Oleh: Kyan | 06/11/2004

Berapa Kali Kehilangan?

Sabtu, 06 November 2004

Berapa Kali Kehilangan?

**

Yang mencuri handphoneku itu bukan manusia, tapi anjing. Dia anjing, babi, koplok. Tega-teganya kamu anjing, mengambil barang kepunyaan orang. Rasakan saja nanti hidupmu tidak akan tentram. Mampus kau, masuk neraka kau syaitan. Tega-teganya kamu anjing, syaitan, babi koplok, keparat! Kamu bukan manusia, tapi anjing babi.

Ternyata di kampus ini banyak anjing. Saat kemarin kejadian sudah menimpaku sewaktu pendaftaran masuk kuliah. Ketika selesai menunaikan salat Salat Duhur di Masjid Ikomah, aku kehilangan sepatu yang satu-satunya, merek Adidas. Sepatu sport satu-satunya, yang kubeli seharga Rp. 350.000,- Sekarang malah hilang handphone seharga Rp. 1.200.000,- Dihitung-hitung sudah berapa kali aku kehilangan sepatu dan sandal.

Masih ingat waktu kecil di kampung, di Citamiang Tawang Pancatengah Tasikmalaya aku terlalu sering kehilangan sandal jepit. Bahkan hampir semuanya hilang di masjid. Tega-teganya orang mengambil barang orang di tempat ibadah. Apakah sang maling itu masih punya hati-nurani?

Tapi mungkin banyak orang itu mencuri karena  terpaksa. Tapi aku juga orang yang tak punya, orang miskin. Mungkin itu harta yang paling berharga bagiku. Kenapa kau tega-teganya mencuri barangku. Kita sama-sama orang miskin, senasib, aku juga merasakan keadaan kamu. Tidakkah kita saling pengertian?

Aku juga pernah mengalami masa-masa sulit, masa-masa kepepet seperti yang sekarang kamu hadapi. Tapi jangan sampai mengkhianati hati nuranimu. Dimana rasa kemanusiaan dirimu? Atau karena kau ingin jadi anjing?

Mungkin jawabanmu ingin jadi anjing saja, daripada jadi manusia yang banyak beban hidup dan banyak tanggung jawab. Kau seharusnya bersyukur jadi manusia daripada jadi anjing. Kau bisa jadi manusia, asalkan kau bersabar atas apa yang Allah takdirkan padamu.

Kau diberi akal kebebasan. Kau bisa menguasai segalanya, kau bisa hidup bahagia asalkan kau berusaha terus-menerus dengan kerja keras, kerja ikhlas dan jangan lupa berdoa. Ini malah mencuri barang orang. Keparat kau. Sudah beberapa kali kau mengambil barang milikku. Dasar kau anjing.

Masih kuingat waktu libur caturwulan aku pulang ke Tasik, ke rumah ayahku yang rangkai itu. Sampai disana tak ada siapa-siapa. Dalam masa liburan ingin aku gunakan untuk refreshing, jalan-jalan tapi malah kudapatkan hari yang naas.

Begitu sampai di Gobras, rencananya aku mau main ke alun-alun Tasik. Di kamar kakakku nampak ada sandal dan aku tak punya sandal. Kupikir mungkin ini sandal punya kakak. Kupakai saja itu sandal untuk jalan-jalan ke jalan Hazet.

Sampai tiba adzan Duhur. Segera kulangkahkan kaki menuju Masjid Agung Tasik. Kutaruh sandal yang kupakai di tempat penitipan. Disana tak ada penjaganya. Sangkaanku aman menyimpan sandal disana.

Tapi ketika selesai shalat Duhur aku segera menuju tempat penitipan. Kulayangkan pandangan ke setiap rak-rak sandal. Aku kaget. Kok, sandalku tak ada. Sandalku kemana? Aku berusaha menenangkan diri, mencari-cari kemana-mana, takut salah tempat atau lupa menaruhnya dimana.

Kutanyakan pada orang-orang disana. Dan akhirnya aku pasrah saja. Ada juga orang yang peduli ikut mencarinya. Setelah kucari-cari gak ada, lalu ada salah seorang yang menawarkan diri untuk membelikan sandal jepit. Kuberikan uang padanya. Aku percaya saja tanpa ada rasa curiga.

Dan ternyata orang itu kembali lagi membawa sandal dan memberikan kembaliannya. Aku ucapkan terima kasih padanya. Kami sempat ngobrol-ngobrol. Dia mengaku orang Awipari. Mau main ke alun-alun, mau nonton. Dia mengajak aku nonton bareng. Kutolak dengan halus.

Dia sempat nanya padaku, “kamu tidak punya pikiran bagaimana kalau uang yang kamu berikan itu kubawa lari?” kujawab, aku gak punya pikiran ke arah itu, karena waktu itu aku pasrah saja.

Pakai sandal jepit aku jalan-jalan di Yogya Depstore. Kucoba mencari-cari sandal yang serupa dengan yang hilang tadi. Dan aku menemukannya. Aku harus menggantinya, karena perasaanku ini bukan sandal kakakku. Mungkin sandal temennya. Dan setelah kutanyakan besok lusanya ternyata benar itu sandal temannya.

Aku harus membeli sandal itu. Setelah kurogoh sakkuku, aku gak punya uang sama sekali. Uang cuma cukup untuk ongkos pulang ke Bandung lagi. Harga sandal itu mahal sekali. Aku tak mungkin pulang ke rumah rangkai ayahku tanpa membawa sandal itu. bagaimana kalau kakakku menanyakannya.

Ada sih uang, tapi di tabungan. Tanpa berpikir panjang lagi aku harus kembali ke Bandung. Yang jadi bingung kunci kamar kutaruh di tas. Dan tas itu ada di rumah rangkai. Ah tak peduli akan kudobrak aza kamarku.

Tanpa banyak berpikir lagi, aku berangkat lagi ke Bandung pakai kereta api. Dari Masjid Agung aku jalan kaki menuju stasiun. Sampai di Cimahi jam delapan malam. Begitu sampai di rumah kontrakan, aku segera meminta bantuan Bang Agus dan Mas Tomo. Kunci gemboknya susah dibuka bautnya.

Mas Agus bilang bakar saja gemboknya. Setelah dibakar, terbuka sendiri. Alhamdulillah aku bisa masuk kamar. Besoknya aku ke BCA untuk mengambil uang. mengantri panjang, ach biarin. Setelah selesai mengambil uang, aku segera balik lagi ke kontrakan dan siap-siap untuk pulang lagi ke Tasik.

Siang hari sudah sampai di terminal Tasik Cilembang. Aku tidak langsung ke rumah, tapi ke alun-alun dulu untuk membeli sandal pengganti yang hilang. Kalau gak salah harganya Rp. 20.000,-an lebih. Walaupun mahal itu sandal, tapi karena punya orang ya harus kuganti.

Tiba di rumah, ada kakakku. Dia menanyakan sandal itu. Di bilang, sandal punya orang dipakai, bagimana kalau hilang. Aku tak bilang bahwa sandal itu hilang. Aku diam saja. Sandal yang hilang itu sepertinya lumayan sudah agak lama, tapi masih kelihatan baru. Beruntung sekali temen kakakku dapat sandal seperti baru. Emang sandal baru, kataku dalam hati.

Kejadian ini ketika aku kelas 1 di SMUN 2 Cimahi. Sekarang aku berjanji tidak akan pernah lagi memakai barang kepunyaan orang. Takut nanti ada masalah, jadi gak perlu pinjam-meminjam barang orang. Terima saja apa yang ada daripada tak mau menanggung resikonya. Tapi kalau terpaksa gimana? Usahakan jangan. Jangan banyak gaya pakai dengan barang milik orang.

Lalu musibah kehilangan kedua kalinya di Masjid Sriwijaya. Kejadian kedua masih saat sekolah SMU juga kehilangan sepatu. Sepatunya merek Adidas yang gak terlalu bagus, sudah agak lama. Sepatu itu masih ngutang dari Luqman, teman seasrama, anak Unjani. Kalau gak salah harganya lumayan murah banget. Harga teman Rp. 20.000,- dan baru dibayar Rp. 5.000,- Belum lunas sepatunya sudah hilang. Kupasrahkan saja. Memang aku doyan kehilangan barang-barang berharga.

Setelah kehilangan sepatu Adidas, uang yang dikirim ibu kupakai buat beli sepatu Kasogi. Kalau gak salah harganya Rp. 120.000,- Belinya di Toko sepatu alun-alun Cimahi. Sepatunya bagus, pakai sepatu itu aku kelihatan gagah dan percaya diri.

Setelah beberapa minggu berlalu, aku mengalami musibah lagi. Sepatuku satu-satunya, barang yang sangat berhargaku ada yang mengambil lagi. Hilangnya masih di Masjid Sriwijaya lagi. Di tempat sama yang biasa kami anak sekolah salat Duhur disana.

Setelah kehilangan sepatu pertamaku yang Adidas, lalu aku tak punya sepatu, yang akhirnya beli sepatu Kasogi, aku memakai dulu sepatu kulit kakakku. Sepatuku dibilang seperti setrikaan. Karena bentuk ujungnya lancip seperti seterika. Aku sering diledekin teman-teman, mau nyetrika jalan? Walau sudah dibilang begitu, walau rasa kesal, sakit hati dengan ledekan mereka, aku harus bagaimana lagi. Tak ada sepatu lagi yang kupunya. Dipake saja yang ada. Walau dihina terus.

Ketika masa SMU, aku ingin sekali kelihatan tampil modis, bak gaya anak Bandung yang orang tuanya lumayan berada. Aku ingin dihargai oleh orang-orang. Aku ingin temen-temen menghargaiku. Temen-temen hanya menghargai orang yang bergaya trendi. Makanya biar aku gak terlihat miskin banget, aku berusaha untuk tampil dengan barang-barang bermerek. Tas bermerek, sepatu bermerek, baju celana bermerek.

Perasaanku di SMU cuma akulah satu-satunya siswa yang paling miskin dari seluruh anak SMU. Dari kelas satu sampai kelas tiga. Sudah miskin, broken home lagi. Yang sekolah di SMU 2 Cimahi rata-ratanya anak militer, anak jenderal. Sedangkan aku anak siapa. Ayahku tidak sekalipun bekerja. Jadi buruhpun tidak. Ayahku kadang-kadang bekerja, dan seringnya tidak.

Buat makan sangat susah. Aku menerima apa-adanya. Tapi walaupun begitu aku ini menusia. Aku ingin punya harga diri. Harga diri sebagai manusia. Aku harus tampil seperti mereka. Aku meminta uang pada Ibu, mencari terus beasiswa kesana-kemari.

Setelah kudapat uang, kubelikan tas merek Bodypeak seharga Rp. 85.000,- yang sebelumnya aku ke sekolah biasa aku pakai tas kompreng yang kupinjam dari kakakku. Jelek banget, yang biasa kupakai buat bawa beras dari kampung. Karena malu kupakai lagi, lalu ada tas congklang yang kupinjam dari Mas Lukman yang ada logo Slank-nya.

Makanya kubeli tas merek Bodypeak. Sengaja aku membelinya di malam supaya tak terlihat orang. Seharusnya malam itu aku belajar malah jalan-jalan ke Ramayana. Besoknya langsung kupakai tas yang kubeli semalam. Temen-temen di kelas pada memuji. Terutama anak Kristen itu yang selalu ingin deket denganku. Lupa namanya, siapa ya? Pokoknya temen Posma. Aku ingat namanya Emi. Cantik juga orangnya. Dia agresif di depanku. Perempuan manapun selalu kulihat agresif di depanku.

Setelah mampu kubeli tas bermerek, aku ingin membeli sepatu lagi. Merek Adidas. Tapi uangnya gak cukup. Temen bilang sepatu banyak di Kosambi, layak pakai, dan harganya murah-murah. Saking penasaran setelah pulang sekolah aku berangkat ke Cikudapateuh naik kereta KRD.

Ketika memilih-milih sepatu. Sampai aku dimarah-marahin sama penjual gara-gara sepatunya gak jadi dibeli. Ceritanya aku lihat-lihat sepatu di tempat penjual yang marah itu, dia mengajak aku masuk ke dalam, melihat-lihat sepatu. Karena aku gak minat, dia maksa supaya dibeli. Soalnya dia merasa sudah cape-cape menawarkan, melayani dengan lembah lembut, namun akhirnya sia-sia energinya.

Waktu itu perasaanku deg-degan takut dipukul, takut dibunuh. Kelihatan olehku ia sedang mabuk teller. Orang teller maka rasa kemanusiaannya sudah hilang. Aku meminta maaf dan kujelaskan aku tak punya uang. Uangku cuma Rp 20.000,- sambil kuperlihatkan uang sebesar itu. Untung saja uang yang kutunjukkan tidak dirampasnya. Lagian ke sini tuch cuma mau melihat-lihat dulu.

Beberapa hari kemudian, aku ke Kosambi lagi. Aku tak mau ke tempat yang dulu. Akan kucari yang tampang penjualnya tidak meyeramkan, yang kelihatan suka shalat atau tidak. Lalu aku menemukan orang tua yang sudah beruban. Kupikir mungkin ini orang baik. Kutawar harga sepasang sepatu dan sepakat sepatu Nike dengan harga Rp. 110.000,- Klo copot bisa dikembalikan lagi, katanya.

Sepatu yang kubli besoknya kupakai olahraga di sekolah. Banyak orang memujiku. Banyak yang melihat-lihat, seperti memandang sesuatu yang aneh. Waktu itu aku memang haus pujian. Karena harga diriku sudah diinjak-injak gara-gara sepatuku dibilang setrika.

Aku hanya ingin punya harga diri. Ingin dihargai cuma itu saja. Karena temen-temen menghargai orang itu dari sesuatu yang terlihat oleh mata. Nyata aku harus melakukan itu demi harga diri. Harga diri disamakan dengan benda-benda. Bukan harga diri yang identik dengan sipat-sipat terpuji. Aku sudah berusaha ke arah itu, tapi penghargaan gak ada. Hidup jadi terasa dikucilkan. Apakah ini perasaanku saja? Hanya ada dipikiranku saja. Aku tak tahu.

Temen cewek bilang, sebenarnya kamu itu ganteng, cakep, kamu bisa jadi model. Nantilah kita bareng-bareng ke studio foto kamu dan nanti dikirim ke majalah, katanya begitu. Makanya kamu harus mengurusi penampilan. Kamu lengan bajunya agak dikecilkan, di atas siku, seperti Rena tuch lihat. Kelihatan modis. Aku selalu ingat kejadian itu. Ternyata masih ada orang yang perhatian padaku. Namanya Rachel Maryam, orangnya cantik juga, Kristen.

Sepatu yang kubeli itu ternyata cepat copot sisi telapaknya. Aku segera mengembalikannya. Lalu penjual menawarkan sepatu yang katanya lagi ngetrend. Tapi harus menambah lagi Rp. 15.000,-. Ya sudahlah sepatu Nike diganti dengan sepatu merek Adidas. Penjual bilang ini buatan Thailand, bukan buatan Indonesia. Aku percaya saja. Sepatu tersebut terbukti tahan lama sampai kelas 3 yang akhirnya hilang juga ketika pendaftaran kuliah IAIN.

Kang Jaka, temenku di Rohis KSI bilang, biar sepatu awet jangan dipakai terus, harus ganti berkali-kali. Makanya punya dua kek. Aku terpengaruh juga dengan kata-kata itu. Bahkan sampai sekarang pun harus bisa beli sepatu dua. Tentunya sepatu yang bermerek.

Lalu ada yang bilang sepatu murah tokonya dekat stasiun Bandung. Maka keuanganku kurencanakan buat membeli sepatu. Aku sering bolak-balik beberapa kali Bandung—Cimahi—alun-alun Bandung—BIP—alun-alun Cimahi, sampai temenku bilang kalau mau beli sepatu ya beli saja apa susahnya. Tapi kupikir mungkin masih ada yang lebih bagus, bermerek dan murah.

Suatu hari aku datang ke counter Adidas Kepatihan. Wah, mahal-mahal harganya. Gimana ya, gak jadi lagi. Aku jalan kaki saja dari Kepatihan sampai ke Stasiun Bandung. Sampai disana kulihat-lihat dan ternyata sama mahalnya. Temenku bilang bahwa disana pada murah, aku jadi saja beli. Aku bingung karena kebanyakan warnanya putih. Peraturan sekolah tak boleh memakai sepatu warna putih. Ada juga warna merah menyala. Harganya Rp. 350.000,- Akhirnya dibeli juga sepatu itu. Namun sayang sewaktu mengembalikan formulir pendaftaran IAIN, di masjid kampus sepatuku yang mahal itu rahib entah kemana. Tapi alhamdulillah sepatu itu mampu bertahan 3 tahun lamanya kupakai kakiku.

Sepatu Adidas yang dibeli dari Kosambi hilang juga di Gramedia-Batam. Padahal yang boleh masuk ke ruangan itu hanya karyawan Gramedia saja. Logikanya mungkin sepatuku diambil oleh karyawan lagi. Tega banget dia. Tak ada manusia di dunia ini, yang ada hanya anjing. Aku bilang begitu karena manusia itu punya akal dan hati, punya rasa kemanusiaan. Haruskah aku curiga pada setiap orang yang kujumpai. Mungkin harus begitu.

Dan puncak kehilangan adalah kehilangan handphone. Kehilangan handphone sangat menyayat hati, kesel, ingin menangis. Tidak seperti kehilangan-kehilangan sebelumnya. Sekarang kemanapun harus bawa plastik. Barang-barang yang sangat berharga harus tersimpan dan tersembunyi. Jangan lupa kunci pintu, harus selalu terkuci rapi. Sadarlah mungkin pelajaran bagiku aku tak boleh gegabah. Sudah saatnya mawas diri. Ini kesalahanku. Tapi aku ingin menangis kalau ingat itu.

Ya Allah berilah aku kekuatan menghadapi cobaan ini. Astaghfirullah… Setelah bersusah payah mengumpulkannya, begitu cepatnya uang itu pergi. Beri aku kesabaran menghadapi semua ini. Gantilah semua ini dengan yang lebih baik. Uangku sebesar Rp. 1.200.000,- dulu untuk membeli handphone yang sekarang sirna gantilah dengan ampunan-Mu dan kebaikan-Mu yang dicurahkan padaku![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori