Oleh: Kyan | 08/11/2004

Kartu Lebaran Pertama

Senin, 08 November 2004

Kartu Lebaran Pertama

**

Hari ini aku sendirian di kosan. Sudah tak punya uang. Mau mudik ke Garut tak punya ongkos. Ditambah tugas kuliah menumpuk untuk segera kukerjakan. Mau nelpon Ibu, nomornya gak ada. Catatannya cuma ada di handphone yang hilang kemarin.

Tak ada handphone tak ada uang. Kehilangan handphone membuatku pengen nangis saja. Kapan tergantikan lagi memiliki handphone. Kesabaran dan ketabahan yang harus kujalani. Hitam putih yang terjadi, semua misteri Sang Ilahi. Tak ada saudara, teman, dan sahabat yang bisa memahami dan menemani hari-hari sedihku. Hidupku terasa gersang tanpa ada orang yang begitu peduli padaku. Keluargaku berantakan. Hanya pada Allah lah aku bermohon. Apakah aku ini kurang bersyukur?

Kemarin aku seharian jalan-jalan di Toko Buku Gramedia. Cuma membeli buku diskon dan kartu lebaran. Aku mau mengirim kartu lebaran buat para perempuan yang selama ini dekat dan pernah dekat denganku. Akan kutuliskan seuntai kata persahabatan kepada Uly, Orien, Lien, Ulan, Liza, dan Nidya. Aku mau jadi sahabat sejati mereka.

Aku sedang mencari sahabat sejati. Ini moment Idul Fitri. Sebaiknya kukirim mereka surat untuk bertanya kabar tentang mereka. Setelah kupikir-pikir mau membeli kartu ucapan malah muncul keraguan. Uangnya gak bakal cukup dan nanti ongkos bagaimana? Nanti aku makan bagaimana? Bila lain kali membelinya, kapan aku datang lagi kesini?

Jadinya aku membeli kartu ucapan di toko buku Kurnia Agung. Disana dijual ada satu paket lima lembar dengan bandrol duaribu rupiah. Cukup lama memilih-memilah kartu lebaran. Sehingga ketika keluar dari Plaza Parahyangan orang-orang sudah pada berjubel membikin sesak bergerak aku keluar dari kerumunan.

Menjelang hari lebaran orang pada tumpah di mall-mall. I’tikaf di pasar-pasar bukan di masjid-masjid. Shalat Dhuhur di Masjid Raya, kemudian ke perpustakaan Bapusda Cikapundung. Ada rencana aku mau bikin proposal Taman Bacaan. Akan kuciptakan pangsa pasar baru. Perpustakaan Aya-Sophia ingin segera terwujudkan.

Besok pagi aku hendak ke kosan Uly Ajnihatin. Mau mengerjakan tugas kelompok mata kuliah Pengantar Manajemen. Sekalian mau memberi dia kartu lebaran. Aku ingin tahu bagaimana respon dia diberi kartu lebaran. Sekalian aku ingin meminta maaf padanya. Ketika kami buka puasa bersama temen-temen MKS aku kena marahnya. Aku sih banyak bertingkah.

Kesalahanku malas bawa makanan. Padahal aku hanya berpura-pura saja tapi dianggapnya serius tak mau membawanya. Mungkin karena aku terpana menatap seorang temannya yang pergi bersama kami ke warteg di jalan Manisi. Yang kuketahui akhirnya ia bernama Ayu. Terpesona dengan wajahnya yang bukan sekedar aromanis, tapi ayumanis.

Selama ini, selama hidupku belum pernah aku memberikan kartu ucapan pada siapapun. Dia sekarang perempuan yang sedang dekat denganku adalah teman sekelas. Sebagai sahabat kuliah, teman satu kelas, tentu sangat dekat karena sering bersama-sama.

Tapi kok, kenapa aku sekarang selalu ingat dia? Karena sifat manusia selalu ingin mencintai dan dicintai? Karena tugas kelompok Pengantar Manajemen harus segera selesai? Lantas ketika aku ingat pada seseorang, apakah seseorang itu ingat juga padaku? Bagaimana adanya ikatan batin itu?

Aku ingin mencintai dan dicintai seseorang. Ingin menyayangi dan diagungi oleh sosok yang memberi perhatian padaku. Adakah orang yang mencintai dan menyayangi diriku yang begitu tulus ikhlas?[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori