Oleh: Kyan | 30/12/2004

Berkejaran Dalam Hujan

Jum’at, 31 Desember 2004

Berkejaran Dalam Hujan

**

Di hari terakhir tahun 2004, kurenungkan kembali apa yang telah kulakukan. Salah satunya gak bisa dipungkiri bahwa hubungan keluargaku semakin retak. Kakakku dengan kakakku yang lain sedang tidak harmonis hubungannya. Aa Miftah, kakakku yang pertama sampai sekarang masih belum akrab lagi sama kakakku yang kedua, Aa Dede. Entah karena apa. Apakah karena dulu ketika di Bali?

Masih kuingat dulu sepanjang perjalanan dari Tasik menuju Bali dan kembali lagi, dua kakakku sering cekcok. Maksudnya kakakku yang pertama ingin menasihati kakak keduaku tentang hidup, tentang perjuangan yang katanya tak perlu ongkos uang. Hanya asalkan kemauan.

Mungkin kakak keduaku, Aa Dede seperti tak menerima nasihat kakakknya. Semestinya kakak pertamaku mengayomi dan menyayangi. Bukan menggurui tentang apapun yang semestinya. “Aya nu nuduhkeun jeung aya tujuanana” begitu kata kakak keduaku menimpali segala omongan-omongan kakakknya.

Dulu ketika itu aku hanya diam saja memperhatikan mereka. Hanya kurekam bagaimana mereka beradu mulut mempertahankan keegoisannya masing-masing. Apakah sejak saat itu mereka akhirnya jadi tak sering bercengkrama? Karena kulihat sebelumnya mereka akrab dan sering bersama.

Dan kakak pertamaku belum lama ini juga berantem dengan kakak ketigaku, Teh Neneng. Mulanya hanya gara-gara masalah membeli rumah dan harta warisan. Uang simpanan kami, terutama dari ibuku dibelikan rumah oleh kakak pertama. Tapi rumah yang dibelinya membuat kami kecewa atas pilihannya. Begitu juga kecewanya kakak pertamaku pada kakak keduaku karena sudah menggadaikan barang-barang peninggalan bapak kami.

Semuanya pada egois sih. Karena kurang komunikasi akhirnya mengakibatkan kesalahfahaman. Keluargaku itu hartaku yang penting. Merekalah orang-orang yang menjadi harapanku. Namun melihat semua itu, aku ingin menangis saja melihat semua yang terjadi. Lebih baik aku diam, dan mungkin pergi meninggalkan mereka.

Tahun ini kutekadkan aku kuliah untuk masa depanku dan masa depan keluargaku. Lebih baik aku kosentrasi kuliahku. Aku harus jadi pengusaha sukses atau eksekutif muda. Jadi orang kaya harta dan hati, biar aku bisa menolong keluargaku, saudaraku, dan familiku. Karena akulah satu-satunya tumpuan harapan mereka, begitu kakak pertamaku menasihatiku. Aku harus bekerja keras untuk menjadi orang sukses. Aku harus belajar, belajar, dan belajar.

Tapi aku tak boleh menangis dan bersedih lagi. Setelah kutunaikan shalat Jumatan, terburu-buru aku ke kosan Lia-Eka di Manisi. Kuingin menghilangkan ingatan tentang keluarga dengan banyak bercengkrama dengan Lia-Eka. Memang hari ini hujan terus mengguyur Cibiru. Meskipun hujan tapi aku sudah janji sebelumnya. Pokoknya aku harus ke kosan mereka. Maksud aku ke kosan mereka, karena tempo hari Lia meminta bantuanku supaya dikirimin e-mail tugas Manajemen.

Sampailah aku di kosan mereka. Tapi tak lama aku disana, karena harus segera ke perpustakaan untuk mencari referensi lagi. Lia mau memberiku uang ongkos, karena katanya aku sudah membantunya. Tapi kutolak pemberiannya.

Lia terus mengejarku sampai dekat pintu menuju kampus. Tetap keukeuh dia ingin memberikan uang padaku buat membayar warnet. Kutolak, karena kupikir mengirim e-mail paling seberapa biayanya.

Aku dan dia berkejar-kejaran di bawah keriuhan gerimis hujan. Padahal aku ikhlas, mau membantunya. Tak ada maksud lain selain ingin menjadi sahabatnya yang sejati. Apakah karena dia cantik karena itu aku ingin membantunya? Kuakui dia memang menawan dan rupawan. Pantas saja di kampus dia banyak gebetannya yang statusnya diatasku. Aku hanya ingin menjadi sahabat yang sejati. Titik.

Sampai di bunderan Cibiru. Sebelum ke tempat mampir Damri, aku mau mampir dulu ke kosan Uly. Soalnya tadi aku sudah janji mau ke kosannya. Maka dengan gontainya aku menyusuri lorong yang sedikit gelap untuk sampai di kamarnya. Begitu aku menampakkan muka di pekarangannya, Astaghfirullah.

Astaghfirullah.

Dia sedang tak pakai kerudung. Salahku main nyelonong saja masuk tanpa mengetuk dan mengucapkan salam. Kulihat rambutnya yang sebahu, lurus tapi sedikit bergelombang. Potongan seperti laki-laki.

Jika kubayangkan lagi, pesona kecantikannya terlihat. Rezekiku bisa melihatnnya. Melihat dia sedang tanpa memakai kerudung. Maksudku ke sana, mau meminjam uang Rp. 50.000,- buat beli buku Makroekonomi. Dia mengulurkan tangan bersedia mau memberiku pinjaman. Soalnya ada tugas pengantar UAS, tapi referensinya belum ada. Dan aku sedang tak punya uang buat membelinya.

Setelah kuperoleh rezeki, Damri pun membawaku menuju Bapusda, Badan Perpustakaan Daerah di Soekarno-Hatta. Mungkin karena melamun, eh malah kelewat sedikit tempat yang dituju. Terpaksa aku harus berjalan kaki kembali menuju Bapusda. Begitu sampai pintu utama, kukira sudah tutup, karena suasana sangat sepi. Kuberjalan lebih dekat, ternyata masih buka kantornya dan maih menerima pengunjung meskipun jam sudah menunjukkan kira-kira jam tiga lebih.

Dengan terburu-buru aku masuk ke tempat pengembalian buku. Setelah selesai urusan, kuputuskan aku belum mau lagi pinjam buku, soalnya sedang kujalani UAS. Pulang dari gedung perpustakaan daerah, kuputuskan berjalan kaki yang tujuanku mau diteruskan ke Pindad. Mungkin jaraknya sejauh satu kilometer. Lalu diteruskan lagi sampai di Buahbatu. Biar hemat ongkos alasanku.

Rencanaku hendak ke Palasari, membeli buku Makroekonomi dan Tafsir Fi Zhilalil Quran. Karena aku sudah berjanji mulai tahun 2005 aku mau baca buku Tafsir. Uang yang kupinjam dari Uly Ajnihatin habis buat membeli dua judul buku. Buat makan, nanti saja lagi kupikirkan. dan pulang dari Palasari tersisa cukup untuk ongkos saja.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori