Oleh: Kyan | 19/03/2005

Satu Kebanggaan Mihdan Corporation

Sabtu, 19 Maret 2005

Satu Kebanggaan Mihdan Corporation

**

Masuk kuliah pagi hari, ternyata dosennya tak ada. Kami hanya nongkrong saja di depan kampus. Lagi-lagi aku merrasa waktuku sia-sia. Kalau cuma sekedar mengobrol hal yang sia-sia. Makanya dalam kesempatan seperti itu, aku harus bisa ikut andil. Itu dapat menjadi kesempatan mensosialisasikan ilmu-ilmu yang kupelajari. Intinya ada pertukaran pikiran diantara kami.

Misalnya bicara seputar ilmu, seputar budaya baca dan tulis. Tapi aku gak boleh sekedar sok tahu. Jangan sampai menjatuhkan perasaan dan harga diri orang lain. Jangan memotong pembicaraannya karena itu merasa tak dihargai.

Aku harus terbiasa bertanya dan bertanya. Ternyata aku bisa mengeluarkan ide-ide brilian. Aku harus mensosialisasikan budaya baca dan tulis. Kebiasaan membaca dan menulis bermanfaat sekali. Aku harus tenang dan terkendali.

Apakah perilaku hari ini terlalu berlebihan. Aku salut dengan aktivitas Uly selama yang kuamati. Setiap orang pasti punya agenda masing-masing. Dia setiap hari selalu sibuk dengan pekerjaannya disamping kuliah. Akupun mulai suka ke Mihdan Corporation dengan segala konsep bisnisnya.

Di sana adalah kumpulan orang-orang yang sibuk berbisnis dan bersemangat. Tentunya berilmu. Dia banyak berinteraksi dengan mereka. Terus dia mengajar privat mengaji dan tentunya dapat imbalan yang wajar. Dia pintar mengungkapkan ide-ide yang muncul ke dalam untaian kalimat yang indah dan harmonis.

Sedangkan aku tidak tahu apa-apa. Makanya kalau ngobrol dengannya lebih baik aku mendengarkan saja dengan aktif. Supaya jadi ilmu dari setiap kata-kata yang tercurah lewat bibir manisnya. Jangan memotong pembicaraannya. Aku harus memancing supaya orang lain yang banyak bercerita, membicarakan tentang dirinya, atau yang menarik minat orang lain. Daripada mencela atau menghardik, lebih baik aku memuji orang setiap hari. Memang aku belum merealisasikan kebiasaan itu.

Aku harus menambah dan memperkuat relasi. Kadang aku merasa rendah diri dan minder di hadapan mereka. Perasaan itu aku tepis karena itu hanya perasaan yang belum tentu benar. Aku punya kelebihan dan keunikan tersendiri. Intinya aku juga ingin didengarkan oleh orang lain. Pokoknya jangan sampai omongan jadi terputus.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori