Oleh: Kyan | 06/02/2004

Bertahta Pacar Bidadariku

Jum’at, 06 Februari 2004

Bertahta Pacar Bidadariku

**

Pagi hari alhamdulillah aku bisa shalat shubuh berjamaah di masjid. Dilanjutkan dengan lari pagi ke pantai Batu Ampar. Meski lari-lari sendirian, tetap mencoba untuk selalu senang dengan apa yang dilakukan. Dengan berlari pagi bisa menghirup udara segar, melihat hijau daun-daun, birunya pantai Batuampar.

Dan tak kalah menarik aku bisa jalan-jalan menikmati suasana sekolah SMK YTPN dan Poltek Batam. Menatap gadis-gadis yang barangkali bisa kuajak kenalan. Itupun kalau aku berani. Selebihnya aku hanya diam terpaku begitu ada salah satu diantara mereka memberikan pesona tiada terkira bagi degup jantungku.

Tempat terakhir jalan pagiku adalah dermaga di Batuampar. Disana banyak berlabuh kapal-kapal pengangkut barang. Laut birunya berhadapan dengan negeri jiran Singapura yang entah kapan aku kesana. Karena waktunya bukan hari libur, hanya beberapa mereka yang datang ke pantai Batuampar. Bahkan aku sering sendiri menikmati debyar ombaknya menjentik suasana perasaanku.

Kegiatanku gak pasti hari Jumat ini. Daripada bengong kuputar saja kaset yang tempo hari kubeli di toko Fatahillah Mukakuing.  Judul kasetnya “Bersama Tegakkan Keadilan”, sebuah album kolaborasi dari berbagai kumpulan nasyid Indonesia: Izzatul Islam, Snada, Gradasi, Mupla, Melodi Islam, Justice Voice, dan Shoutul Haraqah. Sebuah album untuk dukungan kemenangan PKS. Gak nyesel aku beli kaset ini. Soalnya bagus sekali, karena memberikan semangat baru dengan tabuhan drum-nya kumpulan Shoutul Haraqah.

Plus lucu ketika ketika mendengar alunan suara Snada, Justice Voice, dan Mupla. Jadi pengen ketawa sendiri. Ya ketawa aza…! lucunya Justice Voice kayak Project-P atau Project-Pop. Pokkonya lucu abiz dech. Apalagi Mupla, wow pak bahasa Sunda segala. Jadi kangen ma Bandung euy.

Habis Jumatan kubongkar koper milikku buat membereskan buku-buku yang berserakan di dalamnya. Buku-buku koleksiku semakin menumpuk. Aku baru baca sekali saja dan belum benar-benar difahami isinya. Nanti suatu saat akan kubaca kembali buku itu. Buku tidak akan lapuk. Bukan buku lama atau buku baru sebagai persoalannya. Tapi buku mana yang sudah dibaca dan buku mana lagi yang belum dibaca. Buku sangat berarti buat warisan anak cucu.

Selama lingkup pergaulanku disini, selalu saja ada yang bertanya, pacarmu orang mana? Khususnya anak-anak Gramedia yang bertanya itu. Selalu kujawab, aku gak punya. Sampai saat ini masih belum kupunya pacar.

Temenku bilang masa cowok seganteng kamu gak punya pacar. Lalu dia menasihatiku, makanya jangan pilih-pilih, yang penting bisa menyayangi kamu apa-adanya. Tapi memang sampai saat ini gak dapat-dapat juga pacar. Dari sekian temen-temenmu itu, masa gak ada yang menarik hatimu, begitu kata mereka.

Cinta nafsu, itu saja yang dipikirin. Ingin kupunya pacar untuk sebagaimana orang dan semoga hati senang. Selama ini aku hidup di Batam sudah merasa gak betah karena tidak punya jalinan. Aku tidak tahu bagaimana caranya supaya aku betah disini. Tidak ingat melulu ke Bandung atau kampung kelahiranku.

Kata orang kalau pengen betah di Batam, harus dapat pacar. Tapi karena kesibukan pekerjaan sampai sekarang aku belum punya pacar. Ah, lebih baik aku mendapatkan seorang sahabat yang baik. Sahabat yang mau menerima keadaanku apa-adanya. Hobiku baca buku dan renang. Makanya setiap renang, aku selalu berusaha untuk mendapatkan temen. Teman satu hobi, biar bisa renang bareng atau membicarakan satu buku yang berkesan.

Makanya kenapa aku selalu ingin mendapatkan teman cewek. Apakah akan berpikiran kalau sudah jadi temen, baru jadi pacar? Mungkin itulah keinginanku sebenarnya. Kalau dapat pacar, biar bisa berbagi suka dan duka dan saling mencurahkan kasih sayang.

Dan semua itu bisa membuatku betah berlama-lama di Batam. Tapi sampai sekarang belum jua kudapatkan sang pacar. Bagaimana ini ya Tuhan, kenapa aku tidak laku-laku? “Alangkah susahnya mendapat kawan di zaman ini” begitulah syair nasyid Hawari mengalun di telingaku saat terbangun dari lamunan.

Sebenarnya banyak kenalan dan teman baru. Hari ini saja ada anak pramuniaga baru, Senny dan Murni. Senny anak Bandung dan saat ini sedang kuliah jurusan Komputer di Universitas Batam. Dan Murni anak Medan. Tapi itu kan hanya rekan kerja dan mana bisa menjalin cinta sesama tempat kerja.

Dalam kesendirian kurasakan betapa kesepian dan kesunyian menggamit-gamit perasaanku. Sampai kapan keadaan ini berakhir. Aku harus melakukan sesuatu untuk tidak terus begini. Ada gak sich di dunia ini diantara lautan manusia jenis perempuan yang jatuh cinta padaku? Seseorang yang sayang padakuku, yang peduli padaku?

Aku ingin mendapatkan seseorang yang mencintaiku dengan setulus hati. Tapi kenapa aku belum mendapatkannya, belum menemukannya? Kapankan kau datang ke alamku, hai bidadariku? Kemana harus kucari dirimu? Dimana aku menemukanmu saat kerinduan padamu memuncak? Bidadari, tampakkanlah wajahmu sehingga aku mengenalimu.

Akan kucari dia sampai ketemu. Kemanapun perginya engkau yang kucinta. Meski ujung bumi sekalipun akan kususuri. Demi tugas besarku selama hidup menemukan bidadari itu. Gunung harus kudaki dan lautan harus kuselami untuk sampai di sebrang pulau. Tempat dimana bidadari bertahta di hatiku.

Hai, bidadariku?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori