Oleh: Kyan | 31/03/2005

Mencari Pecahan Rp 20.000,- dan Membaca di Toko Buku Gunung Agung

Kamis, 31 Maret 2005

Mencari Pecahan Rp 20.000,- dan Membaca di Toko Buku Gunung Agung

**

Masuk kuliah Komputer jam 8.30. Hanya latihan ujian. Untuk bisa praktik sendiri harus banyak bertanya. Selesai kuliah Komputer kusempatkan baca koran Republika di perpustakaan Fakultas. Yang aku dapat apa ya, kok gak ada yang ingat. Dipikir-pikir gak ada yang nempel di kepalaku. Sudahlah tak apa-apa.

Tadinya aku mau langsung cabut ke BIP, tapi Sahril memanggilku. Katanya mau mengeprint sekalian minta tolong mengedit ke power point. Selesai dikerjakan jam 11.30 dan aku dapat imbalan Rp 1.500,- Uangnya Rp 2.000,- berarti aku punya hutang 500 ke Sahril. Aku jadi ingat aku pun punya hutang ke tukang fotocopi Rp 1.500,- Karena lupa terus jadi belum kubayar. Hari ini aku mau bayar. Makanya kalau punya hutang segeralah bayar.

Ketika naik Damri, di dalam ada teman kampus se-bimtes di Furistif. Lupa lagi aku namanya. Tapi dia tahu namaku. Benar-benar aku pelupa. Aku tidak boleh lupa. Mau menanyakan namanya gak sempat. Dia bilang rumah dia di jl. Astana Anyar dekat rumah Dadan anak jurusan Muamalah.

Di Damri aku ketiduran. Untung pak kondektur membangunkan aku. Beruntung di sekelilingku penumpangnya sedikit. Jadi maluku hanya sedikit. Ini tidur benar-benar hilang kesadaran. Bagaimana nanti kalau ada yang mencopet. Emang aku punya uang yang pantas dicopet?

Tepat di jalan Kepatihan aku turun dan langsung menuju Masjid Raya untuk menunaikan salat Duhur. Aku ingat bahwa di depan masjid raya ada ATM BRI. Nanti selepas salat aku mau coba cek ATM ke sana. Apakah ada pecahan uang Rp 20.000-an.

Setelah menitipkan sandal aku melihat dulu papan pengumuman. Di sana banyak info seminar enterpreneursip. Kupikir-pikir kalau mau ikutan mesti punya duit. Soalnya bayar Rp 100.000,- Dengan uang segitu lebih baik buat makan saja. Buat makan masih tersendat-sendat ini mau membeli kemewahan bernama seminar. Mau memberikan infak buat penitipan sandal saja terasa berat. Soalnya aku harus berhemat. Lain kali aku mau memberi dan setelah itu mati.

Selesai salat Duhur aku menuju ATM BRI. Ternyata uang pecahannya Rp. 50.000,- semua. Terpaksa aku harus ke BIP untuk diteruskan ke jalan Dago. Yang kutahu hanya disana ada ATM yang uang pecahannya masih ada Rp. 20.000,- Aku mau jalan saja, mau menghemat pengeluaran.

Mampir dulu sebentar ke jalan ABC mau melihat-lihat pajangan elektronik. Aku ingin punya tape recorder. Nanti kalau sudah punya uang aku hendak beli tape recorder untuk kuputar koleksi kasetku. Tapi aku harus mempercepat langkah untuk segera sampai di Dago. Karena sebentar lagi mau hujan.

Sampai di jalan Merdeka kucoba dulu ke Bank Permata. Kupikir siapa tahu di Bank Permata ada yang sedang kucari. Begitu kulihat tenyata Bank Permata masih menyediakan ATM pecahan 20.000,- suprise banget. Jalan kakiku tidak perlu diteruskan menyusuri jalan Dago. Untuk mendapatkan uang segitu harus cape-cape jalan kaki ke BIP, tapi itulah perjuangan. Untuk mendapatkan sesuatu harus ada pengorbanan.

Sedang mengambil uang di ATM tiba-tiba aku merasa kebelet. Tadinya mau langsung ke Gramedia terpaksa ke BIP dulu mencari toilet. Mau berkunjung ke Gunung Agung. Sudah lama tak main ke sana. Karena jarang main lagi di BIP aku dibuat bingung mana jalan ke toilet. Setelah dicari-cari akhirnya ketemu juga.

Lalu aku masuk ke area buku. Banyak buku bagus. Aku melihat-lihat majalah saja. Terutama yang menarik pandangan mataku tertuju pada majalah Sabili dengan judul besar ‘Ulama Didzalimi’. Salah satu isinya ada artikel tentang Tsunami, JIL dan Goenawan Mohamad. Dikatakan SMS Mas Goen: “Kalau tsunami adalah cobaan Tuhan, berarti Tuhan itu buas. Tuhanku bukan buas tapi penyayang. Sms ini daimini Ulil, kata majalah Sabili.

Oleh penulis redaksi Sabili, katanya kalau Goenawan Mohammad berpikiran begitu berarti kerangka awal berpikirnya adalah Tuhan seperti binatang buas. Katanya Ulil banyak mengutip ungkapan-ungkapan orang, bukan merujuk firman Alquran dan al-Hadis. Tapi bagi saya biarlah ini terjadi supaya pemikiran bangsa Indonesia berkembang dan tidak kaku. Karean sudah pasti keburukan akan hancur dengan sendirinya. Keburukan akan terbilas oleh kebaikan-kebaikan.

Ada juga artikel Pramodeya Ananta Toer yang ditanya tentang Tuhan dan apakah pernah berdoa. Jawaban dia katanya sejak kecil saya sering dinasihati oleh ibuku untuk pantang berminta-minta. Karena meminta-minta akan menurunkan martabat. Kalaupun harus memohon mesti pake bahasa apa. Bahasa indonesia, wong Tuhan tidak bersekolah di Indonesia.

Menurutku, lanjut Mas Pram bahwa kita berdoa harus dengan perbuatan. Tapi apakah ini pemikiran Mutazilah. Tapi kita juga mesti melihat kehidupan Rasul. Rasul berdoa kadang dengan tengadah kadang tidak. Simbol-simbol mesti ada. Agama penuh dengan simbol. Simbol dan substansi sama penting.

Di sana juga aku melihat buku berjudul “Islamic Invation” karya Robert Morey. Katanya buku itu harus dibaca oleh kalangan yang mengkampanyekan agama. Menurut buku itu, pluralisme agama tidak ada. Yang ada menurutnya adalah jalan iman (Faith) keimanan atau kafir/ingkar.

Ada artikel tentang Najwa Shihab, puteri kedua pak Quraish Shihab, pakar Tafsir Indonesia. Najwa Shihab yang gak pakai kerudung ini bilang bukan berarti tidak berjilbab itu tidak terhormat. Berjilbab memang terhormat. Mungkin suatu saat kalau ada hidayah, saya akan berjilbab. Masalah jilbab memang banyak interpretasi lain. Aku harus banyak memahami pemikiran orang lain. Aku jadi makin menggebu ingin baca tafsir al-Mishbah.

Ada lagi ungkapan Pak Jalal: Saya bukan tidak setuju dengan penerapan syariat Islam seperti pemahaman bapak-bapak, tapi saya lebih ingin syariat yang universal. Mau pakai madzhab yang mana. Bukan mazhab, tapi Alquran dan Hadis, yang mana?

Pantas pikiran Kang Jalal begitu. Soalnya penerapan syariat di Arab Saudi adalah mazhab Hambali. Syariat di Iran mazhab Syiah.  Syariah di Pakistan adalah mazhab Hanafi. Lantas di Indonesia penerapan syariat mungkin mazhab Syafii.

Aku tidak tahu. Aku lebih setuju dengan pendapat semua orang meski katanya itu plin-plan. Karena kacamata berpikirnya beda-beda. Mereka melihat dari sudut yang berbeda-beda. Harus ada penegakkan hukum Allah yang universal, yang membela kaum mustadafin. Yang lebih penting itu substansiya, diantara simbol-simbol yang juga penting.

Teringat dari baca koran Republika adalah tentang kedudukan kaum intelektual. Apakah pembela penguasa atau pembela rakyat. Pernah terjadi ada kaum intelektual yang membela tinda-tanduk penguasa walaupun penguasa itu dzalim. Seorang intelektual kadang bisa terjerembab dengan memberi pembenaran tindakan-tindakan penguasa yang “amoral”.

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori