Oleh: Kyan | 13/03/2005

Sabar Sebagai Senjata

Ahad, 13 Maret 2005

Sabar Sebagai Senjata

**

Percuma saja salat Tahajud dan salat Duha, kalau salat subuh kesiangan. Salahku  sehabis Tahajud semestinya gak boleh tidur lagi. Jangan ada niat mau tidur. Kalaupun baca harus dikursi biar rasa kantuk bisa dilawan. Aku minta ampun pada Allah. Ya Allah ampunilah hamba-Mu ini.

Aku ingin membiasakan diri langsung tidur setelah salat Isya dan jam 02.000 pagi bangun dan mandi keramas. Lalu salat dan belajar. Bagaimana caranya? Aku harus pakai jam weker hape. Hape gak punya. Aku ingin punya hape. Anak-anak pada sudah punya hape sedangkan aku yang dewasa tak punya. Aku gak boleh iri. Sepatu buat olahraga belum mampu kubeli. Bersabarlah!

Ya Allah cukupkanlah rezekiku. Engkau tahu segala keinginan yang terbesit di hati kami. Engkau Maha Tahu. Aku harus bersabar dan bertawakal. Aku harus bisnis. Tapi bisnis apa. Sebenarnya peluang bisnis itu banyak . Cuma bagaimana caranya agar aku bisa meraih peluang itu. Maka dari itu diperlukan kreativitas dan jiwa enterpreneursip. Aku harus banyak berelaksasi.

Begitu banyak keinginanku. Aku ingin punya hape, tape, sepatu, computer, dan sejumlah keinginan lainnya. Sekarang aku butuh semua itu. Karena itu dirasa dapat mendukung kegiatanmku. Tapi aku miskin sekali. Kekurangan makan lagi. Kelaparan terus di kosan sendirian.

Tapi dipikir-pikir lagi selalu cukup kan? Yang tidak padaku itu berlebihan dan kemawahan kan? Ya aku selalu cukup dibandingkan orang lain. Aku di-mampu-kan untuk kuliah, bisa ibadah dan makan cukup. Aku harus bersyukur pada Allah. Ternyata hidup dijalani dengan gak susah-susah amat. Aku harus tetap tenang. Meski begitu banyak hutang, aku pasrahkan pada Allah SWT.

Aku ingin datang bersilaturahim ke Hafizh. Tapi dianya jarang ada di kosan. Harus disms dulu. Tapi sms pakai hape siapa. Nanti kalau ada teman mau pinjam. Aku juga berencana mau sering membikin surat untuk melatih menulis dan menuangkan isi hati secara jujur. Aku harus membiasakan diri.

Kok kenapa begitu banyak keinginanku. Main ke kosan temen. Di kosannya ada Tivi. Daripada Teve lebih baik aku beli perangkat salon komputer kalau tidak komputernya. Sebagian-sebagian dulu komponennya dibeli secara mencicil kalau tidak bisa sekaligus.

Dia memberitahuku harga salon Rp. 530.000,- Harganya mahal sekali. Aku mau mengecek harganya di Rumah Elektronik. Kapan ya aku mampu membelinya? Akh, hutang saja belum tebayar Rp. 220.000,- Hutang tadinya mau dibayar setengahnya dulu. Tapi malah tepakai buat menyambung hidup. Kapan itu bisa terbayar?

Makanya sekarang aku mau mengirim surat lagi mengajukan beasiswa. Aku gak boleh menunda-nunda mempersiapkan berkas-berkasnya. Tinggal kekurangan satu berkas yaitu Transkip Nilai. Sekarang mau meminta tanda tangan dosen pembimbing. Mumpung hari ini ada katanya di Fakultas. Aku harus segera ke kampus. Tapi aku belum bayar listrik Rp.30.000,- Hari ini aku sudah ditagih.

Kemarin malam minggu aku gak ke mana-mana. Di kosan aza. Mendingan baca buku. Tapi kadang aku ingin malam mingguan dengan siapa gitu. Tapi itu harus pakai modal uang. Aku harus bersabar dan lebih menguatkan lagi kesabaranku. Sempatkanlah waktu tunutk ibadah pada Allah, niscaya hati jadi tenang.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori