Oleh: Kyan | 07/02/2005

Aku Menangis, Ia Memberiku Uang

Senin, 07 Februari 2005

Aku Menangis, Ia Memberiku Uang

**

Insya Allah sekarang mau saum. Hari ini aku bakal ke mana yach. Mendingan di rumah saja. Baca buku menamatkan dua judul: Self Digesting dan Tafsir Fi Zhilalil Quran 2 yang sedikit lagi. Nanti hari Kamis mau ke Book Fair Islamic & Sains. Katanya ada diskon sampai 50 persen. Aku mau borong semuanya. Kapan yach ibuku mengirim uang lagi. Aku pingin beli komputer lagi satu unit buat direntalkan. Biar ada penghasilan buat makan.

Self Digesting adalah buku kesekian dari karya Pak Hernowo. Mungkin aku fanatik dengan karya-karya Pak Hernowo. Aku ingin sekali mengoleksi buku-buku yang ditulis dan disusun beliau. Biar aku tahu pemikiran beliau tentang bagaimana membaca dan menulis yang baik.

Dia selalu menganjurkan mengikat makna dari apa yang kita baca. Baik itu membaca buku, film dan pengalaman atau berbincang dengan orang lain. Membaca dan menulislah setiap hari, begitu nasihatnya. Aku ingin bisa membaca dan menulis seperti pak Hernowo.

Semalam saja kubaca buku Self Digesting, langsung tamat. Isinya bagaimana cara mengurai diri. Sebenarnya potensi diri kita itu lebih besar dibanding apa yang di luar diri kita. Yaitu melalui pembelajaran konstruktif yakni mengaitkan hal-hal baru yang kita dapat dengan hal-hal yang sudah kita dapat sebelumnya. Apakah hal yang sudah ada itu diganti dengan hal-hal yang baru itu atau tetap pada pendirian semula.

Bukan banyak jumlah pengalaman, tapi refleksi dari pengalaman. Menganalisis pengalaman-pengalaman kita. Kita selalu merenung, meluangkan waktu satu menit saja untuk menampilkan diri kita yang terbaik melalui menulis catatan harian.

Dari buku Self Digesting kudapatkan bahwa selama ini katanya kita kebanyakan mengkplorasi hal-hal yang ada di luar diri kita (outer space). Padahal yang ada di dalam dirikita (insider space) tidak pernah kita eksplorasi. Maka alat bantu untuk mengekplor diri adalah ilmu. Ilmu ibarat cahaya. Dengan ilmu semuanya mudah. Dengan ilmu tidak bakal kelaparan seperti sekarang ini. Makanya aku harus mencari ilmu.

Sekarang aku jadi takut kalau terlalu banyak membaca buku. Takut mata minusku bertambah. Harus diseimbangkan dengan melihat hal-hal yang jauh. Pemandangan yang jauh. Makanya kalau pagi-pagi harus lari pagi, biar sehat. Sekarang sudah tidak sering renang lagi. Bukan gak mau sih, tapi gak punya uang. Lari pagi pun tak punya sepatu. Untuk renang tiketnya Rp.6.000,- Belum ongkosnya.

Berbicara uang membawa ingatanku waktu kecil dulu. Kasihan sekali aku ini. Ditinggal orang tua. Pernah saat itu sewaktu pulang dari Saninten, tempat pesantren yang dipimpin kakak sepupuku tak tahu kenapa aku menangis sesunggukan. Apa karena aku dimarahi aku tidak tahu. Mungkin pula aku terlalu rewel dan tidak mau diajak pulang.

Sampai di bus aku masih menangis sesunggukan. Aku berdiri di bis sambil merengkuhkan tanganku di kepala sambil didekapkan pada jok kursi bis. Tiba-tiba saja ada orang yang merasa kasihan dengan aku terus menangis. Dia memberiku uang Rp.500,- yang saat itu nilainya besar sekali.

Waktu itu buat beli bakso saja cukup dengan Rp.100,- Ia sangat kasihan padaku yang sedang menangis merenge-rengek. Mungkin biar nangisku berhenti. Ya Allah, semoga orang yang memberiku uang itu semoga mendapat rahmat-Mu. Lindungilah dia dimanapun berada sekarang. Aku selalu mengingatinya sampai kapanpun.

Ketika sekarang kesepian datang ingin sekali aku menangis seperti dulu lagi. Betapa sakitnya hidup sendirian dan tanpa teguh pendirian. Ingin pula tiba-tiba saja ada yang merengkuhku memberi perhatian. Apakah aku harus punya pacar, mungkin itulah maksudnya. Ingin ada seseorang yang memberiku perhatian dengan penuh ketulusan. Karena akan sangat menyenangkan sekali dengan sentuhan lembutnya.

Untuk punya pacar, aku harus sukses. Lalu kebanyakan orang sukses itu, ia selalu bergerak, terutama aktif di kampus. Saudara Reza, pak Dadang namanya yang sekarang jadi anggota DPR Jabar katanya ia pernah di DO dari Uninus karena terlalu kritis. Lulus kuliah sudah menjadi manajer di tiga perusahaan dan menjadi ketua di 13 organisasi. Orangnya pasti aktif di berbagai organisasi ketika jadi mahasiswa. Aa Gym juga begitu. Aku harus mengikuti pengalaman orang-orang sukses.

Sekarang aku gak kemana-mana. Aku hanya membaca saja di kosan. Terutama buku kuliah belum kubaca semuanya. Aku pernah mendengar hadits yang katanya kalau kita yakin pada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan rezeki. Seperti hidupnya burung, ia selalu mendapat jatah makan. Tapi tetap aku harus berusaha dalam memperolehnya.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori