Oleh: Kyan | 12/02/2005

Ibarat Perokok Berat

Sabtu, 12 Februari 2005

Ibarat Perokok Berat

**

Sebenarnya aku sekarang ingin cepat-cepat tidur. Berbaring di tikar kasar dengan bantal sudah apek. Tapi belum kutunaikan salat Isya. Sekarang sudah jam 11.05 dan untuk hari ini aku belum menulis tentang apa yang aku lakukan dan apa yang kupikirkan seharian tadi. Aku masih punya hutang menulis catatan harian ini.

Aku ingin menulis untuk mencurahkan segala perasaan dan pengalaman. Karena nasihat dari buku-buku pak Hernowo intinya mengajak pembaca untuk memulai menulis dan membaca dan segera mengikatnya. Aku ingin banyak membaca buku-buku sastra, supaya kosakataku bertambah. Aku tadi membeli sampul platik buat buku-buku baruku sambil hujan-hujanan.

Jadilah aku main ke pameran buku, Book Fair Islamic & Sains di Landmark Braga. Benarlah disana banyak buku diskon 50 persen. Kesempatan tidak datang sesering mungkin adanya diskon. Tapi aku cuma punya uang Rp. 80.000,- Bila kubelanjakan semuanya, bagaimana buat makan.

Untuk makan bagaimana nanti saja. Allah pasti memberiku rezeki dan tak akan membiarkan hamba-nya kelaparan. Uang itu semu dan hanya sebagai alat transaksi. Kupakai saja buat mencari ilmu. Aku selalu haus akan ilmu.

Beruntung saja kemarin pagi Dian memberiku pinjaman uang sebesar Rp.200.000,- ketika dia mengajakku main ke rumah Erna. Katanya supaya uang itu mengalir, maka kupinjamkan padaku. Karena menurut Islam uang itu hanya berfungsi sebagai alat tukar dan buat berjaga-jaga. Bukan buat untuk disimpan, apalagi buat spekulasi.

Pulang ke kosan, wah ada helm menggantung di pintu kosanku. Pasti ini helm Dian. Aku menyalakan computer dan tak lama Dian muncul memintaku menemaninya ke rumah Erna di Kiaracondong. Aku diminta mengantarnya main ke rumah Erna, wah asyik bisa makan-makan. Meski baru saja aku pulang, aku harus pergi lagi. Tak apalah demi teman.

Dari selentingan teman-teman kelas, Erna katanya sedang ngebet banget sama Dian. Mungkin Dian ingin meresponnya atau apa istilahnya. Makanya dia main ke rumahnya. Sampai di rumah Erna jam dua. Kami pun makan-makan.

Hanya saja di tengah-tengah obrolan, aku sempat mengeluarkan kata-kata yang seperti kata hinaan. Aku gak sengaja keceplosan bilang rumah Erna tuh ‘nyengseb’. Aku tidak akan mengulanginya lagi mengumbar kata-kata. Aku tak akan berkomentar apa-apa, takut terseret pada kata penghinaan. Semoga saja tadi didengarnya dianggap sebagai lelucon.

Kami pun pulang dan sampai di kosan lagi sekitar Ashar. Tadinya aku mau main ke perpustakaan daerah, tapi tak bakalan cukup waktu. Dian mau ikut mengetik, tapi komputernya belum bagus lagi. Terpaksa dia rental di orang lain.

Bukan rezekiku, tapi rezeki orang lain. Yang penting uang harus mengalir seperti air. Semakin deras dan cepat mengalirnya, maka semakin bersihlah air itu. Demikian juga uang semakin cepat perputarannya atau mengalirnya, maka semakin baik perekonomian suatu bangsa dan negara.

Uang dari pinjaman Dian aku belikan buku-buku diskon. Mumpung diskonnya gede. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini. Mungkin aku ini boros dalam belanja buku. Tapi aku ingin membeli buku. Karena membeli buku bagiku dapat memberikan kepuasan.

Kayaknya kalau aku punya uang sejuta juga akan aku belikan buku. Karena buku adalah alat ilmu, jendela dunia. Apakah ada orang sepertiku yang boros terhadap buku, doyan membeli buku. Akupun tidak tahu kenapa aku begitu senang dengan buku.

Mungkin kalau orang lain ibarat membeli rokok. Perokok berat pasti setiap hari harus mengeluarkan uang buat membelinya. Kecanduan ini bagus kalau rokok diganti dengan buku atau membaca dan menulis

Tadi kubeli buku “Jejak-jejak Ekonomi Syariah, Sejarah Filsafat Islam-nya Majid Fakhri, Pengantar Epistimologi Islam-nya Mulyadhi Kartanegera, dan Mahir Berbahasa Visual. Terus kubeli VCD obral Rp.5000-an. Ada video Mupla, kisah mantan Misionaris, dan konser MG-16. Tadinya aku ingin membeli buku kisah 1001 malam. Bagus sekali bukunya dan mumpung sedang diskon 50 persen. Tapi uangku sudah habis.

Kapan Ibuku mengirim lagi. Akh, jangan mengandalkan pemberian ibu. Aku harus berusaha sendiri biar kudapat uang untuk bisa membeli buku. Malu aku masih meminta-meminta pada ibu terus. Biar kesempatan ini tak terlewatkan, untuk bisa memborong buku, aku meminta uang sama siapa atau pinjem pada siapa. Menelpon ibuku minta dikirim uang. Tapi aku bingung takut memberatkan beliau. Kalau gak minta lalu ada uang dari mana. Ibu juga susah mencari duit. Ini cuma minta-minta saja.

Tapi aku harus usaha, tapi usaha apa? Usaha apa saja yang penting menghasilkan uang. Tetapi bagaimanapun aku harus lebih banyak bersyukur. Tetap bersyukur dan bersabar atas masalah yang menimpaku.

Sampai saat ini komputer masih belum bagus juga. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Semalam kemarin aku tidur jam satu dini hari karena terus mengutak-atik komputer supaya bagus lagi. Jadinya aku bangun kesiangan. Memang sekarang-sekarang ini aku sering bangun kesiangan terus.

Bagaimana tidak kesal komputer selalu saja error. Mungkin karena sering diutak-atik atau karena sudah butut computer Pentium satu selalu menyisakan masalah. Tapi kalau kudiamkan saja gak ada manfaatnya aku punya komputer. Aku gak bakalan bisa dan sedikitnya memahami permasalahan komputer. Terlalu sering coba sana sini, tekan sana tekan sini yang akhirnya amburadul.

Jadinya aku panik, aku gak bisa tidur, lalu gak sempat menulis catatan harian. Sampai waktu mencuci baju ditinggalkan dulu. Jadi bertumpuk saja pekerjaan yang harus diselesaikan segera. Termasuk menulis ini. Dua hari gak menulis terasa banyak hutang. Sekarang aku memiliki kesempatan menulis lagi.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori