Oleh: Kyan | 23/12/2004

Hari Ibu, Pengorbanan Ibu

Kamis, 23 Desember 2004

Hari Ibu, Pengorbanan Ibu

**

Gemuruh gaduh. Obrolan diantara kami membuat gaduh setiap kali ada pergantian mata kuliah satu dengan mata kuliah selanjutnya. Seperti sewaktu kecil, dulu entah apa yang kami bicarakan sehingga suasana kelas dan madrasah menjadi riuh gaduh. Membuat guru mengajiku, guru SD-ku, bahkan mungkin dosen kami dibuat marah dengan ulah kami yang terus saja mengobrol.

Kuingat dulu guru mengajiku sampai membanting lampu tempel sebagai sumber penerangan mushala tempat mengaji kami. Kalau guru sekolah dan dosen, mereka mengajari kami karena memang ia dibayar kami dan pemerintah. Pengajar sekolah dan kuliah adalah jabatan struktural yang ada SK-nya dari pemerintah. Sedangkan guru mengaji kami hanyalah jabatan cultural yang mungkin SK-nya dari Allah dan gajinya pun karena Allah.

Maka disela-sela pergantian jam kuliah, akupun mengobrol dengannya. Uly Ajnihatin bertanya padaku, “Udah bilang selamat belum pada Ibumu, kan kemarin hari Ibu?” Oh iya aku lupa 21 Desember adalah hari Ibu. Tapi kenapa dia bertanya seperti itu padaku. Apakah diapun melakukan apa yang sudah ditanyakannya padaku?

Lalu kujawab sudah. Tapi aku menelepon ibuku bukan untuk mengucapkan selamat hari Ibu. Aku cuma mau minta uang buat modal usaha. Aku hanya meminta modal doang. Meminta buat makan enggak kuminta. Aku mau beli printer Canon untuk rental computer Aya Sophia-ku. Untuk aku punya penghasilan yang dengannya aku menyambung kehidupan.

Lalu sorenya kucek ATM, belum ada kiriman. Masih dalam kesusahan mampu membeli printer. Hidup semakin hari semakin merugi saja, bahkan celaka. Tanpa bisa berdoa memohon kemudahan dalam setiap sujud salatku. Aku selalu tak sempat salat Tahajud. Salat Duha pun belum istikomah. Bangun masih kesiangan terus. Bahkan baca buku jarang sekarang. Kok, kenapa ini semua tak sempat kulakukan? Maka pantas saja hidup merasa tanpa ada kebahagiaan. Terus membuncah resah berkecamuk di sanubari. Karena sudah jauh dari Tuhan.

Tugas Pancasila menyusun makalah tentang kompetensi belum selesai juga. Untuk segera aku mengerjakannya, begitu selesai kuliah Pengantar Akuntansi aku lansung pulang. Biasanya aku bersantai-santai dulu atau mengobrol dulu sebentar dengan teman-teman kelas. Tapi aku langsung ngacir pergi. Aku ingin mulai membangun hidup dispilin.

Malam hari aku jalan-jalan ke depan kampus. Menikmati remang malam sambil kucoba lagi mengecek ATM. Bukan Anjungan Tunai Mandiri, tapi Artos Ti Mamah sebagai singkatan ATM. Dan alhamdulillah syukur kupanjatkan pada Allah, ibuku sudah mengirim Rp.400.000,- cukup kata temanku buat beli printer Canon seken.

Harga printer Rp. 425.000,- masih kurang sedikit. Lantas buat makan bagaimana dan darimana kalau semua uang dari ibu dipakai buat beli printer. Buat bekal makan semoga cukup dari penghasilan orang mengeprint dan rental komputer.

Aku ingin segera bergegas pergi ke Kandaga Komputer. Aku ingin tahu pusat barang-barang seken computer yang bernama Kandaga Komputer. Pusat komputer yang kutahu hanya Plaza Komputer di Kosambi Cikudapateuh.  Tapi Kandaga Komputer tempatnya di Cicadas Cicaheum. Kata orang-orang semua barangnya seken banyak pilihan.

Nanti Senin aku hendak kesana untuk memilih-milih atau langsung membelinya. Ingin segera kumiliki printer yang akan memuluskan usahaku meraih penghasilan lumayan besar. Semoga tak ada aral rintangan dan dilancarkan dalam mewujudkannya untuk segera aku kesana di hari Senin![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori