Oleh: Kyan | 25/04/2005

Bicaralah Wahai Elang Retak!

Senin, 25 April 2005

Bicaralah Wahai Elang Retak!

**

Ada kiriman dari kakakku, bahwa ibu kakak iparku meninggal dunia. Memang semua akan kembali pada-Nya. Hanya menunggu waktu saja datangnya kematian. Termasuk aku ini akan meninggalkan kefanaan ini. Apa yang kubawa, tak ada yang lain selain amalanku. Berbuat baik setiap hari, minimal memberi senyum yang mengembang pada sesama, mengucapkan salam tatkala berjumpa dengan kawan. Biasakanlah.

Nanti Sabtu aku mesti ke Batujajar. Ternyata kakakku sudah ada di Bandung lagi. Mengingat kakakku, kenapa aku begitu benci pada kakak pertamaku itu. Aku selalu saja teringat pada kemarahannya padaku. Dulu aku selalu saja membuat dia marah. Perasaanku ketika aku masih SD sampai SMP kelas 2, kurasakan kakakku begitu saying padaku. Ketika dia pulang ke kampung, aku bisa merasakan tanda sayangnya. Aku bisa melihat senyumnya.

Namun ketika kelas 3 SMP sampai SMU, sikap kakakku jadi berubah terhadapku. Selalu saja segala kelakuanku bikin kakakku marah. Aku sering kena marah terus dan sampai bosan dengan marahnya kakakku. Ketika aku diomongin ini dan itu, aku tak membantahnya.

Aku hanya diam saja tak bergeming. Mungkin aku juga mengaku bahwa aku salah dengan segala kelakuanku. Sampai sekarang aku jadi tak dekat dengannya. Walaupun gejolak hatiku ingin membantah, namun lebih baik diam saja. Sampai sekarang aku lebih baik diam.

Gara-gara pertamanya, aku dikatakan tidak suka menabung. Pernah dia ngomong yang bikin aku sakit hatinya masih terasa sampai sekarang. “Kerasa sekarang akibat tidak menabung”. Akupun ingat ketika ia memasang lampu di kos baruku ketika awal masuk SMU, tak sengaja peganganku licin, jadi lampunya jatuh. Dan pecahlah berantakan sang lampu. Dia pun memarahiku ketika uang hasil penjualan pakaian anak yang dijual kakak perempuanku malah kupakai buat makan. Dan ia pun pernah bilang, “Jika tidak terlalu perlu, jangan banyak membeli buku”.

Sekarang. Sampai sekarang aku belum melihat lagi dia tersenyum di hadapanku. Sejak aku masuk SMU, aku tak lagi melihat dia tersenyum. Hanya aku selalu saja kena marah. Hanya gara-gara itu, semuanya jadi berantakan. Kuakui aku mungkin memang boros. Aku ingin membantah aku gak semata-mata boros. Tapi aku tak ingin membantahnya.

Aku tak tahu sekarang. Di kosanku sudah beratus-ratus buku tersusun di rak. Apakah kakakku akan menganggapnya buku yang kubeli itu tidak penting. Yang ada dalam pikiranku aku hanya ingin mencari ilmu. Wawasanku ingin luas. Uang digunakan buat membeli buku.

Sampai kapan langkah hidupku tak ada yang bisa menghalangiku. Aku akan terus berjalan sampai menuju impianku yang hilang. Biarlah setiap orang mencaci dan menghina jejak langkahku, aku tetap tegap menghadapi sagala ranjau derita ini.

Malam ini ada tamu. Katanya mau ikut mengerjakan tugas. Kembali lagi aku menjadi terganggu. Padahal kalau aku mau mengerjakan sesuatu hal, ya kerjakan saja bagaimanapun situasinya. Kenapa mesti menyalahkan orang lain.

Kapan aku mau mengerjakan tugas. Aku belum tuntas menulis catatan harian ini. Kok lama banget aku menulis. Waktu limabelas menit sudah cukup menulis. Tapi ini hanya selembar saja lamanya minta ampun. Karena tidak konsentrasi dan selalu diselingi dengan mengobrol terus. Dan sekarang malam ini sudah jam delapan. Aku belum mulai mengerjakan tugas kuliah. Ketawa-ketawa saja dengan mereka.

Malam ini aku harus mengerjakan tugas. Kalau sampai malam larut aku belum tidur, aku selalu bangun kesiangan. Sepertinya itu sudah kebiasaan. Sekarang di malam ini aku lapar dan haus. Aku sudah tidak punya uang buat membeli makan dan minum. Setelah itu sudah bangun kesiangan. Apa yang harus kulakukan. Mesti bersabar menghadapinya.

Kemarin hari minggu sejak pagi sampai jam dua siang aku terus mengutak-atik komputer. Supaya komputer tetap jalan untuk bisa kuperoleh penghasilan. Sementara tugas belum selesai. Bisa dikatakan belum sama sekali dikerjakan. Menerjemahkan tugas Marketing sudah tinggal penyempurnaan. Malam tadi tidur jam duabelas.

Aku belum mengetik tugas Fiqh Perbankan. Aku malah asyik membaca buku tafsir yang dipinjam dari perpustakaan. Tadinya harus selesai Ashar mengerjakan tugas kuliah malah ketiduran.

Aku bangun lagi jam setengah lima sore. Aku segera bergegas mandi dan membersihkan kamar, kemudian nongkrong saja sambil menunggu adzan Maghrib. Setelah Maghrib baca tafsir satu halaman, lalu melanjutkan penyelesaian tugas terjemaahan Marketing. Masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Terutama persiapan UTS. Makanya tugas yang tinggal mengetik harus segera diselesaikan. Sepertinya waktuku belum kugunakan secara optimal.

Aku harus belajar pada aktivitas sehari-hari temanku, Uly Ajnihatin. Waktu dia begitu padat. Tiap hari dia selalu keluar, Senin-Rabu kerja di Mihdan, lalu mengajar privat. Baru Kamis-Sabtu kuliah. Dia itu kalau ngomong bisa dimengerti, bisa merangkai kalimat dengan baik. Teman-teman yang lain juga pada pinter bicara.

Sedangkan aku kalau ngomong selalu tersendat-sendat. Susah merangkai kalimat. Mungkin karena kurang penguasaan dalam kosakata. Aku mungkin karena terlahir dari kampung pelosok Tasikmalaya. Tapi aku ngomong Sunda juga tersendat-sendat. Mungkin karena waktu kecil aku jarang ngomong dan jarang bersosialisasi.

Masih ingat saat kecil waktuku selalu kuhabiskan di kamar. Aku seumur hidup main layang-layang hanya sekali. Karena pengalaman kecil itu akhirnya sekarang begini. Tapi aku harus terus belajar dan belajar berbicara. Segala kekuranganku telah kusadari. Memang beginilah aku. Itulah karakterku. Inilah aku.

Aku memang berbeda dari yang lain. Aku gak mau dibanding-bandingkan dengan orang lain. Aku menerima keadaanku saat ini. Aku yakin di suatu saat aku akan menjadi orang hebat. Karena kebiasaanku saat ini berbeda dari yang lain. Aku selalu bersemangat. Inilah aku. Lihatlah aku suatu saat nanti. []

**


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori