Oleh: Kyan | 28/04/2005

Islam, Doktrin dan Peradaban

Nurcholish Madjid, __Islam, Doktrin, dan Peradaban.jpgIslam: antara doktrin dan peradaban boleh dikatakan sebagai buku masterpiecenya Nurcholish Madjid atau biasa disapa Cak Nur. Aku sedikit mengetahui pemikiran beliau, bermula sebelum aku masuk kelas kuliah, aku mampir dulu ke perpustakaan kampus. Lalu bertemulah dengan buku ini. Buku setebal 626 halaman terbitan yayasan wakaf Paramadina menyapaku, menggodaku, dan kutemukan pemikiran-pemikiran yang tak boleh dilewat untuk dicatatkan.

Tapi Cak Nur katanya liberal. Aku belum tahu liberal yang mana. Setahuku liberal itu memisahkan agama dengan negara. Tapi Cak Nur selalu bilang bahwa Islam tidak mengenal liberal, pemisahan. Juga tidak menganal teokrasi, yaitu penyatuan agama dan negera seperti masa kerajaan Romawi. Jadi sekularisasi, atau katakanlah sekulerisme—kadung dikatakan begitu, yang dimaksud Cak Nur itu bukan pemisahan. Tapi pembedaan antara agama dan keduniaan. Karena agama sebenarnya adalah bersifat kemanusiaan yang memancar dari ketuhanan. Islam adalah agama terbuka, positif dan optimis, rasional dan tidak mitologisme.

Pengalaman umat Kristen akibat mitologisme, menjadikan mereka jadi fanatik, taklid buta, menentang ilmu pengetahuan sampai akhirnya muncul titah Paus Cyril untuk membakar perpustakaan besar di Iskandaria Mesir dan membunuh para sarjananya. Tapi abad kemudian ekspedisi muslim sampai di Mesir, yang tersisa diselamatkan dan digunakan sesuai keperluan, sehingga pada akhirnya Islam mewarisi kebudayaan Yunani. Selama enam abad lebih Islam mampu menjadi pusat peradaban dunia, yang salah satunya mengadapsi karena pengayaan berbagai tradisi dan peradaban lain.

Menurutnya justru Islam mengajarkan pluralisme agama seperti waktu negara Madinah. Negara Madinah merangkul semua umat. Antara Islam, Yahudi dan Kristen hidup rukun akur, yang bukan berarti hidup rukun adalah penyatuan agama. Tidak benar menyatakan semua agama sama. Tapi dalam masalah kemanusiaan setiap penganut agama harus bersosialisasi. Islam adalah agama globalisasi. Islam tidak mengenal kasta dan eksklusifisme.

Lalu katanya lagi masa hidup khalifah Bani Abbasiyah Harun Ar-Rasyid adalah semasa di Nusanara pada zaman keemasannya kerajaan Sriwijaya. Ketika pembangunan Masjid al-Aqsa, di Nusantara sedang ada pembangunan candi Borobudur. Lalu peninggalan di India hasil daulah Islamiah selain Taj Mahal, ada juga bangunan yang disebut Puri yang merupakan atraksi utama industri pariwisata saat ini. Walaupun di India mayoritas Hindu, tapi banyak peninggalan daulah Islamiah yang tetap berdiri sampai saat ini.

Sementara sebaliknya yang terjadi di Indonesia. Indonesia memiliki atraksi utama industri pariwisata adalah peninggalan kerajaan-kerajaan Hindu, walaupun Indonesia kini mayoritas penduduknya Islam. Ini menandakan bahwa bekas pengaruh kultural Islam belum membekas yang amat dalam pada bangsa Indonesia. Maka masalaah sekarang dan masa yang akan datang adalah pengembangan kultural Islam Indonesia dipandang perlu.

Lantas di mana kekeliruan pemikiran Cak Nur. Aku malah makin penasaran dengan jejak-jejak pemikirannya. Beliau hanya tidak ingin pengalaman masa lampau umat Kristen terulang oleh umat Islam akibat pemikiran yang buta, stagnan, atau statis. Tapi Islam harus dinamis di zaman yang selalu bergerak ini.

Aku yakin dengan Islam bisa menjadi solusi setiap masalah. Islam is the solution adalah benar, tapi bukan sekadar slogan, tapi harus dengan kerja menyusun batu-batanya. Tidak gegabah pula menafsirkannya hanya karena ingin sesuai konteks kekinian. Memang harus banyak mengkaji ayat-ayat Alquran. Alquran bukan sekedar ayat-ayat yang disenandungkan walaupun itu berpahala. Tapi sejatinya sebagai pedoman hidup, petunjuk, dan solusi atas setiap masalah kemanusiaan kita.

Sifat sejati agama itu tetap bersifat kemanusiaan. Namun kemanusiaan yang bukan berdiri sendiri, tapi memancar dari ketuhanan. Tidak membatasi pada tujuan hidup yang sementara (dunia), tapi merayap menembus langit, mencapai nilai-nilai tertinggi. Agama adalah fitrah yang diwahyukan (fitrah munazalah) yang menguatkan fitrah yang sudah ada pada dirinya secara alami (fitrah majbullah).

Begitu pula bid’ah juga ada dua prinsip. Prinsip pertama adalah adanya kebebasan manusia dalam hidupnya. Bahwa segala sesuatu adalah boleh, kecuali ada nash yang melarangnya. Kedua adalah sebaliknya, bahwa dalam beribadah segala sesuatu adalah terlarang kecuali ada nash yang membolehkan. Membolehkan yang haram adalah bid’ah, begitu pula mengharamkan apa-apa yang dibolehkan termasuk bidah juga. Jadi dua prinsip yang perlu diperhatikan ketika ingin menuntaskan mana yang disebut bid’ah dan tidak bid’ah.

Itu saja sedikit yang kubaca dari bukunya Cak Nur.[]


Tinggalkan sebuah komentar dan terima kasih !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori