Oleh: Kyan | 18/03/2005

Corong Ide Cemerlang dan Kecantikan

Jum’at, 18 Maret 2005

Corong Ide Cemerlang dan Kecantikan

**

Sebentar lagi UTS tanggal 21 April. Sementara proses belajar belum optimal. Sepertinya tiga minggu atau sebulan penuh bakal banyak tugas. Aku harus siap menghadapinya. Emang aku siap dan bersedia untuk mengerjakan tugas yang bagaimanapun.

Banyak makanan haram berkeliaran di sekitar kita. Aku harus berhati-hati. Sering terjadi di pasar pemotongan daging ayam tidak sesuai syariat Islam. Hanya sekedar potong dan dicelupkan ke air panas. Sementara ayamnya belum mati total. Jadi matinya bukan disembelih tapi dicelupkan ke air panas.

Aku harus peka terhadap keadaan lingkungan. Aku harus peduli dan bergerak menegakkan kebenaran dan keadilan. Setiap ada yang terlintas di hati aku harus mengungkanpkannya lewat kata-kata. Baik lewat lisan maupun tulisan. Kemarin saja sewaktu registrasi, kok kampus Islam menggunakan jasa bank riba. Padahal bank sya riah sudah ada.

Sudah tidak rukhsah lagi keadaannya ketika sudah tersedia pelayanan perbankan syariah di Indonesia. Apalagi ini intitusi Islam yang berlabel Islam yang memperjuangkan kebenaran kok masih berhubungan dengan bank riba. Waktu pendaftaran dan registrasi pertama pikiran sudah terlintas di hati. Tapi aku tak mengungkapkannya baik lewat tulisan maupun menceritakannya kepada teman-teman.

Tentang kemerdekaan berbicara, kemarin saja sewaktu mengikuti kuliah kenapa aku gak bisa ngomong. Seperti kerongkonganku dicekik sehingga tak bisa mengeluarkan ide-ide cemerlang atau gagasan-gagasan brilian. Teman-teman pada ngomong menanggapi materi yang disampaikan dosen. Tapi aku gak bisa ngomong, kenapa?

Sebab apakah aku tak muncul pertanyaan? Apakah karena tidak berpikir karena pikiranku tumpul? Sebenarnya aku mampu berbicara untuk melontarkan apa yang jadi pikiran. Tapi kadang segala pikiran sering sulit atau tidak mampu terwadahi oleh ungkapan kosakata bahasa yang tidak terbiasa.

Disinilah perlunya untuk melatih cakap berbahasa. Untuk dialektika pergumulan atau diskursus pemikiran dan perasaan. Untuk melambungkan akal potensial menjadi akal aktual. Aku pasti bisa berbicara dengan baik dan dapat difahami audiennya.

Kemarin cuma satu mata kuliah. Setelah itu pulang dan nonton saja dengan temen-temen di kosan. Pertanyaanku apakah aku menggunakan waktu secara optimal. Menurutku mendapat ilmu tidak sekedar cuma dari baca buku atau diskusi dengan teman, tapi juga dari saripati pengalaman melewati segala hal. Kalau itu dianggapnya sebuah kesia-siaan, asalkan kita mengolah dan merrenungkan, niscaya mampu menyepuhnya menjadi emas keperak-perakkan.

**

Barusan dua bersaudara, Lia dan Eka main ke kosanku. Dia bilang padaku bahwa sekarang sudah gak ada hubungan lagi sama Iwan. Dia mengungkapkannya begitu ceria seperti kelihatan senang. Tapi dia bilang saat ini dia ingin sendiri dulu. Tapi suatu saat bakal butuh seseorang yang melindungi dirinya. Semoga saja aku bisa memahami jalan pikirannya. Semoga aku mampu membawa Lia menjadi semakin baik. Aku gak tahu apakah aku suka dia atau sekedar sayang sebagai kakak.

Dia memang cantik. Dan aku sudah tahu kekurangannya. Apakah aku bisa menerima kekurangan dia aku belum tahu. Setiap orang ingin mendapatkan pasangan sempurna. Uly Ajnihatin juga aku sudah tahu kekurangannya. Memang sih kalau ingin menemukan kekurangan orang lain, begitu gampang menemukannya pada diri seseorang. Tapi kalau menemukan kelebihannya, terasa susak. Seperti ada gajah di pelupuk mata seperti tidak kelihatan.

Tapi memang tak susah-susah amat. Kita saja gak mau menerima kelebihan orang lain. Inginnya menjatuhkan saja dan tak rela orang lain memiliki sejumlah keunggulan. Suatu saat kalau aku mencari istri aku harus tahu dulu kekurangannya. Apakah aku bersedia menerima kekurangan dia itu yang jadi pertanyaannya. Mungkin secara perlahan aku bisa menerima. Seperti kata orang manusia tidak ada yann sempurna. Kata orang lain sempurna, belum tentu menurut kita. Begitupun sebaliknya menurutku ia begitu cantik rupawan tapi bagi mereka biasa-biasa.

**

Ingin malam ini aku salat Tahajud. Sungguh Allah yang memberi kekuatan. Aku bangun pas adzan Subuh. Alhamdulillah aku bisa salat subuh berjamaah di masjid. Rencana hari ini aku mau ke Palasari mau beli buku. Itu kalau ibuku sudah mengirim uang.

Transkip nilai belum ditandatangi dosen pembimbing dan ketua jurusan kuliahku. Mencari uang itu sulit. Sekarang aku cuma meminta-minta saja. Ibu mencari uang, siang dan malam tiada henti. Berangkat pagi dan pulang jam sebelas malam. Makanya aku gak boleh menyia-nyiakan pengorbanan Ibuku.

Aku harus rajin belajar dan sungguh-sungguh menempuhnya. Untuk meringankan beban ibuku, makanya aku mau mengajukan beasiswa buat biaya hidup dan kuliah. Aku belum bisa mencari uang sendiri. Aku mengakui meminta-minta itu bisa membuat rendah diri. Tapi apalah daya merendah dan menunduk untuk suatu saat menengadah yang tidak pongah.

Aku harus belajar terus. Biarlah orang lain menanggapi yang bukan-bukan. Aku pantang berbuat sia-sia. Nongkrong bagiku hanya mengisi waktu dengan kesia-siaan. Tapi sekali-kali boleh buat melihat perkembangan dunia manusia yang suka nongkrong.

Mungkin saja menurut mereka itu perbuatan yang bermanfaat. Menurutku saja itu sia-sia. Segala sesuatu itu pasti subjektif. Ilmu juga subjektif bergantung di bumi mana racikan awalnya. Ilmu tidak sungguh-sungguh objektif. Makanya ada yang berpendapat perlu adanya Islamisasi segala keilmuan Barat. Itu pendapat Sayyid Husein Nasr, Naquib al-Attas, dan Ismail Raji al-Faruqi.

Aku merasa belum belajar optimal. Sekarang sudah ada tugas yang harus diselesaikan dan dikumpulkan hari Kamis depan. Aku mampu mengerjakannya dan tidak akan terlambat mengumpulkannya. Hari ini aku harus mencari bahan. Fiqh Muamalah harus menghapal ayat-ayat al-Quran seputar hukum muamalah. Aku belum menghapalnya. Fiqh Muamalah belum aku tulis kembali. Aku harus selalu mengulang pelajaran Manajemen Operasi bukunya aku harus punya. Nanti akan aku cek ATM-ku. Aku gak boleh mendramatisir keadaan.

Jerawat Insya Allah bakal sembuh. Aku haru rajin minum air putih. Terutama pas setelah bangun tidur langsung minum. Terasa kulitku makin cerah. Aku ingin beli Habbatusauda dan Temulawak di Ahad-Net. Tapi aku gak punya uang.

Koleksi Tafsir Fi Zhilal kurang puas. Soalnya ada buku jilid 1-3 cetakan lama 2001, sementara selanjutnya cetakan 2004, jadinya campuran. Sehingga dilihatnya kurang bagus dan pemandangannya agak semrawut. Yang paling parah cetakan jilid tiga. Apakah aku hibahkan saja ke perpustakaan, terus aku beli lagi yang baru. Memang aku punya duit? Luarnya gak terlalu penting, yang penting isi materinya. Tapi tetap saja gak enak dipandang.

Anggota DPR saja tawuran. Para wakil rakyat memberi contoh yang tidak baik. Memang yang namanya wakil tentu menjadi cerminan masyarakatnya itu sendiri. Kemana moral bangsa Indonesia. Itu bukan wakilku sebagai rakyat. Sebegitu bejadnya moral bangsa Indonesia. Apa yang salah selama ini, selama 60 tahun kemerdekaan ini. Pembangunan SDM bangsa Indonesia gagal.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori