Oleh: Kyan | 14/12/2004

Pengajian Pindad dan Kosan Lia-Eka

Selasa, 14 Desember 2004

Pengajian Pindad dan Kosan Lia-Eka

**

Kenapa selalu ada rasa minder? Padahal ngapain mesti minder. Itu cuma perasaanku saja. Orang-orang pada akrab, sedangkan aku cuma bisa diam. Orang-orang pada ngobrol rame-rame, sedangkan aku hanya diam. Mungkin harus begini. Yang penting aku bisa menghargai orang. Jangan jadi orang yang ter … yang so diperhatikan.

Bukan kenapa-kenapa, hanya saja tadi di kampus aku merasa dicuekin oleh orang yang ku… Hh, aku belum mau merasakan dan mendengar suara-suara itu. Padahal hari Minggu kami telah bersama melakukan hal-hal baru. Demi ingin bersama dengannya, aku sudah berjanji padanya mau datang ke Pindad, aku tak ingat bahwa keuanganku sudah paceklik.

Sesungguhnya uangku di dompet tinggal Rp. 2.000,- Bagaimana ada ongkos pergi ke Pindad. Karena tak ingin kesiangan datang ke tempat pengajiannya, yang katanya pengajian dimulai jam delapan, maka subuh hari kucoba ke ATM saja di Griya Cinunuk. Kalau ke ATM Ujungberung terlalu jauh untuk segera sampai di Pindad secepat mungkin.

Begitu sampai Cinunuk, Griyanya belum buka. Mesin ATM ada di dalam Griyanya. Tapi tak terlalu lama aku menunggu. Sambil menunggu antrian ATM, kubaca buku ESQ Power. Begitu kucek, syukur alhamdulillah ibu sudah mengirim Rp. 400.000,- Jadi aku bisa datang ke Pindad. Ya Alloh ampunilah kesalahan Ibuku. Beliau pasti menyayangiku. Aku sudah tak punya uang, dan ibu sudah mengirimkan bekal.

Dengan petunjuk seadanya sebagaimana dalam cerita dia, sampai juga aku di Pindad. Sampai disana celingak-celinguk. Bertanya sana-sini dimana masjid Pindad. Akhirnya kulihat juga kerumunan orang sedang mendengarkan materi pengajian.

Dari materinya kutahu ini pengajian Persis. Yang tertangkap olehku dari pengajian ini berbicara tentang kursi. Katanya ketika kita menyebut kursi, apakah konsepsi kita terlepas dari kursi yang sering kita lihat. Disana ada perbedaan antara kursi itu sendiri dengan pikiran kita tentang kursi. Ini filosofi tingkat tinggi.

Jam sembilan selesai pengajian. Kerumunan bubar dan tersisa beberapa orang yang memang benarlah mereka sedang bersiap-siap mengikuti kursus. Dalam satu pekan bergantian antara kursus Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Kali ini kebetulan kursus Bahasa Jepang. Pengajarnya bernama Pak Dani.

Di pengajian dan kursus, aku hanya bertemu T’Ulfa. Dia bilang Uly tadi langsung ke Mihdan. Nanti setelah mengikuti kursus ini kita kesana. Disana pun aku dikenalkan dengan namanya A’ Usep, T’Amas, Wanto, Yanto, dan K’ Agus. Pulang duhur.

Begitulah aku di hari Minggu bertemu lingkungan baru untuk melakukan hal-hal baru. Di tempat baru melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan. Di Mihdan bertemulah aku dengan dia. Dan Duhur aku dengannya pulang bersama ke Cibiru. Karena kudapat hanya satu lembar materi pengajian di Pindad tadi, dia mau memfotokopinya dulu. Dari tempat fotokopi kamipun berpisah setelah menyeberang di bunderan Cibiru. Aku terus berjalan lurus menuju kampus, sementara dia memasuki lorong menuju asrama kosannya.

Begitu kejadiannya mulus-mulus saja. Tapi ketika bertemu kembali serasa dia telah menacuhkanku. Pagi-pagi aku di depan ruang kuliah syariah sambil menunggu dosen dating aku membaca buku ESQ Power yang tinggal penyelesaian. Kuingin segera menyelesaikan baca buku ESQ Power. Sudah tamat tinggal dirangkum nanti. Sejak semalam dari jam duabelas kubaca ESQ Power. Dan sampailah pada kata dan titik terakhir. Kesimpulannya setelah membaca sampai tamat, intinya kita harus mendenarkan suara hati.

Setelah itu daripada bengong, sesekali kuucapkan salam Assalamu’alaikum pada orang yang lewat mau masuk ke ruang kuliah. Meskipun perempuan yang kusapa itu tak kukenal namanya. Bukankah itu bagus untuk menambah keakraban meskipun belum kenal?

Tak lama kemudian datanglah temenku itu, Uly Ajnihatin. Dia cantik sekali, memakai kostum warna putih. Lalu dia menghampiri dan bertanya pada Veri. Kemarin ke Pindad gak? Kenapa bukan aku yang ditanya?

Kenapa pula aku ingin mendapat perhatiannya? Biarlah yang penting aku akan selalu memberi perhatian padanya. Aku hanya ingin  memperhatikan temen-temen dan semua umat manusia. Aku akan selalu menghargai, memuji dan menyenangkan orang lain semuanya.

Ada kuliah hari Selasa, Pengantar Manajemen. Selesai kuliah kamipun pulang. Kami pulang menuju depan kampus. Kata mereka di aula sedang ada perlombaan menyanyi.

Disana tak sengaja aku bertemu Eka. Dia juga sama sepertiku lagi mencari bahan teori kompetensi. Lalu ketemu Oskar. Lalu aku dan Eka menonton bersama lomba menyanyi, tapi cuma sebentar. Karena dia lapar, dia mau pulang untuk makan. Dia mengajakku dan Dudi main ke kosannya. Kami ingin tahu tempat kosannya, yang katanya dari cukup dekat dari ruang kuliah Fakultas Syariah.

Ketika lagi di jalan ada yang menelpon Eka. Katanya Hilman, yang lagi ngedeketin Lia, sahabatku, saudaranya Eka. Ternyata Lia tuch banyak yang mau. Ada Iwan, sekarng kutahu Hilman, mungkin termasuk aku. Lia bilang dengan Iwan itu gak ada hubungan apa-apa, cuma sekedar teman.

Dari gedung Fakultas kami terus jalan menuju belakang pojok gedung kuliah. Rupanya disanapun ada lubang pintu keluar yang sama persis seperti lubang pagar menuju kosan Siti Nuraeni. Pagar benteng yang mengelilingi area kampus, disana-sini banyak jalan setapak sebagai jalan singkat menuju asrama di area luar lingkaran kampusnya.

Sampailah kami di kosan Eka-Lia, dua bersaudara. Disana sudah ada Lia yang katanya baru pulang dari Ciparay. Dia sedang bersama Rurri, teman sekelasku MKS-C. Berbincang-bincang dan makan bersama. Akupun ingin tahu bagaimana dengan Iwan. Katanya Iwan begitu perhatian, masa harus dibalas kekecewaan, tandasnya. Kalau orang lain memberi perhatian, aku juga harus memberi perhatian. Begitulah ungkapnya waktu aku main ke kosannya.

Dia juga bilang dia tak mau pacaran. Akupun demikian. Lebih baik langsung menikah saja. Aku cuma ingin menjadi sahabat dia saja. Sahabat yang selalu memberi perhatian kepada setiap orang. Aku berjanji aku ingin menabur kebaikan di manapun.

Dari kosan Eka dan Lia, aku dan Dudi langsung menuju bunderan untuk pergi ke Bapusda. Sekarang kemana-mana dengan Dudi terus. Kucari-cari lagi teori kompetensi, tetep tak kutemukan. Harus mencari di internet, tapi data dari internet katanya tidak syah dijadikan referensi. Disana kucari pula referensi untuk tugas Pengantar Bisnis yang belum selesai.

Hidup ini jalani saja.  Sorenya sepulang dari Bapusda mau ke kolam renang Al-Ma’soem Rancaekek. tapi tak jadi karena sudah keburu sore. Kamipun pulang menuju kosan dan berbering menyembuhkan kelelahan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori