Oleh: Kyan | 11/10/2004

Sebuah Perjuangan Ikhlas

Senin, 11 Oktober 2004

Sebuah Perjuangan Ikhlas

**

Perjalanan yang melelahkan. Tapi ini sebuah perjuangan menuju keikhlasan. Bersabarlah dan ikhlaslah dengan ujian yang dihadapi. Tetap tegar menghadapi kesulitan penuh perih. Bila tidak sekarang kapan lagi berjuang tanpa jelas pamrih di masa depan. Hanya menjalani hari ini. Bersyukurlah hari ini. Ikhlaslah hari ini.

Dari Garut kubawa dua kardus besar berisi monitor dan CPU. Lalu tas cover besar kubawa lagi buat membawa tumpukan buku. Setahun komputer tak dinyalakan ternyata masih menyala. Meskipun pentium satu, tapi masih dapat dimanfaatkan. Untuk mengetik ataupun menonton VCD.

Karena belum sempat kutonton VCD Harun Yahya yang kubawa dari Batam. Sudah ada dua paket VCD Harun Yahya yang kubeli dari Ahad-Net sampai hari ini belum kulihat isinya. Semuanya belum pernah kutonton, sebab di Batam aku tak punya VCD. Jangankan VCD, TV saja disana tak ada. Setahun lebih aku tidak menonton televisi. Bagaimana jadinya saat itu ketinggalan informasi yang update masa kini.

Untuk sampai di kosanku. Harus dua kali aku mengangkut bawaan barang-barang. Membawa barang tiga ikatan naik ojek pun sulit. Terpaksa satu koper kutitipkan ke tukang warung pinggir jalan. Alhamdulillah mereka berbaik hati padaku.

Meskipun masih lelah membawa kardus dan koper, sore hari aku harus pergi ke alun-alun Bandung untuk mengambil pesanan stempel Aya Sophia di Cikapundung. Logo Ayasophia yang aku desain semenjak dari Batam hari ini dijanjikan sudah selesai.

Logonya berbentuk mata, terinspirasi oleh cover Dewa Laskar Cinta. Karena Aya-Sophia adalah tentang membaca, yaitu menggunakan mata untuk melihat dunia. Bola mata adalah bola dunia dengan setengah lingkar atas bacaan ‘Iqra bismi rabbbika’ lalu setengah lingkar bawah bacaan ‘Aya Sophia’.

Lalu aku mampir ke toko kaset di Dalem Kaum untuk kubeli cangkang kaset. Lalu aku jalan-jalan ke toko buku Kurnia Agung untuk sekedar melihat-lihat pajangan buku. Cape sekali aku. Sudah dari Garut membawa barang-barang berat, dilanjutkan pergi ke alun-alun, lalu jalan kaki terus sampai pegal-pegal.

Sampai di kosan malam dan tidur jam 11 malam lebih. Sungguh melelahkan sudah bepergian.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori