Oleh: Kyan | 16/04/2005

Sosialitas Asrama dan Hormat Pada Pujian

Sabtu, 16 April 2005

Sosialitas Asrama dan Hormat Pada Pujian

**

Komputer bermasalah lagi. Rencana malam minggu mau main ke kosan Eka-Lia, tapi gara-gara komputernya ada masalah, kepergianku menjadi tertunda. Mungkin besok pagi baru bisa aku kesana. Kalau ada mouse sepertinya bisa diperbaiki ini komputer.

Selama ini aku selalu menjadi pribadi invidualistis. Sendirian saja di kosan. Aku jarang sekali kumpul-kumpul dengan teman-teman kos yang lain. Semestinya aku care, peduli dengan lingkungan asrama. Buktinya karena aku selalu diam di kamar, sementara jemuran pakaian dan sandal dibiarkan tak diperhatikan dan hilang. Orang lain mana memperhatikan dan siapa yang tahu bahwa pakaian yang sedang dijemur itu pakaianku.

Entah oleh siapa mengambilnya. Kemarin aku kehilangan lagi celana Cardinal yang kuingat dulu membelinya seharga Rp 130.000,- Sekarang, apakah aku sudah ikhlas? Kalau kupunya uang lagi sekarang sebesar itu, mendingan buat membeli buku saja.

Buat mengantisipasi banyak kehilangan, kalau malam dibuka saja pintunya. Jadi tahu siapa yang lewat. Apakah ada orang yang dikenal atau ada orang yang gerak-geriknya mencurigakan. Tapi katanya di tahun-tahun sebelumnya gak pernah kehilangan di asrama ini. Sekarang saja sering banyak kehilangan.

Kalau yang sering maling hape sudah ketahuan orangnya. Deni namanya. Anak PAI adalah si pencuri. Jangan-jangan barang lain juga dia yang mengembatnya. Padahal usir saja dia. Tapi kalau diusir berarti kosong salah satu kamar asrama. Nanti berkuranglah penghasilan yang punya asrama.

Tapi keberadaan dia membahayakan. Untuk mengantisipasi korban lain harus ditemukan solusinya. Tapi sadarlah bahwa beginilah dengan harta kekayaan yang kadang datang dan pergi begitu saja. Itulah roda kehidupan dunia yang penuh lika-liku. Ketika terjadi kehilangan lagi, buatlah jiwa-jiwa menjadi ikhlas. Tidak terlalu dibuatnya hati  pedih karena kehilangan.

ATM sudah ada uangnya gak yah. Ya Allah cukupkanlah rezeki pada kami. Jika sekiranya baik beasiswa yang akan kudapatkan, maka mudahkanlah. Hanya Engkaulah Maha Pemberi Rezeki. Engkau memang Maha Penyayang. Sesungguhnya aku tak pernah merasakan benar-benar kelaparan. Selalu saja tersedia pintu rezeki. Dengan berilaturahim bisa membuka pintu rezeki.

Kenapa yang selalu diperhatikan terus adalah yang menyangkut masalah uang. Kenapa itu-itu saja yang menjadi pikiran. Allah telah mencukupkan rezeki bagi hamba-Nya. Yang harus lebih diperhatikan adalah demi maaa, adalah waktu. Apakah aku sudah menggunakan waktu dengan baik. Apakah waktuku digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Perasaanku waktuku telah kugunakan buat melayani orang lain. Melayani orang-orang yang membutuhkanku. Aku harus melayaninya dengan baik. Meskipun sebenarnya keadaanku sedang banyak masalah. Problemaku jangan sampai membuat orang lain terbebani. Kalau kata Aa Gym cukup Allah saja yang mengtahui masalah kita. Apakah aku bisa seperti itu.

Pasti bisa, walaupun selalu ada keinginan untuk mengungkapkan segala masalah yang datang pada mereka. Sebenarnya yang baik itu yang bagaimana. Adalah fitrah kalau manusia itu butuh orang lain, butuh bantuan orang. Aku dan mereka hanya butuh didengarkan, bukan minta nasihat.

Tapi agar kita didengar oleh orang lain, terlebih dahulu kita harus aktif mau mendengarkan orang lain, mau mendengar keluhan-keluhan orang lain. Katakan pada mereka: “ada yang bisa saya bantu?, can I help you about your problem?”

Dengan berkata begitu, sepertinya orang lain akan merasa didengarkan dan dihargai dengan baik. Apakah aku sudah menjadi sahabat yang baik. Apakah hari ini aku telah memuji orang lain. Karena setiap orang haus akan pujian.

Hari ini aku telah memuji Yedi Hermawan dengan persentasinya yang bagus dan pandai mengolah kata. Lalu memuji Reza Mohammad karena tulisannya yang rapi. Memuji Siti Aminah dengan pakaiannya yang anggun. Terus mencari kelebihan-kelebihan orang lain dan katakan dengan tulus. Orang lain ingin disapa dengan baik, tidak cuek dan langsung saja menyapanya. Katakan: apa kabar, cantik sekali kamu hari ini. Semua orang ingin dibilang begitu.

Apa sih beratnya mengucapkan itu. Kenapa begitu berat untuk mengucapkan pujian. Maunya cemoohan saja dan tak ingin orang lain mengungguli kita. Inginnya kita mengkritik saja. Semua orang haus pujian.

Sekarang katakan pada setiap orang, minimal tiga orang harus aku harus memberi pujian dengan tulus dan memberi mereka semangat. Aku harus selalu memberi perhatian dengan banyak mendengarkan. Tadi aku berangkat kuliah terburu-buru karena harus kuliah. Mungkin aku telah mengecewakan orang lain. Aku harus memperbaikinya.

Aku harus melatih berbicara. Bagaimana merangkai kalimat yang benar dan enak. Aku harus melatih terus, bagaimana caranya. Belajar terus mulai dari hal-hal kecil. Dan alhamdulillah di hari Sabtu ini aku telah megnhadapi UTS dan kuis. Alhamdulillah sudah berjalan lancar. Karena aku belajar dengan baik.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori