Oleh: Kyan | 02/01/2005

Gempa dan Tsunami Perubahan

Minggu, 02 Januari 2005

Gempa dan Tsunami Perubahan

**

Di malam tahun baru, mungkin banyak orang sedang berada di jalan-jalan, di tempat-tempat keramaian, di tempat-tempat sepi kelam, atau dimanapun berada untuk menyambut tahun baruan. Tapi aku melewati malam tahun baru hanya di kosan saja bersama teman-teman. Banyak tugas kuliah yang harus kami selesaikan. Demi sebuah tugas kuliah, sampai Robbi, Dudi, dan Echa, sebagai satu-satunya perempuan yang terpaksa pernah menginap di kosanku. Karena kami ingin mengerjakan tugas secepatnya.

Selama setahun ini aku sudah menulis catatan harian sangat terasa manfaatnya. Aku merasa hidup semakin terarah, hati menjadi terang, dan segalanya dapat aku curahkan pada sebuah tulisan. Kata Fatimah Mernissi, sediakan waktu 15 menit setiap hari untuk menulis, niscaya akan menyehatkan tubuh dan pikiran. Dapat mengancangkan kulit, dan membuat awet muda.

Sekarang setiap hari di sela-sela aku mengerjakan tugas kuliah, aku selalu ingin menyempatkan waktu menulis catatan minimal satu halaman buku ini. Ingin menjalaninya dengan konsisten dan gak boleh seperti kemarin. Sudah tiga atau empat hari baru menulis. Sekarang kalau gak menulis serasa punya hutang. Hutang kan harus dibayar.

Malam tahun baru 2005 harus menjadi momentum perubahan menuju yang lebih baik. Apalagi kemarin terjadi gampa bumi dan tsunami di Aceh dan Sumatra Utara. Patut menjadi renungan apa yang terjadi di bumi Serambi Makah. Hari ini terjadi bencana di ujung jauh Nusantara, mungkin esok lusa akan terjadi disini. Bahkan mungkin aku sendiri mengalami dan menghadapi bencana besar yang memporak-porandakan kenyataan.

Bencana ini membawa hikmah. Biasanya tahun baru dirayakan dengan penghamburan uang, berpoya-poya, dan hura-hura. Sekarang uang alokasi itu disumbangkan kepada korban bencana gempa—Mendengar bencana gempa, jadi teringat lagu Abiem Ngesti, penyanyi kesukaanku waktu kecil. Dia menyanyikan lagu judulnya Gempa. Lagu itu muncul ketika di bumi Nusantara banyak terjadi gempa dan tanah longsor dimana-mana.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah aku harus menyumbangkan apa? Materi, aku juga kadang makan kadang enggak. Sekarang aku mau ngorbankan segala daya untuk menuju perubahan diri. Setidaknya aku sudah menuliskan peristiwa besar itu agar menjadi ingatan dan permenungan bagi siapa saja untuk selalu waspada dan eling pada Tuhan Maha Pencipta.

Bergantinya tahun aku harus lebih baik. Aku harus menjadi orang berguna. Aku harus rela membantu sesama. Mulai sekarang aku harus sungguh-sungguh, melakukan sesuatu secara optimal, dan terus belajar tanpa kenal henti. Agar aku bisa membawa perubahan pada agama dan bangsa ini. Sudah lama keterpurukan bangsa, agama dan hati ini melanda hidup kami. Hidupku harus membawa perubahan dan yakin usaha sampai.

Membawa perubahan dengan terus belajar dengan segala tetek-bengeknya. Hari-hariku menjadi sibuk dengan mengerjakan tugas. Karena berpikir tugas Pengantar Manajemen gak akan selesai hari Sabtu, akhirnya benarlah tidak selesai di hari Sabtu. Memang semua tergantung dan kembali pada pemikiran.

Tugasku sendiri harus dikerjakan sejak Sabtu sampai Minggu. Membuat Minggu ini aku tak bisa ke mengaji ke Pindad dan kursus Bahasa Inggris dan Jepang. Bagaimana caranya berpikir bahwa aku bisa, pasti bisa sejak alam bawah sadarku. Sepertinya aku perlu membaca lagi buku ”Berpikir dan Berjiwa Besar”-nya David Schwarz dan Berpikir dan Menjadi Kaya”-nya Napoleon Hill. Janji pertama yang dipenuhi nanti selepas beres UAS aku harus membaca tafsir Fi Zilalil Quran dapat terlaksana, maka bila kupikir ini bisa dilakukan, maka akan terlaksana.

Aku harus banyak membaca dan terus membaca buku diktat kuliah. Di Minggu pagi aku sudah sibuk mengetik tugas. Tinggal merampungkan dan memperbaiki tata letak kata dan kalimatnya. Alhamdulillah sebelum Dzuhur sudah selesai dan langsung aku bergegas pergi ke warnet untuk segera dikirimkan melalui e-mail. Dosen yang sekaligus ketua jurusan kami menyuruh tugas yang dikerjakan dikirim ke kafabil@yahoo.com.

Sebelum Dzhuhur Deri tiba di kosanku mau ikut mengeprin. Alhamdulillah dia membayar, sehingga hari ini ada pemasukan. Setelah Dzhuhur Dudi pun datang yang sudah janjian dengan Echa bertemu di kosanku. Dudi mau memberikan buku Manajemen Mamduh pada Echa.

Maka tak begitu lama Echa pun datang sambil membawa makanan. Syukur Alhamdulillah sampai hari ini tetap kuperoleh makan. Tadi pagi aku takut kurang uang buat bayar Warnet. Makan pun cuma pakai sayur singkong saja. Tak apa yang penting ada gizinya. Allah sangat sayang pada hamba-nya melebihi kasih sayang ibu terhadap anaknya. Melebihi rasa kasihan wanita pelacur melihat anak kecil menangis ingin menyusui, lalu wanita tersebut memberinya susu. Meskipun dia tidak mampunyai air susu, tapi dia cuma menempelkan mulut anak kecil itu pada teteknya.

Pulang dari Warnet aku mampir ke kosan Wati. Tapi dia sedang tidak ada di tempat. Lalu akupun pulang dan di kosan sudah ada Rurry. Dia meminta tolong padaku untuk menyelesaikan tugasnya dia. Masih tugas Pengantar Manajemen. Di kosanku Echa mengetik sampai jam sembilan malam lewat.

Aku harus melindungi kehormatan para perempuan, makanya takut ada apa-apa dengan Echa, terpaksa aku antarkan dia sampai Riung Bandung. Kami pun turun di belokan menuju rumahnya. Dia pulang naik ojek dan aku kembali lagi. Berbuat baik kapan lagi kalau tidak sekarang. Maka jadilah sahabat sejati untuk mendapatkan sahabat sejati![]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori