Oleh: Kyan | 25/12/2004

Dari Buku Fotokopi Menjadi Sarjana Fotokopi

Sabtu, 25 Desember 2004

Dari Buku Fotokopi Menjadi Sarjana Fotokopi

**

Tak menulis beberapa hari serasa ada yang kehilangan. Seharian penuh duduk di depan komputer. Tanpa lelah terus mengerjakan tugas-tugas kuliah yang kian hari kian memberondong kami tiada henti-henti. Meski sebenarnya anak diploma tak perlu banyak-banyak berteori. Tapi harus lebih banyak praktik di lapangan.

Tapi kami pun berbangga diri. Meskipun anak diploma tapi taraf pengetahuan setingkat sarjana. Secara keilmuan ekonomi syariah berani beradu dengan kakak jurusan kami, Muamalah. Keberanian bukan tanpa sebab. Mahasiswa MKS lebih banyak menerima muatan keilmuan ilmu-ilmu ekonomi. Kami dituntut untuk dapat menjabarkan dalam makalah tentang Fiqh Muamalah sebagai ilmu-ilmu dasar syariah dan Mikro-Makro Ekonomi sebagai dasar pengetahuan ilmu ekonomi.

Juga dasar-dasar manajemen, buku yang yang direkomendasikan adalah buku Manajemen-nya Mamduh. Baru saja beberapa hari kumiliki sekarang sedang dipinjam Uly Ajnihatin. Tak apalah berbuat baik pada teman kelasku sendiri. Aku pun memfotokopinya dari Yedi.

Muncul rasa sesal juga kenapa tidak kubeli saja yang asli. Meskipun sedikit lebih mahal. Mempelajari ilmu dari buku bajakan, nantinya ilmunya tidak barokah. Apa itu namanya menguasai ilmu dari buku bajakan, dari buku-buku hasil fotokopi. Bagaimana itu hukumnya membajak buku. Meski alasannya demi ilmu.

Bukunya terlalu tebal dan kurang pantas terlihat kalau dipajang diantara buku-buku lainnya. Di rak buku berderet hampir semua buku-buku asli, kok terselip buku hasil fotokopi. Memang sedikit bisa menghemat pengeluaran, tapi perbuatannya sungguh memalukan.

Jumat depan ada UAS Bahasa Inggris. Aku harus sungguh-sungguh belajar buat mempertahankan nilai A sebagai hasil akhir. Tapi bagaimana bisa konsentrasi belajar kalau tugas makalah belum selesai kukerjakan. Tapi sekarang aku harus fokus pada Bahasa Inggris.

Semakin hari aku semakin celaka. Hari kemarin dan hari ini sama saja tak pandai mengatur waktu. Mau ikut mentoring LDM tak jadi. Begitu aku datang ke Masjid Iqomah, eh udah dimulai. Sebenarnya aku tidak ingin melulu kuliah. Aku ingin aktif di LDM, ikut nimbrung di berbagai kegiatan mahasiswa. Tapi sekarang malah pulang lagi. Mumpung ada waktu, malah begini.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori