Oleh: Kyan | 11/11/2004

Perbaikan Dari Tahun ke Tahun

Kamis, 11 November 2004

Perbaikan Dari Tahun ke Tahun

**

Tak terasa baru saja kemarin tanggal 1 Ramadhan sekarang sudah tanggal 29 Ramadhan. Masih ingat tahun kemarin aku menjalani penyambutan lebaran di Batam, sekarang mau lebaran lagi di Bandung. Di tempat yang berbeda dan kegiatan sudah berbeda.

Dulu ketika bekerja di Gramedia, setiap hari aku selalu bawa kaset Nasyid koleksiku untuk diputar di Gramedia. Meskipun tempat kerjaku milik orang Katolik dan tak sedikit karyawannya beragama Nasrani, tapi nuansa Ramadhan tetap ada. Meski mungkin tidak begitu menggegap gempita sebagaimana semarak Ramadhan di tempat-tempat lain.

Tapi sekarang aku menjalani hiruk-pikuk kuliah. Susah senangnya hidup sebagai kaum maha pembelajar. Untuk menguasai ilmu secara maha, makanya hampir setiap mata kuliah selalu saja ada tugas yang harus dikerjakan di luar jam kuliah. Dosen seperti tidak rela saja kalau mahasiswa bermain-main yang tak ada hubungannya dengan kuliah.

Bahkan saat Ramadhan semestinya aku menjalaninya dengan banyak kegiatan amalan mahdah. Sudah sepuluh terakhir Ramadhan, muncul keinginan i’tikaf. Tapi i’tikaf  bagaimana dan dimana dengan kondisi tugas kuliah menumpuk. Seumur hidupku aku belum pernah mencoba i’tikaf sepuluh atau beberapa hari di akhir Ramadhan. Kenapa selalu saja ada halangan untuk melakukannya.

Ramadhan 1425 H, aku belum bisa i‘tikaf, belum ada perbaikan, khatam Alquran nggak. Apa yang jadi lebih baik dari Ramadhan kemarin? Nggak ada. Hidupku rugi. Kontrak hidup dengan Allah tidak digunakan sebaik-baiknya. Akankah aku dapat bertemu Ramadhan berikutnya?

Semoga Allah masih memperpanjang kontrak hidupku, biar aku bisa memperbaiki diri. Hidupku selama ini berlumuran dosa. Aku harus taubat nasuha. Hari ini hidupku begitu hitam kelam. Ya Allah ampunilah diriku yang hina ini.

Ampunilah dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku, saudara-saudara kandungku, saudaraku seiman dan siapapun orang. Aku mohon kepada-Mu! Kepada siapa lagi selain kepada-Mu? Aku memang lemah, hina dina. Hati ini keras membatu. Lunakkanlah hati ini ya Allah, ya Allah!

Ramadhan sebentar lagi habis. Rasanya belum ada perbaikan dari tahun ke tahun Ramadhanku. Hidup begitu singkat dari Ramadhan ke Ramadhan. Singkat karena nikmat meski dijalani dengan susah dan payah. Seperti ingin terus menjalani hidup sampai akhir masanya. Dan kalau boleh dapat hidup kekal tanpa perlu menggunakan obat kemudaan dan menjalani pantangan.

Karena kesibukan, waktu terus menggerus umur. Semakin berkurang tak terasa detik demi detiknya. Sudahkah aku memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya? Apakah hidup hanya untuk menanggung beban berat? Apakah tugas kuliah dianggapnya sebagai beban? Mungkin sikap aku saja mengganggap kehidupan ini adalah beban.

Mengerjakan tugas Ekonomi Makro belum selesai. Tinggal satu nomor lagi. Bahasa Inggris juga belum, Ekonomi Mikro juga belum. Beginilah kalau menunda-nunda pekerjaan. Belum aku harus segera mudik ke rumah kakak di Garut. Direncanakan menyelesaikan tugas seminggu ini. Tapi sampai Kamis belum selesai juga. Sampai kapan? Malah pengen nonton TV.

Tugas Pengantar Manajemen belum rampung kukerjakan. Ini tugas kelompok. Kenapa mengerjakan yang kelompok malas sekali. Mungkin karena sulit harus menyusun makalah. Jadi mahasiswa tidak terlepas dari makalah. Aku malas sekali mengerjakan tugas kelompok.

Mereka enaknya bayar saja tanpa harus lelah mata mengetiknya. Lelah pikiran karena mencari-cari referensi dan bagaimana menyusun makalahnya. Meski sebenarnya gembira juga kudapat uang dari mereka. Aku bisa menyambung hidup dengan mengerjakan tugas orang lain. Tapi ini pembodohan.

Saat kemarin tak enak juga kurasa ketika Echa dan Ryan memberiku uang sebagai buruh bikin tugas Bahasa Indonesia. Echa, teman sekelasku yang sudah punya penghasilan sendiri dari mengajar anak-anak TK. Sedangkan aku seorang cowok, hanya dapat uang sebagai buruh perbuatan membodohi orang.

Kuingin penghasilan dari bisnis. Bagaimana aku bisa mengembangkan bisnis Ahad-Net yang sepertinya kulihat semakin kesini semakin redup jaringannya. Mitrasalur Bandung sudah pindah tempat yang asalnya dekat pintu gerbang perumahan di Majalaya, sekarang harus jalan kaki lebih ke dalam. Perjuangan mengambil insentif sebesar Rp. 120.000,- harus begitu melelahkan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori