Oleh: Kyan | 03/11/2004

Terampil Mengatur Orang

Rabu, 03 November 2004

Terampil Mengatur Orang

**

Kenapa aku merasa tugas-tugas yang diberikan dosen kepada mahasiswa dianggap sebagai beban? Sehingga aku selaku mahasiswa berada dalam hidup yang dikejar-kejar tugas. Hati menjadi tidak tenang karena takut tugas tidak dapat kukerjakan. Apakah ini aku terlalu mendramatisir keadaan?

Aku harus bagaimana cara menghilangkan dianggapnya sebagai beban? Bagaimana mengusir ketakutan tidak mampu kukerjakan. Setidaknya mungkin mencoba saja mulai mengerjakan dengan apapun yang terpikirkan. Kalau sudah memulai, masa tidak bisa atau tidak akan mengakhiri? Masa tidak berakhir ketakutan itu bercokol di dadaku.

Ini menurutku dan keinginanku, jika dosen memberi tugas, bagaimana caranya agar mahasiswa itu ketika mengerjakan tugas merasa senang. Dosen harus memberi motivasi kepada mahasiswa bahwa dengan mengerjakan tugas itu dapat mengkayakan khazanah keilmuan, mengkayakan informasi dan pengalaman.

Karena dengan mengerjakan tugas otomatis mahasiswa harus membuka-buka buku, mencari referensi kesana-kemari, pergi ke perpustakaan disana dan disitu, atau bagaimana caranya tugasnya itu selesai dikerjakan. Semua itu akan bermanfaat baginya. Jadi tak ada yang sia-sia dengan apapun yang diterima.

Yang membuat aku kesel itu, kalau tugas kelompok biasanya yang mengerjakannya cuma satu dua orang. Tidak semua mahasiswa terlibat ketika mengerjakannya. Akhirnya kalau hasilnya bagus, yang tidak bekerja pun mendapat nilai bagus. Aku suka iri dan kesal pada mereka. Enak-enaknya mendapat nilai bagus hasil dari berpangku tangan.

Mungkin disini dibutuhkan seorang mahasiswa yang dapat memanaj atau mengatur mahasiswa lain agar bisa bekerja sama. Disini dituntut keterampilan mengatur orang dengan beragam kemampuan. Mahasiswa perlu kreatif dan inovatif dalam mengsinergikan bermacam-macam karakter orang. Bagaimana caranya memikat orang lain supaya ikut mengerjakan.

Memang kalau melihat nilai kita malah kesel. Nilai kan cuma simbol. Kita harus mengetahui arti simbol tersebut. Dan harus bertanggung jawab atas simbol tersebut. Lebih penting disini jikapun mereka tidak ikut mengerjakan, mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya angka. Tapi kita mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Kita memperoleh stimulus-stimulus baru untuk suplai otak. Bukankah yang lebih dibutuhkan adalah pengalaman kehidupan dan kita mengambil hikmah atas kejadian tersebut.

Ridhalah atas ketetapan-Nya. Bulan-bulan ini sedang musim ujian. Tadi ujian praktek membaca Alquran. Ini yang menjadi pokok perbedaan antara mahasiswa IAIN dengan mahasiswa kampus lain. Berbedanya kami harus mampu membaca Alquran secara tartil. Bacaanku yang dulu di kampung saat kecil dianggap paling bagus, disini masih dianggap kurang. Mungkin karena aku jarang lagi mengaji dan ta’lim memperbaiki bacaan Alquran. Makanya bacaanku tidak bertambah baik, dan malah menyusut karena jarang tilawah lagi.

Begitupun menulis arab juga banyak yang salah. Memang aku belum pernah diajarkan tata cara menulis kaligrafi. Aku mau mencari buku tentang tata cara menulis kaligrafi. Sabtu depan UTS Bahasa Arab. Aku harus bersungguh-sungguh belajar untuk dapat memahami materinya. UTS Fiqh muamalah besok. Aku harus menyiapkannya dengan lebih baik. Belajar bukan sekedar mengejar nilai, tapi menangkap substansi nilai.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori