Oleh: Kyan | 09/01/2005

Dudi-Aku Ditilang Polisi

Minggu, 09 Januari 2005

 Dudi-Aku Ditilang Polisi

**

Biasanya hari Minggu aku mengikuti pengajian di masjid Pindad, tapi karena mau UAS, aku mau rileks dan konsentrasi dulu pada persiapan UAS. Pokoknya dalam seminggu ini harus belajar. Hari ini pokoknya mengerjakan tugas harus rampung. Dan ternyata selesai juga aku mengerjakan. Berarti kalau kita pikir sanggup, ada keyakinan sanggup, maka hal itu sanggup dikerjakan. Kalau tidak sekarang kapan lagi aku persiapan menghadapi UAS.

Terasa lega hati ini kalau semua tugas sudah beres. Hari ini aku ingin fokus mereview bahan-bahan kuliah. Besok Senin mulai UAS tapi kok belum persiapan. Aku jangan sampai menyia-nyiakan pengorbanan kerja keras, kerja siang malam seorang ibu yang aku sayangi.

Dengan keadaan sudah paceklik begini, aku jadi ingat pada ibuku. Aku menelepon ibu mau minta dikirim uang. Tapi ibunya sedang tidak ada. Maka kutunggu saja Dudi yang mau datang ke kosanku. Aku mau meminta tolong padanya. Tapi ditunggu lama, dia belum kunjung datang. Lebih baik aku menanak nasi dan sambil menunggu masak, aku pergi mandi.

Dan syukur alhamdulillah aku masih diberikan kekuatan untuk bisa salat Duha. Sudah lama aku tidak sempat atau tidak menyempatkan waktu untuk salat Duha. Bukankah aku ingin dimudahkan rezeki? Katanya harus memperbanyak salat Duha, karena Allah dan mengharap ridha Allah.

Sambil komputer dimaintenance wizard, aku pergi belanja ke Ahad-Net habis Rp. 40.000,-, membeli minuman tradisional buat dijual lagi. Lalu pulang lagi ke kosan untuk belajar persiapan UAS. Aku lagi buka-buka bahan kuliah, datanglah Rurri Masruroh yang meminta bantuanku mengerjakan tugas Bahasa Indonesia.

Sambil mengerjakan tugas, dia bercerita banyak tentang kehidupannya. Aku membiarkan dan memancing orang yang datang padaku untuk banyak cerita tentang dirinya. Pokoknya setiap orang yang aku temui akan kugali ilmunya. Dengarkan dengan aktif dan jangan potong pembicaraannya. Jangan menampakkan diriku yang sok tahu segalanya.

Lagi mengetik tugas, orang yang ditunggu pun datang. Dudi yang mau ikut mengetik tugas Fiqh Muamalah. Tapi kupinta dia mengantarku dulu ke Ujungberung untuk mengecek ATM. Kubiarkan Rurri ditinggal di kosan untuk melanjutkan ketikan tugas. Meskipun hujan terus-menerus tak menyurutkan kami pergi ke Ujungberung. Dudi sudah berbaik hati mau mengantarkanku dengan motornya.

Meskipun nahas sepulang dari ATM BCA, ujian datang menimpa kami. Motor yang kutumpangi Dudi dan aku dicegat dan ditilang polisi. Baru kali ini aku mengalami kejadian ini. Ini salahku gak pakai helm.

Dalam sidang di tempat, kami harus bayar Rp. 30.000,- lalu polisi mengajak Dudi mengajak ke tempat tersembunyi. Karena Dudi jago negosiasi, akhirnya cuma bayar Rp. 10.000,- Ini jadi pelajaran berharga bagiku. Aku yang salah tidak pakai helm, tapi Dudi yang rela mengeluarkan uang. Bukankah aku sudah punya uang. Ibuku sudah mengirimkan bekal.

Makasih ya ibu. Ibu sudah berkorban banyak terhadap anakmu. Allah, lindungi dia, ampuni dia, ampuni kesalahan-kesalahannya. Tapi ayahku dimana sekarang? Moga Allah pun melindungi keselamatannya. Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Semuanya takdir Allah, ada hikmah dibalik segalanya.

Aku jangan mengingat-ingat kejadian yang sudah-sudah. Buktinya disaat aku sedang butuh uang ibuku sudah mengirim. Jangan ada prasangka ibu tak sayang padaku. Aku jangan mengingat lagi kejadian-kejadian kecil dulu.

Bila sewaktu kecil kayak ditinggal begitu saja, tak diberi sentuhan kasih sayang bukan berarti ibu tak sayang padaku. Usia belum sekolah sudah sering ditinggal ke Jakarta itu demi anaknya. Sejak kelas 2 SD sampai kelas 1 SMP, baru Ibu pulang dari Batam itu karena sayang pada anaknya. Meski baru saja dua minggu di kampung sudah berangkat lagi itu karena persoalan lain.

Memang sejak itu sampai kelas 3 SMU baru dia pulang lagi. Waktu aku lulus SMU, setelah setengah tahun aku jadi pengangguran di Bandung, tanpa kejelasan tempat tinggal, akupun ikut ke Batam. Di sana tinggal bersama ibu, sering sekali aku dibuat kesal dengan sipat Ibu yang pemarah. Seharusnya aku tuch sabar menghadapi sifat ibu itu. Aku saja telah terlalu banyak menyinggung perasaan Ibu.

Maafkan sekarang aku Ibu! Makanya sekarang aku ingin jauh saja dari ibuku. Ada jarak tempat yang memisahkan aku dengannya, supaya aku tak dapat lagi meyninggung perasaannya. Aku bisa menghindari durhakaku pada ibu.

Pulang dari Ujungberung, kami langsung ke kosan Uly. Aku mau membayar hutangku padanya. Dudi menyarankan bayarnya Rp. 10.000,- dulu saja dan dia pun bilang tidak apa-apa. Dia bersedia memberi tenggat waktu. Makanya kubayar saja Rp. 20.000,- dan sisanya nanti.

Tapi selalu kuingat hutang itu. Jangan ditunda-tunda, nanti bakal menjatuhkan harga diriku. Menunda-nunda bayar hutang itu dzalim. Kalau sudah sanggup membayarnya kenapa harus menunda-nunda. Nanti 15 Januari mau melunasinya segera.

Lalu kami pun pulang. Di kosan sudah ada Dian MKS-A. Dia mau mengeprint. Alhamdulillah, ada pemasukan. Sorenya ada Robbi, dia banyak cerita tentang masa lalunya. Kehidupan hitam, bergelut dengan dunia kejahatan dan dia sekarang mau taubat, bener-bener taubat. Namun katanya sekarang ada rindu dengan barang-barang yang namanya ganja, karena gak ada aza. Ya Allah jangan sampai dia kembali seperti dulu. Lindungi sahabatku ini!

Sampai sore masih dalam hujan rintik-rintik. Di kosan sudah ada Rurri, Dudi, Dian dan sekarang datang gerombolan Deri, Hilman, Oskar, dan satu lagi lupa namanya. Oskar mau pinjam buku. Tapi dia bilang kalau Rp. 1.000 per buku terlalu mahal. Kalau Rp. 500,- per buku baru standar. Masukan yang bagus sekali.

Namun setelah dipikir-pikir lagi, aku mau tetap pada ketetapan semula. Soalnya sudah banyak bilang segitu sudah terlalu murah dibandingkan dengan harga buku yang mahal. Baru Oskar saja yang bilang kemahalan.

Lalu Deri mau pinjam buku Makro Ekonomi, tapi sedang dipinjam Siti Nuraeni. Karena dia sangat membutuhkan, aku dan Deri sambil hujan-hujanan datang ke kosan Siti Nuraeni. Pulang dari sana mampir ke adikku, Lia. Karena jaraknya lumayan dekat dari kosan Siti Nuraeni dengan Lia yang masih di jalan Manisi. Wah ini hampir tiap hari aku kesana.

“Tugas BI sudah dikerjain belum,” tanyaku. Jawabnya belum, nanti malam mau dikerjakan. Rupanya di ruang tamu sedang ada cowok bersama dia. Tak kupungkiri hati ini dan bertanya-tanya siapakah gerangan.

Rupanya begitu kami datang, si cowok itu pamitan. Setelah berlalu pergi cowok itu, kutanyakan pada Eka siapakah dia. Katanya namanya A’ Endan, orang Ciparay. Kenapa aku mesti cemburu dan curiga. Bukanlah siapa-siapa Lia itu bagiku. Dia dimataku, dihatiku hanyalah temanku, adikku.

Lia tadi kelihatan sakit dan katanya belum makan seharian. Bagaimana caranya memberi perhatian pada perempuan. Tadi aku melakukan kesalahan. Sebelum pulang seharusnya aku bilang dan pamitan dulu ma dia. Dia kan lagi sakit, harus diberi perhatian dan perlindungan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori