Oleh: Kyan | 22/02/2004

Meresensi Buku Sastra

Ahad, 22 Februari 2004

Meresensi Buku Sastra

**

Tadi malam aku tidur jam duabelas malam. Karena aku harus menghabiskan baca buku “Meresensi Buku” dan “Mengarang itu Gampang”. Pelajaran dari buku pertama, aku harus rajin membuat kliping resensi dari koran dan majalah. Pelajari dan ikuti gaya penulisannya. Nanti mencoba sendiri meresensi sebuah buku. Setelah yakin hasilnya lumayan, coba kirim ke media koran atau majalah.

Pelajaran dari buku kedua, intinya sering-seringlah baca buku karya sastra. Intinya orang bisa menulis ada tiga cara, yaitu: membaca, membaca, dan membaca. Dengan menulis, kalau buku yang kita tulis itu dibeli dan dibaca jutaan orang, niscaya kita bakal mendapat royalti yang besarnya dapat melebihi gaji presiden. Bila pun tak mendapatkan itu, niscaya kepuasan batin itu lebih penting.

Belajarlah dari para novelis dan karyanya. Kira-kira novel apa dan penulisnya siapa yang pantas kubaca. Mimpi meraih penghargaan bergengsi seperti Nobel Sastra bagaimana bisa terwujudkan kalau belum dimulai. Tapi membaca novel bukan sekedar untuk bisa menulis jenis karya sastra, tapi untuk meluaskan imajinasiku. Untuk memperlembut nurani dan membangun kepekaan jiwaku.

Novel yang pantas dibaca dan dikoleksi adalah novel yang best seller, yang meraih penghargaan seperti Supernova, Saman, Larung, Negeri Kabut, Kitab Keabadian, Romeo Juliet, Laila Majenun, dan novel terkenal lainnya.

Penulisnya siapa yang karyanya pantas dibaca adalah karya-karya para peraih Nobel. Seperti prosanya Kahlil Gibran, puisi Jalaludin Rumi, dan Muhammad Iqbal. Untuk Indonesia dapat membaca karya Gola Gong, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Afifah Afra, Sakti Wibowo, Ekky al-Malaky, dan sederet penulis beken lainnya.

Seringlah main ke perpustakaan. Pinjamlah buku dari perpustakaan. Tapi kenapa buku yang aku pinjam dari perspustakaan Batam Center malas aku baca. Jadinya mau aku kembalikan segera. Tapi bila buku yang dibeli sendiri ingin segera kubaca. Karena menarik isinya atau dipikir mubadzir kalau sudah dibeli tapi tak dibaca.

Sekarang aku mau lebih banyak meminjam buku sastra saja. Supaya aku bisa menulis karya sastra brilian. Bukankah menulis itu gampang, kata Arswendo Atmowiloto.

Juga bacalah kajian firman dan sabda Tuhan. Tapi haruskah sekarang memberli buku Tafsir Al-Mishbah-nya M Quraish Shihab? Menjadi bingung, karena keuanganku sudah menipis. Gajiku kecil tak cukup untuk membeli buku-buku tebal dan mahal. Sementara keluargaku akan membeli rumah di Bandung. Uangnya masih belum cukup di tabungan untuk dibelikan rumah keluarga.

Di sisi lain, aku ingin menambahkan biaya beli rumah, tapi aku juga punya kebutuhan. Juga saudara-saudaraku jangan enak-enakan! Aku bingung, cape, ini malah saudaraku yang lain enak-enakan. Tafsir Al-Mishbah atau merencanakan keuangan untuk beli rumah? Tidak keduanya atau keduanya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori