Oleh: Kyan | 08/10/2004

Melontar Kata Tak Ditunda

Kamis, 08 Oktober 2004

Melontar Kata Tak Ditunda

**

Masih menjadi pikiran dengan omongan teman-temanku, yang mengatakan padaku bahwa aku ini aneh. Yang mereka tahu aku sangat aktif ketika di kelas perkuliahan, tapi ketika pelaksanaan OPM aku banyak diam.

Kenapa? Aku diam karena tak ingin bicara atau memang tak muncul kata-kata. Mungkin aku hanya sedang tidak ingin bicara saja. Apalagi bila maksudnya berbicara untuk sekedar mencari muka. Buatku bila ada pertanyaan muncul, ya langsung saja kulontarkan tanpa ditunda-tunda. Karena pelaksanaan OPM HMJ ritusnya tak banyak kumengerti, maka tak banyak menimbulkan pertanyaan. Aku masih bingung sendiri dalam mengamati pelaksanaannya.

Tadi aku mengikuti perkuliahan Pengantar Bisnis. Aku sekelompok dengan Uly yang kebagian memberikan persentasi tentang koperasi. Uly yang membawakan persentasi. Aku hanya sedikit menambahkan saja dan menjawab pertanyaan audien.

Banyak pertanyaan yang teman-temen lontarkan pada kami. Ketika aku menjawabnya, susah aku merangkai kata-kata dalam menyusun jawabannya. Aku harus bagaimana lagi dengan dasarku jarang bicara. Maka kata orang, cobalah bicaralah dengan tenang dan sampaikanlah dengan penuh kekhusu’an.

Mungkin karena ngiri dengan kelebihan orang, aku menjadi benci diri sendiri dan orang lain. Kenapa harus benci pada seseorang yang punya kelebihan? Ada apa dengan hatiku ini. Kutuliskan disini bahwa orang yang namanya Veri itu sikapnya penuh egois. Dia sombong banget, belagu banget, sok. Aku kesal pada dia karena telah membuatku merasa terpojokkan. Siapa orang yang bersedia dipojokkan.

Disini aku hanya membela diri. Karena tak ada yang membelaku saat ini. Hanya kutuangkan pada catatan tentang keegoisan dia. Dia bilang padaku, “jangan baca buku seperti ini, nanti tersesat. Sambil menunjuk buku yang dipajang di rak buku di kosanku.

Tapi bila dipikir-pikir kembali, kenapa hanya dengan omongan begitu aku lekas tersinggung. Toh hanya omogan doang sebagai pendapat orang, tak lebih. Bila sepakat yang diterima bila beda pendapat biarkan berlalu saja apa komentar orang. Disinilah aku harus tetap tenang dan menghargai apapun pendapat orang.

Mungkin karena aku merasa telah digurui olehnya. Seolah dia yang paling tahu segala hal. Tapi jangan-jangan aku kesal dia karena lain suatu hal? Apakah memang karena aku telah terkalahkan olehnya? Di kampus dia terpilih jadi ketua angkatan. Dia yang terpilih menjadi Kosma.

Mungkin sebenarnya aku ingin jadi Kosma dengan niat supaya nanti dapat buku gratis dari dosen. Begini kalau sudah dirasuki pikiran orang-orang senior. Kata mereka keuntungan sebagai Kosma, bakal dapat buku gratis dari dosen. Sementara aku tidak meraih predikat itu. Kenapa aku punya pikiran seperti ini?

Para akhwat di kelas lebih condong memilih dia sebagai Kosma. Mungkin bukan karena dia jadi Kosma, tapi aku yang ingin banyak disukai wanita. Maunya setiap lelaki disukai setiap wanita. Apakah aku ingin seperti itu sebenarnya? []

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori