Oleh: Kyan | 23/04/2005

Jalan Lain Jejak Kakek di Surau

Sabtu, 23 April 2005

Jalan Lain Jejak Kakek di Surau

**

Rencana mau mengerjakan tugas MSDM, komputernya lagi direntalkan ke Dian. Ia sedang mengerjakan tugas Akuntansi Syariah. Tak apalah kalau direntalkan pasti bakal ada penghasilan. Uangku Cuma Rp  1.000,- lagi. Alhamdulillah masih bisa beli rencang nasi. Mengerjakan tugas MSDM selalu saja ada halangan. Sudah direncanakan sejak hari Jumat yang selalu. Sudah sejak hari Jumat-Minggu juga aku gak sempat menulis. Padahal sebenarnya bisa.

Waktu hari Sabtu sehabis Subuh karena saking ngantuknya, eh malah tidur lagi. Bangun sudah jam tujuh. Tapi bangun jam tujuh gak terlalu kesiangan. Jadi ingat kemarin, malam Jumat adalah hari lahir Rasulullah.

Kemarin aku tidur jam tujuh malam dan bangun jam setengah sebelas malam. Lalu kutunaikan salat Isya dan dilanjutkan dengan membaca buku “Islam, Dokrin dan Peradaban”-nya Cak Nur. Membaca sampai jam tiga dan dilanjutkan dengan salat Tahajud dan setelahnya malah tidur lagi. Bisa terbangun lagi jam setengah enam. Percuma saja Tahajud tapi subuh kesiangan. Mau bagaimana lagi.

Malam minggu ini aku tidur jam setengah duabelas. Mengcopy VCD ceramah Irene Handono di kosan teman. Tadi sewaktu pulang kuliah, aku gak sempat masak nasi lagi, keburu lapar. Jadi terpaksa beli. Pagi-pagi makan bubur, siang jam tiga baru makan lagi. dan malam jam tujuh makan lagi. Makan nasi goreng.

Dengan uang sendiri bakal habis Rp 12.000,- Aku mengeluarkan uang Rp 7.500,- dan sisanya ada yang memberi. Jika ditambah membeli cd kosong seharga Rp 6.000,- uang yang kukeluarkan habis Rp 18.000,- Boros sekali. Dan uangku sekarang tinggal Rp 2.000,-

Untuk hari minggu tersisa uang Rp 2.000,- Bagaimana ini. Air galon sudah habis dan minyak kompor sudah habis. Tapi alhamdulillah beras masih ada, tinggal satu kali masak lagi. Yang penting sampai hari ini detik ini aku masih bisa makan. Untuk kuperoleh makan jalannya bisa dari mana saja. Sanggupkah aku menyambung hidup hanya dari penghasilan rental komputer? Aku pasrah saja pada Allah. Allah Maha Pemberi Rezeki.

Aku belum belajar UTS Fiqh Muamalah dan SIM. UTS Manajemen Perbankan survei ke Pegadaian Syariah. Aku ingin ke Palasari mencari buku gadai syariah. Pagi hari Minggu aku harus mengerjakan tugas. Merangkum MSDM.

Nikmatilah hidup ini. Aku pilih jalan ini dan itu akan kembali pada diriku. Aku gak bisa dan gak boleh menyalahkan orang lain. Aku memilih jalan bahagia. Bahagia karena aku bahagia.

Sekarang sudah jam sebelas malam. Aku tidak sampai mencapai target hari ini. Waktuku habis di depan komputer. Aku harus menulis minimal tiga lembar, apakah aku mampu. Kok, sekarang aku tiba-tiba teringat pada kakekku.

Waktu kecil aku sering ikut salat Isya di surau, dekat kolam ikan dekat bendungan. Surau itu terletak 60 meter dari rumah kakek-nenekku. Kuingat pernah ada kejadian menarik waktu itu. Waktu mau melaksanakan salat Isya aku dan kakek berangkat ke surau kira-kira jam tujuh malam dengan penerangan membawa lampu lentera.

Maklum di kampungku belum ada listrik. Ketika kami sampai di surau, aku melihat seberkas cahaya dari sungai. Aku dan kakekku segera mendekatinya karena penasaran. Setelah dekat ternyata cahaya itu adalah cahaya lampu senter orang yang sedang membetulkan ledeng. Dikira mutiara atau kunang-kunang, ternyata ada orang.

Ketika aku mulai menulis kenapa tiba-tiba aku teringat pada kisah itu. Mungkinkah aku jarang berdoa untuk kakekku yang kini sudah meninggal itu. Ya Allah semoga kakekku diterima disisi-Mu dan diampuni dosa-dosanya.

Aku sudah lama gak pulang kampung. Teman-temanku yang kosan hampir setiap minggu selau saja pulang. Lantas aku mau pulang kemana. Pulang ke kampung di Tasik Selatan sangat jauh. Lagian ayah dan ibuku disana tak memiliki rumah. Ayahku gak tahu kemana dan ibuku ada di Batam.

Aku sudah dewasa dan harus mampu hidup mandiri. Biarlah pengalaman masa kecilku menjadi hikmah dan motivasi bagi diriku sendiri. Bahwa aku harus itqan dan ihsan, bersungguh-sungguh dalam hidup ini. Kuliahku harus terus berjalan walau kondisi finansial selalu tersendat-sendat.

Jangankah finansial dorongan keluarga agar aku selalu belajar bisa dikatakan tidak ada. Aku pergi kuliah ini karena kemauanku yang kuat. Kuliah karena aku yakin aku pasti mampu. Ketika kondisi sekarang yang sering sedih, prihatin, rendah diri, kesepian, kekurangan uang akan aku jalani dengan tabah.

Pokoknya hidupku harus selalu menjadi lebih baik dibanding hari kemarin. Memang jalan hidupku seperti ini. Episode hidup sedang begini. Nikmati saja bersabar dan bertawakal. Semuanya dikembalikan pada Allah saja.[]

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori