Oleh: Kyan | 19/02/2004

Tidaklah Berpangku Tangan

Kamis, 19 Februari 2004

Tidaklah Berpangku Tangan

**

Besok aku mendapat giliran product knowledge (PK) di tempat kerjaku. Aku belum siap sama-sekali untuk product knowledge (PK) di hadapan kru Gramedia. Yang bisa kulakukan malam ini ya aku harus persiapan sebaik-baiknya. Mestinya aku harus persiapan dua hari sebelumnya. Dua minggu yang lalu aku bisa dan sukses product knowledge (PK). Meski persiapan cuma dua hari.

“Kamu harus memberi dengan lebih, niscaya kamu bakal menerima dengan lebih pula. Begitupun bila ingin menghasilkan yang terbaik dalam product knowledge (PK), kamu harus persiapan lebih. Bila teman-temanmu melakukan persiapan sehari, kamu harus dua atau tiga hari bahkan lebih dari itu. Niscaya product knowledge kamu bakal berhasil memberikan yang terbaik.

Product knowledge itu kamu memberi informasi tentang gagasan. Karena kamu memberi itu bukan cuma berupa materi saja. Pengalaman adalah nonmateri yang lebih penting untuk dijelajahi. Product knowledge adalah pengalaman nonmateri. Kamu belajar bagaimana berbicara di depan forum. Bagaimana kamu mendapatkan pengalaman tentang cara berkomunikasi dengan mereka.

Bergeraklah sekarang untuk menimba pengalaman. Bersikaplah aktif di setiap kesempatan. Jangan punya sikap kecenderungan jabariyah, dengan dianggapnya semua selalu saja tergantung Allah. Padahal disini ada kebebasan manusia yang bertanggung jawab.

Aku tidak boleh berpangku tangan sebagaimana halnya manusia Indonesia yang diasumsikan Mochtar Lubis dalam bukunya yang kontroversi. Berkatalah tidak pada sikap menyerah. Siapa yang mau berubah, Allah aka meng-ACC perubahan ke arah yang baik. Sunatullah, hukum sebab akibat itu hukum Allah. Jadi jangan hanya pasrah saja, tanpa mencari dan berusaha.

Dikatakan manusia Indonesia adalah bangsa yang senang berpangku tangan dan ABS, Asal Bapak Senang. Dalam sejarah panjang Nusantara, islamisasi Nusantara sampai sembilan puluh persen orang Indonesia beragama Islam, itu karena proses Top Down. Karena raja-raja Nusantara beralih pada Islam karena suatu motif. Baik itu motif  menemukan kebenaran atau kekuasaaan.

Hari ini aku mengembalikan buku Perpustakaan Gramedia. Bukunya kena basah dan takut sekali ketahuan petugas perpustakaan ketika mengembalikannya. Memang akhirnya ketahuan, tapi petugas adminnya tidak marah. Syukur Alhamdulillah tidak dimarahi. Tapi sudah kupersiapkan diri untuk dimarahi.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori