Oleh: Kyan | 30/10/2004

Keceriaan Persahabatan Sekolah

Sabtu, 30 Oktober 2004

Keceriaan Persahabatan Sekolah

**

Ternyata semuanya baik-baik saja berjalan sebagaimana mestinya. Midd Test Bahasa Inggris, Pengantar Manajemen, Pancasila sudah kulalui. Rasa bebanku sedikit berkurang. Seharusnya hal itu jangan dianggap beban, tapi anggaplah itu permainan belaka.

Jalani saja peta kehidupan ini dengan penuh ketegaran dan kesabaran. Hadapi, hayati, dan nikmati sepenuhnya. Berusahalah terus dan tidak akan terlambat untuk selalu berusaha. Dengarlah suara-suara hati. Ikutilah perintahnya! Asahlah anasir-anasir hati!

Ekonomi Mikro dan Makro tesnya banyak hafalan. Aku sudah tak tertarik lagi dengan hal contek-menyontek. Biarlah jelek nilai ujianku dihadapan manusia, namun aku dianggap baik di mata Allah. Buat apa mencontek? Toh nyontek dan tak nyontek sama saja hasilnya.

Ini cuma permainan hidup, masa harus mengorbankan prinsip utamanya hidup. Akh, jalani saja apa-adanya dan menerima hasilnya. Mau hasil baik alhamdulillah syukur, bila belum baik semoga menjadi pemantik jalan perbaikan diri.

Sesungguhnya hari ini ada sesuatu yang harus diikat untuk menjadi ingatan. Ini sebuah keceriaan sahabat-sahabat kampusku. Aku senang, aku gembira dibuatnya. Aku bahagia banget dapat bercengkrama dengan mereka. Ngobrol-ngobrol, bercanda-canda dengan temen-temen MKS ketika menuju kosanku. Tadi ada Uly, Susi, Sofy berkunjung ke kosanku. Ternyata hidup ini sungguh berkesan. Semoga ini tak terlupakan.

Setelah mereka pulang, lalu tiba-tiba saja aku teringat pada kenanganku saat SMA. Bersama teman-teman kelasku sering bersama dan bercanda. Kulihat lagi foto-foto ketika SMU-ku dulu. Mengamati foto berdua kala SMA terkenang segala kenangan manis bersamanya. Sudah terlewat dua tahun dulu saat bersama. Sejarah hidup bersamanya akan terkenang selalu.

Saat acara perpisahan aku sempat difoto berdua dengan Nidya, dengan Okke, dengan M-Pim, dengan Rina, dan dengan Siti Nazatul. Itu foto berdua kupandang pelan-pelan. Dan begitu lama aku memandangnya. Muncul kehangatan jiwa memandangi mereka.

Dimanakah mereka sekarang. Akan kukirim kartu ucapan selamat Ramadhan. Aku ingin sekali menjadi sahabat sejati mereka. Aku mau mengatakannya pada mereka bahwa mereka tidak benar-benar sendirian. Aku bersedia jadi sahabat sejati mereka. Apakah ini cuma retorika yang sebenarnya dicari adalah jalan percintaan? Bisakah dengan diantara mereka dapat terjalin cinta? Lalu bagaimana mewujudkannya?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori