Oleh: Kyan | 23/10/2004

Terkapar Oleh Marah Dosen

Sabtu, 23 Oktober 2004

Terkapar Oleh Marah Dosen

**

Kenapa aku gak bisa memaafkan Pak Tajul Arifin, dosen Inggris itu. Aku berusaha untuk memaafkannya. Tapi ada saja rasa benci padanya, bahkan aku muak padanya. Apakah ini akan teringat terus dan sampai kapan akan terhapuskan dendam amarah ini.

Bagaimana bisa terhapus, ini malah tertulis disini. Nanti, suatu ketika dibaca kembali akan menjentik kemarahan itu. Mengalami kejadian kemarin bagaimana aku tak menerima, hanya gara-gara mengobrol dengan Uly sebentar sebelum dimulai perkuliahan, dia marahnya minta ampun padaku.

Rasanya baru kali itu dimarahi dengan marahnya seperti itu. Baru pertama kali bertemu orang dengan kemarahan seperti itu. Bapakku saja tak pernah marah seperti itu—Bagaimana bapakku mau memarahiku, dia yang punya dosa padaku.

Kujelaskan padanya bahwa aku orang baik. Aku berakhlak baik. Aku terbaik sewaktu SD, SMP, dan masuk 10 besar di SMU. Aku masuk organisasi rohis, KSI, Kelompok Studi Islam. Aku hobbi membaca. Sebelum Bapak mencap saya sebagai orang yang kurang ajar, saya akan menyampaikan hal itu. Begitu kata-kataku dalam hati yang ingin kulontarkan ketika kuminta pada Robbi aku ingin menemui dosen Inggris itu.

Mungkin kejadian ini tak akan kulupakan seumur hidupku. Tak kulupakan oleh teman-teman sekelasku. Saat aku kena marah dosen Bahasa Inggris, Bapak Tajul Arifin yang mengatakan bahwa saya anak kurang ajar.

Saya terima ini kesalahan saya. Namun saya sebagai manusia, yang sering khilaf dan pasti pernah berbuat salah. Tapi aku tak terima bila dikatakan sebagai orang yang kurang ajar. Justru kurang ajar betul dia yang mengatakan aku kurang ajar.

Ceritanya saat Jum’at pagi sebelum dimulai perkuliahan, aku duduk paling depan dan bersebelahan dengan Uly Ajnihatin. Ia berbisik-bisik padaku, ngomongin soal tugas Bahasa Inggris. Tanpa disadari bisik-bisik antara aku dan dia diperhatikan sang dosen. Tak ayal dosen pun marahnya minta ampun padaku. Hanya gara-gara bisik-bisik itu.

Aku alfa. Dosen memarahiku, memelotoiku. Mungkin aku dibuatnya panik. Karena ditambah aku gak sahur, ketika dosen marah-marah, dimana kesalahan hanya ditujukan padaku, bukan ke Uly, pikiranku, penglihatanku tiba-tiba jadi rabun, berkunang-kungan, dan akhirnya semua terlihat serba putih.

Kubilang aku tak bisa melihat apa-apa. Kata mereka aku dibuat shok berat kena marah Pak Tajul. Aku dimarahi habis-habisan, dan akupun terkapar, tak bisa melihat apa-apa. Beruntung temanku, Robbi cepat membopongku ke ruang istirahat di gedung Fakultas.

Masih aku tak bisa memaafkannya. Serasa dunia sudah kiamat saja ketika dimarahi dia. Mungkin aku ini terlalu mendramatisir situasi. Apa gara-gara kena marah dia, serasa masa depanku terancam. Ini berlebihan dan harus dibuang![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori