Oleh: Kyan | 05/10/2004

Daftar OPM HMJ dan Kelompok ‘Amwalun’

Selasa, 05 Oktober 2004

Daftar OPM HMJ dan Kelompok ‘Amwalun’

**

Senin pagi teman-teman jurusan MKS dan Muamalah siap berangkat ke Cibodas, Cianjur untuk mengikuti OPM HMJ hari kedua. Aku dan sebagian teman satu jurusan yang kemarin ikut OPM LDM belum mendaftar sebesar Rp.100.000,- Begitu tiba di kampus segera menghubungi panitia. Kemarin, di hari pertama OPM mereka sudah mengikuti masa OPM di kampus. Sedangkan aku tetap ngotot ikut kegiatan intra LDM.

Entah apa yang kurasa, yang lain pagi ini mereka sudah sibuk berbaris siap berangkat sementara aku harus memberanikan diri menghadap panitia. Mereka sudah daftar OPM sejak kemarin-kemarin, sedangkan aku baru daftar hari ini. Malu juga kurasa sudah beda dari yang lain.

Lagian tempo hari kami sudah berdebat dengan ketua panitia-nya, Kang Rusli. Tentang soal ketidakikutsertaanku di hari pertama OPM HMJ. Ditambah lagi aku hanya membayar biaya pendaftaran baru setengahnya. Kubilang pada mereka daripada aku tidak ikut, lebih baik kubayar setengahnya.

Syukurlah pantia menyetujui aku membayar setengahnya. Sisanya aku punya hutang pada panitia Rp.50.000,- Gak apa-apa lah ditanggung saja rasa malu itu, sebagai resiko atas pilihan kemarin. Yang penting aku sekarang sudah mau ikutan OPM di Cibodas, Cianjur.

Selesai urusan mendaftar, barulah kami bergabung dengan peserta lainnya yang sudah berbaris rapi siap naik bis per kelompoknya. Ada tiga bis yang akan mengangkut kami menuju Cibodas. Dua bis besar Gunungsembung hasil sewa untuk para peserta dan satu mobil bajaj antic inventaris kampus untuk para panitia.

Aku mendapatkan tempat duduk di bis yang penumpangnya dicampur antara laki-laki dan perempuan. Disana ada Uly Ajnihatin, ada Noor Yahdini dan Neng Titin, dan siapa lagi belum banyak kukenal. Aku baru mengenal beberapa nama saja diantara peserta sebagai mahasiswa baru. Karena aku kehausan yang sebenarnya maksudku kuingin menjalin keakraban meminta pada mereka air minum dan makanan.

Ketika hari Jum’at, peserta OPM HMJ telah dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku ditunjuk untuk menjadi ketua kelompok, sebagai kelompok 11. Nama kelompoknya “Amwalun” turunan gagasan yang kulontarkan tempo hari. Rupanya nama yang kuberikan dipakai dan direvisi sedikit di hari pertama OPM. Nama tersebut kuperoleh dari buku Ekonomi Islam-nya Adiwarman Karim yang beberapa hari ini kubaca. Disana kuperoleh informasi bahwa Kitab al-Amwal, karya Abu Ubayd yang jadi inspirasi ditulisnya The Whealt-nya Adam Smith.

Anggota kelompok Amwalun adalah Haerul, Hilman, Riffi, Ari, Hadi, Deva, Susi, Ani, dan Uut. Sebagian anak MKS dan sebagian anak Muamalah. Karena MKS belum memiliki senior dan angkatanku adalah generasi pertama MKS, maka organisasi HMJ-nya masih menginduk ke HMJ Muamalah.

Karena secara normatif MKS adalah pengembangan dari jurusan Muamalah. Bila Muamalah muatan kuliahnya masih terlalu normatif dengan keilmuan Islam. Belum spesifik pada spesialisasi keilmuan Ekonomi Islam. Sedangkan MKS sudah banyak mengafirmasi mata kuliah keilmuan umum yang mendukung gagasan Ekonomi Islam. Seperti Manajemen Keuangan, Perbankan, Akuntansi Lanjutan, Perpajakan, dan muatan keuangan syariah lainnya.

Rencanaku nanti ingin ikutan berbagai organisasi. Aktif di HMJ dan kegiatan UKM lainnya yang ada di kampus. Tujuanku bergabung untuk dapat meluaskan jaringan. Karena masa depan sangat bergantung pada networking, yaitu luasnya jaringan dengan berbagai lini dalam segala bidang.

Ketika OPM berlangsung, ketika dalam forum disampaikan materi OPM, kok aku lebih banyak diam. Tak begitu aktif mengeluarkan berbagai opini dan pertanyaan. Aku merasakan begitu—juga menurut teman-teman—biasanya di kelas aku aktif terus bertanya. Tapi di OPM aku malah menjadi lain. Seolah duniaku menjadi berbeda antara dunia kelas dan dunia persilangan pendapat di organisasi.

Makanya temen-temenku pada heran kenapa aku jadi seperti demikian. Aku juga bingung dan tidak tahu kenapa aku jadi begini. Padahal ketika SMA menjadi utusan kelas 1-1 di Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Aku ikut kegiatan rohis bernama KSI. Mungkin karena dasarnya aku pendiam dan sudah dua tahun aku tidak terlibat dalam lingkup pertemuan. Dua tahun kemarin aku hanya sibuk dengan pekerjaan sebagai pramuniaga di toko buku Gramedia.

Mungkin maunya mereka dimanapun aku harus senantiasa aktif berbicara. Aku harus sering melontarkan pertanyaan. Tentunya pernyataan dan pertanyaan yang berkwalitas. Bukan asal pertanyaan yang sekedar mencari muka supaya dikenal orang-orang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori