Oleh: Kyan | 10/01/2005

Perkunjungan Perempuan Pertama

Senin, 10 Januari 2005

Perkunjungan Perempuan Pertama

**

Hari pertama menghadapi UAS. Ketika sampai di ruangan kelas, Uly sudah ada di sana. Aku segera menghampirinya. Dia langsung bilang mbak Ulfa di rumah sakit. Dia hanya bisa menangis di hadapanku sambil cerita keadaan terakhir mbak-nya itu.

Aku hanya terdiam mendengar setiap kata yang diucapkannya. Apa yang mesti kulakukan untuk memberi empati untuknya. Aku cuma bilang, sabarlah, ini sebuah ujian. Sekarang konsentrasi aza dulu ma UAS.” Kupikir seseorang itu cuma butuh didengarkan dengan penuh perhatian.

UAS BI memang gampang-gampang susah. Temen-temen pada kerjasama sedangkan aku hanya diam saja. Aku ingin menjadi mahasiswa yang mampu mempertahankan idealisme. Budaya nyontek adalah budaya yang dapat merusak masa depan bangsa. Buktinya banyak sarjana-sarjana di Negara ini, tapi banyak pejabatnya yang korup, moralnya bobrok.

Menurutku mereka itu tidak peka dengan suara hatinya. Mereka biarkan suara hati berlalu begitu saja, sehingga akhirnya tertutuplah hatinya. Keraslah hatinya. Aku tak mau jadi orang yang tidak peka dengan suara hati. Aku harus melatihnya dari hal-hal kecil untuk selalu mendengarkan suara hati.

Maka sebagai ungkapan hati, kukirim sms puitis pada seseorang sekedar untuk memberi semangat padanya. Pakai handphone Dudi, tanpa identitas yang jelas. Aku jadi seorang misterius. Melakukan hal-hal baru.

Tidak seperti biasa di kampus aku tak sempat ketemu Lia. Karena kami sama-sama sibuk sedang UAS. Sepulang UAS aku jalan-jalan dulu. Kucari-cari Lia, tapi gak bertemu. Terpaksa aku harus ke kosannya. Sekarang hampir setiap hari aku ke kosannya. Dia sudah janji mau ke kosanku hari ini.

Sampai di kosanku, ternyata anak-anak sudah pada sudah menunggu sejam lebih katanya. Kasihan sekali mereka harus menunggu tuan kosannya yang sedang ke kosan puteri. Aku malah enak-enakan jalan-jalan.

Di kosanku teman-temanku berkumpul mau mengerjakan tugas BI. Kosanku selalu rame dengan temen-temenku yang datang. Bagus buat jadi mitra hidupku. Bukankah orang sukses itu adalah orang yang bisa menjalin hubungan dengan setiap orang. Aku harus selalu ramah dan membantu setiap orang.

Sedang asyiknya ngumpul di kosanku, ada tukang pos mampir datang. Rupanya ada surat dari temen perempuanku di Batam, Wulan. Ternyata dia katanya lagi sedih dan kepingin main ke Bandung. Alangkah lebih bagusnya aku segera membalasnya.

Tak lama setelah itu, datanglah Lia dan Eka, dua bersaudari. Karena di dalam ada Putera lagi tidur, jadi mereka gak berani masuk.

“Cape banget” dengan nafas terengah-engah Lia berseloroh.

“Masuk aza” kataku.

“Gak ah, mau sebentar kok, mau ngasih ini aza” kata Eka.

“Gak istirahat dulu?” tambahku.

Geleng kepala mereka berdua.

“Eh, kalau Uly sering gak ke sini?” Tanya Lia dengan mimik penasaran dan penuh pertanyaan.

“Sering baget”, dengan entengnya aku menjawab. Aku mengawang-awang mencari maksud dibalik pertanyaan itu. Ada apa dibalik itu.

“Eh nanti kalau ada sesuatu, ke sini aza main” kataku.

Malam hari aku belajar dengan giatnya. Kira-kira yang bakal keluar soal Pancasila seperti apa ya. Ternyata info dari orang lain tuch mesti diperhatikan. Jangan dicuekin aza. Buktinya kisi-kisi soal Pancasila dari Dudi pada keluar. Ini jadi pelajaran.

UAS Pancasila aku tak nyontek. Jawabanku hasil imajinasi sendiri. Nanya juga Enggak. Ada yang ngasih tahu padaku tapi gak aku tulis, padahal itu bener. Tak apalah yang penting hasil ujian ini adalah hasil kerjaku sendiri. Walaupun pada salah, itu hasil tanpa nyontek, gak contak sana contek sini.

Aku sedang persiapan UAS Bahasa Arab. Di kosanku sedang ada Oskar, anak jurusan Manajemen Dakwah sedang asyiknya mengetik tugasnya. Aku mesti belajar otodidak. Kalau kita tekun dan rajin insya Allah aku bisa. Gunakan waktuku untuk belajar. Semalam tidur jam satu.

Oskar ngetik sampai jam 12 malam. Sebenarnya ada orderan tugas BI, tapi komputer dirental dulu saja buat menambah penghasilanku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori