Oleh: Kyan | 14/03/2005

Generasi Keempat Malaysia

Senin, 14 Maret 2005

Generasi Keempat Malaysia

**

Hari kemarin aku begitu banyak tidur. Malam minggunya aku tidur dari jam tujuh malam dan bangun jam sepuluh malam. Lalu tidur lagi jam tiga pagi sampai jam enam pagi. Selanjutnya tertidur lagi jam satu siang dan bangun jam empat sore. Jadi dihitung-hitung selam delapan jam tidur malam dan satu jam tidur siang.

Barusan tertidur lagi seteah wirid sampai jam tujuh. Mengurusi jam tidur penting sih. Tapi aku harus ingat bahwa muslim yang baik adalah orang yang mengurangi jam tidurnya. Orang kafir adalah orang yang banyak tidurnya. Pendidikan Barat memang berbahaya tentang nasihat tidur.

Sekarang lagi konfrontasi Indonesia-Malaysia. Menurut Teuku Reza Syah, Malaysia sekarang bukan Malaysia dulu. Malaysia sekarang adalah generasi keempat yang merupakan hasil pendidikan Barat. Hasil perancangan Tun Abdul Razak. Sejak konfontasi Indonesia-Malaysia zaman Bung Karno, Malaysia sekarang berorientasi bisnis. Urusan bisnis punya hukumnya tersendiri. Bukan lagi menjaga hubungan baik dengan tetangga.

Ini jadi pelajaran buatku. Kita hidup bukan untuk sekedar memikirkan bisnis. Bisnis dan bisnis yang selalu menjadi orientasi. Dalam memelihara hablumminannas, hubungannya tidak melulu tukar-menukar barang dan uang. Tapi ada mekanisme lainnya yang kupikir lebih mendasar daripada kerjasama bisnis. Tetapi tidak boleh juga menganaktirikan bisnis.

Pembangunan SDM sangatlah penting melalui metode-metode yang sesuai karakternya bangsa. Tidak sepenuhnya menyerap metode asing yang tidak cocok dengan kepribadian bangsa. Dan pasti sangat banyak yang baik untuk kita adaptasi dari mereka.

Maka akupun dalam kuliahku ada matakuliah MSDM. Kemarin gara-gara ada tugas yang belum selesai, jadi lupa aku menulis. Tidak tahu kenapa tugas MSDM belum kelar ketika waktu sudah mepet. Semestinya Kamis harus sudah selesai.

Padahal sudah direncanakan ketika pak Pambudi, dosen MSDM menyuruh kami segera mengerjakannya. Tidak tahu kenapa buntu saja pikiranku ketika memulai menulis makalahnya. Tapi kalau sudah kepepet, gagasan-gagasan baru bermunculan.

Mungkinkah karena tidak konsentrasi? Akibat begitu banyaknya pekerjaan, begitu banyaknya pikiran. Memang mental bangsa Indonesia mesti disuruh-suruh dulu. Dan kalau sudah kepepet, baru bisa dilaksanakan.

Aku menulis kok kaku begini. Sudah tiga hari tidak menulis. Berarti sekarang aku harus menulis minimal dua lembar. Kalau gak dibayar pekerjaan menulis itu bakal jadi hutang. Hutang mesti dibayar.

Barusan pulang dari kampus ada kuliah Fiqh Muamalah. Menyesal aku tidak bertanya. Perasaanku sebentar banget waktunya. Tadi Uly minta pinjam buku catatan harianku. Katanya ia mau baca. Sekedar baca atau apa. Aku belum siap catatan harianku dibaca orang lain.

Sekarang anak-anak MKS lagi pada nongkrong. Kupikir mending aku pulang ke kosan dan menulis. Aku sering dibuat bingung. Kalau tidak ikut temen-temen, takut disangka individualistis. Tapi dalam pikiranku sekedar nongkrong saja menjadi waktuku sia-sia. Tapi ini pengalaman, beginilah keadaannya. Beginilah rasanya nongkrong dan begitulah tidak ikut nongkrong. Darinya aku harus mencari sesuatu yang bermanfaat.

Katanya ada empat golongan umat Islam. Pertama, ada Masyarakat Penonton (Watching Society), Masyarakat Pembaca (Reading Society), Masyarakat Penulis (Writing Society), dan Masyarakat Pembelajar (Learning Society).

Masyarakat Penonton cuma bisa mengkritik saja. Hanya pintar berkomentar saja tentang sesuatunya. Sedangkan Learning society adalah ia yang melibatkan tiga tahapan mulai dari membaca, menulis dan berpikir. Membaca juga dalam pengertian tidak hanya kitab yang artinya buku-buku yang dibuka ditutup, melainkan sudah pada kitab yang selalu terbuka. Lembaran-lembaran alam semesta.

Aku menjadi kacau begini. Apakah tingkah lakuku berlebihan. Aku takut kelepasan ngomong. Jadi lebih baik diam. Tapi kalau diam terlihat ‘kuuleun’. Aku harus bagaimana? Ikuti saja langkah-langkah mereka. Keliling kampus mencari hal-hal baru. Aku ingin melakukan hal-hal baru. Misalnya selalu usahakan duduk paling depan atau kalau tidak kebagian duduk di tengah.

Terima kasih ya Allah, Engkau memberi kekuatan pada hamba-Mu mampu salat Tahajud. Ya Allah istikomahkan aku. Aku berserah diri pada-Mu, pencipta dan pemelihata alam semesta ini.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori