Oleh: Kyan | 26/02/2005

Buletin Aya-Sophia dan Pengajuan Beasiswa

Sabtu, 26 Februari 2005

 Buletin Aya-Sophia dan Pengajuan Beasiswa

**

Sewaktu perjalanan pulang Garut-Bandung dari rumah kakakku, aku melamunkan ingin mencoba membuat buletin Aya-Sophia. Isinya tentang budaya membaca dan menulis, tentang ekonomi syariah, dan seputar wacana masa kini. Melalui buletin ini aku ingin menyebarkan virus baca-tulis, menghilangkan budaya nyontek, dan ide-ideku pada manajemen keuangan syariah. Di buletin itu aku mau mengisi kolom ”Bicara Ekonomi Syariah”

Aku mau mengusulkan pada HMJ MKS supaya ada sosialisasi Jurusan MKS ke sekolah-sekolah dan khususnya madrasah-madrasah yang notabene faham agama. Nanti ketika ada penerimaan mahasiswa baru supaya dibentuk team sosialisasi. Team ini diharapkan mampu menarik minat mahasiswa baru untuk memilih MKS.

Tapi kemarin saja tanpa sosialisasi besar-besran, kampus mampu menarik calon mahasiswa baru memilih MKS. Apalagi dengan sosialisasi besar-besaran mungkin tidak bakal tertampung itu mahasiswa. Sebab semakin kesini semakin tak cukup saja ruang kuliah. Masih harus menunggu giliran dan mencari ruangan kosong untuk tatap muka mahasiswa dengan dosennya.

Dalam hematku, jurusan Manajemen Keuangan Syariah bila dilihat dari namanya saja bahwa seorang mahasiswa MKS diharapkan dan diarahkan untuk faham ilmu manajemen sekaliber maahasiswa UGM, faham ilmu akuntansi konvensional sefaham mahasiswa UI dan akuntansi syariah sefaham siapa ya… Sefaham Sofyan Syafri Harahap. Dan ilmu kesyariahan sefaham mahasiswa kampus mana lagi…

Menjangkau ilmu dengan semurah-murahnya biaya. Untuk menghemat biaya kuliah aku harus membuat Surat Keterangan Tidak Mampu. Nanti form-nya mau aku kirim ke Batam untuk diminta tanda tangan ketua RT/RW-nya. Sekalian mau minta fotokopi KTP ibu yang masih berlaku. Nanti hari Senin aku harus mengirim surat ke Batam dan meminta uang sekalian.

Nanti aku ke kampus mau minta tanda tangan pak Ayi Sofyan dan pak Zulkarnaen, dosen pembimbing, dan pak Anton Athoillah, ketua jurusan kuliahku. Masalah KRS harus segera kelar. Setelah itu langsung pergi ke Wastukencana untuk menyerahkan berkas beasiswa. Jangan lupa mengambil uang dulu di ATM buat membayar pendaftarannya. Setelah beres menyerahkan berkas, langsung ke Kandaga Komputer untuk beli tinta printer.

Aku sering salah dalam menulis, karena tidak konsentrasi. Aku sering tidak menyadari dengan apa yang sedang ditulis. Sering kehilangan barang juga gara-gara apa yang dilakukan tidak kusadari. Sekarang aku harus sadar dengan apa yang kulakukan.

Hari Minggu aku ingin pergi ke Palasari. Ini pemborosan belanja buku dan pulang pergi menghabiskan ongkos Rp 4.000,- Kalau tidak segera ke Palasari, aku tidak bakalan baca tafsir Fi Zhilalil jilid berikutnya. Di kosan juga masih banyak buku yang belum dibaca. Padahal tamatkan dulu itu semuanya. Tapi kupikir kajiannya lain dan pembacaannya lain.

Bukankah kita harus mempelajari Alquran. Sekedar membaca saja kurang memuaskan. Alquran diturunkan kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman hidup. Jika sekedar dibaca tanpa tahu arti dan maksudnya akan percuma saja. Alquran bukan untuk itu. Berjuta-juta umat Islam tidak tahu isi Alquran.

Bagaimana akan tahu perintah Tuhan kepada umat manusia dalam menjalani kehidupan ini bila tak memahami kitab suci yang diturunkan-Nya. Aku tak mau menjadi bagian dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa.

Kubaca buku filsafat memang membuat dahi berkerut. Bahasanya juga terlalu ilmiah. Tapi aku bisa memahaminya. Semuanya bertahap dan memerlukan proses. Aku bisa memahaminya secara perlahan. Tidak sama seperti makan cabe yang bila dimakan akan langsung pedasnya.

Berangkatlah aku pagi-pagi aku untuk bertemu pak Ayi Sofyan. Untuk meminta tanda tangan surat keterangan pesyaratan beasiswa. Tapi di Fakultas gak ada, ke rumahya juga gak ada. Mau ke pak Zulkarnaen dosen pembimbingku gak ada juga. Ketemu ma Aceng lagi. Dia juga mau mengajukan beasiswa ke Foundation Cut Nyak Dien. Beasiswa, tapi harus ada pendaftaran Rp.50.000,- Tak apalah.

Tadinya mau hari ini menyerahkan persyaratan beasiswa. Tapi kartu keluarganya di Garut. Akte kelahiran juga tanggal lahirnya beda dengan izajah. Atau pakai akte kelahiran saja, surat kelahiran saja. Jumat sore aku harus pulang ke Garut memberikan hape kakakku yang diminta membelikannya padaku.

Tapi cucianku belum pada kering. Makasih buat temen-temen Kurnia sudah menjahit pakaianku. Hujan kan gede banget. Jerawatku juga belum sembuh. Malu nanti kalau ketemu anak-anak. Pasti yang pertama dilihat adalah jerawatku. Ah, itu cuma perasaanku saja. Aku gak boleh mendramatisir keadaan. Timbulnya jerawat atas izin Allah juga. Penyebabnya gara-gara makan berminyak seperti nasi goreng, gehu. Tapi enak sih makanan itu.

Tidak tahu kenapa setiap ke Garut selalu saja tumbuh jerawat. Sehari saja ini ada jerawat di pipi kiri. Udara Garut gak cocok buat kulitku. Tapi kalau di Bandung jarang tumbuh jerawat. Tapi kalai di Garut kulitku biasanya jadi kelihatan lebih putih. Gara-gara di Batam, kulitku jadi hitam.

Ya Allah ampuni saya yang sudah meninggalkan salat Isya, karena ketiduran. Gara-gara dinanti-nanti. Aku telah melalaikan waktu salat. Celakalah orang yang melalaikan salat. Aku gak mau celaka. Sekarang kalau tiba waktu salat, jangan dinanti-nanti untuk menunaikannya. Sudah berkali-kali kejadian ini menimpa padaku. Tak boleh masuk jurang yang sama lebih dari sekali.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori