Oleh: Kyan | 10/10/2004

Renang Sendirian di Cipanas Garut

Ahad, 10 Oktober 2004

Renang Sendirian di Cipanas Garut

**

Malam ini aku sedang berada di Garut. Kepulanganku ke Garut mau menyimpan tas koper yang tak kupakai, yang terlalu memenuhi ruang kosanku. Terasa cape sekali membawa tas besar naik Elef. Membawa koper besar kondektur meminta ongkos Rp. 6.000,- Tak bisa ditawar lagi oleh anak mahasiswa kere sepertiku.

“Bawa koper kosong aza harus bayar”, celetukku dengan suara sedikit meninggi. Membalas omelan kondektur yang bayaranku masih kurang. Kupikir-pikir lagi kenapa aku cepat marah yang hanya gara-gara itu. Wajarlah sang kondektur menggerutu karena aku telah membayar kurang.

Sampai di rumah kakak, terasa canggung, karena gak salaman dengan semua anggota keluarga. Aku yang dibesarkan tidak dengan budaya bersalam-salaman ketika awal pertemuan dengan siapapun, ketika ingin merubah kebiasaan akhirnya menjadi kikuk dibuatnya.

Seharusnya menurut tradisi, menurut yang sudah jadi kesepakatan umum bahwa setiap bertemu dengan siapa saja harus bersalaman. Ini karena kebiasaan waktu kecil gak dididik mengucapkan salam dan berjabat tangan aku menjadi canggung untuk melakukannya. Siapa yang mencontohkan dan menjadikan teladan.

Sekarang sudah tahu itu baik bersalam-salaman, tapi untuk merealisasikannya ternyata perlu perjuangan keras. Tidak biasa supaya menjadi biasa. Maka saat nanti kepada anak-anakku harus diajarkan seperti itu. Tradisi baik harus diwariskan dan tradisi jelek harus dibuang dan dibakar sampai ke akar-akarnya.

Terpikir lagi sudah lama aku ingin mencoba jalan-jalan ke Cipanas. Mumpung aku masih di Garut. Sekalian ingin menghitung biaya berapa ongkos untuk bisa renang di Cipanas Garut. Sebab renang adalah olahraga yang rutin kujalani ketika di Batam. Maka supaya olahraga ini tetap berlanjut, sekarang bisa kupilih renang di Cipanas.

Dengan modal petunjuk seadanya berangkatlah aku. Rupanya aku salah turun angkot. Memang itupun jalan menuju Cipanas. Terpaksa aku jalan kaki satu jam lebih menuju lokasi. Karena jalur tersebut tak dilalui angkot.

Seharusnya aku turun di pertigaan kedua kalau dari Leles. Terlalu percaya pada papan petunjuk di pertigaan pertama, jadinya aku salah turun. Berani turun tanpa bertanya dulu pada yang lebih tahu. Beginilah kalau sok tahu dan tak mau mengaku bahwa aku tidak tahu.

Tapi hari minggu ini aku senang dibuatnya karena bisa renang di Cipanas. Airnya hangat menyengat, membuat kulit tubuhku hangat. Karena hari ini hari libur, jadi banyak orang yang berenang di sana. Karena kolam renah penuh orang, situasinya membuatku kesulitan melakukan gaya bebas sebebasnya bolak-balik dari sisi ke sisi kolam.

Apalagi melakukan gaya dada karena tanganku takut tertubruk pada dada orang lain. Terutama wanita kalau dadanya kepegang itu kan pelecehan seksual. Itulah sebenarnya maksud lelaki yang membikin tak sengaja menikmati suasana. Pelecehan seksual kerap terjadi dimana-mana. Kolam renang dan kendaraan umum tempat biasanya.

Lelah aku bergerak hilir mudik, aku berdiam di pinggir saja. Melihat mereka yang asyik ketawa-ketiwi. Menyapukan pandang pada mereka, kok tak terlihat cewek cantik disni. Siapa diantara mereka yang membuat sedap pemandanganku. Aku hanya melihat mereka banyak yang berdua-duaan, berpasang-pasangan. Lantas bagaimana aku bisa berkenalan menambah satu teman.

Melihat mereka berdua-duaan membikin hati ngiri melihatnya. Disini aku sendirian dan merasa kesepian. Kemana-mana selalu sendiri. Semoga nanti situasinya tidak begini lagi…[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori