Oleh: Kyan | 07/03/2005

Palasari, Bapusda, dan Puasa

Senin, 07 Maret 2005

Palasari, Bapusda, dan Puasa

**

Setelah kuhitung-hitung dalam seminggu aku menghabiskan uang Rp. 100.000,- Sementara dalam sebulan ibuku mengirim uang Rp. 400.000,- Sudah biasa ibu memberi segitu untuk bekal hidup kuliahku. Semestinya untuk pemenuhan kebutuhan yang lain, membeli buku kuliah, fotocopi, dan kebutuhan makann rohani lainnnya harus cukup. Jika tak cukup bagaimana, memperoleh darimana?  Maka dari itu aku mau mencoba mengajukan beasiswa. Kapan hutangku akan terbayar 250.000,- ke Dian saat pinjam kekurangan bayar kosan.

Pagi-pagi aku mengecek ATM, sekalian ngambil uang Rp.100.000,- buat membeli buku kuliah di Palasari. Alhamdulillah ibuku sudah mengirim Rp. 200.000,- kupikir mungkin uang ini akan kugunakan buat bayar hutang saja. Tapi aku mau meminta kebijakan Dian, bagaimana kalau dibayar setengahnya dulu.

Inginnya segera dilunasi biar tentram hatiku. Tapi perusahaan besar dan orang kaya juga banyak hutangnnya. Namun mesti diingat uang ibaratkan senjata yang bisa menembak lawan atau membunuh diri sendiri. Dengan hutang kita bisa optimalkan penggunaannya untuk mendapat keuntungan materi dan rohani.

Maka dalam kantuk berat, berangkatlah aku pergi menuju Palasari. Sekitar jam tujuh pagi aku sudah nongkrong di halte Damri Cibiru. Selepas salat Shubuh karena masih kantuk, terpaksa tidur dan bangun jam sudah jam tujuh. Aku kan mau ke Palasari. Aku segea mandi dan berangkatlahlah aku.

Sampai di Palasari aku bingung buku apa dulu yang mesti dibeli. Lalu aku mendengar adzan, dikira adzan Duhur. Akupun kaget, ternyata adzan Ashar. Saking asyiknya membolak-balik buku terlewati salat Duhur. Aku tidak sadar ketika adzan Duhur. Ini ketahuannya pas lagi aku sudah di Cibiru lagi.

Tadi di jalan aku bertanya-tanya kok jam duaan. Ketika di dalam toko buku dugaanku sudah gelap kayak gini kayaknya mau hujan. Tapi kok toko-toko pada mau tutup. Pantas saja begitu sampai di rumah aku lihat jam sudah jam 06. Berarti aku tadi salat Duhur pada waktu Ashar. Beginilah kalau gak punya jam. Aku harus beli punya jam. Harganya berapa ya. Nambah lagi kebutuhanku, sementara pemasukan gak ada.

Kau harus bersabar. Gak punya jam akibatnya gak tahu waktu. Padahal waktu ibarat pedang. Sama dengan pistol era modern ini, kata Kiyosaki. Pedang kata Ibn Khathab esensinya sama bisa membunuh atau kita dibunuh dengan senjata yang kita miliki.

Dari Palasari aku membeli buku Tafsir Fi Zhilal Quran dan buku kuliah Dasar-Dasar Pembelajar Perusahaan dari Bambang Riyanto. Tadinya mau beli Marketing Manjemen, tapi kemahalan.

Sudah sedikit kubaca tafsir Fi Zhilal yang poin pentingnya bahwa ada 3 pokok penting satu tentang pengertian diri dan Islam. Islam bukan sekjedar hakikat Allah tapi lebih dari itu. Islam adalah tauhid ubudiyah, bahwa segala yang ada di langit dan di bumi menyembah Allah. Jadi bisa benar pendapat Smith dalam perjumpaan dengan Tuhan yang menyatakan Islam adalah pola pikir yang menyeluruh.

Lalu pokok kedua, umat Islam pasrah kepada ke-Esaan Allah dan ketiga dilarang menjadikan non mukmin jadi pemimpin. Karena kaum ahli kitab dan kafir akan senantiasa menggoyahkan akidah Islam, pola pikir Islam, paradimga Islam, kacamata Islam dari yang sebenarnya.

Kemudian dari buku Dasar-dasar Pembelajaran Perusahaan baru kubaca bab Pendahuluan. Pembelajaan perusahaan adalah keseluruhan aktivitas perusahaan yang terdiri dan perhimpunan dana yang efektif dan efesien, syarat-syaratnya mudah dan pengelolan dana yang efektif dan efesien pula.

Jadi ada dua aktivitas. Perolehan dana (pembelajaan pasif) dan pengalokasian dana (pembelanjaan aktif). Fungsi manajer keuangan adalah mencari alternatif-alternatif yang mampu menjaga keseimbangan antara pembelajaran aktif dan pasif. Pola aliran kas yang seimbang sejak tahun 50-an pembelanjaan makin berkembang dari yang tadinya pola deskriptif menjadi studi analisis dan teori normatif.

Dari sekedar penghimpunan dan menjadi penggunaan dana. Dan dari analisa ektern perusahaan menjadi mengarah pada pengambilan keputusan dalam perusahaan. Perhimpunan dana ada yang dari luar ke dalam. Dari luar yaitu dari pemilik, peserta, saham (pemelanjaan sendiri) dan pembelajaan utang (kredit bank, asuransi, dll). Dari dalam ada yang dari laba ditahan (pembelanjaan intern arti sempit) dan dari penyusutan aktiva tetap (pembelanjaan intensif.

Wah, jadi segala yang aku baca dan dengar dan kerjakan harus dituangkan dalam bentuk teks  kalimat. Apakah bisa diwakili setiap pengalaman oleh teks-teks kalimat?

Jadi ingat aku sewaktu kemarin ke Palasari aku menemukan hal baru yaitu jalur baru. Enam bulan lalu kalau ke Palasari dari Cibiru aku naik Damri dan angkot Ciroyom-Cikudapateuh. Dan begitu juga pulangnya naik Damri lagi dan bisa dipastikan bakal berdiri di dalam bis. Tapi sekarang sudah tahu jalur baru. Jika dari Palasari naik Kalapa Caheum kemudian Cicadas-Cibiru. Setiap hari harus menemukan hal-hal baru.

Kuncinya kata Masrukul Amri seperti berkata begini: “mbak, mau permen gak?” itu komunikasi pertama kalau kenalan sama orang baru. Orang juga sungkan soalnya merasa sama merasa eksklusif, takut dan sungkan. Nanti mau mencoba ah. Ia nich seharusnya setiap hari harus menambah kenalan baru. Itu perencanaan sejak dulu. Tapi realisasinya belum.

Pagi hari aku ke perpustakaan daerah lewat kampus. Di jalan ketemu Riu, Sahril dan Putra dan Agus. Ternyata kartu perpustakaanku sudah selesai. Kalau belanja di counter yang ada MQ Card dan EC card katanya bisa dikson.

Ternyata main di perpustakaan mengasyikan. Di sana sampai jam 14.30 pulangnya aku mau diterukan ke Alun-alun Bandung mau membeli sandal. Aku sudah gak punya sandal. Tapi harus naik apa dari Samsat. Kucoba naik angkot Gedebage-St.Hall. malah diturunkan di Karawitan.

Syukurlah gak harus bayar tapi ini dimana. Kucoba aku berjalan lurus. Lalu di kejauhan terlihat ada bangunan aku kira mungkin itu BSM. Coba kudekati aku pikir itu belakangnya. Setelah berjalan ke arah depan bangunan itu ternyata itu Hotel Horison.

Dulu aku pernah ke sini waktu ketemu artis Adam Jordan dalam kontes modelling dan ketemu temen SMU-ku Ajeng Nurjanah yang jadi peserta model. Aku jalan belok kiri ini jalan buah batu. Aku baru tahu ini toko buku Kharisma. Sepanjang jl. Buah Batu banyak bank syariah. Ada BSM, BMI, BNI syariah Bank Permata Syariah. Mungkin ini ketularan atau strategi marketing dengan berkumpulnya bank-bank syariah pada satu tempat.

Aku mencoba naik angkot Buah Batu—Kelapa. Ongkosnya Rp. 1.500,- sampai di alun-alun Bandung. Aku langsung menuju toko buku Kurnia Agung, tapi ternyata counter Eiger sudah tak ada. Yang ada counter Boogeie. Aku coba melihat-lihat saja.

Setelah itu aku mencari pulpen bic sisi empat harganya Rp. 8.300,- mahal sekali. Makanya sekarang harus lebih berhati-hati. Sekarang mau pakai tali biar gak hilang ini pulpen. Itu kan usaha untuk mengtisipasi kehilangan. Sekarang aku harus lebih hati-hati terhadap barang-barangku.

Membayar belanjaan di kasir sambil bertanya counter Eiger dimana. Ternyata sekarang sudah punya counter sendiri di lantai selanjutnya. Kutemukan juga akhirnya dapat melihat-lihat sandal. Aku bingung beli sandal gak ya. Sementara utangku belum lunas Rp.200.000,- Tapi kan murah dapat diskon lima persen jadinya Rp.55.100,-Lumayan dapat potongan menggunakan EC card. Meski cuma 5 persen pakai EC card. Kalau punya member Eiger bisa diskon 10 persen. Untuk jadi member Eiger biayanya Rp.15.000,-

Setelah kubeli sandar, mau langsung pulang. Ternyata di luar hujan deras. Kucoba melihat-lihat jam tangan. Aku ingin jam tangan, biar tahu waktu. Harganya Rp.65.000,- sampai Rp.150.000,- mahal juga. Nanti saja kapan-kapan membelinya. Damri belum muncul juga, sampai adzan Maghrib.

Aku langsung menuju Masjid Raya, salat kemudian buka shaum makan comro. Tak lama kemudian datang Damri Kalapa-Cibiru. Gak harus lama-lama menunggu. Hikmahnya kerjakan dulu  perintah Allah. Nanti bisa bikin mudah dan tenang. Sampai di Cibiru jam delapan malam.

Mandi gak ya. Gak mandi sampai sekarang menulis aku belum mandi. Tapi sekarang mau mencuci pakaian. Aku belum mengetik artikel, belum me-review pelajaran-pelajaran kuliah, belum masak, belum mandi. Aku harus mengerjakannya satu-satu dan bertahap.

Sudah siang sebentar lagi mau keluar. Ada janji dengan Lia. Tapi gak tahu jadi apa tidak. Kalau gak juga aku mau mencari kosan dengan Robbi. Aku belum mereview pelajaran minggu. Hari ini jadwal mengulang pelajaran. Barusan habis mengetik artikel mata kuliah Komputer Bisnis. Terus memperbaiki riwayat hidupku.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori