Oleh: Kyan | 08/02/2004

Tahanlah Amarahmu!

Ahad, 08 Februari 2004

Tahanlah Amarahmu!

**

Kenapa mesti marah? Masa gara-gara soal kunci saja jadi pusing delapan keliling? Tahanlah amarahmu! Bukankah orang kuat itu bukan si jago pegulat dan berani menantang kapten preman. Tapi dia yang mampu mengendalikan amarahnya.

Tapi boleh marah, asalkan jangan pakai amarah. Marah dibolehkan untuk menegakkan keadilan. Bila seharusnya marah lantas tak dimarahi, nanti menjadi keterusan. Memang marah adalah opsi terakhir yang permulaannya memberikan teladan.

Dalam Alquran dikatakan bagaimana cara menjinakkan amarahmu yang membara. Dengan cara segera mengubah posisimu ketika sedang marah. Lalu jika belum hilang rasa marah itu, segera ambil air wudlu lalu shalatlah dan berdzikirlah atau membaca Alquran.

Munculnya marah banyak karena prasangka. Prasangka datangnya dari keraguan sebagai permulaan. Itulah prasangka yang bisa membawa petaka. Maka jauhilah prasangka niscaya kau selamat. Kenapa harus berprasangka buruk terhadap orang lain? Itulah dari syaitan. Syaitan tidak henti-hentinya menggoda manusia.

Bukankah orang mukmin itu senantiasa menunjukkan murah senyum ke hadapan setiap orang. Walaupun hatimu sedang dirundung duka, tampakkanlah wajah keceriaan. Meski nuansa hatimu tetap terlihat juga pada akhirnya. Jauhi dan hindari berprasangka buruk pada kondisi bagaimanapun.

Jangan berprasangka pada malam mingguan, sehingga engkau marah. Karena harus menanggung kesepian begitu lama. Janganlah marah pada situasi hanya karena selama ini belum pernah jalan bareng dengan seorang cewek. Dapat bermesra dia dengan sang kekasih di bawah temaram rembulan di bukit Batuampar.

Kapan kudapat pacar? Apa aku tidak laku? Padahal kata orang-orang tampangku gak jelek-jelek amat. Ganteng malahan, untuk menilai diri tidak terlalu tinggi. Menilai diri terlalu tinggi ataupun terlalu rendah bukanlah masalahnya. Masalahnya karena karena engkau pilih-pilih. Begitu mereka menasihatiku.

Lalu diantara mana pilihanku? Tak ada objek pilihan. Pilihanku karena memang diniatkan aku tidak mau pacaran. Makanya resikonya harus menanggung kesepian. Alasannya biar nanti dapat istri yang cantik dan salehah.

Tapi mungkinkah itu? Bukankah membujuk memberi rayuan gombal pun itu sebuah keterampilan. Keterampilan itu harus dilatih dari sekarang. Terlalu abstrak bila alasannya jodoh sudah di tangan Tuhan. Betul itu jodoh dari Tuhan. Tapi mengupakannya harus sejak sekarang dengan membangun kepantasan agar lirik perempuan.

Kini mampuslah engkau dengan kesepian. Menjeritlah engkau sekarang ingin ada seseorang yang peduli padamu! Semoga saja ada yang mendengar tangisan perihmu![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori