Oleh: Kyan | 19/02/2005

Cobaan atau Siksaan Untukku

Sabtu, 19 Februari 2005

Cobaan atau Siksaan Untukku

**

Malas banget aku menulis catatan harian. Tapi karena terpaksa aku ingin jago menulis, maka harus dipaksakan mendisiplinkan diri. Kalau jago nanti bisa menulis buku, artikel atau apalah. Nanti bisa mengasilkan uang. Bukan kayak sekarang ini, aku sama sekali gak punya uang.

Hari ini aku gak makan. Tadi jam satu, cuma makan kerupuk dua bungkus yang 100-an. Menyedihkan sekali. Tadinya uangku Rp.1.200- tapi karena uang itu ditaruh di meja, Mas Iful pinjem katanya. Ya sudah diambil saja sama dia. Padahal uang itu buat ongkos mau mengecek ATM ke Ujungberung.

Sekarang aku gak bisa kemana-mana. Mau makan tapi uangnya dari mana. Makanya kalau ada barang berharga harus disembunyikan. Jangan sampai ketahuan orang. Akhirnya jadi bingung sendiri. Tapi meskipun aku gak makan seharian, tapi ternyata masih kuat.

Sekarang lagi menulis ini, aku gak lapar-lapar amat. Cuma karena kebiasaan, sebab akibat. Kalau makan berarti perut terisi jadi energi. Kalau gak makan, energi tak ada. Sekarang dibuktikan energi itu memang secara alamiah timbul karena makan. Tapi sebenarnya Allah Swt yang memberi energi, sehingga aku masih kuat melakukan aktivitas hari ini, terutama membaca buku.

Sudah tiga hari aku gak makan. Lemas rasanya tanpa tenaga. Aku harus bagaimana untuk dapat makan.  Pinjem sana sini gak ada yang mau memberi pinjam uang. Aku berprasangka baik saja. Mungkin mereka memang bener dia sedang gak punya uang. Aku lapar sekali, pengen makan.

Biasanya tengah bulan ibuku sudah mengirim uang, tapi ini gak ada. Kenapa yach. Aku mengecek ATM sejak tanggal 140205 saldonya masih nol. Aku serahkan saja pada Allah Swt. Bukankah dia Maha Pemberi Rezeki.

Seingat aku, kalau ada orang yang mau pinjam uang, aku berikan. Pernah ada yang pinjam Rp.200.000,- aku memberikannya dengan lapang hati. Sampai sekarang dia belum bayar, bahkan jejak dia gak ada. Pak Dody pernah pinjam uang sejuta, aku kasih pula. Zunaedy sering pinjam aku kasih juga. Tapi aku sekarang sedang kepepet, gak ada yang memberi mengulurkan bantuan.

Itu memang di Batam, yang memang orang-orangnya merasa senasib hidup di perantauan. Tapi hidup di sini, di Bandung orang-orang pada punya egoentrisnya tinggi. Sebagai sesama mahasiswa pun seolah tak saling peduli.

Ya Allah, tunjukkan keadilan-Mu. Di mana keadilan dan kasih sayang-Mu. Aku gak boleh berkata seperti itu. Ya Allah aku ingin makan. Ampuni hamba ya Allah. Mungkin selama ini aku boros. Selalu saja beli buku terus, maka habislah uang.

Tapi buku kan sumber ilmu. Tapi kalau perut lapar tak bisa konsentasi baca. Aku banyak dosa, aku kotor, ini malah sok suci. Ampuni hamba ya Allah. Beri jalan keluarnya ya Allah. Apakah besok bisa memperoleh makan. Pinjam uang sana sini lagi, aku malu.

Apakah nanti kalau ada orang yang mau pinjem uang sama aku, aku gak bakalan memberinya. Buat balas dendam. Karena saat seperti ini gak ada yang peduli padaku.

Jangan! Biar saja mereka begitu. Bukankah Allah bakal melapangkan dan menaungi orang yang melapangkan saudara lainnya dari kesulitan. Allah bakal menaungi dimana tak seorang pun yang mampu menaungi selain Engkau ya Allah. Untuk bisa punya penghasilan, aku harus bagaimana ya Allah?

Tadi pagi aku kehilangan sandal Eiger yang belinya dulu Rp.50.000,- Kenapa aku sering kehilangan. Kenapa? Aku ceroboh. Sudah sepatu dan sandal, handphone, buku, sandal lagi sandal lagi yang hilang. Aku harus bagaimana sih. Cobaan bertubi-tubi datang padaku. Apakah ini cobaan atau siksaan?

Kubaca buku “Berbahasa Visual” yang kata buku ini agar kita selalu memperhatikan setiap gambar, ikon, bentuk, dan warna di sekitar kita. Karena hal-hal tersebut mengandung pesan. Begitu juga dalam menulis, gunakanlah gambar, ikon, warna dan lain-lain untuk menjadikan semangat terus menulis. Menulis pasti akan lebih bergairah.

Maunya sekarang ingin melanjutkan baca buku seri Filsafat Islam, “Antara al-Ghazali dan Kant. Karena aku sedang lapar, aku tak ingin berpikir terlalu serius. Tapi dari buku yang kubaca ini penulisnya lebih condong ke Kant. Karena argument Kant dianggap lebih metodologi rasional. Sedangkan al-Ghazali sekedar dogmatis saja, begitu kesimpulan si penulis.

Al-Ghazali tidak mampu menerima teologis lewat filosofis. Dia malah condong ke Tasawuf. Aku makin penasaran dengan buku ini. Al-Ghazali sebagai Filsuf sekaligus dianggap Hujjatul Islam mendapat kritik dari pemikir Indonesia, pak Amin Abdullah.

Aku ingin cepat tidur biar bisa bangun lebih awal. Sudah lama gak salat Tahajud. Ya Allah beri aku kekuatan.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori