Oleh: Kyan | 22/03/2005

Membaca Spong dan Berbagai Bahasa

Selasa, 22 Maret 2005

Membaca Spong dan Berbagai Bahasa

**

Kesuksesan adalah kebiasaan-kebiasaan yang membikin kita sukses. Jadi tidak berat untuk menggapai kesuksesan. Tinggal merubah saja kebiasaan-kebiasaannya. Hanya aku harus bisa membedakan mana kebiasaan baik dan mana kebiasaan yang tidak mendukung pada pencapaian cita-cita dan impian yang selama didambakan itu.

Menurutku kebiasaan baik adalah membaca buku, menulis, berdiskusi, atau sering datang ke perpustakaan, ke toko buku, mendengar cearmah atau nasihat atau apapun saja demi perbaikan dan pertumbuhan diri. Kemana-mana bawa buku dan pulpen buat menulis ide-ide yang muncul. Apakah selama ini yang aku lakukan adalah kebiasaan-kebiasaan baik?

Sedangkan kebiasaan buruk menurutku adalah tidur-tiduran, mendengar musik secara berlebihan, menunda-nunda pekerjaan, unek-unek gak diungkapkan. Termasuk mengutak-atik komputer juga bisa memakan waktu.

Sebelum melakukan apapun aku harus merenungkan dulu apakah perbuatan yang dilakukan akan membuat kita lebih baik. Buku-buku sudah banyak yang kubaca, saking banyaknya sampai bingung buku mana yang harus dipahami secara lebih mendalam. Semuanya buku bagus dan mungkin tak satupun aku amalkan.

Mengatasi kecemasan aku belum bisa menanggulangi kecemasan yang menghantui saat ini. Kebiasaan sukses yang belum optimal kulakukan adalah surfing internet untuk merambah pengayaan wawasan. Cara memperolehnya harus pakai duit sebagai investasi ataupun kita menyebutnya pengorbanan. Untuk menggapai kesuksesan yaa harus berani berkorban.

Membaca buku sambil mendengar radio sepertinya kurang konsentrasi. Menelisik pikiran harus dalam keadaan hening atau boleh juga sambil mendengarkan Murottal Alquran.

Aku belum mencoba. Tapi kalau membaca sambil mendengar radio pun aku bisa konsentasi. Sambil jalan-jalan belum pernah juga mencoba.  Segala teknik sebagaimana kecerdasan multiply-nya Howard Gaardner belum kucoba semua. Termasuk tipe pembelajar apakah aku ini dalam sudut pandang Howard Gaardner.

Aku selalu minder, aku tidak tahu apa-apa. Aku bodoh padahal aku sudah banyak baca buku berkualitas. Aku ternyata tidak bisa berpikir secara mendalam. Buku yang kubaca harus kuceritakan atau diikat dengan tulisan.

Tentang pengalaman yang kualami harus selalu update menuliskannya sebagai jejak perjalanan. Seperti kemarin menonton VCD Debat Islam-Kristen, kuperoleh tentang Spong. Apakah “spong” muslim? Bisakah dan mungkinkah secara budaya seseorang itu Kristen tapi hatinya Islam.

Pembicaranya pasti jago bahasa Inggris. Sedangkan aku mana bisa berbahasa Inggris, apalagi Arab, apalagi Urdu, apalagi Hindi. Aku harus belajar berbagai bahasa. Bukan sekedar belajar tapi mencobakannya dalam percakapan dan menelaah literatur yang menggunakan bahasa pengantar bahasa tersebut.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori