Oleh: Kyan | 02/02/2005

Meja Rental Komputer

Rabu, 02 Februari 2005

Meja Rental Komputer

**

Sudah dua hari aku gak menulis. Aku lupa. Aku gak konsisten. Aku harus menulis setiap hari. Jadi aku punya hutang menulis selama dua hari. Makanya sekarang aku menulis lebih banyak lagi paragraf demi paragraf.

Barusan aku bangun kesiangan. Padahal tadi sebelum Subuh aku bangun, sudah duduk tapi aku kenapa tertidur lagi. Aku menyesal sekali, kesel banget dengan ulahku bangun kesiangan. Padahal ada kesempatan untuk salat Tahajud dan salat Subuh berjamaah. Ini malah tidur lagi. Aku gak punya kekuatan, lemah dan tak berdaya untuk bangun sebelum Subuh.

Kalau ingin bangun sebelum subuh jangan makan setelah Maghrib. Harus merasakan lapar atau setidaknya tidak terlalu kenyang. Tadi malam juga aku lapar, aku sengaja gak membeli makanan sekalian mau menghemat. Karena uangnya aku mau membeli buku nanti di Book Fair Islamic dan Sains yang katanya ada diskon 50 persen. Tapi buku apa dulu, lihat saja nanti.

Jalan-jalan ke Toko Buku Gramedia Merdeka melihat banyak buku-buku bagus. Kalau aku punya banyak uang, akan aku borong jendela ilmu itu. Tapi apalah daya aku orang miskin. Bekal hidup cuma dari Ibu yang Singel Parent.

Tapi aku bukan anak yatim piatu, karena ayahku masih hidup. Tapi dimana ayahku? Kudengar kakakku yang ketiga memberitahuku tentang keberadaan ayahku yang katanya ada di Pangandaran. Gak tahu  apa pekerjaan ayahku saat ini. Yang aku tahu ayahku dulu masuk pada kumpulan orang-orang pemburu harta emas. Beliau tak banyak memberiku uang buat biaya hidup, biaya kuliah, apalagi kasih sayang.

Tapi mungkin sebenarnya dia sangat sayang padaku. Aku tak memungkiri itu dengan kejiwaan seorang ayah pada anaknya. Hanya keadaanlah yang membuat segalanya jadi begini adanya. Sehingga aku merasa seperti tak punya ayah. Punya ayah gak punya ayah sama saja bagiku. Namun yang aku takutkan adalah aku takut dianggap durhaka pada kedua orang tuaku, terutama pada ayahku.

Di Gramedia kutemui majalah Islamia. Aku ingin membaca dan membeli majalah Islamia, majalah pemikiran dan peradaban Islam. Bagus sekali majalah itu kumiliki. Ingin beli buku tentang Al-Ghazali dan novel Ayat-ayat Cinta terbitan Republika. Aku tak punya uang. Malu minta terus pada Ibuku. Akhirnya pulang dari toko buku Gramedia aku tak beli apa-apa.

Kucek ATM Muamalat, Alhamdulillah ibuku sudah mengirim uang buat registrasi, Rp. 450.000,- Bayar registrasi Rp. 300.000 dan sisanya buat bekal hidup. Sisanya ingin kupakai buat beli buku, tapi bagaimana dengan makan untuk sebulan ke depan. Kuhitung-hitung jika tetap beli buku apakah masih ada sisa buat makan.

Mau menelpon lagi ke Ibu, tapi malu minta lagi. Memang gampang cari uang. Susah tahu cari uang itu. Aku tahu sendiri, untuk menyambung hidup kami sekeluarga ibuku harus pergi pagi-pagi dan pulang larut malam, sangat malam menuju pagi. Aku takut jika begitu terus-terusan nanti kondisi badan ibuku jadi lemah. Ya Allah ampuni segala dosa ibuku dan lindungilah dia.

Tapi sekarang dalam rencana aku mau belu meja komputer untuk membuat nyaman rental komputer. Maka pagi-pagi di hari Rabu pikiranku aku ingin segera punya meja komputer. Pokoknya aku harus beli hari ini juga. Mumpung ada uangnya. Kalau ditunda uangnya bakalan habis. Tapi nanti buat makan bagaimana akupun tidak tahu. Akh bagaimana nanti saja, pasrahkan saja kepada Allah.

Sebelum berangkat pergi membeli meja komputer, kusempatkan salat Duhur aku bisa berjamaah di Masjid. Walaupun panasnya menyengat. Aku harus memenuhi panggilan Allah. Kalau ingin dikabulkan segala keinginanku oleh Allah, aku harus berusaha memenuhi kewajiban pada-Nya.

Maka jam dua aku berangkat ke jalan Sidomukti, dekat jalan Pahlawan. Memenuhi hasrat membeli meja komputer. Harganya gak bisa ditawar lagi tetap bertahan Rp.60.000,- Tak apalah lagi aku mumpung aku di sana.

Masih aku disana hujan mengguyur yang deras sekali. Jalan persimpangan Pahlawan banjir sampai batas tumit. Aku pulang naik angkot menjinjing meja komputer yang siap dirangkai begitu sampai di kosan.

Hanya pengalaman pahit saja tadi. Karena omonganku begitu pelan, sehingga kasir agak ketus padaku. Omonganku kadang gak dimengerti dan kurang jelas. Aku harus bicara keras, supaya terdengar. Kebiasaan dari kecil kalau ngomong pelan sekali.

Jadi teringat waktu SD ketika ditanya oleh kepala sekolah. Aku sering menjawabnya pelan. Kepala sekolah sering pergi saja merasa kesal. Soalnya omonganku gak jelas. Terus sewaktu di bus menuju kota Tasik aku dan kepala sekolahku mau mengambil beasiswa ditanya juga oleh kepala sekolah. Aku jawab pula dengan pelan, tidak jelas. Kepala sekolah bilang kalau ngomong yang keras. Kejadian itu masih teringat sampai sekarang. Masuk ke dalam memoriku.

Kalau bincang-bincang sama yang lain juga kadang-kadang aku jawab pelan dan tersendat-sendat. Sekarang aku harus memperbaiki kebiasaan yang jelek ini. Nanti kalau ngomong usahakan jelas dan perlahan-lahan, jangan cepat-cepat. Omonganku harus terdengar jelas oleh telingaku sendiri.

Hari ini kubaca buku tafsir dan mereview Ekonomi Syariah.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori