnya bagi anggota KNIP yang memeluber jumlah anggotanya yang konon untuk menambah suara dukungan pada persetujuan diplomasi dengan Belanda. Kubu Masyumi yang diwakili Kartosoewirjo berada di atas angin karena memperoleh banyak dukungan untuk bisa memakzulkan pemerintah; hingga Hatta berpidato di sidang KNIP, “Kalau dekrit tidak diterima, carilah presiden dan wakil presiden lain” ancam Hatta di akhir pidatonya.

Dan begitu Perjanjian Renville disepakati, di mata kaum pergerakan haluan kanan maupun kiri dianggap sebagai kekalahan kedua Republik. Maka Musso sebagai kakak kelasnya Soekarno, (baik kakak kelas di sekolah HBS maupun dalam pengalaman pergerakan) hendak mengambil alih kekuasaan. Pemberontakan PKI yang dipimpin Musso bersama para “barisan sakit hati” seperti mantan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, mantan Jenderal Wikana, dan Soemarsono yang dipecat Hatta dari Pendidikan Politik Tentara, mereka bergerak merebut Madiun di Jawa Timur, dan selanjutnya selaku adik kosnya Soekarno, yaitu Kartosoewirjo di Jawa Barat menjadikan bumi Priangan sebagai basis pergerakan DI/TII. Keduanya memberikan mosi tak percaya pada pemerintahan Soekarno-Hatta dengan mengangkat senjata.

Soekarno, atau Karno atau Karna, yang sebelum sakit namanya Kusno, ayahnya seorang mantri guru bernama Soekemi dan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, kedua orang tuanya berharap ia menjadi seperti Karna dalam tokoh pewayangan, sebagai ksatria dalam epos Mahabharata, berharap ia menjadi seorang pemimpin dan pembela negara. Tapi Soekarno berencana menulis surat wasiat yang hendak menjadikan Tan Malaka, Tan rivalnya Musso (Tan pendukung Trotsky, sedangkan Musso anak buah Stalin) sebagai pengganti dirinya.

Tapi Musso yang nama lengkapnya Munawar Musso, dan pernah menyamar dengan nama: Manavar, seperti Alimin dengan nama samaran Animin, atau Samaoen alias K. Samin saat mereka di Moskow, dan tentu yang paling banyak punya nama samaran adalah Tan Malaka semula maksud hanya ingin menggertak saja, tapi Soekarno dan atas inisiatif Jenderal Nasution mengirim pasukan guna menumpas pergerakan PKI.

Pergerakan, atau pengambil-alihan kekuasaan, atau katakanlah pemberontakan FDR-PKI mengambil basis di Madiun yang meliputi Magetan, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, dan Wonogiri, sampai mereka di mana saja menemukan orang Masyumi dan PNI, tanpa banyak cingcong langsung mereka dor, lalu lehernya ditebas dengan kelewang. Konon orang-orang yang terbunuh bergeletakan di sepanjang jalan. Tak ada yang berani mengangkatnya hingga berhari-hari. Sampai akhirnya Musso tertembak, dan Amir Syarifuddin ditangkap.

Demikian pula DI/TII dipimpin Imam Besar Mardijan, nama pertama yang dipanggil Soekarno saat bertemu pertama di Surabaya, ia yang kemudian di-DO dari sekolahnya karena kedapatan membawa buku-buku terlarang, ia banyak membaca tulisan pamannya, Mas Marco, sesudah mengadakan konferensi Cisayong, begitu Yogyakarta diserang dalam Agresi Militer Belanda II, lalu Soekarno dan Hatta ditawan, dan Jenderal Soedirman bergerilya di hutan ke hutan, sementara Kartosoewirjo mengumumkan perang sabil melawan Belanda. Disangkanya terdapat kekosongan pemerintahan—mungkin karena tak mengetahui atau tak mengakui keabsahan adanya PDRI oleh Syafruddin Prawiranegara, ia bersama pengikutnya mendeklarasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII).

Dari hutan Garut-Bandung-Tasikmalaya ia terus berjuang dan bertahan, sampai mereka terus dikepung dalam operasi “Pagar Betis” atau “Operasi Bharatayudha”, mengambil nama dari perang saudara antara Pandawa dan Kurawa, sedangkan ini dua seperjuangan antara Bung Karno dan Bung Karto demi membela prinsipnya masing-masing. Sampai karena kehabisan bekal terpaksa ia merampok beras dari penduduk setempat, bahkan membunuh orang-orang yang dianggap mata-mata Republik, sampai konon mereka merencanakan aksi pembunuhan Presiden Soekarno.

Selama tiga belas tahun mereka bertahan di hutan Priangan, sampai satu persatu pengikutnya pun menyerah, seperti Haji Zaenal Abidin, Danu Mohammad Hasan, Adah Djaelani, dan kemudian Dede Muhammad Darda, alias Dodo, putranya Kartosoewirjo, dan selanjutnya Kartosoewirjo akhirnya menyerah dengan tubuh tinggal tulang karena penyakitan selama di hutan karena kekurangan gizi.

Dari foto yang beredar, atau dari buku yang ditulis Fadly Zon tentang saat-saat terakhir eksekusi mati Kartosoewirjo di Pulau Ubi, tubuh yang dulu kekar karena suka angkat beban, bahkan kini makamnya tak dapat kita temukan.[]

Oleh: Kyan | 21/12/2015

Faith and The City: Sinis Pada Sinisme

Hanum Salsabiela & Rangga Almahendra,__Faith and The CityAku sinis pada buku ini—kukatakan spontan, tanpa dipikir ulang, saat membaca di beberapa halaman pembuka. Tapi tentu aku membeli dan membacanya sampai tuntas; bagaimana bisa sinis kalau belum membacanya sampai paragraf terakhir. Ada kewajiban membacanya, melanjut pembacaan “Bulan Terbelah di Langit Amerika”.

Tapi sinis ini, seperti sinis pada Ayat-Ayat Cinta, Syahadat Cinta, Surga yang Tak Dirindukan, Air Mata Surga, dan cerita-cerita lain yang selalu saja menyangkut pada hal poligami. Selalu saja tema yang diangkat melulu itu di buku-buku populer kita. Seperti pada doyan poligami saja rata-rata pembaca—kalau memang buku-buku itu ditujukan buat pembaca ber-lingua franca Melayu-Indonesia. Poligami tapi maksud sebenarnya “selingkuh” dengan mengebiri Islam.

Tadinya aku berpikir, maksudnya aku menyukai, atau aku meinginkan, dapat kutemukan bahan bacaan tentang bagaimana orang-orang saat menemukan jodohnya—dalam arti pasangan hidup; passion; arus balik, atau apapun terkait menemukan “sang diri” sejati dalam dirinya. Tapi ya aku tahu. Orang bebas-bebas saja menulis hal apapun. Mungkin katamu, “buat saja sendiri cerita yang kau ingini”. Kata-kata sinis bernada gerammu padaku. Kalau tak suka ya tinggalkan saja, jangan membaca apalagi membeli. Sudikah kau menghabiskan uang buat yang tak perlu menurutmu.

Memang sih kuakui tema ini laris di pasaran, akan selalu jadi sorotan, dan tak selesai-selesai dibicarakan, khususnya di zaman mengemukanya peran perempuan dalam urusan publik. Soal yang “panas” begini sering jadi sorotan Orientalis memandang Islam. Maka mereka para penulis sangat perlu membuat dan diperbanyak penjelasan melalui kisah-kisah yang hidup, baik fakta ataupun fiktif tentang soal yang satu ini. Tapi alih-alih pembelaan, sering bernada reaksioner.

Termasuk karya: “Faith and The City” yang ditulis berduet antara Hanum Salsabiela Rais dengan Rangga Almahendra (HR) ini. Terlepas kisah poligami di buku ini hanyalah cabang konflik saja, dari cerita besar yang hendak disempaikan. Buku ini adalah lanjutan dari “Bulan Terbelah di Langit Amerika”, atau sebelumnya “99 Cahaya di Langit Eropa” yang bukunya kubeli diskon dan ternyata buku bajakan. Tapi asli loch kubeli “Bulan Terbelah di Langit Amerika” dan “Faith and The City”. Semua adalah buku-buku tentang jejak peradaban Islam yang memang aku meminatinya.

Menggelitik penasaran juga lanjutannya setelah “Faith and The City” yang telah diberi judul: “The Converso”. Sedikit ditebak kisah itu pasti akan berbicara tentang orang-orang di peralihan jalan dan zaman. Baik itu cerita Morisco di Spanyol setelah kejatuhan Granada; benteng terakhir Peradaban Muslim di Semenanjung Iberia 1492; penanda atau awal mula apa yang disebut “modern” kini, atau tentang perjalanan mereka-mereka sekaum kita; Muslim di Amerika; Islam di Eropa baik di masa dulu dan sekarang yang menahan cabaran islamofhobia.

Di buku ini sudah disinggung cerita lama, proyek Azima Hussein dan Rangga soal Abdel Qomaruzzaman dengan kekasihnya yang menumpangi balon udara dari Granada. Beberapa waktu setelah Granada dibawah kekuasaan Isabella-Ferdinand yang mengalahkan pasukan Boabdil atau Muhammad XI. Tentang bagaimana nasib mereka; Abdel yang loncat, karena balon udara-nya dipanah seorang pasukan Spanyol, dan kekasihnya menyangka Abdel sudah wafat padahal masih hidup. Apakah itu kisah dalam The Converso?

Soal sinisku, sebenarnya mungkin aku ambivalen. Padahal aku menikmati bacaan ini. Aku menikmati semua bacaan di kala senggang. Termasuk Ayat-Ayat Cinta, Syahadat Cinta, Surga yang Tak Dirindukan, Air Mata Surga… yang buku-bukunya sudah diangkat ke layar lebar; dua buku HR sebelumnya sudah difilmkan.

Maka dialog-dialog dalam Faith and The City terimajinasi sendiri pada karakter peran Abimana Aryasatya yang memerankan Rangga dan Ache Septriasa berperan sebagai Hanum. Pasangan yang membuat kaum jomblo merasa iri. Iri yang berujung sinis, karena karya mereka dianggapnya; yang sebagai kekurangannya—terlalu mengumbar kemesraan suami-istri yang jadi konsumsi publik.

Menelisik kekurangan, tapi ya janganlah membandingkan dengan racikan kata-kata Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer yang nyaris tanpa cacat pada dialog-dialog dalam novel-novel karya mereka—kekuatan novel ada pada dialog. Mungkin orang berkata, “kau meledek saja. Menghina karya orang yang telah jerih payah menulisnya. Mereka telah mempersembahkan karya terbaiknya. Seperti kau mampu saja membikin karya seperti mereka. Mereka menulis terkait yang dekat dengan dirinya.

Mungkin poligami hanyalah tempelan. Karena cinta segitiga—yang selalu jadi tema film-film hindi—selalu menarik diangkat. Tapi HR yang keduanya sebagai Direktur-Direktris ADI-TV di Yogya, sangat sinis pada apa yang jadi realita sebuah kota, terutama kota-kota di Eropa dan Amerika, dengan New York sebagai sumber refleksinya. Mereka yang keduanya bekerja di dunia televisi, pasti tak jauh dari pikiran “rating” dan “share” sebuah tayangan.

Seperti diakuinya, Hanum yang di masa remajanya mengidolakan Anderson Cooper, sempat punya impian ingin bekerja di CNN, tapi seorang dokter gigi yang “kejebak” jadi jurnalis. Kuakui memang HR berbeda dalam menyuguhkan kisah poligaminya Iqbal Fareed, Zuraida, dan Rhonda Reeds. Poligami mereka dibuat sebagai jawaban atas sebuah keadaan (induktif). Bukan deduktif yang selalu jadi mindset ustadz-ustadz, kyai-kyai penganut-pelaksana poligami.

Dan cerita lain saat Hanum menerima tawaran tokoh idolanya, Andy Cooper. Ia bekerja di GNTV menangani program Insight Muslims, yang selanjutnya diubah jadi program reality show bertajuk “My Friend is A Good Muslim” yang berupaya dibantah Alex Reeds dengan kampanye “My Friend is A Bad Muslim”. Dianggapnya bagi Cooper, entah itu konten islami atau bukan, asalkan menaikan rating dan share, sehingga iklan pun berdatangan. Apapun asalkan jadi mesin uang dan harus tanpa tega; tanpa perlu mendengar sesuatu dari kedalaman seseorang.

Tapi kan mereka mengalaminya, pernah hidup di sebuah kota, pernah berkutat pada tayangan televisi. Rating dan share sudah semacam rukun iman bagi dunia broadcaster pertelevisian. Yang menjual itu bagaimana, dan apapun caranya agar supaya narasumber menangis, marah, tertawa, dan meluapkan emosi di depan kamera. Dan sebuah kota (New York) yang “terlalu” memanjakan ambisi, ambisi yang bermutasi atau diperhalus dengan kata “impian”. Kalau tak bermimpi matilah kau.

Tapi Rangga, sang suami Hanum, mengingatkan aku pada kisah Rangga dalam AADC. Termasuk ada kemiripan pada babak akhir novel ini: kisah Rangga dan Hanum saat di bandara, seperti halnya Rangga dan Cinta juga di bandara. Tapi perbedaannya Rangga dan Hanum jadi tersatukan kembali, tapi Rangga dan Cinta jadi terpisahkan. Yang pertama di bandara JFK dan yang kedua di bandara Soeta. Tapi keduanya sama-sama terkait kepergian dan kepulangan New York, Amerika.[]

Oleh: Kyan | 19/12/2015

Logo ANFC (Abiem Ngesti Fans Club)

Logo ANFC 15.07.15.jpgKoleksi Cover Kaset Abiem Ngesti NEW..jpg

Oleh: Kyan | 18/12/2015

Temuan Nyamuk Vektor Baru

Sebuah Tim Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora) Kementerian Kesehatan baru-baru ini menemukan tiga spesies baru sebagai vektor (pembawa) penyakit yang bersumber dari hewan (zoonosis).

<em>Anopheles quadriannulatus</em>

Pertama, nyamuk “An Barbirostris” yang positif mengandung parasit malaria, kedua, tikus jenis “Rattus Tanezumi” yang berpotensi menyebarkan bakteri leptospirosis, dan ketiga, kelelawar pemakan buah “Rhinolopus Acuminatus” yang berpotensi menyebarkan virus “Japanese Encephailitis”.

Sebagaimana dikutip Media Indonesia, menurut laporan Vivi Lisdawati, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga, “Nyamuk itu ditemukan di arena nonhutan dekat pemukiman pada habitat sawah dan kolam,” ujarnya dalam wawancara Cornelius Eko Susanto di Jakarta. Termasuk tikus dan kelelawar spesies baru itu ditemukan di seluruh ekosistem dan habitat.

“Nyamuk An Barbirostris,” lanjut Vivi, “beraktivitas pada sore hari hingga subuh (pukul 18.00-04.00 WIB). Nyamuk spesies baru ini rata-rata setiap enam jam dapat menggigit satu orang. Selain itu, terdapat hal menarik dari penelitian oleh Rikhus Vektora adalah penemuan nyamuk “Aedes Aurensius” di Papua yang sebelumnya ia biasa berada di wilayah Melanesia. Nyamuk ini adalah vektor penyakit yang belum diketahui.”

Tetapi tidak sedikit pula jenis penyakit yang belum diketahui sumbernya, termasuk dari jenis hewan apa. Maka Rikhus Vektora dilakukan yaitu untuk memeroleh peta sebaran vektor dan reservoir (pusat penyakit), sekaligus memeroleh data cara penanggulangan tular vektor, (DBD dan malaria terutama) serta reservoir (leptospirosis dan pes). Selain untuk melengkapi data nasional terkait taksonomi (pengelompokan) dan bionomik (hubungan timbal balik vektor dan lingkungannya) dari berbagai nyamuk, tikus, dan kelelawar.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes, M Subuh menjelaskan bahwa latar belakang dilakukannya kegiatan Rikhus Vektora di antaranya karena cukup tingginya ancaman penyakit yang bersumber dari binatang (zoonosis). Hal itu masih terjadi baik penyakit lama, seperti pes dan ebola, atau penyakit yang baru, seperti flu burung.

Kegiatan Rikhus Vektora akan dilakukan selama tiga tahun, yaitu pada 2015 yang sudah dilakukan di empat provinsi: di Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua. Pada 2016 akan dilaksanakan di 15 provinsi, dan pada 2017 rencananya di 34 provinsi. Temuan dua spesies nyamuk disebut di atas merupakan salah satu temuan menarik dari kegiatan Rikhus Vektora 2015 di empat provinsi.

Dalam pengendalian dan penyegahan penyakit yang bersumber dari hewan, Kemenkes bekerja sama dengan dinas terkait daerah dalam mengambil langkah-langkah strategis dan teknis. Peran daerah dalam menyosialisasikan penyakit zoonosis ini sangat penting karena tidak sedikit masyarakat yang masih awam terhadap penyakit yang bersumer dari hewan. Termasuk masyarakat terkait diharapkan membantu penanggulangan hama di pemukiman yang dapat menyebarkan penyakit.

[Reportoar: Vyan Sovyan Saladin; adalah karyawan yang bekerja di perusahaan pengendalian hama, AAG Pest Control; PT. Atrindo Asia Global]

Oleh: Kyan | 13/12/2015

PTE: Ada Apa Dengan Pendekar

“Dunia persilatan ibarat lorong gua yang panjang. Tempat ancaman kematian yang selalu datang dari balik kegelapan. Sesudah pertarungan demi pertarungan yang selalu berakhir dengan kematian, itukah cara seorang pendekar. Membunuh atau dibunuh..”

Begitu kesenduan prolog film laga teranyar “Pendekar Tongkat Emas” (PTE) yang sedang menunggu fenomenal. Bagaimana tidak, hampir seluruh kru dalam film AADC yang pioner dan fenomenal itu, kecuali Dian Sastro yang berganti Eva Celia, bahkan soundtrack-nya dapat lebih kesohor karena Anggun C. Sasmi sebagai artis internasional mengisi theme song “Fly My Eagle” gubahan musik oleh Gita dan Erwin Gutawa Orchestra.

Pendekar Tongkat Emas

Tapi film sebagai lini masa situasi sosial, ditentukan juga oleh berbagai-bagai keadaan. Tak cuma karena garapan sineas papan atas Indonesia: Riri Reza, Mira Lesmana, dan tentu Ifa Isfansyah sebagai sutradaranya. Dengan artis kawakan sekelas Christine Hakim, melibatkan seniman Seno Gumira Ajidarma, dan masih Jujur Prananto, sang penulis skenario AADC, seorang cerpenis sukses, yang menggarap sisi penceritaan film PTE. Ditambah eksotisme stepa pulau Sumba, tak kurang apa PTE dapat kembali pioner membangkitkan lagi film-film laga yang dulu berjaya 20-30 tahunan sebelumnya.

Seiring redupnya film-film laga yang telah ambil bagian dalam memelihara khazanah beladiri Nusantara, yaitu ilmu silat sekarang seakan mati suri belum berganti. Film sebagai medium pendidikan, mengalami ketimpangan antara olah-raga dan olah-rasa dalam membekali anak-anak kita, yang terus saja dicekoki hororisme. Ketika situasi lingkungannya pun sebenarnya sudah horor, ditambah lagi penumbuhan ketakutan (bukan keberanian) lewat film-film horor. Bukan eling nan waspada untuk menjaga anak-anak kita, sebagaimana diajarkan di saat pendekar menangkis lawannya dalam aksi film laga.

Ya, tempat ancaman terjadi di sekeliling anak-anak kita. Tempat ancaman kematian yang selalu datang dari balik kegelapan pikiran-pikiran kita. Sesudah pertarungan demi pertarungan sektarian dan golongan yang selalu berakhir dengan kematian rasa kebangsaan kita, itukah cara seorang pendekar pemangku kebenaran. Apakah benar mengkapling taman sorga adalah hak kita, bukan hak liyan yang tak sefaham dengan kita. Kita terhina lalu balik menghina, kita dicaci lalu balik mencaci, lalu kita membunuh atau dibunuh.

Ilmu silat mungkin tentang masa lalu. Karena sekarang dan masa depan dianggapnya lebih penting ilmu-ilmu eksakta, ilmu akuntansi untuk taktik korupsi, ilmu ekonomi untuk strategi mencuri. Ilmu silat memang tentang masa lalu, tapi tipu muslihat tetap relevan agar kita selalu eling nan waspada. Relevansi kekinian film PTE yang meskipun sebuah film silat, tapi sesungguhnya sedang menyatakan situasi hari ini. Hari ini dimana arus bebas yang “bablas”, di sosial media lumer oleh pendapat-pendapat, ingin menang-menangan dalam soal-soal, kukuh dengan pendakuan ilmu yang paling sahih, lalu siapkah kita di situasi seperti ini untuk menahan diri, untuk diam, untuk tidak jadi pemenang.

pendekar-tongkat-emas-poster-3“Karena sesungguhnya tidak ada pemenang dalam ilmu apapun,” kata Cempaka, guru pewaris Tongkat Emas pada muridnya. “Ketika kemenangan selalu menjatuhkan korban. Apalah arti kesempurnaan ilmu jika tidak diabdikan bagi kemanusiaan.” Ya, bagi seorang pendekar yang menguasai ilmu, atau untuk saudagar yang punya harta loba, atau untuk baginda yang bertahta: ilmu, harta, dan tahta bukanlah tanda kesempurnaan manusia. Melainkan ketiganya untuk membela yang lemah dan tak berdaya.

Tapi pertarungan Adam perlambang manusia, dan Syetan perlambang egoisme pribadinya, tidak seperti pertarungan pendekar yang berakhir dengan kematian lawan. Adalah kematian dirinya yang lain, sebagai pilihan untuk menebus kesalahan masa lalunya, karena kehilangannya yang dalam atas suatu hal.

Saatnya menemukan jalan kembali pulang. Tapi dalam perjalanan ada yang hilang, ada yang terbuang, ada pula yang kita temukan. “Kita heningkan cipta.. sunyikan batin kita dari suara-suara sumbang,” dengan lirih Guru Cempaka mewariskan ilmu pamungkasnya pada Dara, anak musuhnya yang telah ia didik dan besarkan. Begitupun Dara di masa selanjutnya, mengulang apa yang telah dialami Guru Cempaka: mendidik dan membesarkan anak musuhnya, Biru dan Gerhana yang juga rekan seperguruannya.

Mari saja kita heningkan cipta sunyikan rasa dari suara-suara sumbang. Dengarlah rintihan di kala fajar emas membakar. Kita tonton PTE untuk leyeh-leyeh dari sibuk pekerjaan.[]

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 148 pengikut lainnya