Oleh: Kyan | 13/01/2005

Ketinggalan Kartu Ujian

Kamis, 13 Januari 2005

 Ketinggalan Kartu Ujian

 **

UAS Fiqh Muamalah teori semua. Kebanyakan hapalan. Aku mesti belajar bener-bener. Tapi gangguan selalu ada. Malah semalam nonton film, jadi belajarnya cuma sebentar setelah nonton film. Tidur jam 1 dini hari setelah menyempatkan diri belajar sedikit persiapan.

Pagi-pagi setelah shalat shubuh, baru aku belajar serius. Belajar itu harus fokus. Percuma belajar lama kalau gak kosentrasi. Nanti hasilnya gak maksimal. Lebih baik belajar sebentar tapi konsentrasi penuh.

Sampai di kampus, Uly sudah ada di kelas. Rajin sekali dia selalu cepat sampai di kelas mendahului aku. Ketika mau dimulai ujian, kucari-cari kartu ujian. Astaghfirullah, ketinggalan. Aku langsung bilang kartu ujianku ketinggalan dan langsung melesat lari ke fakultas untuk meminta kartu pengganti.

Omongan Pak Ketua Jurusan gak begitu jelas. Malah bertanya punya pulpen warna hitam gak? Aku gak bawa pulpen, terpaksa harus lari lagi ke kelas. Ini pelajaran kalau kemana-mana harus bawa pulpen dan sekalian dengan kertas kecil. untuk menuliskan ide-ide yang berseliweran di otak. Karena kalau gak segera ditulis nanti lupa dan hilang begitu saja.

Meskipun tadi ada masalah, aku puas mengerjakan ujian. Karena dalam soal ujian ada soal argumen, apakah uang itu harta? Sebelumnya aku pernah baca buku karya Adiwarman tentang itu, jadi aku bisa jawab.

Pulang dari kelas bareng Verry dan Uly. Di jalan aku ketemu Lia dan Eka yang sedang nongkrong depan UKM. Mereka mengingatkanku bahwa mereka mau ke kosan besok sore. Dan sambil melangkah pergi Lia mengatakan padaku, “Salam ya buat kakak iparku”. Pikirku buat Uly mungkin. Karena di kelas sudah tersiar bahwa dengan segala gerak-geriknya aku dikatakan punya rasa ketertarikan padanya.

Sampai depan kampus, anak-anak MKS pada nongkrong. Jadi ingat masa SMU kelas 1 yang biasa nongkrong di pinggir jalan. Hanya sekedar diam, ngobrol ngalor-ngidul. Nongkrong boleh, tapi harus tahu waktu, begitu pikirku.

Main ke tempat Veri di Ujungberung. Dia tinggal di Masjid milik ormas Persis. Dia memang warga Persis tulen, termasuk fanatik. Pulangnya kucek ATM, buat bayar hutang ke Uly. Banyak hutang aku ini.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori