Oleh: Kyan | 03/02/2005

Tawaran Menjadi Marketing Mihdan Co.

Kamis, 03 Februari 2005

Tawaran Menjadi Marketing Mihdan Co.

**

Beribadahlah, Berakhlaklah, Belajarlah, Bekerja keraslah, Bersahajalah atau Zuhud, Bantulah sesama dan Bersihkan hati. Itulah prinsip 7B Aa Gym. Ingin aku mempraktikan tujuh prinsip ini dalam perilaku sehari-hariku.

Hari Kamis ini aku bayar registrasi kuliah dan cuma Rp.300.000,- aza. Rp 200.000,-nya belum buat biaya praktik. Maka jam sepuluh aku berangkat ke kampus. Di jalan ketemu Puri, Ida dan Rini. Mereka sudah selesai bayar registrasi. Lalu aku ketemu temen kosan, Ajat. Lalu bertemu Uly dan Echa.

Uly bertanya padaku bagaimana tawaran marketingnya. Mbak Ulfa nanyain terus, katanya. Keputusan diterima enggaknya ada di tangan kamu. Aku jadi bingung. Aku lebih condong ke gak jadi kuterima tawarannya. Alasanku aku takut gak mampu dan waktu konsentrasi kuliah buyar, gak fokus, dan tersita waktuku oleh pekerjaan marketing di Mihdan Corporation.

Dudi bilang kalau sekarang gak diterima tawaran itu, nanti menyesel kalau Mihdan sudah besar seperti DT, Ummul Quro, dan lain-lain. Kupikir benar juga. Tapi aku harus membangun bisnis sendiri. Kalau bekerja di orang lain aku merasa terbebani.

Tapi kalau gak diterima aku gak bisa dekat sama Uly, begitu lintasan pikiranku. Kok ada aza niat itu. Kenapa tak diambil kesempatan itu. Kesempatan tidak selalu datang dua kali loh. Tak apalah aku tidak meraih peluang dari kesempatan itu.

Sekarang aku tetapkan hati. Aku tolak kesempatan itu. Aku siap menerima segala konsekuensinya. Biarlah aku akan belajar dari semua ini. Aku ingin bebas merdeka dan tidak menanggung beban berat. Keputusannya hari Jumat pagi. Menyesalkah nanti aku menolak tawaran ini. Padahal Uly bilang padaku bahwa Mihdan punya koneksi dengan Tazkia. Dan bakal ada kucuran dana dari Malaysia. Semoga saja aku tidak menyesal.

Pagi ini aku harus menyampaikan penolakan tawaran marketing segera. Nanti aku mau bilang. Apakah aku harus datang sendiri atau lewat sms aza memberitahukan penolakanku.

Tadinya aku ingin sekali belajar tentang marketing agar nantinya aku bisa mengaplikasikannya dalam bisnisku sendiri. Jadi mau sementara saja tapi terlanjur sejak semula aku sudah menolaknya.

Ingin kembali pada rencanaku semula ingin membangun bisnis sendiri, ingin membuka usaha sendiri, mengurusi bisnis sendiri dan saat ini gak ada yang menunggu usahaku. Meskipun usahaku masih sebatas Rental Komputer.

Sekarang keadaannya sudah mendesak, harus segera direalisasikan rencana itu. Dan sekarang usaha sudah berjalan. Marketnya baru anak-anak MKS dan mahasiswa jurusan lain. Lagian kalau libur aku harus pulang ke Garut buat menghemat bekal hidup.

Ternyata ketika aku dan Irhandi sedang menempeli huruf-huruf Ayasophia di kaca kamarku, Uly dan mbak Ulfa datang jam 9 pagi. Mungkin dari tadi dia menungguku di kosan. Soalnya aku sudah janji kemarin mau ke sana. Berarti aku ingkar janji dan merusak skedul orang lain. Aku lupa saking asyiknya menemmpeli tulisan di dinding kaca kosanku.

Citraku sudah ada nilai cacatnya. Mungkin dia berpikiran vyan ini gak profesional. Padahal mbak Ulfa tuh di Mihdan Corporation banyak yang mesti dikerjakan. Terlalu diluru-ulur waktu. Akhirnya semangatnya jadi down. Dan ini keputusannya mendadak. Asalnya kan aku mau menerima tawaran ini.

Aku tuch dalam setiap hal selalu semangat terus. Aku jadi gak enak nih. Dia bilang seharusnya hari ini aku sudah mulai kerja. Tanggal 31 Desember aku sudah memberi keputusan menerima tawaran. Namun hari ini aku menolak dengan mendadak pula. Tanpa sepengetahuan. Aku merasa bersalah. Aku minta maaf.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori