Oleh: Kyan | 21/01/2005

Menulis Adalah Menyembuhkan

Kamis, 21 Januari 2005

Menulis Adalah Menyembuhkan

**

Menulisku pagi ini kumulai dengan mengucap syukur Alhamdulillah atas karunia ini. Satu nikmat yang tak terkira ketika sekarang aku bisa bangun sepertiga malam untuk salat Tahajud. Rasanya damai membasuh jiwaku yang kering, tenang dan tentram hatiku dikala hening menjalar menuju keriuhan pagi. Ini semua atas izin Allah aku bisa terbangun lagi dari setengah kematianku.

Malam hari kubaca tafsir Fi Zhilal. Aku rasa kalau bangun pagi dan ketika mau tidur, sebelumnya harus kubaca tafsir dulu. Sebagai bukti kecintaanku pada Al-Quran. Membaca Alquran untuk melembutkan hati sebagai pendakian spiritual batinku.

Alhamdulillah syukur aku bisa bangun dengan begitu mudah. Sebab biasanya akhir-akhir ini aku selalu bangun kesiangan. Bahkan salat shubuh pun tak jarang sering jam enam. Sering begitu malunya aku pada matahari.

Semalamaku tidur jam satu larut. Mengutak-atik Power Point yang sungguh menyita waktu. Bermain-main computer selalu menambah penasaran terus. Gak terasa ketika melihat jam sudah jam 12 malam. Tanggung juga belum selesai pekerjaannya, maka dilanjutkan lagi. Gagal lagi, dan terus saja sampai Subuh hari.

Kulakukan shalat Tahajud dua rakaat, lalu mulailah aku menulis ini. Merangkai sebuah menulis sedikit demi sedikit dengan kontinyu. Bukankah itu yang disukai Allah sebuah amalan kecil tapi dilakukan terus-menerus niscaya menjadi gunung perubahan diri. Katanya istikomah itu susah. Tapi itu kembali kepada paradigma kita tentang diri sendiri. Klo kita bisa istikomah, kita bakalan bisa.

Menulis itu baik bagi pikiran, menyehatkan rohani juga jasmani. Menuliskan pikiran-pikiran besar si pengarang. Menuliskan kehidupan akan banyak sekali manfaatnya. Seperti kata Morrist Schwartz, pengidap penyakit Schizofrina bahwa membaca dan menulis akan menyembuhkan. Ia bertahan dalam penyakitnya karena banyak melakukan itu.

Karen Amstrong dalam bukunya, Menerobos Kegelapan menyatakan bahwa semakin berkualitas apa yang kita baca, apalagi yang dibacanya kitab suci, maka akan menghasilkan sesuatu yang berkualitas pula. Lalu kenapa banyak terjadi pembantaian umat manusia atas nama agama. Banyak orang yang rajin mengkaji kitab suci, namun kelakuannya mencerca, mencari-maki, dan merasa dirinya yang paling benar. Bukannya bertambah arif bijaksana dalam menyikapi sesuatu?

Yang salah bukan agamanya, tapi orang yang memaknai agamnya secara parsial, berbeda dengan apa yang diharapkan maksud adanya agama. Sudut pandang berbeda dan kesalahan dalam mengartikan arti simbol agama. Dari dulu sampai sekarang banyak terjadi peperangan. Mereka mengatasnamakan agama, yang oleh umat Muslim sebutannya berjihad.[]

***


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori