Oleh: Kyan | 14/02/2004

Memulai Dengan Satu Langkah

Sabtu, 14 Februari 2004

Memulai Dengan Satu Langkah

**

Namaku Aldiary. Aku datang dari ketinggian bintang. Terlahir ke kampung dunia bersama ketelanjangan. Ketika Sang Pencinta menabur kasih sayang-Nya pendengaran, penglihatan dan nurani, dimulailah mengembara sampai ujung dunia dengan modal itu.

Itulah pesan yang selalu terngiang di benaknya. Aku ingin jadi seorang bijak, peraih nobel sastra tahun 2010, penghargaan bergengsi dari Alfred Nobel. Sungguh keterlaluankah mimpiku? Karena sudah kubaca karya-karya para peraih Nobel Sastra, Ernest, Tagore, Grass, Kobatama, Oe, Gao Xingjian, dan lain-lain bahwa dengan menulis begitu akupun bisa.

Jadi sastrawan? Aku mesti baca-baca karya para sastrawan. Tulisan dengan jenis novel, cerpen, esai dan jenis lain.  menulislah diary, dan bacalah buku apa saja. Banyak sastrawan dunia yang gak sekolah dulu sebelum jadi sastrawan. Jadi keahlian mereka dari mana? Apa dari baca buku? Kok bisa ya mereka tanpa sekolah bisa jadi peraih nobel kesusastraan.

Aku ingin jadi seorang ayah yang bertanggung jawab saja. Ingin mempersiapkan dana untuk pendidikan anak-anakku. Aku harus mulai berasuransi di Takaful Keluarga. Tapi yang jadi bingung bayarnya per tahun Rp. 1.000.000,- Apa aku sanggup? Aku harus sanggup. Per hari menyisihkan Rp. 2.800,- Tapi kapan memulainya? Sekarang atau nanti kalau sudah menikah dan punya anak?

Nanti aku mau buka Taman Bacaan.Aku mau buka usaha penyewaan buku. Khusus buku-buku terbitan kelompok Gramedia. Sekarang aku mulai menyicil beli buku-buku bagus yang sekiranya banyak diminati orang. Penghasilaku sedikit-sedikit disisihkan buat beli buku. Ingat, harus komplit. Seperti buku-buku komputer, psikologi, novel, kumpulan cerpen, politik, dan lain-lain. Segalanya bisa dijadikan bisnis. Masalahnya ada gak kemauan dan kreativitas. Kalau ada kemauan dan semangat, pasti bisa jalan dan lancar.

Kenapa engkau berpikir picik? Memang itukah berpikir picik? Begitulah jadi karyawan. Cowok atau cewek, yang rajin atau yang malas gajinya sama meski kualitas kerjanya berbeda. Kalau dia yang malas dan yang rajin diperlakukan sama akhirnya rugi bagi si rajin dan keenakan bagi si pemalas. Itulah baik buruk jika jadi karyawan.

Mendingan aku berwiraswasta saja. Tapi usaha apa? Selama ini bisnis Ahad-Net gak berkembang. Nanti kalau balik ke Bandung mau usaha saja. Mau jadi penulis, bikin buletin, kartu nama, sablon, jualan koran, atau apa saja. Masih bingung. Sekarang aku lagi nyari buku-buku tentang wirausaha dan bagaimana cara menjual. Kulakukan segalanya untuk bisa dijadikan bisnis. Jadilah pengusaha biar menjadi kaya. Mulailah dari satu langkah untuk seribu langkah.

Lalu bapak kepala Toko Gramedia bilang padaku, “Kamu kelihatan orang Sundanya”. Biarin, ucapku dalam hati. Meski sakit juga dibilang begitu. Dianggapnya aku masih kampungan dan masih terlihat kampungan. Biarin…[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori