Oleh: Kyan | 19/11/2004

Mengharap Sisa Makan

Kamis, 19 November 2004

Mengharap Sisa Makan

**

Sejak kepulangan ke Garut di hari lebaran, sampai hari ini aku gak mandi. Bisa dibayangkan begitu kotornya badanku. Begitu aku bercermin, jerawatku pada muncul. Gatal-gatal di kepala dan pantat. Mau mandi airnya dari mana. Sekarang lagi musim kemarau.

Tapi Alhamdulillah sakit perutku sembuh. Berkat kuasa Allah setelah aku berobat ke puskesmas Leles dan banyak makan buah alpukat, mencretku makin jarang dan akhirnya normal. Memang tiap saat manusia selalu dihadapkan dengan cobaan dan masalah, yang dengannya ia menjadi dewasa. Lalu ia mengerti tentang pentingnya keseimbangan, dan menjadilah ia memiliki hakikat sebagai manusia.

Kamis pagi, aku sudah siap berkemas. Mau balik lagi ke Cibiru Bandung untuk menyelesaikan tugas kuliah yang tertunda. Ada waktu seminggu lagi aku harus menyelesaikan tugas Pengantar Manajemen. Kupikir biarlah aku hidup mandiri di Bandung. Dengan makan pakai uang sendiri, aku bebas memilih makan apapun.

Berbeda kalau aku tinggal di Garut aku tinggal makan. Tapi aku ragu kalau aku makan. Takut terlalu sedikit atau menghabiskan jatah yang lain. Sampai kapan aku terus menumpang pada orang lain. Meskipun ini pada kakakku sendiri.

Uangku di dompet Rp. 16.000,- syukurlah masih punya uang. Rp. 6.000,- cukup buat ongkos ke Cibiru Bandung. Untuk menambah bekal, Sabtu siang aku mengambil insentif pembelian ke Ahad-Net di Majalaya. Tersisa Rp. 56.000,- setelah dibelikan lagi produk Ahad-Net membeli madu dan Habbatussauda.

Dari Rancaekek perjalananku diteruskan langsung menuju Ujungberung untuk membeli peralatan masak dan bumbu masak. Dengan membeli peralatan masak, aku mencoba belajar masak sendiri, dan mungkin aku bisa menghemat pengeluaran.

Kompor dan panci kubeli dari toko pinggir jalan depan kantor BCA. Habis uang Rp. 30.000,- Lalu kucari lagi toko untuk membeli mutu dan coet. Kudapatnya dari dalam pasar. Baru pertama kalinya aku memasuki ruang dalam pasar tradisional Ujungberung. Sebagaimana pasar tradisional di tempat lain, tempatnya becek, lembab, dan campur aduk baunya.

Begitu sampai kosan aku langsung memasak. Kumasak oseng tahu dengan bumbu seadanya. Aku seneng banget bisa masak sore ini. Aku bisa masak nasi dengan lauk pauk yang dibikin sendiri. Bisanya cuma begini, enak tidak enak masakan sendiri. Dengan meracik masakan sendiri ada rasa puas tersendiri. Memasak dari hati menimbulkan kepuasan rasa tersendiri.

Tapi malamnya tiba-tiba saja badanku jadi panas merinding. Apakah gara-gara masak tahu yang terlalu banyak mericanya? Sehingga badanku jadi panas. Semakin malam suhu badanku terus panas. Tapi di malam hari kupaksakan aku pergi ke wartel untuk menelpon sahabatku .

Hari ini adalah ulang tahun sahabatku, Hafizh. Aku menelpon dia untuk bertanya kabar dan mengucapkan selamat ultah. Met Ultah ya Fizh. Karena ini hari sejarah bagi yang berulang tahun, aku harus mengucapkan selamat ultah. Meski mungkin ucapanku tak bermakna secara kasatmata. Hanya saja semoga saja menjadi doa. Semoga kamu meraih apa yang kamu cita-citakan.

Menelpon dia habis Rp. 2.000,- Jadi uangku tinggal Rp. 4.000,- lagi. Meskipun uangku saldonya sudah kepepet, tapi aku masih ingin menelpon teman SMA yang lain. Kuingin tahu bagaimana kabar Hestri, Shifa dan Dewi. Aku ingin silaturahmi pada mereka. Bukankah dengan silaturahmi dapat melapangkan jalan rezeki?

Karena keasyikan menelpon, aku tak melihat jumlah tagihannya. Uangku tak cukup untuk membayar tagihannya. Jadinya aku punya utang ke wartel Rp. 600,- Mau pinjam dulu tapi pada siapa. Karena orang-orang di kosan belum pada balik lagi dari kampung halamannya. Aku jadi malu punya hutang ke wartel. Akhirnya aku sudah tak punya uang.

Mungkin besok aku gak bisa masak. Tapi tidak apa-apa. Masih ada sisa oseng tahu, cukup untuk dihangatkan. Untuk fit dari sakit mencretku, seharusnya aku banyak makan dan olahraga. Rencananya mau membiasakan lagi renang, tapi uangnya darimana. Prioritas penggunaan uang hanya untuk bekal makan.

Bahkan semalam aku terenyah dengan kejadian di tempat mangkalnya mie ayam pangsit di pertigaan masuk jalan Desa. Tadi kulihat orang membeli mie ayam, tapi porsinya gak dimakan sampai habis. Makanan kok dibuang-buang percuma.

Sayang sekali, orang lain kelaparan ini malah menyia-nyiakan dan membuang makanan. Kalau gak bakalan dimakan mendingan jangan dibeli. Lebih baik uangnya diberikan padaku, anak yang membutuhkan sesuap nasi, supaya tetap hidup.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori