Oleh: Kyan | 15/02/2005

Sejarah Filsafat Islam

SejarahAda anggapan dari sarjana Barat bahwa Filsafat Islam hanyalah duplikasi dari Filsafat Yunani. Katanya ia tidak murni Islam. Hal ini disebabkan banyak orang Islam yang menerjemahkan, menelaah, menganalisis filsafat Helenistik Yunani.

Tapi Majid Fakhri, penulis buku “Sejarah Filsafat Islam” berpandangan bahwa karena hikmah adalah milik orang muslim, maka barang siapa menemukannya di manapun berada, maka ambillah. Berarti mereka itu terbuka, Islam itu sangat terbuka. Dengan demikian sesungguhnya Filsafat Islam bersumber dari al-Quran dan Sunnah (profetik).

Majid Fakhri menjelaskan Filsafat Islam bukanlah duplikasi dari Filsafat Yunani. Filsafat Islam bukanlah Filsafat Yunani dalam bahasa Arab seperti yang sering dilontarkan oleh Sarjana Barat. Tapi Filsafat Islam adalah filsafat yg bersumberkan dan disarikan dari al-Quran dan Assunnah. Makanya kata filsafat sering disebut dengan kata Hikmah atau Teosofi.

Memang, sejarah Filsafat Islam dimulai dengan gerakan penerjemaahan buku-buku karya Plato, Aristoteles, Galen, Plotinus, Proclus, Prophyry di abad delapan. Dimulai dengan Dinasti Abbasiyah di masa al-Makmun yang membangun Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) untuk studi Filsafat.

Perjalanan Filsafat Islam dimulai dari dua tokoh pada abad sembilan yaitu al-Kindi dan ar-Razi. Tiga pemikir besar abad tersebut yaitu al-Kindi, ar-Razi, dan al-Rahwandi, yang katanya semuanya berawal dari Mutazilah atau Qadariyah. Lalu abad sepuluh dan sebelas, muncul al-Farabi dan Ibnu Sina. Itu di dunia Timur Islam. Sedangkan di wilayah Barat Islam (Andalusia) pada abad 10 juga ada Ibnu Bajjah, ibnu Tufhail, dan selanjutnya Ibnu Rusyd.

Karena sebagian kalangan menganggap filsafat berbahaya buat doktrin agama, maka filsafat ditentang habis-habisan terutama oleh al-Ghazali. Padahal pemikiran al-Ghazali sendiri sudah banyak terpengaruh oleh Filsafat. Untuk dapat menguasai Filsafat, al-Ghazali sampai mengkhususkan tiga tahun buat mempelajari filsafat. Katanya membaca karya Aristoteles sampai beberapa kali. Mungkin sampai sepuluh kali kalau tidak salah. Supaya memperoleh kefahaman yang benar.

Menurut al-Ghazali bahwa ada empat bagian filsafat, yaitu bagian yang tak berkaitan dengan agama yaitu logika. Kedua adalah bagian yang tidak bersentuhan langsung dengan agama yaitu matematika. Ketiga, bagian yang berkaitan dengan politik dan etika, dan terakhir yang menjadi inti kerancuan filsafat yaitu fisika dan metafisika.

Buku “Kerancuan Filsafat” al-Tahafut al-Falasifah karya al-Ghazali dijawab dengan buku “Kerancuan atas Kerancuan”, al-Tahafut wa al-Tahafut karya Ibnu Rusyd. Maka karena di dunia Timur Islam yang berpusat di Baghdad terus terjadi perdebatan antara ahli filsafat, tasawuf dan teologi, sehingga ketiganya atau pandangan setiap tokoh-tokohnya tak bisa disatukan dan dipertemukan, maka timbulah sebuah reaksi untuk kembali ke asal, yaitu slogan yang kita kenal sekarang “kembali pada Alquran dan Alhadits”.

Maka munculah tokoh besar dari pergulatan itu, yaitu Ibnu Taimiyah, Ibn Hazm, Ibn Qayyum yang sering disebut kaum Tadisionalis. Mereka melanjutkan tradisi Ibn Hambali yang selalu mengajak kembali pada Alquran dan Alhadits. Meskipun sebenarnya sudah ada orang yang berupaya untuk menyatukan atau menyinergikan antara ilmu kalam, sufi dan filsafat yaitu Mulla Shadra, seorang filsuf dari Persia. Ia berhasil memadukan ketiganya yang selama ini argumen masing-masing saling meniadakan.

Tapi di Islam Barat Andalusia, muncul yang bergelar Syeikh Akbar yaitu Ibnu Arabi. Dialah capaian tertinggi kondifikasi antara filsafat dan tasawuf, meski sang tokoh ini filsafatnya sulit dimengerti, dan ada yang memberikan argumen bahwa Ibnu Arabi bukanlah filsuf melainkan seorang sufi. Karena katanya berbeda antara filsafat dan tasawuf, meski ada yang memadukan dengan menamakan dengan tasawuf-falsafi.

Tapi filsafat tak pernah sepi peminat. Muncul tokoh-tokoh berikutnya, yaitu Fakr ar-Razi, Ibn Khaldun, al-Suhrawandi, dan Mulla Shadra sebagai ahli filsafat. Mulla Shadra dianggap berhasil meyatukan titik temu antara filsafat, tasawud, dan teologi. Selanjutnya lahirlah generasi semasa Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, al-Maududi, Muhammad Iqbal (Timur Islam). Dan dunia Barat Islam (Persia) ada Murtadha Mutahhari, Ali Syariati, Husain Nasr, dan lain-lain. Sampailah hari-hari ini diskursus orang per orang, organisasi kontra organisasi, hasil dari percikan-percikan pertentangan dulu yang menggumpal antara tradisionalis dan modernis, neo-tradisionalis dan neo-modernis, antara liberal dan tekstual, antara Paramadina dan DDII.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori