Oleh: Kyan | 05/11/2004

Kehilangan Handphone

Jum’at, 05 November 2004

Kehilangan Handphone

**

Hati ini terasa sesak. Detak jantungku kencang. Masih kencang dan marah meski kejadiannya sudah berlalu di waktu shubuh tadi. Hidup terasa segera kiamat, bergejolak, dan menyayat hati dengan apa yang kualami. Kekalutan terus-menerus menemani hariku. Kenapa ini terjadi padaku?

Hidup seakan sampai disini. Sampai disini saja seakan tak ada lagi harapan. Cobaan dan onak duri yang kutemui akankah aku sanggup menghadapinya? Apakah kesabaranku sudah menipis dan hilang ditelan kehidupan yang terjal ini? Pendakian gunung keberhasilanku ternyata masih jauh dan semakin menjauh dari jangkauanku. Bagaimana aku tidak marah ketika harus kehilangan sesuatu yang berharga.

Sampai malam ini aku masih merasakan sesuatu yang menyayat hati. Setelah shubuh tadi aku kehilangan handphone, barang istimewaku satu-satunya. Begitu pahitnya perjuangan untuk dapat membelinya, sekarang sudah tak lagi dalam genggamanku. Hasil perih menabung dengan menyisihkan bekal makan demi ingin punya handphone, kini tak ada lagi. Terus saja ingatanku pada handphone yang hilang.

Kejadiannya bermula ketika semalam ada temanku yang ikut menginap, Yedi. Sebelum kami tidur, Yedi sudah mau ngunci pintu, tiba-tiba Dicki, temen sebelah kamarku datang lagi. Dia mau melanjutkan baca buku novel Sang Alkemis-nya Paulo Chelho. Aku dan Yedi sudah tertidur, sementara dia masih ada di kamarku. Ketika dia pulang, aku dan Yedi sudah terlelap tidur.

Sekitar jam satu malam aku bangun dan langsung ingat pada handphoneku. Aku yakin handphone-ku disimpan di sebelah tempat tidurku untuk bunyi alarm bangun sahur. Setelah kucari-cari, kok gak ada. Dicari kemana-mana, takut aku lupa menaruhnya. Lalu kupikir mungkin Yedi menyimpannya di tempat lain supaya aman. Maka akupun tertidur lagi.

Karena tidak ada alarm berbunyi, aku terbangun menjelang Shubuh. Akhirnya aku dan Yedi gak sempat makan sahur. Kutanyakan pada Yedi soal keberadaan handphoneku. Dia mengaku gak mengamankannya. Akupun dibuat kaget dan panik karena handphone tak kunjung kutemukan.

Takut aku salah menyimpannya di tempat lain, kucari-cari lagi ke dalam lemari, tapi hasilnya nihil. Lalu kupanggil Dicki dan kutanyakan jam berapa dia balik dari kamarku. Apakah pintu kamarku ditutup ketika dia pulang? Dia bilang pulang jam duabelas dan pintu ditutup rapat. Lalu kenapa dia gak membangunkan aku sebelum dia pulang untuk aku menguncinya?

Mungkin ini kesalahanku, keteledoranku. Aku harus menyalahkan siapa? Menimpakan kesalahan pada Dicki atau Yedi. Seharusnya, sepatutnya salahkanlah diriku sendiri. Kalau gak salah ada pepatah mengatakan orang bodoh adalah orang yang menyalahkan orang lain. Ketika dia menyalahkan dirinya, dia telah mulai belajar. Dan ketika dia tidak menyalahkan siapa-siapa dia sudah selesai belajar. Karena dasarnya manusia selalu saja ingin menimpakan kesalahan pada orang lain.

Perasaanku terus tak enak saja. Tega-teganya orang sedang sengsara, membuat lagi lebih sengsara. Sesudah nilai UTS kurang memuaskan, malah tertimpa lagi robohnya tangga. Nilai UTS-ku pada jelek semua.

Mata kuliah Pengantar Manajemen aku mendapat nilai enam. Itu nilai paling kecil di kelasku. Hasil ujian Pengantar Bisnis dan Bahasa Inggris nilainya kecil. Kecuali Pengantar Akuntansi aku mendapat 9,5. Ini pun masih tergolong rendah bila dibandingkan temen-temenku. Mereka banyak yang meraih sepuluh.

Kemarin UTS Fiqh Muamalah, persiapannya kurang. Besok Bahasa Arab belum ada persiapan juga. Apa salah denganku? Aku tidak belajar mungkin? Waktu menjalani ujian aku sedang sakit. Tapi jangan cari alibi. Memang ini salahku sendiri tidak merawat kesehatan dan melaksankan pola hidup sehat. Menjaga kesehatan itu lebih baik.

Makan cukup bergizi, cukup berolahraga, dan tidur yang cukup. Dengan pola hidup sehat, pikiran niscaya menjadi jernih dan fresh. Sekarang pokoknya aku tidak boleh mencari alibi. Jauh ke depan aku harus lebih baik. Aku mampu dan pasti bisa memperbaikinya.

Ini bulan Ramadhan. Mungkinkah aku banyak berbuat salah dan tidak meminta maaf sehingga aku ditimpa sial. Mungkin aku pelit terhadap orang lain. Meminta sms saja gak boleh. Mungkin sering digunakan sebagai sarana maksiat. Pernah kan dulu mengirim sms kotor ke Novi anak Medan.

Toh mempunyai handphone pun mungkin ini pemborosan. Tapi bukannya sudah bosan? Sehingga kejadian ini mengkondisikan handphoneku perlu diganti dengan model lain yang baru? Kan pengen handphone yang ada kameranya.

Punya duit gitu untuk membelinya? Selalu termakan gengsi dan tergerus gaya kawula kota. Dulu san sekarang sudah berbeda. Saat aku masih kerja handphone mampu dibeli. Sekarang aku tidak lagi kerja tapi kuliah, memperoleh pemasukan dari mana. Buat makan saja kekurangan.

Namanya uang berputar dalam siklus ekonomi. Arus uang dan arus barang tetap berjalan sebagaimana mestinya. Yang jadi permasalahan aku tidak melibatkan diri ke dalam siklus itu. Kalau ingin meraih percikan ekonomi, aku harus jadi pelaku ekonomi yang aktif, bukan pasif.

Akankah derita ini akan berakhir? Sampai kapan aku mampu bertahan atau sampai di sini saja? Haruskah aku berhenti berharap? Kegagalan hidup terus menghantuiku. Tapi janganlah berhenti untuk terus mengharap akan masa depan yang gemilang.

Kuimpikan sebuah dunia yang indah ceria. Sesungguhnya segalanya dari Allah dan akan kembali pada-Nya. Apa yang salah terhadap diriku dengan sikap teledorku, gak teratur, gak apik, apakah memang sifatku seperti ini? Mungkin handphoneku itu sering dijadikan maksiat, sarana berbuat dosa, dijadikan kesombongan dan keangkuhan. Makanya handphone itu ‘dihilangkan’.

Komunikasiku menjadi terputus, sudahlah. Hari ini saat ini suasana hati masih kacau, gundah, gelisah. Tapi syukur alhamdulillah jiwa ragaku tidak dianiaya, seperti yang terjadi  kemarin-kemarin yang menimpa tiga orang santri DT. Mereka diperas dan dirampok oleh sekomplotan penjahat biadab. Akhirnya dua orang santri itu meninggal dunia setelah sebelumnya dianiaya, diperkosa dan dibuang ke sungai Citarum yang kotor, di tengah belantara kegelapan malam.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori