Oleh: Kyan | 14/04/2005

Menghidangkan Masa Depan

Jika dulu aku mempertanyakan pada hidup kenapa aku dilahirkan di sebuah kampung di pegunungan selatan Tasik, seolah-olah tak kuterima dunia ini melahirkan aku di sana. Tapi aku bersyukur sekarang. Aku bisa memiliki bahan untuk mendeskripsikan suasana kehidupan alam pedesaan.

Seorang anak kecil yang dipintal dan ditempa oleh nuansa alam hijau pohon yang bersih dan segar, bisa merasakan derit daun pepohonan, suara-suara lembut rumpun bambu yang tumbuh di sana-sini di hutan kami. Aku bisa menggambarkan keseharian petani desaku. Di saat pagi buta kami sudah berangkat ke ladang dan pulangnya bisa berenang di sungai. Saat sore kami belajar di Madrasah Diniyah dan malamnya mengaji di Mushala.

Ketika sudah sekolah, kami upacara bendera, berbaris di depan pintu kelas diperika kuku. Pulang sekolah pergi ke hutan mencari kayu bakar, mengejar burung puyuh, dan memasuki gua-gua batu atau dahan pohon tempat lebah bersarang. Dan ketika matahari kian condong ke barat kami pun pulang. Belajar di madrasah selepas Ashar dan mengaji lagi di malam dan subuh harinya.

Begitulah rutinitas sewaktu kecil. Rumah, sekolah, madrasah, tajug, mushola, masjid, hutan, sungai dan ladang adalah tempat-tempat yang menyatu dengan keseharian kami.Teknologi yang sudah masuk ke kampung kami paling radio transistor merk Nasional, atau tape kaset. Atau sesekali nonton TV hitam putih di rumah terkaya di kampung, yang kami tonton dari jarak sepuluh meter, berkerumun. Hanya seminggu sekali, sebulan sekali atau bahkan setahun sekali.

Dari radio yang kudengar adalah dongeng Wakepoh, si Rawing. Dongeng yang sering kudengar meski tidak rutin karena di rumah nenekku tak ada radio. Itupun di pengajian sering kena marah guru ngaji, karena mendengarkan radio hanya buang-buang waktu. Allah itu tidak suka pada perbuatan sia-sia. Tanda orang mukmin itu membuang jauh-jauh perbuatan tak berguna.

Mendengar lagu paling lagu dangdut, atau lagu Malaysia-an. Pernah juga kulihat di koleksi kaset pamanku ada kaset Iwan Fals yang cangkangnya sudah kusam. Pernah kudengar lamat-lamat suaranya yang fals itu, tak suka aku. Saat itu aku heran kenapa pamanku begitu suka, sadarnya aku sekarang.

Dulu lagu-lagu Iwan Fals tak suka aku. Karena yang lebih mengena di hatiku adalah lagu dangdut, terutama lagu “Pangeran Dangdut”-nya Abiem Ngesti. Ketika menonton “Album Minggu Kita” setiap hari Minggu di TVRI, seringnya melototin klipnya Pangeran Dangdut. “..Suaraku terdengar di mana-mana, dari kota sampai pelosok desa…”. Begitupun suaraku sekarang ingin kuperdengarkan ke segenap penjuru bumi.

Akh, alamku alam desa. Pikiranku pikiran orang-orang desa. Aku tak bisa melepaskan dari pergumulan di alam pedesaan dengan segala tekek-bengeknya. Di kampungpun keluargaku bukanlah keluarga terhormat, malah keluarga yang ayah dan ibuku telah bercerai. Aku hanya tinggal di rumah nenek dan sebelumnya tinggal berpindah-pindah dari uwa yang satu ke uwa yang lain. Ayah dan Ibuku melanglangbuana ke kota, sementara aku ditinggal di pojok desa.

Dan sekarang aku lari dari alam desa itu. Aku berdiri sendiri di satu tempat yang begitu jauh dari desa hatiku. Disinipun aku masih terpojok dengan gemerlap kota. Sekarang aku ingin pulang ke desa. Aku ingin bisa memandang secara utuh lagi antara desa dan kota. Ingin bercengkrama dengan mereka. Saat dulu aku tak banyak mengerti dengan hidup, sekarang semakin aku mengerti bahwa hidup…ya hidup begini adanya. Tangisan keharuan, kerinduan yang mendalam, kepiluan dan keperihan yang mengoyak-ngoyak batin.

Seharusnya aku sudah meninggalkan masa lalu, bekerja lebih keras lagi saat ini, berpengharapan menyongsong masa depan. Mengubur masa lalu yang getir dan memunculkan dan mengambil yang indah dan manisnya. Sari-sari masa lalu diolah sekarang dengan ceruk pengalaman kemarin sore dan menghidangkannya besok pagi.

Dan sekarang, belum setetespun kutuangkan sari masa lalu itu ke dalam kuali prosesi masa depan. Meraciknya dan mengadonnya, dibubuhi bumbu prahara dan nestapa, memasaknya dengan api pengetahuan, lalu kuhidangkan di altar makna.


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori