Oleh: Kyan | 09/04/2005

Libatkan Emosi Dalam Belajar

Minggu, 10 April 2005

Libatkan Emosi Dalam Belajar

**

Kata Al-Ghazali, berbagai pendapatku akan berguna bagi kalian untuk membangkitkan keraguan dalam diri kalian tentang keprcayaan-kepercayaan yang diawasi secara turun-temurun dan mendorong kalian untuk mencari sendiri tentang kebenaran yang hakiki.

Dan apabila kalian telah terlibat dalam pencarian seperti itu, maka kalian baru akan menemukan kebenaran yang sejati. Ragukanlah yang kalian peroleh dari mereka sehingga kalian dapat memperoleh keyakinan tentang kebenarannya. Lalu kata Albert Einstein, kalau A adalah sukses dalam hidup. Maka rumusnya A = X + Y + Z dimana X adalah bekerja, Y adalah bermain, dan Z adalah tidak banyak bicara.

Dua mutiara ini dikutif dalam tulisan Pak Hernowo. Menyimak tulisan-tulisan pak Hernowo selama ini, tulisannya terkesan hidup. Membuatku jadi antusias dan tidak ingin berhenti aku membacanya. Beliau membaca dan menulis kadang dini hari atau subuh hari. Memang beliau mengaplikasikan anjuran Morist Schwartz untuk menulis pagi hari. Pak Hernowo juga pengagum Sindunata dan Yudi Latif.

Seorang filsuf dari Miletus, Thales mengatakan bahwa segala sesuatu dan tujuan akhir dari segala sesuatu adalah air. Ini bersesuaian dengan kata Alquran bahwa dari air segala sesuatu berasal. Mitologi bukan merupakan filsafat. Mitologi adalah langkah awal menuju agama sejati. Dan filsafat Yunani bukan berasal dari mitologi Yunani.

Pengarang buku “Perjumpaan Sains dan Agama” Bruno Guiderdoni,  juga seorang pakar fisika dan astrofisika Universitas Paris, mualaf, menjelaskan hubungan antara sains dan agama.

Dalam tulisan pak Hernowo bahwa masalah menilai orang lain, terutama dalam menilai keberhasilan belajar, jangan langsung menyalahkan bahwa si anak bodoh, telat mikir, idiot. Tapi lihat keadaan di luar di si anak didik. Bagaimana metode atau sistem yang dipakai dalam belajar.

Makanya diperlukan belajar dengan melibatkan emosi. Memakai sembilan jenis kecerdasan temuan Howard Gardner. Kalau terjadi kegagalan, carilah penyebabnya. Kita harus mencicil buku. Membaca buku mengenai temuan-temuan sekarang. Yaitu bahwa belajar harus memakai perangkat emosi dasar, yaitu cinta dan benci, takut dan sedih, serta rasa bersalah dalam paradigma baru membaca.

Teks mana yang dapat mengubah diriku. Apakah mata pelajaran yang kupelajari ini dapat mengubahku? Sekarang yang dibutuhkan adalah menghasilan sebuah karya, bukan sekedar memecahkan masalah.

Minggu pagi rencana mau lari pagi bersama Irhandi. Tapi gak jadi akhirnya, karena Irhandi mau ada acara. Kemarin sudah janji mau lari ke atas. Gak apa-apa yang penting aku sudah memenuhi janjiku. Aku sudah belajar tepat janji.

Sampai jam delapan aku masih di kos anak Palembang. Memang benar, kalau silaturahim bisa mendatangkan rezeki. Aku bisa kenal dengan anak Palembang lain: Marwan dan Ekky. Tadi sih gak diingat-ingat.

Aku pulang dan sampai di kosan kusempatkan dulu membuka Tafsir Fi Zhilal, lalu mencuci baju. Setelah mencuci, rencana mau mengerjakan tugas, eh ini malah mengutak-atik kompuer dan radio.

Karena beli speaker gak punya duit, mendingan memanfaatkan yang ada. Mencoba begini-begitu tetap kurang bagus. Tapi lebih bagus dibanding sebelumnya. Tapi kenapa ada doble gelombang. Memang katanya banyak radio gelap. Tidak apa-apa aku jadi bisa menikmati dua gelombang sekaligus. Meski memang kedengarannya tak enak.

Besok aku berjanji tidak akan mengutak-atik komputer dan radio lagi. Besok aku harus mengerjakan tugas Manajemen Pemasaran dan Operasi. Untuk mencari referensi kalau ke warnet terus, uangnya takut gak cukup buat makan. Mau ke Bapusda saja. Aku harus pagi pergi ke Bapusda, jangan menunggu apa-apa. Kalau tidak segera pergi nanti teman-teman pada datang dan aku gak bisa kemana-mana.

Ya Allah berilah kemudahan untuk bangun sahur dan salat Subuh berjamaah di masjid. Semalam tidur jam tujuh malam dan bangun jam setengah dua dini hari selepas salat Isya. Kemudian salat Tahajud dan membaca buku. Seperti biasa aku tertidur lagi dan bangun ketika adzan Subuh sudah lewat. Jadi gak sempat ke masjid.

Sekarang saja aku sahurnya. Takut nanti aku gak bisa bangun sahur. Soalnya sekarang sudah jam duabelas malam. Tapi semoga saja aku bangun. Makanya berdoa supaya dibangunkan untuk bisa sahur.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori